
Sekarang Kefa berada di pesawat biasa dan di samping tempat duduk dia, ada orang tersebut, Kefa sama sekali tidak mengetahui siapa dia. Karena Kefa belum sempat bertanya, Kefa pun menatap orang tersebut.
Dari sejak awal bertemu Kefa tau bahwa orang yang berada di sampingnya itu bukanlah orang biasa, dia adalah orang yang sangat kuat.
"Kenapa kau melihat ku seperti itu, apa kau penasaran dengan diriku."
"Iya tuan."
"Kalau begitu perkenalkan aku adalah Saito Haruki, umurku 40 tahun tapi aku terlihat masih muda kan, jadi anggap saja aku berumur 25 tahun, jangan panggil aku orang tua ataupun sejenis dengan panggilan itu, jika ingin panggil aku saja kak Haruki." Ujar nya.
"Orang ini aku rasa dia akan sangat menyebalkan melebihi teman-teman ku, tapi yah aku rasa orang ini sangat mengerikan jadi aku harus berhati-hati, untuk sekarang lebih baik aku menghormatinya saja."
"Iya baik kak Haruki, apa tidak masalah aku langsung bicara formal seperti itu, dengan memanggil nama belakang mu."
"Tidak masalah lagi pula nanti kita akan menjadi teman yang cukup dekat, memang benar jika di Jepang memanggil nama belakang, hanya khusus orang yang sudah dekat saja, jika tidak jangan berani coba-coba nanti kau akan di anggap seba-"
"Tidak perlu di jelaskan aku pun tau, aku tidak sebodoh yang kakak pikirkan hehehe." Ujar Kefa karena tidak ingin mendengarkan penjelasan Haruki.
"Ya baguslah kalau begitu, kalau kau tau tentang Jepang, aku juga sebenarnya sedang malas mengajari seseorang."
"Iya santai saja kak Haruki aku mengetahui semuanya tentang Jepang, dan nanti juga aku yakin bisa beradaptasi di sana."
"Apa kau bisa berbahasa jepang juga?" Tanya Haruki menggunakan bahasa jepang.
"Ya tentu, aku sudah mengetahuinya sejak aku kecil." Jawab Kefa.
"Ya sebenarnya aku sudah mendengar semua informasi tentangmu, dan aku rasa aku sangat mempercayainya, aku tidak akan bertanya apapun lagi, dan aku rasa aku juga tidak perlu mengajari mu kan."
"Iya tidak."
"Baguslah dengan begitu aku bisa menikmati perjalanan ini." Orang tersebut yang tiba-tiba saja tertidur.
__ADS_1
Kefa pun menghela nafas karena kelakuan orang tersebut.
"Ya dia memang anak Edwart dan Rina, dia memang benar-benar sangat mengerikan, aku rasa dia bisa melebihi kekuatan kecerdasan dari ayah ibunya, aku sudah membaca semua informasi tentang nya, dan bahkan si kakek tua itu saja mengakui kehebatan anak ini."
"Aku jadi penasaran jika aku bertarung dengan anak ini siapa yang akan menang hahaha, tapi aku rasa aku harus menunggu dia lebih besar sedikit lagi, baru dia bisa menyaingiku, yah tapi kita lihat saja nanti apa yang akan anak ini lakukan di Jepang."
"Apa anak ini akan menguasai Jepang? Hhahaha aku sangat tidak sabar menantikan hal itu."
"Jika dia benar-benar bisa melakukan nya, maka sudah di pastikan orang ini akan menjadi terkenal di seluruh dunia, dan di takuti oleh seluruh dunia."
"Dan mungkin bisa jadi anak ini akan menjadi legenda dunia baru, dan aku rasa hal itu tinggal menunggu waktu saja, dan tugasku hanya menjaganya saja dari sesuatu yang sangat berbahaya."
"Itu artinya pekerjaanku bebas, aku hanya perlu membantu di saat dia kesulitan saja, lagi pula Edwart meminta untuk membiarkan Kefa mandiri, jadi yah aku akan menjaga anak ini dari kejauhan saja."
"Misi ini akan terlihat sangat mudah, karena aku rasa anak ini tidak perlu bantuan dari ku, dia sendiri sudah cukup kuat untuk mengatasi semuanya, tapi yah mungkin Edwart hanya ingin berjaga-jaga jika suatu saat anak nya di incar oleh para mafia kelas internasional." Batin Saito Haruki.
***
Kepergian Kefa sangatlah misterius dan sangat di rahasikan. Despa dan Maria sekarang berada di hadapan Edwart dan Rina yang masih bertengkar bahkan duduk mereka saja tidak dekat seperti dulu lagi.
Despa dan Maria yang melihat mereka berdua terlihat sangat risih.
Di sini Maria mengajak Rina keluar rumah, sedangkan Despa akan mengintrogasi Edwart secara empat mata, ia ingin mengetahui alasan di balik Edwart mengusir Kefa, dan melakukan tindakan yang sangat gegabah.
"Jadi Edwart, aku sudah mendengarnya dari istrimu, kau sangat keterlaluan sebagai ayah Edwart, aku tidak pernah mengajarkan mu seperti itu, aku sangat kecewa padamu, aku benar-benar sangat kecewa, Edwart apa yang dikatakan Rina padamu semuanya benar Kefa hanyalah anak kecil Edwart."
"Seharusnya kau tidak melakukan hal itu, tapi nasi sudah menjadi bubur, dan aku sebagai ayahmu menerima keputusan mu itu, tapi sebelum itu ayah ingin mendengar alasan asli di balik ini semua apa?"
"Aku ingin menyelamatkan Kefa ayah, dari serangan para musuh-musuhku aku tidak ingin dia terlibat ayah, dia adalah putraku satu-satunya yang sangat aku cintai, tapi tadi memang aku salah ayah pikiranku sedang kacau dan di kuasai oleh amarah."
"Begitukah, tapi kenapa kau sampai mengirim Kefa ke Jepang?"
__ADS_1
"Karena di sana adalah tempat yang paling aman ayah menurutku."
"Aku setuju dengan mu, tapi maksud ku kenapa Kefa harus kesana, Kefa tidak perlu pergi ke luar negeri pun bisa kan, kita bisa melindunginya."
"Tidak ayah, kita tidak akan sanggup, apa ayah tidak menyadari bahwa lawan kita saat ini bukanlah lawan biasa."
"Begitu yah sekarang aku mengerti alasanmu, aku rasa keputusan mu benar, namun kau juga melakukan kesalahan yang besar."
"Aku tau itu ayah."
"Yap tidak masalah suatu saat masalah ini juga akan membaik dengan sendirinya, Edwart aku ingin kau menjelaskan hal ini pada istrimu, Rina adalah orang yang sangat baik, jangan sampai kau kehilangan nya juga, jika hal itu sampai terjadi aku akan menendangmu dari keluarga Deluxe."
"Iya ayah baik, aku juga tidak ingin kehilangan dia ayah, bagiku Rina dan Kefa adalah segalanya ayah, aku rela memberikan semuanya hanya untuk mereka."
"Iya ayah tau dan mengerti maka dari itu mulai dari sekarang kau tidak boleh menanggung sendirian, kau memiliki istri berbagilah dengan dia, jangan terlalu egois Edwart."
"Iya ayah aku mengerti terima kasih masukan nya ayah."
"Sama-sama hari ini kau belajar banyak hal bukan."
"Iya ayah."
"Ini lah yang dinamakan dengan cinta Edwart sangat rumit kadang bertengkar kadang pula akur, kadang pula sedih kadang pula bahagia, kalian harus melaluinya."
"Ingatlah pesan ku ini, kau ingin menginginkan pelangi, tapi pelangi tidak akan pernah hadir jika tidak ada hujan."
"Dari ayah hanya segitu saja, semoga kau paham."
"Iya ayah."
"Suatu saat kau harus berbaikan dengan Kefa dan kaulah yang harus meminta maaf karena ini bukan kesalahan dia tapi kesalahan mu Edwart."
__ADS_1
"Iya ayah." Edwart hanya bisa menganggukan kepalanya dan berkata iya, karena apa yang di katakan oleh ayahnya memanglah benar.