Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 221 - Yu‘er


__ADS_3

PPFC 221 - Yu‘er


Selepas acara pernikahan Fei Chen membawa Murong Liuyu dan Long Xiaoya ke Gunung Menangis. Tentu saja kali ini dia hanya membawa kedua istri barunya tanpa seorang dayang yang menemani mereka.


Fei Chen terlihat begitu tenang dan santai menikmati sengatan listrik ditubuhnya saat berendam di Kolam Siksa Petir.


Hanya Long Xiaoya yang menemani Fei Chen mandi, sedangkan Murong Liuyu menunggu dikamar pribadinya.


“Gege...” ucap Long Xiaoya lirih.


Fei Chen menoleh dan menatap wajah gadis itu, “Ada apa Ya‘er?”


“Tentang racun itu... Aku... Sebenarnya aku...” Long Xiaoya sulit untuk berbicara terus terang karena tatapan mata Fei Chen yang tajam.


“Katakan saja, tidak perlu malu. Kita sudah resmi menjadi suami istri jadi kau tidak perlu khawatir,” ujar Fei Chen mempertegas hubungan mereka saat ini.


“Aku ingin mengucapkan terimakasih padamu Gege...”


Fei Chen hanya tersenyum dan tidak mengucapkan sepatah katapun. Lalu dia membasuh tubuhnya dan mengajak Long Xiaoya memasuki Rumah Yin Yang.


Sesampainya di kamar pribadinya, terlihat Murong Liuyu duduk dengan anggun menggunakan pakaian yang begitu tipis memperlihatkan lekuk tubuhnya yang menggoda.


“Kakak Liuyu!” Long Xiaoya merasa malu melihat Murong Liuyu, sedangkan Fei Chen tersenyum bahagia.


“Gege, aku akan menunggu dikamar sebelah. Ini terlalu memalukan.” Long Xiaoya akhirnya tidak dapat menekan rasa malunya mengingat dirinya menerima ajakan Fei Chen untuk melakukannya secara bersamaan.


Sengaja Fei Chen tidak menutup pintu kamar rapat dan langsung berjalan mendekati ranjang.


“Apa kau menyukainya?” Murong Liuyu dengan senyuman sinisnya menatap Fei Chen yang menelan ludah.


Fei Chen duduk disamping Murong Liuyu dan memegang tangan gadis tersebut lalu memberikan hadiah terindah bagi Murong Liuyu.


Cincin yang sama berharganya dengan Pusaka Dewa itu terlihat sangat indah dengan ukiran bunga persik.


“Yu‘er, katakan yang sejujurnya malam ini. Apa kau mencintaiku?” Tatapan tulus Fei Chen dan suaranya itu membuat tubuh Murong Liuyu bergetar.


Keangkuhannya seketika hancur dan seketika gadis itu membalas genggaman tangan Fei Chen.

__ADS_1


“Tidak perlu aku mengatakannya, kau seharusnya mengetahuinya...” Tiba-tiba Murong Liuyu memeluk tubuh Fei Chen.


“Untuk siapa aku berdandan seperti ini?”


Murong Liuyu memerah wajahnya dan berusaha menyembunyikannya saat Fei Chen membelai wajahnya penuh kelembutan.


“Sebut nama orang yang kau cintai, aku ingin mendengarnya...” Fei Chen berbisik mesra dan menghembuskan nafasnya keleher Murong Liuyu.


“Chen‘gege...” Dengan gemetar Murong Liuyu mengatakan itu.


Fei Chen tersenyum tipis dan mengangkat dagu Murong Liuyu lalu mengecup bibir tipis itu penuh kasih sayang.


Murong Liuyu yang biasanya bersikap arogan terhadap Fei Chen dan hanya menganggap pemuda yang telah menjadi suaminya itu adalah seorang bocah, kini sama sekali tidak berkutik saat bibirnya bertaut dengan bibir Fei Chen.


Deru nafas keduanya semakin memburu saat sang pria menari-nari didalam rongga mulut sang wanita. Murong Liuyu hanya bisa diam membiarkan jari-jemari Fei Chen membelai dan menyentuh setiap pahatan tubuhnya yang terbungkus pakaian tipisnya.


Murong Liuyu membisu saat Fei Chen melepaskan seluruh pakaiannya. Kepolosan tubuhnya ditatap Fei Chen penuh gairah. Keduanya memang telah mengarungi malam yang panjang bersama, tetapi saat itu Fei Chen melakukannya terburu-buru dan Murong Liuyu sendiri hanya bisa pasrah dan terkulai lemas.


Situasi sekarang ini berbeda dari sebelumnya. Keduanya menatap penuh kasih satu sama lain. Murong Liuyu membiarkan tubuhnya dinikmati Fei Chen yang membimbingnya terbang menuju alam surgawi.


Mulai dari kecupan dileher dan tengkuknya serta ******* digunung kembarnya membuat Murong Liuyu semakin terbuai. Tanpa sadar Murong Liuyu mengeluarkan desisan dari mulutnya.


Kini leher dan dada Murong Liuyu penuh bekas kemerahan. Fei Chen tidak berhenti dan terus melanjutkan perjalanan indahnya menuju celah lembah yang sempit.


“Gege... Itu menjijikkan...” Murong Liuyu merapatkan kedua pahanya, namun tindakannya itu justru membuat kepala Fei Chen terjepit kedua paha mulusnya.


“Ini tidak menjijikkan Yu‘er. Kau sangat indah...” ucap Fei Chen sambil melebarkan kedua paha Murong Liuyu dengan kedua tangannya.


Murong Liuyu hanya bisa mendesis lemah lembut saat lidah Fei Chen menari-nari tidak bisa diam di bawah sana.


“Aaaaahh... Haaah... Haaah...”


Nafas Murong Liuyu tidak beraturan saat merasakan kenikmatan hebat yang dilakukan Fei Chen. Kedua dadanya naik turun seiring hembusan nafasnya. Pemandangan ini membuat Fei Chen berniat memulai ritual malam pertama mereka.


“Yu‘er...” Suara serak Fei Chen membuat Murong Liuyu tersadar saat melihat keperkasaan pemuda tersebut yang tengah mengukung tubuhnya.


Murong Liuyu hanya pasrah melebarkan kedua pahanya lebar-lebar saat Fei Chen berusaha menyatukan tubuh mereka. Melihat itu Murong Liuyu berulang kali menahan nafas saat melirik kebawah sana karena keperkasaan Fei Chen terlihat kesulitan menembus celah sempit dirinya.

__ADS_1


Tak lama Fei Chen membisikkan sesuatu kepada Murong Liuyu dan hanya dijawab anggukan kepala lemah oleh Murong Liuyu.


“Pelan... Chen‘gege...” Murong Liuyu menggigit bibir bawahnya saat celah dirinya dimasuki sesuatu yang besar.


“Haaakkksss!” Murong Liuyu menjerit tanpa sadar.


Fei Chen mengusap wajahnya penuh kasih sayang dan keduanya saling menatap satu sama lain. Fei Chen berulang kali mengecup kening, pipi dan bibir tipis Murong Liuyu sambil mendorong tubuhnya lebih dalam.


Merasakan kenikmatan yang tiada tara membuat Fei Chen berusaha menyatukan tubuhnya lebih dalam dan itu membuat kedua mata Murong Liuyu terbelalak. Mulutnya merintih hebat dan tak lama suara ranjang yang berderit memenuhi kamar saat penerimaan ramah Murong Liuyu mulai dibakar kenikmatan.


Malam itu segala upaya keangkuhan Murong Liuyu berubah menjadi penerimaan yang ramah. Suara terengah-engah dan deru nafas lemah Murong Liuyu terus berpacu dengan gerakan Fei Chen yang terus mengukung tubuhnya.


Murong Liuyu tersipu malu saat mengetahui pemuda diatasnya menikmatinya ekspresi wajahnya yang terlihat menikmati dan kesakitan disaat yang bersamaan.


Kembali Murong Liuyu memeluk punggung kekar Fei Chen saat pemuda itu menghujamkan tubuhnya lebih dalam.


Fei Chen memeluk belakang kepala Murong Liuyu sebelum akhirnya keduanya mencapai pelepasan secara bersamaan.


“Sangat nikmat Yu‘er...” Fei Chen tersenyum tipis lalu mengecup bibir Murong Liuyu singkat.


“Masih sanggup?”


Mendengar ajakan sang suami membuat Murong Liuyu tersenyum lemas dan menjawab lemah, “Istirahat sebentar sayang...”


Saat hendak memejamkan mata, Murong Liuyu merasakan sesuatu dalam tubuhnya semakin membesar. Matanya yang sayu karena kelelahan menatap ekspresi pemuda diatasnya yang tersipu malu.


“Ucapanmu barusan membuatku kembali bangkit...” Fei Chen tidak memungkiri jika setiap tindakan Murong Liuyu akan membuat dirinya bergairah.


Akhirnya Murong Liuyu memasrahkan semuanya kepada Fei Chen yang membimbingnya mengarungi pergumulan malam mereka.


Hingga akhirnya tubuh Murong Liuyu merangkak dan ditindih Fei Chen dari belakang. Deru nafas keduanya tidak beraturan. Murong Liuyu sudah lemas dan hanya bisa pasrah saat Fei Chen membalikkan badannya dan kembali menindihnya.


“Tunggu...” Murong Liuyu merapatkan kedua pahanya saat mengetahui keperkasaan Fei Chen masih tegak berdiri.


“Aku sudah benar-benar lelah...” Lemas Murong Liuyu berkata.


Fei Chen hanya tersenyum dan mengecup kening Murong Liuyu.

__ADS_1


“Istirahatlah Yu‘er...” Fei Chen menyelimuti tubuh Murong Liuyu sebelum beranjak menuju kamar sebelah yang ditempati Long Xiaoya.


__ADS_2