
PPFC 118 - Undangan Pesta Berdarah
“Chen‘er?”
“Bibi Liu, syukurlah kau baik-baik saja-”
“Bocah tengik, siapa yang kau panggil Bibi? Aku belum setia itu!”
Fei Chen memejamkan matanya saat Liu Xianlin berlari kearahnya dan memukul kepalanya. Sedetik kemudian wanita memeluk erat tubuhnya.
“Chen‘er!”
Fei Chen terdiam dan membiarkan Liu Xianlin menangis dipelukannya, lalu penuh kelembutan satu tangannya melingkar dipinggang ramping Liu Xianlin dan berbisik pelan.
“Apa saja yang mereka lakukan padamu Kakak Liu?”
Liu Xianlin menangis sesenggukan dan berhenti, “Banyak hal yang terjadi, tetapi kau tenang saja Chen‘er... Aku masih perawan...”
Wajah Fei Chen bersemu merah mendengar bisikan Liu Xianlin ditelinganya. Wanita ini mencoba bersikap tegar dan itu membuat Fei Chen menjatuhkan Pedang Raja Neraka dan memeluk Liu Xianlin lebih erat.
“Untuk saat ini menangislah... Setelah itu lihat aku membunuh mereka semua. Mereka yang telah merenggut kehidupanku ataupun kehidupanmu.”
Liu Xianlin menumpahkan seluruh kesedihan yang dia pendam mendengar ucapan Fei Chen. Kehangatan badan Fei Chen dan sentuhan telapak tangan yang besar dan terasa kasar itu membuat jantung Liu Xianlin berdegup kencang.
Tanpa Liu Xianlin sadari hatinya yang telah lama mati terbuka memberikan Fei Chen berdiam disana menunggu kesiapan dan penerimaan dirinya atas sebuah asmara.
“Suami manisku, aku sudah membawa mereka berdua! Daripada itu beraninya kau memeluk wanita lain dibelakangku!” Suara Su Xiulan menggema dipenuhi kemarahan.
__ADS_1
Fei Chen dan Liu Xianlin menoleh keatas melihat wanita berambut putih membawa dua orang gadis muda yakni Ling Xiyao dan Ma Mingyan.
Dibandingkan Ma Mingyan yang baru menginjak usia lima belas tahun, Ling Xiyao terlihat tumbuh sebagai gadis cantik berumur dua pulih tahun. Walaupun demikian Ma Mingyan tidak kalah dengan Ling Xiyao karena sudah pasti gadis kecil akan tumbuh menjadi gadis cantik mengingat latar belakangnya.
Su Xiulan menurunkan Ling Xiyao dan Ma Mingyan diatas ranjang tempat Xhin Li Wei berbaring, kemudian mendekati Fei Chen dan memeluk Fei Chen ataupun Liu Xianlin secara bersamaan.
“Suami manisku, jadi kau lebih suka melakukan malam pertama langsung bertiga begitu?” Pertanyaan dari Su Xiulan langsung membuat Liu Xianlin mendorong tubuh keduanya dan menunjuk wanita berambut putih itu.
“Chen‘er katakan padaku siapa wanita ini?!” Liu Xianlin panas hatinya melihat Su Xiulan yang seolah-olah telah mengenal Fei Chen dekat.
“Aku? Aku adalah istri pertamanya, gadis kecil.” Su Xiulan menatap rendah dan mengejek Liu Xianlin.
“Istri? Sejak kapan kau-” Liu Xianlin tidak melanjutkan perkataannya dan memejamkan matanya, “Jadi begitu...”
“Kakak Liu, dia adalah... banyak hal yang terjadi jadi aku tidak mempunyai pilihan lain.” Jawaban Fei Chen kini membuat Su Xiulan marah.
“Aku mengerti, aku tidak cemburu lagipula kau berhak memutuskan siapa yang menjadi istrimu.” Liu Xianlin mengingat kutukan yang dibicarakan Fei Chen lima tahun lalu.
‘Kenapa aku cemburu? Apa aku jatuh cinta pada adik sepupu tunanganku, Guang‘gege?’ Liu Xianlin tidak memungkiri perasaan ini. Dia menatap lekat Fei Chen dan membenarkan perasaan padanya pemuda itu.
“Lepaskan pelukanmu. Saat ini keselamatan Kakak Liu adalah hal yang utama dan kita telah berhasil. Sekarang kau bisa melanjutkan pelajaran kita.” Nada Fei Chen yang mendominasi memerintah membuat Su Xiulan menaikan alisnya.
“Kita benarkan dulu posisi kita ini. Aku ini adalah Gurumu sekaligus Istrimu bukan?” Su Xiulan menatap Fei Chen yang menganggukkan kepalanya, “Lalu kenapa kau bicara seolah-olah lebih diatasku dan memerintahku?”
Sebuah pukulan mendarat kembali di kepala Fei Chen. Mungkin seumur hidupnya hanya Liu Xianlin dan Su Xiulan yang berani melakukan ini kepada Fei Chen.
“Istriku-”
__ADS_1
TOK... TOK... TOK...
“Tuan Hen!”
Fei Chen memberi tanda pada Su Xiulan, Liu Xianlin, Xhin Li Wei, Ling Xiyao dan Ma Mingyan agar diam. Perlahan dia mendekati pintu ruangan dan membukanya, disana ada pendekar dari Aliran Pedang Iblis yang membawa surat.
“Tuan Hen- Tunggu kau siapa-”
Sempat terkejut karena yang membuka pintu adalah orang asing, pendekar tersebut mati saat tusukan tangan Fei Chen menembus jantungnya dan menghancurkannya.
Fei Chen mengambil surat yang dibawa pendekar tersebut dan membacanya. Alisnya mengkerut dan tak lama senyuman dingin menghiasi wajahnya.
“Jadi keparat itu sudah mengetahui apa yang dilakukan orang itu dibelakangnya? Ini lebih mudah, mari kita buat pertumpahan darah di Ibukota Mafei, tanah kelahiranku yang telah kalian kuasai!” Fei Chen tersenyum menyeringai dan melepaskan Aura Raja Neraka. Dari belakangnya Su Xiulan sudah berdiri dan memukul kepalanya.
“Setelah itu kita akan bertempur diranjang sayang...” Gigitan kecil mendarat ditelinga Fei Chen dan membuat pemuda itu hampir menjerit.
“Kau! Beraninya kau melakukan itu pada Chen‘er?”
Liu Xianlin menunjuk Su Xiulan dan mendekati wanita itu seolah tidak terima dengan apa yang dilakukan Su Xiulan kepada Fei Chen.
“Apa masalahnya denganmu? Dia adalah suamiku dan aku adalah istrinya. Ini hak kami dan ini kebebasan kami.” Su Xiulan tersenyum jahil sebelum menatap Liu Xianlin mengejek.
“Jangan bilang kau juga memiliki perasaan pada suamiku?”
Pertanyaan ini membuat Liu Xianlin yang tadinya mengoceh langsung terdiam, sedangkan Fei Chen menoleh kebelakang menatap Liu Xianlin menunggu jawaban yang pasti dari wanita itu.
“Apa yang kau katakan? Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri yang harus kujaga.“ Jawaban Liu Xianlin membuat Su Xiulan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Dasar wanita tidak jujur.”