
PPFC 207 - Kondisi Menyedihkan Murong Liuyu
Suara raungan menggema keras saat Jia Li dan Yin Jinxia selalu bertemu dengan Binatang Iblis. Keduanya kini sudah berada di wilayah barat Lembah Sunyi, terlihat pendekar Lentera Iblis Tunggal mulai ramai-ramai berdatangan mencari tempat keributan dan menghadang amukan Binatang Iblis.
“Kita tidak mendengar kabar dari Tetua Shu! Situasi sekarang sangat kacau karena Guncangan Buas terjadi dimana-mana!”
“Patriark Sun menyuruh kita membereskan ini sebelum beliau datang tetapi tetap saja melawan amukan Binatang Iblis seperti ini sulit untuk dilakukan!”
“Tetua Guan sudah mengonfirmasi bahwa ada tiga orang penyusup dan kita juga di suruh mencari keberadaan ketiga penyusup ini!”
“Situasi yang kacau balau!”
Para pendekar Lentera Iblis Tunggal yang sedang bertarung dibawah sana kebanyakan Pendekar Suci Tahap Puncak. Mereka semua menoleh keatas saat menyadari keberadaan dua Singa Bersayap Api yang terbang rendah.
Menyadari ada dua orang yang menaiki punggung Singa Bersayap Api tersebut, para pendekar Lentera Iblis Tunggal menjadi waspada. Sebelum menyadari apa yang terjadi, tubuh mereka sudah membeku.
“Nadi Es — Kristal Beku kematian!”
Tubuh para pendekar Lentera Iblis Tunggal tersebut hancur berkeping-keping. Yin Jinxia kembali bergerak membunuh para pendekar yang langsung mengambil jarak dan tanpa belas kasih dia mengakhiri nyawa para pendekar tersebut.
Sementara itu Binatang Iblis yang mengamuk dibunuh Jia Li menggunakan permainan pedangnya yang indah dan penuh kelembutan. Jia Li langsung melepaskan aura tubuhnya untuk mendeteksi hawa keberadaan musuh disekitarnya.
__ADS_1
“Sepertinya markas mereka tidak jauh dari sini...” Jia Li menggumam pelan dan melihat hari menjelang malam.
“Xiaxia sebaiknya kita menyerap khasiat Permata Iblis dan melanjutkan perjalanan kita besok.” Jia Li berniat untuk beristirahat sedangkan Yin Jinxia menyarankan Jia Li untuk terus melanjutkan perjalanan.
“Kau sudah mempunyai Momo dan Xixi, kita bisa melakukan meditasi di atas punggung mereka. Selain itu aku merasa markas mereka sudah dekat,” ujar Yin Jinxia seraya menatap Momo dan Xixi yang terlihat begitu penurut.
Sedangkan Jia Li mengikuti saran Yin Jinxia dan menyimpan Permata Iblis ke dalam Cincin Ruang miliknya. Keduanya segera naik ke punggung Momo dan Xixi sebelum pergi melanjutkan perjalanan.
“Sebaiknya kita hindari kabut dimalam hari.” Jia Li menepuk-nepuk punggung Xixi dan membuat Singa Bersayap Api tersebut terbang lebih tinggi.
“Ya, sebaiknya seperti itu Lili.” Yin Jinxia juga melihat jelas bagaimana kabut di Lembah Sunyi yang berpindah tempat dan muncul secara tiba-tiba dari atas punggung Momo.
‘Apa Chen‘gege baik-baik saja disana?’ Yin Jinxia membatin mengkhawatirkan kondisi Fei Chen.
“Tetua Guan, kami tidak menemukan siapapun disekitar sini...” ucap seorang pendekar yang mengenakan seragam Lentera Iblis Tunggal.
“Senior Guan, kami juga tidak menemukan siapapun.”
“Regu kami juga tidak menemukan siapapun, Tetua Guan.”
Guan Han yang sedang duduk diatas batu memegang dagunya mendengar laporan para pendekar Lentera Iblis Tunggu yang bekerja dibawah perintahnya.
__ADS_1
‘Apa orang ini pandai menyembunyikan hawa keberadaannya? Aku sangat yakin dengan kemampuanku dan tidak mungkin aku salah dalam merasakan aura seseorang...’ Mata Guan Han melebar saat merasakan sekilas aura pembunuh dan seketika dia menoleh kearah hutan.
“Semuanya ikuti aku!” Segera Guan Han mengecek keadaan dihutan dan dia menemukan seorang gadis dengan wajah yang begitu pucat pasi sedang bersembunyi.
Gadis itu terlihat kesakitan bahkan saat terpergok olehnya, gadis itu seolah-olah mengabaikan keberadaan dirinya karena menahan rasa sakit.
“Cucu Harimau Langit, Fang Huo? Tidak kusangka kau rupanya penyusup itu-” Suara Guan Han tercekat saat dirinya melepaskan aura tubuhnya, namun dia tidak merasakan hawa keberadaan seorang pendekar pada diri tubuh Murong Liuyu.
‘Jika bukan gadis itu maka aura barusan yang aku rasakan milik siapa?’ Guan Han membatin seraya memperlebar aura tubuhnya lebih besar, namun saat kedua matanya tertuju pada lekuk tubuh Murong Liuyu yang hanya dibalut gaun penuh sobekan membuat tenggorokannya menelan ludah dengan kasar.
“Semuanya kepung gadis itu!” Guan Han memberikan perintah lalu berjalan mendekati Murong Liuyu.
“Jangan mendekat!” Murong Liuyu menjaga jarak dan mengarahkan pedangnya pada Guan Han.
“Apa yang ingin kau lakukan Nyonya Murong? Kau sudah terkena Racun Laba-Laba Hitam milik Saudara Houshan, tubuhmu akan mengalami kelumpuhan secara perlahan sebelum mati,” ucap Guan Han sambil melepaskan pakaian atasnya dan langsung mendekati Murong Liuyu.
Saat Murong Liuyu hendak mengarahkan pedangnya pada lehernya, Guan Han sudah berada didepannya dan memegang pedang tersebut lalu membuangnya.
“Lebih baik kau turuti perintahku ini dan aku akan memberikanmu penawar racun jika bersedia melayaniku dan menjadi istriku.” Guan Han membelai wajah Murong Liuyu lalu menghimpit tubuhnya ke pohon seraya berbisik di telinganya dan menggigit kecil daun telinga tersebut.
“Aku sudah lama tidak mendapatkan jatah dari istriku karena membunuh Guan Zhou, jadi aku ingin kau memanjakanku malam ini...” Guan Han menekan kakinya kearah paha Murong Liuyu.
__ADS_1
Walaupun wajahnya memucat pasi tetapi kecantikan Murong Liuyu tetap terlihat. Murong Liuyu hendak menggigit lidahnya namun Guan Han sudah menotok dadanya membuat Murong Liuyu tidak dapat menggerakkan tubuhnya.
“Kecantikan dan keindahan bunga persik akan menjadi milikku...”