
Seketika Kefa sekarang menjadi pusat perhatian, semua orang menatap Kefa, seakan-akan mereka tidak percaya bahwa Keiro, Haira, dan Raize. Di kalahkan oleh Kefa hanya dengan sekali serangan, padahal mereka bertiga memiliki basik ilmu bela diri taekwondo.
Dan tidak mungkin orang culun seperti Kefa dapat mengalahkan mereka bertiga, namun kenyataan tidak sesuai eskspetasi, Kefa berhasil mengalahkan mereka bertiga dengan mudah, tanpa terluka walaupun Kefa sempat di hajar habis-habisan oleh mereka bertiga.
Seisi kelas sekarang tercengang dengan fenomena tersebut, dua orang wanita yang telah menghina dan telah melukai Tsukia itu, mereka adalah orang yang paling terkejut di antara yang lain.
"A-aku ba-baik-baik saja bagaimana dengan mu, kamu baik-baik saja kan Kefa?" Tanya Tsukia yang terlihat sangat mengkhawatirkan Kefa.
"Aku baik-baik saja kok." Kefa sambil tersenyum.
Tsukia terlihat sangat sedih dan dia seperti merasa bersalah "Maafkan aku Kefa gara-garaku kamu harus menerima perlakuan yang tidak mengenakkan."
"Kamu tidak salah Tsukia, jadi belajar untuk tidak meminta maaf, karena kamu tidak bersalah oke."
"Oy 2 lacur bajinga* kalian pergilah dari sini, jangan pernah menganggu Tsukia lagi, entah kenapa aku sangat muak dengan wajah kalian." Kefa dengan nada yang dingin sambil menatap mereka berdua dengan tatapan yang mengerikan.
2 Wanita yang telah membuli Tsukia pun mereka langsung pergi dari sana, mereka terlihat sangat ketakutan.
"Ayo kita pergi ke ruang kesehatan tampaknya kamu tidak baik-baik saja Tsukia, jangan belajar berbohong aku tidak menyukainya, lihat lah tangan mu berdarah, karena impusan nya lepas dari tangan mu." Kefa pun di sini membungkuk dan menyuruh Tsukia untuk naik ke punggung Kefa.
Tsukia pun terlihat malu-malu dan tidak tau harus apa.
"Ayo cepat naik, aku akan membantu mu ke ruang kesehatan, tidak perlu malu aku ini teman mu, sudah seharusnya bukan teman saling membantu ketika kesulitan, ayo cepat tidak usah banyak berpikir."
"Ah iya baiklah terima kasih Kefa tapi bagaimana dengan ini?." Tsukia yang memegang sebuah tongkat besi yang ada impusan nya."
"Aku nanti akan membawanya ke ruang kesehatan sudah ayo cepat naik."
"Iya Kefa." Tsukia pun naik ke punggung Kefa.
Kefa pun membawa Tsukia ke ruang kesehatan.
"Kefa aku rasa aku harus turun, aku sangat malu tau, banyak orang yang melihat kita dari tadi."
"Iyakah."
"Iya Kefa apa kamu tidak menyadarinya."
__ADS_1
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak pernah memikirkan pikiran orang lain, hmm jelasnya aku ini orangnya bodo amatan, aku hanya melakukan apapun yang ku suka, bahkan orang tua ku saja tidak bisa melarangku, apalagi orang lain jadi mau mereka melihat kita terus atau apapun itu aku tidak peduli."
"Sudah tidak perlu malu seperti itu."
"Mmmm iya baiklah jika itu katamu, terima kasih sarannya Kefa aku akan melakukan seperti apa yang kamu lakukan, jika di lihat-lihat kita ini seperti sepasang kekasih saja ketimbang teman." Ujar Tsukia yang keceplosan.
"AH KEFA MAAF AKU TIDAK BERMAKSUD SEPERTI ITU, KAMU TAU KAN UHM AAA...."
"Hhahahahah sudah tidak apa hahaha kenapa kamu jadi malu-malu seperti itu, kamu lucu juga yah ketika malu-malu seperti ini."
"Baka apa yang kamu katakan." Tsukia sambil memukul punggung Kefa dengan pelan, dan Kefa hanya tertawa.
Kefa dan Tsukia pun sudah sampai di ruang kesehatan, dan sekarang Tsukia sudah baik-baik saja karena sudah di rawat oleh dokter di sana, Tsukia sekarang sedang beristirahat, karena dokter menyarankan agar Tsukia banyak istirahat tubuh nya benar-benar sangat lemah.
"Apa sekarang kamu sudah baikan?" Tanya Kefa yang sekarang berada di samping Tsukia.
"Iya aku sudah aga baikkan, terima kasih atas semuanya Kefa, kamu memang orang baik."
"Tidak tidak kamu baik titik."
"Iya aku baik dah."
"Nah gitu dong. Kita ini sangat aneh yah padahal baru pertama kali bertemu, tapi kita terlihat serasi......MAKSUD BUKAN ITU YAH, MAKSUD AKU ITU KITA SEPERTI SUDAH MENGENAL LAMA SATU SAMA LAIN KAMU MENGERTIKAN."
"Hhahahahah iya aku mengerti Tsukia hahahaha."
"Kenapa kamu tertawa."
"Tidak hanya saja kamu ini sangat lucu." Ujar Kefa yang membuat Tsukia malu-malu.
"Apa kamu tidak kembali ke kelas? Seharusnya sekarang sudah jam masuk pelajaran bukan."
"Iya kamu benar, sepertinya aku akan kembali kekelas dulu dan mengambil barang mu."
__ADS_1
"Itu tidak perlu Kefa, barangku biarkan saja di sana."
"Tidak tidak tidak pokoknya aku harus mengambilnya."
"Kefa aku mohon aku tidak ingin merepotkan mu."
"Tidak repot sama sekali kok tenang saja hehehe." Kefa sambil tersenyum.
"Beristirahatlah Tsukia."
"Iya Kefa terima kasih, dan sekali lagi maafkan aku atas semuanya." Tsukia yang terlihat sedih dan merasa bersalah dia seperti memikirkan kejadian tadi, dan dia benar-benar merasa bahwa semua itu gara-gara dirinya.
Kefa mengetahui hal itu dari raut wajah yang di tunjukkan oleh Tsukia, Kefa pun berkata "Dengarkan aku, jangan meminta maaf atas sesuatu yang tidak kamu perbuat sama sekali, belajarlah untuk menghargai diri mu sendiri, karena kalau bukan dirimu siapa lagi."
"Beristirahatlah dengan baik jangan terlalu memikirkan banyak hal oke?"
"Iya Kefaaa."
"Bagus, kalau begitu aku pergi dulu." Kefa pun pergi dari sana.
"Berhati-hatilah."
"Iyaa."
"Sekali lagi maafkan aku ayah ibu, aku benar-benar tidak bisa menjadi orang biasa, jika kalian berdua berada di posisi ku sekarang, aku yakin kalian akan melakukan hal yang sama."
"Haah (Menghela nafas) Sepertinya memang benar pembulian di Jepang memang sangat parah ketimbang di Indonesia, di sini lebih mengerikan."
"Tsukia dia pasti sudah mengalami banyak hal buruk, aku bisa melihat dari matanya yang terlihat begitu berat, dia orang yang hebat bisa menahan semuanya sendirian,"
"Padahal keinginan dia sangatlah sederhana, tapi kenapa orang lain tidak mengerti sama sekali yah? Haah aku rasa manusia memang seperti itu, ingin di mengerti tapi tidak bisa mengerti orang lain."
Kefa pun disini merasakan perasaan yang berbahaya, "Tampaknya aku akan berolahraga pagi di kelas, mereka sepertinya masih belum puas, aku harus memberikan pelajaran yang tidak akan pernah mereka lupakan sama sekali." Kefa sambil melakukan peregangan.
"Sekolahan elit Jepang memang sangat mengerikan, aku jadi tertarik untuk menguasainya, aku ingin melihat apa aku bisa merubah semuanya menjadi lebih baik atau tidak."
"Tapi aku rasa aku bisa merubah segalanya jika aku mau, tapi untuk saat ini dari pada memikirkan itu lebih baik aku memikirkan cara membahagiakan Tsukia, aku rasa dia butuh seseorang di sampingnya, yang bisa mendengar keluh kesahnya dan yang lainnya."
__ADS_1
"Yap aku rasa tujuanku untuk sementara akan menemani Tsukia terlebih dahulu." Kefa pun di sini memeang gagang pintu kelas.