
PPFC 77 - Kebenaran Misteri Tewasnya Mu Jung
Ditemukannya Mu Jung yang tak bernyawa membuat Mu Rong terpukul. Mu Jung tewas dengan luka tusuk di perutnya dan mengalami pendarahan.
Banyak orang yang berkumpul untuk melihat hingga akhirnya Mu Rong menyuruh mereka semua untuk pergi. Mu Rong ingin menyendiri dan berniat akan melakukan pemakaman untuk kakaknya secepatnya.
“Kakak Jung, kenapa kau pergi dengan begitu cepat?” Mu Rong meneteskan air matanya. Wanita berumur empat puluh tahun ini terlihat sangat menderita.
Beberapa hari yang lalu suami dan anaknya tewas dibunuh Raja Naga Iblis dalam pembantaian massal dan sekarang dia kembali dihadapkan dengan kenyataan pahit yakni harus kehilangan kakak kandungnya.
“Kakak Jung, kepergianmu membuatku menjadi satu-satunya orang dari keluarga Mu... Kenapa semua ini harus terjadi padaku?!” Mu Rong menangis histeris menatap tubuh Mu Jung yang berlumuran darah.
“Aku berharap semua ini mimpi...” Mu Rong bergumam pelan sebelum pintu dari arah belakang terbuka pelan.
Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu belakang dikunci. Mu Rong tidak menyadarinya karena sekarang dirinya larut dalam kesedihan.
Hingga satu sosok pria yang sebaya dengannya datang menghampirinya.
“Aku turut berduka, Nyonya Mu.” Pria itu tidak lain adalah Tan Hongche.
Mu Rong menyeka air matanya dan menatap sendu Tan Hongche.
“Tuan Tan? Bagaimana kau bisa masuk kemari? Bukankah aku sudah menyuruh kalian untuk tidak masuk kedalam kediaman ini sebelum aku tenang?!” Mu Rong nampak emosi.
__ADS_1
Tan Hongche tiba-tiba memeluk tubuh Mu Rong dan mendekapnya hangat, “Nyonya Mu, pasti sangat menyakitkan jika harus kehilangan suami, anak dan kakak kandung. Maaf atas kelancanganku ini, tetapi hari ini keluarkan semua air matamu. Aku bersedia menjadi tempat bersandar mu...”
Mu Rong memberontak namun kata-kata menyentuh dari Tan Hongche membuat perasaannya bergelora dan membuatnya meneteskan air mata.
“Katakan padaku Tuan Tan! Kenapa aku harus mengalami semua ini?! Kenapa aku harus menderita?!” Mu Rong menangis didalam pelukan Tan Hongche.
Tan Hongche tersenyum lebar, ‘Aromanya sungguh memabukkan. Dari dulu kau selalu saja menggoda Nyonya Mu. Andai saja kau menikah denganku, kau akan bahagia dan tidak menderita. Aku selalu berharap memilikimu dan mempunyai anak denganmu.’
Tan Hongche mengelus kepala Mu Rong lembut, “Dunia ini sangat kejam, Nyonya Mu. Kau mungkin tidak mengetahuinya, tetapi sejak dulu aku selalu memperhatikanmu. Aku ingin membahagiakanmu dan tidak ingin melihatmu menangis.”
Tan Hongche menyeka air mata Mu Rong membuat wanita itu menatap wajahnya. Tan Hongche sangat lihai memainkan perasaan perempuan dan benar saja sedetik kemudian dia mengeluarkan kata-kata manis pada Mu Rong.
“Nyonya Mu, tidak pantas aku mengatakan ini saat kau sedang berduka. Tetapi aku sangat mencintaimu. Izinkan aku menjadi suamimu dan terimalah perasaanku ini.” Tan Hongche memajukan kepalanya hendak mencium bibir merekah Mu Rong yang menggoda.
Mu Rong memalingkan wajahnya, “Apa yang kau pikirkan Tuan Tan? Aku adalah seorang janda-”
“Tuan Tan?” Mu Rong heran.
“Nyonya Mu, aromamu sangat menggoda...” Hidung Tan Hongche mengendus leher Mu Rong membuat wanita itu memberontak. Namun akal sehat Tan Hongche menghilang dan tangannya mulai menggerayangi tubuh Mu Rong.
“Tuan Tan jangan kurang ajar! Berhenti atau aku akan berteriak!” Mu Rong mencoba memberontak namun Tan Hongche mendorong tubuhnya dengan keras hingga tersungkur di samping jenazah Mu Jung.
“Akh! Aduh!” Mu Rong mengerang kesakitan.
__ADS_1
Tan Hongche dengan cepat menindih tubuhnya dan langsung mencium pipinya. Mu Rong kaget bukan kepalang dan meneteskan air matanya karena tidak menyangka akan mengalami kejadian seperti ini.
“Kakakmu yang bodoh itu selalu menentang niatku yang berniat melamarmu sehingga aku membunuhnya!” Tan Hongche tersenyum lebar dan mencoba mencium bibir Mu Rong namun tidak berhasil.
“Tidak ada yang mengganggu kita. Kakakmu itu telah mati dan orang diluar sana tidak akan ada yang berani masuk. Nikmatilah hari ini sayangku.” Tan Hongche meremas gundukan kembar Mu Rong dan membuat wanita itu menjerit.
“Hakkksss!”
Tan Hongche dengan kasar memukul Mu Rong membuat perlawanan wanita itu melemah. Tangannya langsung masuk kedalam pakaian bawah Mu Rong.
“Aaahhh... Nyonya Mu, kau sangat menggairahkan! Lupakan semua permasalahan yang ada dan kita nikmatin permainan ini...” Mulut Tan Hongche memberikan gigitan kecil ditelinga Mu Rong.
“Tan Hongche! Kau sungguh biadab! Dasar binatang tak berperasaan!” Mu Rong berteriak sekeras-kerasnya karena perlakuan kasar Tan Hongche terhadap dirinya.
Tan Hongche tersenyum tipis saat jari-jemarinya menyentuh sesuatu yang paling berharga milik Mu Rong.
“Aaahhh... Tidak lepaskan! Tolong-”
“Nyonya Mu, sejak awal aku mengincarmu. Kita sudah mengenal sejak remaja dan kau justru menikah dengan suami bodohmu yang telah mati. Kakakmu itu tidak menyetujui lamaranku sehingga aku membunuhnya. Sekarang aku tidak peduli jika harus mati asalkan dapat merasakan tubuhmu sayang...” Tan Hongche melepaskan pakaian atasnya kemudian tangannya masuk kedalam gaun yang dikenakan Mu Rong meraba kulit halus dan indah milik wanita paruh baya itu.
Tan Hongche tersenyum menyeringai hendak membuka gaun yang dikenakan Mu Rong dan tentu saja membuat wanita itu panik.
“Hakkksss! Jangan dibuka!”
__ADS_1
JEDARRR!
Pintu depan kediaman keluarga Mu hancur berkeping-keping. Tan Hongche kalang kabur terkejut, sedangkan Mu Rong menangis histeris karena hampir menjadi korban kebiadaban Tan Hongche.