PENDEKAR DEWA LANGIT

PENDEKAR DEWA LANGIT
113. Cincin Tujuh Dimensi


__ADS_3

"Batu Bintang Energi ini, disebut harta pusaka karena batu ini memiliki kekuatan dan kemampuan untuk membantu melakukan penyerapan energi murni ataupun tenaga dalam" Zhuang An, memberi penjelasan pada gadis yang dicintai nya itu.


Selanjutnya Zhuang An membantu Fang Xiang, untuk melakukan penyerapan energi murni, menggunakan batu pusaka tersebut.


"Rasanya luar biasa! Bisa-bisa dalam setiap tiga atau empat minggu, ranah pendekar ku akan naik tingkat!" Fang Xiang, berseru semangat.


"Benar! Yang penting rajin melakukan penyerapan dan dipadukan dengan tekhnik yang ada dalam kitab sakti dewi bulan ini!" Ucap Zhuang An.


"Cici Dishi! Sekarang bisa memulai membaca dan memahami kitab ini, kalau mau mencoba mempelajari tekniknya!" Ujar Zhuang An, pada Fang Dishi.


"Baiklah!Kalau begitu, aku akan mulai mempelajari nya!" Fang Dishi, menjawab dengan semangat.


"Mengapa polanya, tidak sama dengan kitab-kitab lainnya, bahkan ini sangat berbeda dengan kitab elemen pedang angin?!" Fang Dishi, merasa heran dengan yang dilihatnya.


Gadis itu, sudah hampir menguasai Kitab elemen pedang angin.


Kitab yang menjadi salah satu rujukan dari Sekte Pedang Langit.


Dan hal itu, yang mampu membuat dia bisa mengalahkan dua pendekar satria, yang setingkat dengan dirinya.


Tetapi, melihat kitab sakti dewi bulan yang pola dan gambar plus tata bahasanya sangat berbeda, membuat gadis cantik itu sangat heran.


"Tentu saja, Cici jangan salah! Kitab itu kitabnya dewa, lebih tepatnya milik sang dewi bulan. Jadi, sangat berbeda dengan kitab-kitab ilmu bela diri yang lain" Zhuang An, memberikan penjelasan yang lebih bisa dimengerti.


Seharian penuh Zhuang An menemani dua gadis Fang. Fang Xiang dan Fang Dishi, untuk berlatih dan melakukan penyerapan energi murni.


Setelah hari beranjak malam, Zhuang An bermaksud memberikan satu benda yang ia simpan sebelumnya.


"Xiang'er! Engkau pernah memberikan cincin indah kepada ku, waktu dulu awal kita bertemu. Sekarang aku ingin memberikan Cincin Mustika Dimensi untuk mu!" Zhuang An, memegang tangan Fang Xiang.


Kemudian dengan dipenuhi rasa sayang, dia memberikan Cincin Mustika tujuh dimensi.


"An'gege! Indah sekali cincinya. Dan ukurannya juga sangat cocok di jari manisku!" Fang Xiang, tak dapat menutupi rasa suka citanya.


"Cincin ini, memiliki tujuh ruang yang berbeda dimensi di dalamnya" Zhuang An, menambahkan penjelasannya.


"Och ya! Berarti, bisa untuk banyak kebutuhan penyimpanan!?" Fang Xiang, bertanya dengan gaya manisnya.


"Tentu saja, bisa untuk menyimpan bahan makanan biar awet tidak membusuk, di dimensi ruang hampa udara. Untuk menyimpan mahluk hidup, agar bisa bertahan di dimensi udara segar dan masih lima macam ruang lainnya!" Zhuang An, memberikan keterangan nya.


Fang Xiang, begitu gembira. Ia merasa Zhuang An ternyata begitu sayang dan perhatian kepadanya.


"An'gege! Terima kasih! Aku sangat menyukainya dan tentu sangat senang menerimanya!" Fang Xiang, berkata sambil mengusap air matanya yang hampir menetes karena haru.


"Eheem!" Fang Dishi, berdehem sambil tersenyum menggoda adiknya.


"Ach! Cici!" Fang Xiang, menyembunyikan raut wajahnya yang memerah.


"Ya sudah! Mari kembali ke kamar! Sekarang, sudah mulai malam" Fang Dishi, merespon reaksi Fang Xiang.


Setelah hari beranjak malam, mereka bertiga kembali ke kamarnya masing-masing.

__ADS_1


*


*


*


*


Setelah membersihkan diri dan berpakaian rapi Zhuang An, duduk di depan kamar.


Sayup-sayup ia mendengar Gukin di mainkan, dengan irama indah dan diiringi suara merdu.


Perlahan Zhuang An, menikmati alunan nada yang terasa begitu sahdu di telinganya.


Nada itu adalah irama yang sering dimainkan ibunya, saat dia kecil dulu


Hingga tanpa terasa, dua gadis cantik sudah berada di sampingnya.


"An'gege! Ayo kita ke tempat kakek!" Fang Xiang dan Fang Dishi muncul dari belakang Zhuang An.


"Itu! Yang memainkan Gukin siapa?" Ucap Zhuang An, seketika.


"Kakek! Dan yang bernyanyi itu suara Nenek!" Jawab Fang Xiang lugas.


"Emmh...mahir juga! Enak lagi didengarkan!" Zhuang An, memberikan penilaiannya.


"Tentu saja! Kakek dan Nenek memang menyukai musik, mereka mahir memainkan beberapa instrument musik" Fang Xiang, menjawab sambil berjalan.


*


*


*


*


Malam itu Zhuang An menikmati hidangan dibarengi dengan alunan musik yang dimainkan oleh Han Xiao dan Fang Mei.


Kakek dan Neneknya Fang Xiang, yang lumayan awet muda itu sangat pandai membuat Zhuang An terkesan.


"Bagaimana Nak Zhuang? Suka irama lagu kami?" Han Xiao menyapa Zhuang An.


"Sangat suka, Senior!" Zhuang An, menyampaikan perasaannya senangnya.


"Kalau begitu, kami main kan beberapa lagu lagi!" Fang Mei memberikan tanggapan.


Bahkan! Fang Xiang dan Fang Dishi juga menampilkan kebolehannya dalam memainkan kecapi tujuh senar tersebut.


Bagi Zhuang An, hal itu merupakan hal baru yang belum pernah dia pelajari.


Walaupun ia pernah melihat Xue Yueyin kakak sepupunya memainkan nya saat di sekte merak emas, tetapi Zhuang An belum sempat mempelajarinya.

__ADS_1


Jadi, di sini dia cuma bisa kagum dan menikmati permainan musik dari Tuan rumah yang ingin menghibur dirinya.


"An'gege! Belum pernah bermain Gukin?" Fang Xiang, bertanya dengan tersenyum manis.


"Belum! Saat kecil ibuku sering memainkan beberapa instrument musik, tetapi aku belum pernah mempelajarinya" Zhuang An, menjawab dengan jujur pertanyaan Fang Xiang.


"An' gege! Nanti, kalau aku sudah menguasai kitab sakti dewi bulan. Kita bisa belajar main musim bersama!" Ucap Fang Xiang, dengan ekspresi penuh rasa di hatinya.


"Baik! Bagus itu, aku setuju!" Zhuang An, mengelus ujung kepala gadis cantik tersebut.


"Ehem! Rasanya seperti tidak ada yang melihatku di sini!" Fang Dishi, berdehem kecil.


"Ach! Cici!" Fang Xiang, merasa seperti bersalah jadi dia langsung memeluk cici nya itu.


Fang Dishi, mengelus kepala adiknya dengan gemes.


*


*


*


*


Sementara di tempat lain Huang Liang, kembali berdarah- darah bersama Han Fang dan tiga pendekar muda lainnya.


Seperti nya pemuda itu, belum sempat melakukan penyerapan tenaga dalam atau energi murni, dengan batu bintang energi pemberian Zhuang An.


"Saudara Huang! Kau tak apa-apa?" Han Fang, bertanya dengan perasaan khawatir.


"Tidak apa-apa, ini hanya luka yang masih bisa aku tahan" Huang Liang, menjawab sambil meringis menekan luka di pundaknya.


"Tidak bisa begitu, Saudara Huang! Jangan meremehkan luka yang bisa membahayakan, darahmu masih saja merembes, minumlah pil penyembuh ini!" Han Fang, memberi pil penyembuh simpanan nya.


Huang Liang tidak membantah lagi, dia segera menerima dan menelan pil pemberian Han Fang.


"Senior! Menurut mu, siapa musuh kita kali ini?" Huang Liang, mengutarakan rasa penasaran nya.


"Aku rasa, melihat dari kemampuannya, mereka orang-orang dari negeri Jie Xia" Han Fang, sedikit berspekulasi.


"Senior! Apakah situasi negeri ini sudah segenting itu? Sehingga kita bisa berhadapan dengan musuh yang tak terduga?" Wang Li, memberanikan diri ikut bicara.


"Sepertinya begitu! Buktinya kita bisa kerepotan hanya menghadapi tiga pendekar, dari pihak musuh yang sulit dideteksi" Ujar Han Fang.


Jika mereka dari wilayah Kekaisaran Tang ini, kita setidaknya tahu jenis jurus dan tekhnik yang mereka gunakan, atau juga dari pakain mereka" Jawab Han Fang, menambahkan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2