
Fang Xiang langsung menemui putra mahkota, sementara 4 pendekar yang selalu setia mengawalnya segera istirahat di wisma yang disediakan.
Setelah tiba di istana putra mahkota Fang Xiang bertemu dengan Dayang senior yang sedang memberi arahan pada beberapa dayang yang lain. Dayang senior segera memberi hormat dan menyambutnya.
" Tuan Putri, Putra mahkota selalu menunggumu...".
Dayang senior berjalan di belakang Fang Xiang.
" Bagaimana kondisinya..?." Kata Fang Xiang.
" Saat ini kondisi putra mahkota sudah ada perkembangan yang bagus dan sudah mulai mau makan semenjak mendengar Tuan Putri akan datang kesini." Kata dayang senior.
Setelah membuka pintu kamar adiknya, Fang Xiang terkejut melihat bocah kecil yang kurus dan wajah masih agak pucat tersebut.
Melihat siapa yang datang membuka pintu, putra mahkota membuka matanya lebar-lebar, wajahnya sumringah dan dia bangkit dari tidurnya.
" Kakaaak....".
Suara merdunya memenuhi ruangan tersebut. Fang Xiang tidak tega melihat kondisi adiknya itu.
Ia segera mendekat dan memeluknya. Bocah kecil tersebut langsung meneteskan air mata, ada rasa haru biru yang menyelimuti perasaannya.
" Apa yang kau pikirkan..?. Lihatlah tubuhmu sampai kurus kering begini..?." Kata Fang Xiang.
" Kakaaak...mengapa kakak lama tidak datang..? aku khawatir..aku takuut." Bocah kecil itu menumpahkan seluruh perasaannya.
" Tidak apa-apa sayang..kakak sibuk belajar ilmu beladiri..jadi baru bisa datang sekarang...". Kata Fang Xiang.
Semenjak hari itu kesehatan putra mahkota terus berangsur-angsur menjadi lebih sehat dan lebih segar dari waktu ke waktu. Fang Xiang bermaksut tinggal lebih lama di istana kekaisaran melebihi kebiasaannya selama ini.
Banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan ibundanya, sudah terlalu lama ia tidak bercerita- cerita atau bersenda gurau dengan wanita cantik yang telah melahirkannya.
Bahkan dia juga ingin berbicara dengan ayahandanya mengenai beberapa persoalan yang ditemui di beberapa wilayah saat dalam perjalanan menuju istana kekaisaran.
***
__ADS_1
Kaisar Fang Zhang sangat gembira dengan hasil yang telah dicapai dalam penyerbuan ke organisasi srigala malam.
Selain hasil maksimal yang telah diraih, para prajurit juga tidak ada yang tewas hanya ada beberapa yang terluka tetapi tidak parah.
Selama ini Kaisar Fang Zhang bahkan sangat peduli terhadap semua prajuritnya, walaupun kepada yang berpangkat paling rendah sekalipun.
Karena bagi Kaisar Fang Zhang, semua prajurit adalah aset negeri yang berharga dan sekaligus sebagai rakyat yang perlu diperhatikan.
Satu masalah yang selama dua bulan ini mengganggu tidurnya, telah selesai dituntaskan. Tentu hal ini perlu disyukuri.
Belakangan, dalam beberapa tahun ini ketergantungan Kekaisaran Tang terhadap bantuan sekte pedang langit semakin besar.
Kaisar Fang Zhang menyadari kemampuan dan arti penting sekte pedang langit bagi kekaisaran dan juga bagi seluruh wilayahnya.
Selama ini hampir tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh sekte pedang langit.
Jadi kaisar menyampaikan niatnya untuk menitipkan putra mahkota agar di didik ketua sekte pedang langit.
" Yang Mulia, untuk urusan tersebut saya tidak bisa memberikan jawabannya, tetapi saya akan menyampaikan kepada ketua sekte, agar beliau sendiri yang memberi keputusan." Fang Jin berkata diplomatis.
Kaisar Fang Zhang sangat berterimakasih atas peran besar sekte pedang langit, dalam upaya menghapus organisasi srigala malam dari bumi Kekaisaran Tang.
Untuk itu Kaisar memberi hadiah yang besar atas jasa yang hebat tersebut.
Setelah menerima hadiah- hadiah dari kaisar dalam berbagai bentuk, para pendekar akan segera kembali kemarkas sekte pedang langit.
" Yang Mulia, kami dari sekte pedang langit mohon untuk undur diri." Fang Jin sebagai pemimpin team menyampaikan maksut untuk pamit kembali ke sekte pedang langit.
Setelah pamit, semua anggota sekte pedang langit segera bergegas meninggalkan istana kekaisaran.
Mereka masih memikirkan beberapa masalah yang tidak sempat di selesaikan ketika berada dalam perjalanan ke istana.
Kekhawatiran akan adanya kekacauan yang terjadi di tengah penderitaan rakyat sangat membekas dipikiran mereka.
*****
__ADS_1
Sementara Zhuang An sedang berada di sebuah kedai untuk menikmati kambing panggang dan seguci teh hangat manis yang menjadi produk andalan dari pemilik tempat tersebut.
Pemuda itu berusaha menyembunyikan segala aura dan kewibawaan yang dipancarkan dari tubuhnya, sehingga tidak terlalu menarik perhatian banyak orang.
" Ach nikmatnya pagi-pagi menyantab kambing panggang ditemani teh hangat..!." Zhuang An berseru sendirian.
" Benar Tuan Muda, ini saya kasih tambahan buat Tuan Muda." Seorang gadis cantik memberikan bonus teh manis satu guci.
" Terimakasih-terimakasih." Zhuang An langsung menikmati teh hangat tersebut.
Pagi itu Zhuang An benar-benar kenyang setelah menghabiskan satu paha kambing ditambah nasi kebuli, sayur dan teh manis hangat satu guci lebih sedikit.
Namun, ketika dia bermaksut menghabiskan satu guci teh manis berikutnya tiba-tiba datang 3 orang berperawakan besar dan berewok duduk di sebelah kanan, kiri dan depannya.
Mereka tersenyum nakal kearahnya.
" Anak muda, wajahmu tampan dan bajumu bagus. Pasti kau punya banyak uang. Berikan uangmu padaku, kami tak akan menyakitimu..!." Pria brewok itu menyeringai kurang ajar.
Zhuang An tidak menanggapinya bahkan dia tidak peduli seolah tidak mendengar kata-kata orang tersebut.
Pemuda itu dengan santai meneguk, menikmati minumannya tanpa peduli dengan ke 3 orang tersebut.
Pria brewok itu menjadi marah dia memukul meja makan dengan sekuat tenaga. Tetapi satu inci sebelum tangannya menyentuh meja tiba-tiba tangan tersebut berhenti dan sudah membeku sampai siku-sikunya.
Perlahan kebekuan itu merambah ke lengan dan dengan cepat sampai keseluruh tubuhnya.
Hanya matanya saja yang tersisa tampak tidak beku, sehingga mata itu bergerak kebingungan.
Zhuang An tetap tidak ambil peduli dengan kondisi orang tersebut, dia melanjutkan meneguk teh hangatnya yang manis tersebut.
Sementara kedua orang lainnya menjadi ketakutan melihat temannya membeku putih seperti salju.
Beberapa orang yang berada di kedai dan memperhatikan mereka menjadi ikut takut.
Setelah meneguk teh hangat Zhuang An berdiri dan membayar harga makanan dan minumannya.
__ADS_1
Zhuang An kemudian menginstrogasi kedua rekan pria brewok yang membeku tersebut.