Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 171 - Ngambek


__ADS_3

PPFC 171 - Ngambek


“Lin‘er, tunggu! Kita bisa membicarakannya! Ini kesalahanku tetapi kau juga bersalah!” Fei Chen mencoba membuka pintu kamar Liu Xianlin.


“Tidak ada yang perlu dibicarakan! Dan kau barusan mengatakan aku juga bersalah?! Apa maksudmu?” Liu Xianlin menatap Fei Chen penuh kemarahan dan hendak membanting pintu namun tidak jadi saat melihat jari Fei Chen terjepit.


“Sayang, apa kau tidak sadar? Kau terlihat sangat cantik dan menggoda, jadi aku tidak dapat menahannya. Jadi ini sepenuhnya bukan kesalahanku, itu juga kesalahanmu karena kau terlalu begitu seksi dan manja...”


Akhirnya pintu terbuka setelah Fei Chen mengatakan itu. Liu Xianlin memerah wajahnya saat pemuda itu memeluk tubuhnya dan memegang wajahnya.


“Maafkan aku Lin‘er...” Fei Chen mengecup kening Liu Xianlin dan turun ke mata, hidung dan bibirnya secara perlahan.


“Sudahlah, kau benar-benar anak yang nakal.” Liu Xianlin memberi tanda pada Fei Chen dengan tatapannya agar meninggalkan kamarnya, “Jangan membuat kesalahpahaman yang lain!”


“Apa kau memaafkanku Lin‘er?”


Liu Xianlin mengangguk lemah, “Sayangku, aku memaafkanmu. Cepat pergi dari kamarku anak nakal. Jika tidak aku akan marah lagi.”


Fei Chen menghela nafas setelah melihat Liu Xianlin menutup pintu. Lalu Fei Chen berjalan menuju kamarnya yang masih berantakan akibat pertempuran panjang melawan Liu Xianlin semalam.


____

__ADS_1


Saat ini Fei Chen berkumpul bersama Liu Xianlin dan Jia Li di ruang makan. Fei Chen terlihat seperti seorang suami yang dilayani dua istri sekaligus.


Fei Chen tersenyum bahagia saat mengetahui Liu Xianlin bekerja keras membuat makanan untuk dirinya.


“Kenapa tersenyum? Maaf saja jika masakanku tidak enak!” Suasana hati Liu Xianlin sepertinya sedang buruk karena kejadian di kolam air panas walaupun sudah berbicara dengan Fei Chen.


Mendengar itu Fei Chen tersedak saat mencoba menelan daging Singa Bersayap Api yang masih panas. Jia Li memberikan secangkir air putih kepada Fei Chen sambil tertawa lirih.


“Chenchen, kau membuat Kakak Liu marah? Pastikan nanti kau meminta maaf dengan benar...”


Fei Chen hanya mengangguk dan menerima secangkir air putih pemberian Jia Li dan segera meminumnya.


‘Kenapa dia sangat marah? Padahal tadi sudah memaafkanku...’ Fei Chen bertanya-tanya dalam hatinya karena tidak bisa menebak isi hati Liu Xianlin.


“Aku mengerti. Pastikan kau tidak memaksakan diri Lin-” Fei Chen menelan ludah dan hampir kelepasan berbicara, “Jaga kesehatanmu Bibi Liu, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri.”


Jia Li mengerutkan keningnya melihat sikap Fei Chen dan Liu Xianlin yang berbeda dari biasanya. Nalurinya sebagai perempuan mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu diantara mereka berdua.


“Kau tidak berhak mengatakan itu padaku!” Liu Xianlin menjawab tegas. Tentu saja Liu Xianlin merasa kesal dengan ucapan Fei Chen mengingat yang sudah membuatnya kesulitan berjalan dan membuat tubuhnya terasa remuk adalah Fei Chen sendiri.


Setelah sarapan pagi, Fei Chen dan Jia Li pergi meninggalkan Rumah Hijau Daun menggunakan Portal Teleportasi. Selepas kepergian Fei Chen dan Jia Li membuat Liu Xianlin langsung terduduk lemas dilantai.

__ADS_1


Liu Xianlin memegang perutnya mengingat pergumulan panasnya dengan Fei Chen. Tidak pernah dia sangka dirinya akan melakukan hubungan sejauh itu dengan Fei Chen.


“Kenapa aku takut jika dia tidak menikahiku?” Liu Xianlin mengetahui kondisi Fei Chen, namun sebagian hatinya takut Fei Chen akan pergi meninggalkannya mengingat pemuda itu memiliki paras yang membawa banyak masalah.


‘Chen‘er, apa kau akan menikahiku setelah mengambil keperawananku?’


Disisi lain Fei Chen dan Jia Li sudah berada di Gunung Menangis. Sebenarnya apa yang ingin Fei Chen ajarkan kepada Jia Li adalah cara menyempurnakan gerakan berpedang gadis itu dan mengulas kembali Ilmu Dewi Pedang untuk menguasainya.


Selain itu Fei Chen memiliki niat untuk menempa tubuh Jia Li namun semua itu tergantung niat dan jawaban gadis itu.


“Jadi ini Gunung Menangis tempat dimana kau menghabiskan malam pertama dengan Kakak Xiuxiu...”


Tanggapan Jia Li membuat Fei Chen tersenyum. Fei Chen dibuat tidak bisa berbicara saat Jia Li berlari kecil sambil menikmati keindahan alam di Gunung Menangis.


“Chenchen, bisa kita mulai latihannya? Mohon bimbingannya.”


Ekspresi Fei Chen berubah menjadi dingin dan tegas saat Jia Li berkata demikian. Pemuda itu menyuruh Jia Li memperagakan beberapa gerakan yang gadis itu pelajari dari Ilmu Dewi Pedang.


___


Jangan baca doang.

__ADS_1


Support penulis dengan cara memberikan poin/koin sebagai bentuk dukungan penuh kalian kepada penulis. Kalaupun tidak memberikan memberikan poin/koin, kalian bisa support penulis dengan cara lain seperti memfollow akun penulis, memberikan like, hadiah dan komentar serta membagikan karya ini kepada teman kalian. Apresiasi kalian sangat berarti untuk penulis agar semangat update disetiap chapternya.


Jangan lupa pisaunya untuk motong bunga sambil ngopi pakai hati. Hadiah Imlek untuk authornya ada gak nih dari kalian?


__ADS_2