
Rina yang menangis kemudian memasuki ruangan dimana Edwart berada. Rina terlihat sangat marah pada Edwart.
"Sayang....." Ujar Edwart yang tidak di dengar oleh Rina, dan Rina pun di sini tiba-tiba menampar pipi Edwart untuk pertama kali dalam hidupnya.
Istrinya tersebut yang sangat baik yang sangat ramah yang selalu berada di sampingnya yang selalu mendukung nya, sekarang tiba-tiba saja menampar dirinya.
Edwart pun terdiam untuk beberapa saat, ia melihat Rina yang menangis, dan di sini pun Edwart merasa bersalah.
"KENAPA EDWART KENAPA KAU TIDAK MENDENGARKAN PENJELASAN ANAK MU SENDIRI HAH? KENAPA? EDWART DIA HANYA ANAK BIASA DIA ANAK BIASA EDWART, DIA MASIH KECIL APA YANG KAU HARAPKAN DARINYA EDWART APA!" Rina yang memarahi Edwart.
"Selama ini aku selalu mendukung keinginan egois mu tapi untuk hal ini, aku sudah tidak tahan lagi ini sudah keterlaluan Edwart kenapa hah?"
"Sayang dengarkan aku-"
"Dengarkan? LUCU SEKALI EDWART, KAU SAJA TIDAK MENDENGARKAN PENJELASAN ANAK MU, APA KAU PIKIR ANAK MU TIDAK SAKIT HATI HAH? KEFA HANYA ANAK KECIL EDWART DAN SEKARANG KAU TELAH MENGUSIR DIA DARI SINI SELAMAT EDWART KAU AYAH YANG SANGAT HEBAT."
"Ayah yang sangat fantastis, kau mengusir anak mu sendiri tanpa mendengarkan 1 penjelasan pun dari anak mu."
"KEFA ADALAH KEBAHAGIAAN KU EDWART KENAPA KAU AAAAAAAA!"
"DIA SEKARANG SUDAH MEMILIH UNTUK PERGI AKU SAMA SEKALI TIDAK BISA MENGHENTIKAN NYA, INI SEMUA GARA-GARA MU EDWART." Rina yang berteriak.
Edwart pun merasa sangat bersalah, dia tidak dapat berbicara sepatah kata pun, setiap ingin berbicara Rina pasti langsung memotong pembicaraan Edwart.
Edwart pun kesal dan ia berteriak balik pada Rina "DENGARKAN AKU INI SEMUA DEMI KEBAIKAN KEFA!!!!!!"
"APA KAU BILANG KEBAIKAN? LUCU EDWART KEBAIKAN KATAMU JIKA INI DEMI KEBAIKAN KEFA MAKA SEHARUSNYA SETIDAKNYA KAU DENGARKAN PENJELASAN ANAK MU!!!!!!!! JANGAN EGOIS EDWART!!!!!" Rina yang benar-benar terlihat sangat hancur.
Karena bagaimana pun ia adalah ibu Kefa dan dia sangatlah dekat dengan Kefa, bahkan Kefa memperlakukan Rina lebih baik dari pada ayahnya sendiri yaitu Edwart.
Bahkan Kefa pernah berkata, bahwa cinta untuk ibunya adalah sampai mati. Namun sekarang orang yang telah mencintai nya telah pergi jauh darinya, dan itu sangat menyakitkan.
Rina yang tidak ingin berbicara lagi dengan Edwart, dia pun pergi dari sana sambil menangis, Edwart tidak bisa menghentikan nya.
"AAAAAAAAAAA!!!!!" Edwart yang berteriak dan merasa pusing, ia benar-benar tersesat sekarang ia benar-benar sama sekali tidak bisa berpikir.
Sebenarnya ia tau ia salah, hanya saja dia menyangkalnya, itu semua karena keegoisan yang dia miliki.
***
__ADS_1
Kefa sekarang sudah berada di bandara, kepergian dia di antar oleh Wira dan Kemal.
"Tuan muda apa tuan muda tidak ingin memikirkan nya lagi?" Tanya Wira.
"Tidak, aku rasa ini yang terbaik Wira, terima kasih untuk semuanya."
"Tuan muda seharusnya kamilah yang berterima kasih, karena kami belajar banyak dari tuan muda." Ujar Kemal.
"Sama-sama aku pergi dulu, tenang saja suatu saat aku akan kembali tidak perlu khawatir, dan tolong sampaikan pada ibuku, aku lupa memberitahu dia."
"Jangan lupa makan, jangan terlalu bekerja keras, selalu ingat rumah, jangan bersedih, dan bilang padanya, aku sangat mencintainya." Ujar Kefa.
"Baik tuan muda kami akan menyampaikan semuanya pada bos Rina."
"Terima kasih, aku pergi dulu." Kefa pun yang pergi sambil melambaikan tangan nya.
"Wira apa menurutmu ini yang terbaik bagi keluarga bos?"
"Aku rasa iya aku rasa tidak, entahlah tidak ada yang tau masa depan, tapi aku rasa jika hal ini sudah terjadi, maka hal inilah yang terbaik bagi keluarga bos, aku rasa seperti itu semoga saja seperti itu."
"Ya aku juga berharap seperti itu, tapi aku rasa dimanapun tuan muda Kefa berada dia akan baik-baik saja, lagi pula dia di sana di jaga oleh salah satu orang yang sangat kuat, yang lebih kuat dari pada Hyuro."
"Hhahaha kau benar, yang aku khawatirkan justru bos Rina."
"Sepertinya aku tidak setuju dengan mu Kemal."
"Kenapa?"
"Rina masih bisa bertemu dengan Kefa, tapi Edwart tidak, ini semua memang keegoisan dari Edwart tapi ini semua demi kebaikan Kefa, Edwart menanggung semuanya sendirian, dari dulu sampai sekarang dia selalu seperti itu bukan, seharusnya kau sudah mengetahui sifatnya."
"Iya aku melupakan hal itu, aku rasa kau benar jadi sekarang apa yang harus kita lakukan?"
"Entahlah kita hanya akan mengikuti alurnya saja." Ujar Wira sambil mengeluarkan korek dan langsung merokok.
Begitu pula dengan Kemal.
"Kemal Hyuro dia apa dia baik-baik saja?"
"Aku rasa tidak, dia pasti merasa bersalah, tapi aku rasa setelah berbicara dengan tuan muda Kefa dia akan baik-baik saja, kau tau bukan tuan muda Kefa memang anak kecil, tapi dia terlihat seperti orang dewasa yang memiliki pengalaman yang lebih banyak dari pada kita, pastinya Kefa sudah mengatasi rasa bersalah Hyuro."
__ADS_1
"Iya kau benar juga, tuan muda Kefa memang orang yang sangat hebat, aku sangat menghormatinya."
"Ayo kita kembali."
"Ya aku rasa kita harus kembali."
***
Kefa sekarang berada di dalam Bandara dan dia tiba-tiba saja di sapa oleh seseorang.
Orang tersebut terlihat tua sama dengan Hyuro namun tidak memiliki janggut, dan dia terlihat lebih muda lagi dari pada Hyuro.
Orang tersebut memiliki postur tubuh yang besar bertot dan dia menggunakan jaket dan celana prajurit Jepang. Aura yang di pancarkan orang tersebut terlihat mengerikan jika di bandingkan dengan Hyuro.
Orang tersebut terlihat sangat keren, dia memiliki rambut hitam yang pendek.
Kefa dan orang tersebut pun saling bertatapan satu sama lain.
"Apa kau adalah anak dari Edwart dan Rina, apa kau bernama Kefa?" Tanya orang tersebut menggunakan bahasa Indonesia.
"Iya benar tuan, aku adalah Kefa anak dari Edwart dan Rina, apa tuan adalah orang yang di maksud ayahku?" Tanya Kefa.
"Iya benar, apa kau datang ke sini sendirian tidak di antarkan oleh siapapun?" Tanya Orang tersebut.
"Aku di antar oleh bawahan ayahku tadi."
"Maksudku bukan itu, tapi yasudahlah aku ke sini juga hanya ingin menjemputmu dan mengantarmu ke Jepang."
"Jadi apa sekarang kau sudah siap?"
"Iya aku siap untuk memulai hidup yang baru." Jawab Kefa sambil tersenyum.
Orang tersebut yang melihat Kefa tersenyum ikut tersenyum juga "Semangatmu patut di acungi jempol, ngomong-ngomong kau tidak membawa barang sedikit pun?"
"Aku rasa itu tidak perlu aku akan membelinya di jepang, santai saja aku bukan pria miskin."
"Hhahahah yasudah kalau begitu."
Mereka berdua pun pergi.
__ADS_1