
"Sayang apa menurutmu sekarang Kefa dalam bahaya?" Tanya Rina pada Edwart.
"Seharusnya kamu sudah tau sendiri bukan."
"Aku hanya ingin memastikannya dengan mendengarkan penjelasan mu."
"Iya Kefa sekarang berada dalam bahaya itu semua terjadi karena kesalahan kita juga, yang terlalu memiliki banyak musuh ketimbang teman." Ujar Edwart.
"Haah (Menghela nafas lemas) Siapa saja yang mengincar keluarga kita?"
"Aku rasa banyak alasan nya masih tidak di ketahui, tapi yang pasti mereka akan mengincar Kefa kalau di kediaman kita, aku rasa Kefa akan baik-baik saja tapi jika Kefa di luar itulah yang aku khawatirkan, aku harus menambah personil untuk menjaga Kefa, Defa saja tidak akan cukup untuk menjaga Kefa, sekarang Kefa akan di incar oleh orang-orang yang mengerikan." Jawab Edwart.
"Memang benar Defa memiliki kualitas yang hampir setara dengan Kemal, Wira dan yang lainnya, tapi aku rasa hal tersebut masihlah kurang."
"Aku setuju dengan mu sayang, masalah anak kita adalah yang pertama, dan kita harus menyelesaikan nya."
"Tapi sayang sebentar lagi dalam waktu beberapa tahun lagi ada kemungkinan ayah dan ibu, akan mengundurkan diri sebagai pemimpin keluarga Deluxe, yang ingin ku katakan apa mungkin ada hubungan nya dengan itu?"
"Aku rasa iya sayang, karena mereka juga tidak ingin jika sampai aku memimpin keluarga Deluxe, jika hal itu terjadi mereka akan mengalami kerugian yang sangat besar."
"Haah (Menghela nafas lemas) Entah sampai kapan kita harus hidup seperti ini, kasian anak kita juga tidak terurus, kita selalu sibuk dengan pekerjaan kita, dan jarang meluangkan waktu untuk Kefa, untug saja anak kita adalah anak spesial, dia sangat pengertian." Ujar Rina.
"Ya aku sangat bangga padanya, dan maafkan aku karena keegoisanku kita harus menghadapi banyak masalah seperti sekarang, dan terima kasih karena kamu selalu ada di sisiku sayang, ketika dunia ku hancur, ketika ku sedih, ketika ku marah, ketika ku tidak bisa menceritakan semuanya pada dunia kamu selalu ada untukku."
"Sama-sama sayang, aku sebenarnya sangat kesal dengan keputusan mu itu, tapi aku mengerti keputusan mu adalah yang terbaik untuk kita semua, aku hanya berpesan anak kita harus selamat apapun yang terjadi, bahkan jika harus mengorbakan nyawa kita."
"Iya sayang aku berjanji, Kefa akan baik-baik saja, dia akan tumbuh dewasa dan menjadi pria yang kuat yang tahan banting, dan dia juga akan melebihi kita berdua aku yakin itu."
"Iya." Mereka berdua pun tersenyum.
***
Keesokan harinya Kefa bersekolah seperti biasa dia berangkat aga kesiangan, tapi hal itu tidak jadi masalah, entah kenapa di jalan menuju lorong kelasnya, Kefa tiba-tiba ingin pergi ke kelas 9 B dimana Laura berada.
Kefa sebenarnya sudah tau bahwa Laura akan pergi entah kemana, alasannya Kefa tidak tau tapi yang Kefa hanya tau kemarin adalah salam perpisahan dari Laura.
Kefa pun akhirnya meng cek ke kelas Laura, dan ini adalah pertama kalinya Kefa mengunjungi kelas Laura, biasanya Laura lah yang selalu mengunjungi tempat Kefa.
Seluruh kelas 9 B pun terkejut, dan mereka bertanya-tanya siapa Kefa, perasaan tidak ada murid yang seperti itu di kelas 9.
Mereka keheranan, hingga tiba-tiba saja Kefa bertanya pada mereka semua "Apa Laura masuk sekolah?" Tanya Kefa yang membuat mereka semua tidak heran lagi.
Mereka sekarang menganggap Kefa sebagai salah satu penggemar dari Laura, tapi mereka sekarang keheranan karena bisa-bisanya, orang yang biasa saja seperti Kefa berani ke kelas Laura dan bertanya tentang Laura.
__ADS_1
Padahal orang-orang tampan yang merupakan penggemar Laura saja tidak berani melakukan nya.
Oh yah di sini Kefa kembali ke setelan normal, karena dia tidak ingin terlalu mencolok juga, dia kembali sebagai seorang culun, entah kenapa dia lebih nyaman seperti itu.
"Apa kau tidak mendengar beritanya yah?"
"Berita?"
"Laura sudah keluar dari sekolah ini, alasannya tidak tau tapi suratnya baru saja di kirim tadi pagi." Ujar salah seorang dari mereka.
"Begitukah terima kasih atas informasinya" Kefa yang pergi dari sana.
Entah kenapa Kefa sekarang merasa hampa, dan merasakan sedikit penyesalan di hatinya, Kefa tidak mengerti dan tidak paham sama sekali dengan perasaan yang ia rasakan, bagi dia ini adalah pertama kalinya ia merasakan hal tersebut.
Hati dia semakin sakit jika dia mengingat kenangan bersama Laura. Kefa sudah mengetahui bahwa Luara akan pergi tapi entah kenapa rasanya jika mengetahu hal tersebut, hati Kefa sakit.
Kefa sekarang dalam keadaan tidak mood, dia masuk ke kelas seperti biasa, dan seperti biasa semua orang menatap Kefa dan membicarakan penampilan Kefa yang kembali seperti semula.
Robert dan Defa yang melihat wajah Kefa yang terlihat sedang sedih dan kacau, mereka tidak menyapa Kefa, begitu pula dengan Kefa.
Kefa langsung menyimpan kantong nya dan langsung tidur.
"Ada apa dengan bos Defa, dia tidak seperti biasanya." Ujar Robert yang berbisik-bisik.
Defa bisa mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Kefa, orang yang selalu ada dan selalu menganggu Kefa, tiba-tiba saja menghilang entah kemana tanpa memberitahu Kefa, rasanya pasti hampa.
Dan rasanya juga pasti kesal.
"Robert kita jangan menganggu tuan Kefa terlebih dahulu biarkan dia sendiri, ketika dia sudah mengajak ngobrol kita lagi, itu artinya dia sudah mulai berdamai dengan dirinya sendiri."
"Baik Defa aku mengerti, kasian sekali tapi kenapa Laura meninggalkan bos yah?"
"Pastinya ada alasan di balik itu semua, sudah kita jangan menyinggung nya lagi."
"Iya baiklah."
Kefa hanya tertidur lemas dan tidak banyak bicara, tidak ada orang yang berani menganggu dia, badmoodnya Kefa terlihat sangat mengerikan.
Bahkan ketika guru masuk pun Kefa tetap tertidur lemas dan tidak menanggapi guru.
Guru tersebut mengabaikan Kefa dan dia tetap mengajar, namun lama-kelamaan entah kenapa dia merasa kesal, karena Kefa seperti tidak menganggap dirinya.
"KEFA."
__ADS_1
"Iya ada apa ibu?" Tanya Kefa yang masih tertidur lemas.
"Apa kau tidak menghargai ibu yang di depan yang susah-susah menjelaskan materi ini, Kefa."
"Iya ibu, aku hanya sedang tidak mood saja, jadi saya hanya cukup menyelesaikan soal di depan saja bukan?" Ujar Kefa yang bangun dari tidurnya itu.
Dia pun maju kedepan, gurunya terlihat sangat tidak senang dengan Kefa.
Defa dan Robert sangat kesal terhadap guru mereka sendiri, "Seandainya bajingan guru itu tau siapa Kefa dia pasti tidak akan berbicara seperti itu." Batin Defa.
"Rasanya aku ingin memberi pelajaran kepada guru ini beraninya dia menganggu bos Kefa." Batin Robert
"Jika aku bisa mengerjakan soal di depan semuanya, ibu berjanji tidak akan menganggu ku lagi bukan."
"Iya ibu berjanji."
"Mana mungkin dia bisa mengejarkan soal sesusah itu, Kefa hanyalah anak biasa-biasa saja, bahkan setiap ulangan nilai dia tidak naik maupun berkurang, nilainya tetap di 75 pas kkm, dan itu hampir di seluruh pelajaran." Batin guru itu.
"Dasar guru bego, apa dia tidak menyadari yah, bahwa Kefa adalah orang yang paling jenius di sekolah ini, apa dia tidak berpikir, apa dia tidak aneh yah dengan nilai yang selalu di dapatkan Kefa di setiap pelajaran nya, pasti nilainya 75, dari sejak awal dia masuk sekolah sampai sekarang, dia selalu mempertahankan nilai itu."
"Bukankah itu aneh? Bukankah itu seperti di sengaja oleh tuan muda Kefa sendiri, guru bego kenapa dia tidak berpikir sampai kesitu." Batin Defa yang sangat kesal.
Kefa pun menyelesaikan soal rumit matematika yang ada di depan.
"Sudah selesai, silahkan periksa sendiri hasilnya, aku lanjut tidur." Ujar Kefa yang membuat semua orang terkejut dan guru itu juga.
"Ba-bagaimana bisa kau menyelesaikan nya secepat ini, pasti kau mengasal kan."
"Ibu lihat sendiri saja, aku juga memberikan cara simpelnya." Ujar Kefa yang kemudian tertidur kembali.
Guru tersebut pun melihat pekerjaan Kefa, dan dia sangat terkejut, karena semua jawaban Kefa adalah benar.
Guru tersebut pun tidak dapat berkata-kata lagi, dia terlihat sangat syok.
"Ba-bagaimana dia b-bisa menyelesaikan soal rumit ini, dengan cepat, di tambah dia memakai rumus yang paling simpel dan mudah yang tidak pernah aku ajari sebelumnya." Batin Guru tersebut yang sekarang kebingungan.
"Semua jawaban Kefa benar, kalian semua dapat mengikuti cara Kefa, sesuai janji ibu, ibu tidak akan menganggu Kefa lagi." Ujarnya yang langsung melanjutkan pelajaran nya.
"Tampaknya guru itu masih punya otak." Batin Robert dan juga Defa.
Semua orang di kelas terkejut karena Kefa yang badmood tiba-tiba saja menjadi seorang profesor yang sangat pintar.
Mereka tidak menyangka bahwa Kefa sepintar itu ketika badmood, mereka ingin beranggapan Kefa hanya beruntung tapi sayangnya semua soal yang ia jawab, semuanya benar dan itu tidak mungkin mengandalkan keberuntungan belaka, yang itu artinya Kefa mode sadboy memanglah cerdas.
__ADS_1
Spam like ges