
Akhirnya kelas pun berakhir, semua orang pun bernafas dengan lega, dan dengan rusuh mereka memasuki semua peralatan sekolah mereka.
"Bos apa kita akan pergi sekarang?" Tanya Robert.
"Iya Revan dan yang lainnya sepertinya sudah sampai di titik temu yang sudah aku tentukan." Ujar Kefa.
"Aku rasa mereka belum sampai tuan, kelas kita saja baru selesai." Ujar Defa.
"Ya mungkin entahlah." Ujar Kefa.
Mereka bertiga pun sekarang berada di lorong terbuka yang di sana terdapat banyak pohon yang menyejukan dan lapangan bola basket yang sangat besar.
"Kenapa banyak pria di sana?" Tanya Kefa pada Defa dan Robert.
"Ehhh Bos selama di sekolah ini baru mengetahui hal ini?" Robert yang terkejut dan membuat Kefa kebingungan.
"Iya kenapa memangnya Robert?"
"Tuan dari sejak awal tuan masuk sampai tahun lalu, kelas 8 B itu memang selalu di penuhi oleh para pria." Ujar Robert.
Mendengar sebuah kata yang identik dengan seseorang yaitu 8 B Kefa pun teringat dengan orang yang bernama Laura.
"Jangan bilang itu semua gara-gara seorang wanita yang bernama Laura."
"Nah itu bos tau, apa bos tau tentang Laura, apa jangan-jangan bos menyukai Laura juga, tapi menurutku ya bos Laura sangat cocok dengan bos, dia adalah wanita paling cantik di sekolahan kita bos, jadi aku rasa dia sangat cocok dan pantas jika bersama dengan bos." Ujar Robert.
"Jangan membuatku tertawa, orang seperti dia pantas untuk ku, Robert asal kau tau saja, orang yang bernama Laura itu dia sebenarnya adalah wanita gila, wanita yang sering menganggu orang lain."
"Kenapa bos beranggapan seperti itu padanya, padahal bos sama sekali belum mengenalnya."
"Robert kau harus tau, tuan Kefa sudah bertemu dengan Laura tiap pagi, aku sering melihatnya."
Kefa pun menatap Defa dengan tatapan yang mengerikan.
"Maksudku baru tadi pagi saja aku melihatnya hehehe....Maaf tuan Kefa ini merupakan kesalahanku, sekali lagi Maaf."
"Sudah jangan di bahas, intinya wanita itu sangat menyebalkan, ayo cepat kita pergi dari sini, aku takut dia melihat ku dan membuat masalah yang rumit lagi." Ujar Kefa.
"Baik bos."
"Baik tuan."
__ADS_1
Dengan segera mereka bertiga pun melewati kelas tersebut, namun sayangnya secara kebetulan Laura melihat Kefa.
Laura pun tersenyum jahat "Hheheheheh."
"KEFA!!!!!" Teriaknya sambil melambaikan tangan nya.
Yang membuat banyak perhatian tertuju kepada Kefa, Robert, dan juga Defa.
"SIALAN!!!!!!!! WANITA ITU AYO CEPAT PERGI." Kefa yang berlari, begitu pula dengan Defa dan Robert.
"KEFA!!!!!!! KAU MAU KEMANA?" Teriak Laura.
Namun sayangnya Kefa telah pergi dari sana.
"Apa-apaan tuh cowo, kenapa sih dia aneh banget apa jangan-jangan dia tidak menyukai wanita hmmmm, rasanya tidak mungkin jika ada cowo yang menolak ku." Batin Laura.
Keributan pun terjadi di sana, sedangkan Laura hanya fokus dengan pikiran nya sendiri, banyak cowo di sana yang ingin mendekati Laura.
Dan bahkan ada yang mencoba untuk menggoda Laura, namun Laura dia tidak memperdulikan hal itu, dia seperti jual mahal.
***
"Tuan kenapa kalian lari seperti di kejar hantu saja?" Tanya Revan.
Revan pun memberi isyarat seperti bertanya kepada Robert dan juga Defa, namun mereka berdua hanya menggelengkan kepala.
"Jadi bagaimana apa kita akan pergi sekarang?" Tanya Iso yang mencari suasana baru.
"Tentu saja." Ujar Kefa.
"Tapi tuan Kefa, apa tuan yakin bahwa pemimpin sekolah Sma 10 Bandung masih ada di sekolah?" Tanya Paskal.
"Aku rasa ada entahlah kita coba saja, lagi pula aku yakin sekolah mereka sekarang sudah bubaran dan menyisakan preman-preman nya saja."
"Ya jika seperti itu kata tuan, kita hanya ngikut saja." Ujar Revan.
Mereka semua pun pergi menuju sekolah Sma 10 Bandung yang tidak jauh dari sana.
Mereka semua sekarang memakai hoodie, mereka tidak ingin terlalu terlihat sebagai anak Smp.
Akhirnya mereka sampai di sekolahan 10 Sma Bandung.
__ADS_1
Awalnya mereka di hadang oleh Satpam di sana, namun mereka dengan pintarnya mencari alasan sehingga mereka dapat masuk ke sekolah Sma 10 Bandung.
Mereka pun sekarang sudah berada di ujung kelas yang terlihat cukup sepi, namun sepertinya mereka menduga bahwa di sanalah perkumpulan para preman sekolah.
Dan benar saja, sekarang mereka melihat anak-anak Sma sedang berkumpul total mereka ada puluhan.
Kefa dan yang lainnya pun menatap mereka semua.
Anak Sma yang menyadari hal itu, mereka saling memberi isyarat dan mengobrol sedikit, kemudian mereka pun langsung berdiri dan mendekat kearah Kefa dan yang lainnya.
"Aku ingin bertemu dengan pemimpin sekolah mu, tunjukkan tempatnya dimana dia sekarang." Ujar Kefa yang langsung to the point.
Mendengar hal itu membuat mereka semua tertawa dengan sangat keras. Kemudian seseorang pun maju mendekat dia terlihat seperti pemimpin dari perkumpulan itu.
Dia melihat Kefa dari bawah sampai ke atas kemudian menatap Kefa, dengan tatapan yang mengerikan. Sekilas dia terlihat sangat sombong.
"Kau memangnya kau siapa, berani-berani nya datang kemari dan berkata seperti itu, apa kau pikir kami adalah bawahan kalian?"
"Apa kalian pikir kami akan mendengar perkataan seorang bocah seperti kalian cihhh jangan berharap."
"Kalian ini hanya bocah Smp, jadi jangan berlagak sok keras, lebih baik kalian kembali ke sekolah kalian atau ke orang tua kalian, tapi sebelum itu aku ingin kalian melepaskan barang berharga kalian, dan uang kalian di sini."
"Kau tau kau telah memasuki kandang singa, ya jadi jika kalian ingin keluar dari sini hidup-hidup lebih baik kalian mendengar perkataan ku, atau kalian nanti akan menyesal adek-adek." Mereka semua pun tertawa mendengar perkataan orang tersebut.
Kefa pun di sini tersenyum mengejek. "Sayangnya kalian lah yang akan menyesal jika tidak mau menuruti kataku." Ujar Kefa.
Mereka semua pun tertawa karena mendengar ancaman dari Kefa.
Secara tiba-tiba Kefa di sini menghajar pemimpin mereka, sampai dia terhempas dan pingsan tak sadarkan diri dengan darah yang bercucuran melalui hidungnya.
Keheningan pun terjadi di sana, "Aku sudah bilang bukan, kalian lah yang akan menyesal."
"Semuanya saatnya bertarung." Ujar Kefa sambil menatap mereka semua.
Robert, Defa, Iso, Paskal, Revan mereka semua langsung berlarian dan menghajar anak-anak Sma itu.
Terjadilah pertempuran di sana, 6 orang melawan puluhan orang.
Namun sayangnya puluhan orang itu mereka semua sekarang terbaring lemas penuh dengan luka, sedangkan Kefa dan yang lainnya mereka sama sekali tidak terluka.
Setelah puluhan orang itu tumbang, datanglah puluhan orang lainnya yang tiba-tiba menyerang Kefa dan yang lainnya.
__ADS_1
Kefa pun terlihat sangat senang, karena ia merasa bahwa anak Sma lebih kuat dari pada anak Smp.
Mereka semua pun terus bertarung tanpa henti.