Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 160 - Kembali Bertemu


__ADS_3

PPFC 160 - Kembali Bertemu


Suasana di Lembah Pedang yang biasanya sepi mendadak dipenuhi keramaian saat pendekar dari Lembah Naga dan Lembah Pedang berbondong untuk datang. Selain itu rombongan Kaisar Yin dan Istana Mawar Biru telah datang terlebih dahulu.


Feng Lao selaku Patriark Lembah Pedang menyerahkan semua ini kepada Luo Rou. Kakek sepuh itu masih seperti dulu mabuk-mabukan dan terlihat tidak mempercayai berita tentang Fei Chen.


“Omong kosong apa yang dibicarakan mereka?!” Seperti biasa Feng Lao membanting guci berisi arak sebelum kembali melampiaskan emosinya dengan minuman keras yang saat ini dia genggam.


“Kakek Feng buka pintunya!” Suara ketukan pintu terdengar diiringi teriakan gadis.


Tangan Feng Lao yang menggenggam guci bergetar karena merasa tidak asing dengan suara tersebut.


“Guru, murid akan membuka pintu...”


Suara pintu terbuka terdengar. Feng Lao membalikkan badannya dan melihat dua sosok muda-mudi yang sangat dia kenal. Air mata yang selama ini dipendamnya tumpah, Feng Lao merasa semua ini adalah mimpi saat mengetahui Fei Chen dan Jia Li telah tumbuh dewasa.


“Kakek Feng, aku sudah mendengar semuanya dari Bibi Luo...” Terlihat Jia Li merasa sedih melihat Feng Lao yang dalam situasi memprihatinkan.


“Li‘er, Chen‘er, apa ini benar kalian berdua?” Feng Lao tidak dapat menahan air matanya, begitu juga dengan Jia Li.


Jia Li langsung memeluk tubuh Feng Lao disusul Fei Chen. Kondisi mental Feng Lao sangat hancur namun setelah mengetahui jika semua ini bukanlah mimpi, akhirnya Feng Lao kembali tersenyum dan menangis.


“Li‘er, kemana saja kau selama ini?” Feng Lao memegang wajah Jia Li dan menatap gadis yang sekarang tumbuh cantik itu.


“Chen‘er, kau banyak berubah seperti Li‘er...”

__ADS_1


Feng Lao merasa begitu bahagia melihat Fei Chen dan Jia Li baik-baik saja. Ketiganya tersenyum dan menangis bersama sebelum masing-masing dari mereka menceritakan apa saja yang telah mereka lalui selama beberapa tahun belakangan ini.


Bahkan Feng Lao memberitahu Jia Li bahwa gadis itu merupakan keturunan suatu kerajaan di luar benua ini. Dan Jia Li mempercayai hal itu karena telah mendengar cerita Fei Chen.


Jia Li sendiri mengalami masa sulit selama beberapa tahun belakangan ini, tetapi dia sudah memutuskan tekadnya untuk mengikuti perjalanan Fei Chen menapaki kerasnya dunia persilatan.


Bukan hanya Feng Lao dan Jia Li saja yang menceritakan segalanya, bahkan Fei Chen pun menceritakan apa saja yang telah dia alami selama ini.


“Guru, murid akan fokus memperkuat Istana Naga Neraka Terdalam dan membangun kerjasama dengan Kekaisaran Yin selama setahun kedepan. Aku merasa malu jika kemampuanku yang sekarang ini masih dibawah istriku...”


Fei Chen tidak menyembunyikan senyumannya mengingat sosok Su Xiulan yang lebih kuat darinya.


“Aku tidak percaya muridku yang arogan telah memiliki seorang istri. Sudah dipastikan kau adalah pendekar terkuat dalam sejarah Kekaisaran Yin, Chen‘er. Aku tidak menyangka kau menjadi Kaisar Ma. Aku ingin memberikan posisiku ini padamu tetapi sepertinya kau telah memikul banyak beban...”


“Lili, bisa tinggalkan aku dengan Guru sendiri. Aku ingin membicarakan sesuatu hal dengannya...”


Fei Chen menatap Jia Li dengan tatapan memohon dan Jia Li yang mengerti langsung pergi meninggalkan ruangan memberikan ruang kepada Fei Chen untuk membicarakan banyak hal dengan Feng Lao.


“Guru... Maafkan muridmu yang tidak berguna ini...”


Fei Chen bersujud dan menangis didepan Feng Lao. Hal ini membuat Feng Lao tercengang karena dia mengetahui apa yang menimpa dirinya ini membuat Fei Chen sangat menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri.


‘Chen‘er telah melalui banyak hal berat sendirian, sedangkan aku berakhir menyedihkan... Aku merasa bersalah karena membuatnya berpikir jika semua yang menimpaku ini adalah kesalahannya...’ Menyesal Feng Lao dalam hatinya.


Lalu Feng Lao mengelus kepala Fei Chen dan berkata, “Chen‘er, apa kau merasa bahagia karena telah menjadi muridku?”

__ADS_1


Fei Chen berhenti menangis sebelum dia menjawab, “Tentu saja murid merasa sangat bahagia Guru!”


“Itu sudah cukup bagiku.”


Feng Lao tertawa karena merasa sangat bersyukur memiliki murid seperti Fei Chen.


Akhirnya Fei Chen memutuskan untuk memeriksa kondisi Feng Lao sebelum melakukan metode penyembuhan dengan membuka titik-titik meridian tubuh kakek sepuh tersebut.


Feng Lao dibuat berdecak kagum saat mengetahui dirinya telah sembuh total dari kelumpuhan.


“Chen‘er... Terimakasih...”


Tidak pernah Feng Lao sangka jika dirinya dapat kembali berjalan. Fei Chen hanya tersenyum bahagia tanpa mengatakan sepatah katapun karena jika dia mengatakan sesuatu maka tangisannya akan kembali pecah.


“Guru, sebaiknya kita berdua menghadiri pertemuan. Yang lain telah menunggu.” Fei Chen membantu Feng Lao berjalan menuju sebuah bangunan yang bernama Aula Pedang Bunga.


“Chen‘er, berapa umurmu sekarang?” Feng Lao bertanya karena mengingat Kutukan Raja Neraka yang dimaksud Fei Chen.


“Tujuh belas tahun...”


Feng Lao mengerutkan keningnya, “Aku yakin semuanya akan baik-baik saja Chen‘er...”


Fei Chen tersenyum mendengar ucapan Gurunya itu.


“Ya, semuanya akan baik-baik saja Guru...”

__ADS_1


__ADS_2