
PPFC 184 - Hampir Bersarang
Fei Chen mendekat dan menatap lekat Ning Guang. Saat wajahnya mendekat, Ning Guang memalingkan wajahnya dan menyilangkan kedua tangannya didada.
“Tuan Muda Fei, selama seminggu kemana saja dirimu?” Tanya Ning Guang saat wajah Fei Chen mendekat.
Fei Chen tersenyum hangat melihat wajah cantik natural dan bibir ranum merah muda yang menggoda itu, sang pemiliknya nampak sedang kesal dengan dirinya. Wanita di hadapannya ini terlihat cemburu.
“Aku melihat kondisi Istana Naga Neraka Terdalam dan mengajarkan Xia‘er sesuatu.” Jawaban Fei Chen membuat Ning Guang menatapnya tajam.
“Mengajarkan sesuatu? Itu hanya alasanmu bukan? Meninggalkan tugasmu dan seenaknya menggoda wanita lain.” Ning Guang mulai larut menggoda Fei Chen dan benar saja pemuda itu menatapnya semakin hangat.
‘Berhenti menatapku seperti itu...’ Ning Guang merasakan debaran jantungnya tak karuan karena Fei Chen menatapnya penuh kasih sayang.
“Apa kau cemburu Permaisuri?”
“Permaisuri? Aku bukan permaisurimu. Sebaiknya dirimu menjaga jarak denganku. Ingat pernikahanmu yang akan digelar beberapa hari lagi dan aku hanya menganggapmu sebagai anak muda,” ucap Ning Guang seraya menjaga jarak namun Fei Chen mendekat.
“Aku menganggapmu sebagai wanita dan Permaisuriku... Ning Guang...“ Fei Chen dengan cepat mengecup bibir ranum Ning Guang.
Cup...
Ning Guang tersentak kaget dan memerah wajahnya karena keberanian Fei Chen terhadap dirinya selain itu ucapan pemuda itu membuat hatinya berbunga-bunga.
“Pria tampan yang memiliki banyak wanita sudah pastinya pandai mengucapkan kata-kata manis.” Sinis tatapan Ning Guang menatap Fei Chen seraya mendorong tubuh pemuda tersebut.
“Sudah berapa banyak wanita yang jatuh kepelukanmu anak nakal?”
“Apa aku terlihat bercanda saat mengatakan itu?” Fei Chen kembali mendekatkan wajahnya dan memegang dagu Ning Guang. Sekilas dia mengecup bibir ranum karena Ning Guang memundurkan kepalanya.
Fei Chen kembali mendekat dan merengkuh tubuh Ning Guang itu kedalam dekapannya. Pemuda itu mencium bibirnya dan mendorong tubuhnya pelan ke ranjang.
‘Lihat, ternyata semua pria sama...’ Walaupun Ning Guang menguji Fei Chen namun sisi wanitanya menikmati perlakuan pemuda itu pada tubuhnya.
__ADS_1
“Mmmpppphh...” Suara erangan Ning Guang saat bibirnya dinikmati Fei Chen dan tubuhnya ditindih pemuda itu.
Fei Chen melespakan ciuamnnya dan menatap wajah Ning Guang yang tersipu malu. Kembali dia menikmati bibir ranum itu dengan kedua tangan yang mulai memasuki pakaian kebesaran Ning Guang dan melepasnya.
“Aaahhh... Tuan- Berhenti Aaahsss... Ingat batasan kita!” Ning Guang malu karena pakaian lentur indah berwarna putih yang dia kenakan begitu transparan.
“Sangat indah...” Mendengar pujian Fei Chen membuat Ning Guang luluh saat pemuda itu mengagumi pakaian yang dikenakannya.
Pakaian lentur dan tipis yang dikenakan Ning Guang hanya sebatas paha memperlihatkan tubuh matangnya yang seksi dan menggoda. Terlebih tonjolan dada yang padat dan kenyal itu terlihat sangat menonjol. Bentuknya yang besar dan seperti ingin meloncat keluar dari pakaian lenturnya itu membuat Fei Chen mengambil inisiatif untuk menyusuri pegunungan kembar tersebut.
“Aaah... Chen‘er berhenti.” Ning Guang memegang kepala Fei Chen saat pemuda itu menurunkan pakaian atasnya ke perut dan menghisap ujung bukit kembarnya yang menantang berwarna merah muda, seketika nafas Ning Guang terdengar berat.
“Ooohhh...” Lenguh Ning Guang saat mulut Fei Chen menghisap dadanya yang kiri dan tangan kanannya meremas yang kanan sambil sesekali memilin ujungnya.
“Akh! Euuughh... Chen‘er...” Ning Guang melayang saat tangan kiri Fei Chen memainkan jarinya di intinya yang terjaga dan masih suci.
Fei Chen menyukai suara merdu Ning Guang dan kehangatan tubuh wanita yang umurnya terpaut jauh darinya. Senyuman Fei Chen mengembang saat mendengar deru nafas berat Ning Guang dan tubuh wanita paruh baya yang ditindihnya menggelengkan kepalanya kekiri kekanan dan meracau tidak jelas.
“Tunggu- akh... Chen‘er aku nghhh...” Ning Guang tidak mampu menahan dan melenguh panjang dengan kedua tangan yang gemetaran menyentuh kepala Fei Chen.
“Chen‘er... Sudah cukup...” Ning Guang mengerjapkan matanya dan alangkah terkejutnya melihat Fei Chen yang hendak kembali menindihnya.
“Besarnya...” Ekspresi Ning Guang membuat Fei Chen tersenyum bangga.
“Ini milikmu Permaisuriku...”
Fei Chen tersenyum dan kembali bermain di pegunungan kembar Ning Guang. Mulutnya menghisap ujungnya yang ranum sebelum memberi tanda kepemilikan disekitar dada dengan gigitan kecil lalu naik ke atas secara perlahan.
Ning Guang merasakan sensasi kenikmatan yang dia dambakan selama ini yang hanya menjadi imajinasinya. Wanita paruh baya ini membiarkan Fei Chen memberikan tanda kepemilikan pada gunung kembarnya yang indah bahkan sekarang pemuda itu menghisap dan menggigit leher jenjangnya yang mulus.
“Emmm... Chen‘er...” Ning Guang semakin melayang karena perlakuan Fei Chen. Pakaian lentur yang dia kenakan sudah acak-acakan dan dengan mudah pemuda itu melepasnya hingga sekarang tubuhnya benar-benar tanpa sehelai benang terbaring lemas diranjang siap diarungi pemuda yang menjadi Kaisarnya ini.
Gelombang hasrat Ning Guang meledak karena Fei Chen terus menikmati setiap inchi tubuhnya. Tak lama tubuhnya meremang karena Fei Chen sengaja memperlihatkan intinya yang perkasa dan gagah diatas perutnya.
__ADS_1
“Ahhhsss... Chen‘er... Tunggu...” Ning Guang menahan salivanya melihat bentuk keperkasaan yang tidak normal.
“Milik orang itu tidak ada apa-apanya. Apa benar dirimu berumur tujuh belas tahun? Mmmm... Ini sangat tebal dan panjang...” Ning Guang menatap kagum keperkasaan Fei Chen dan secara naluri telapak tangannya menggenggam inti Fei Chen.
“Tidak muat ditanganku? Chen‘er ini terlalu besar...”
Fei Chen tersenyum melihat ekspresi Ning Guang yang sangat menggoda itu. Kecupan lembut mendarat di pipi wanita itu.
“Kau membangunkannya Permaisuriku dan aku ingin kau menidurkannya...” Fei Chen langsung mencium bibir Ning Guang dan kembali meraba tubuh matang wanita itu sambil memposisikan dirinya melakukan penyatuan.
Setelah inti Ning Guang semakin basah, Fei Chen menempatkan intinya diatas dan menggesekkan tubuhnya pelan.
“Emmm... Chen‘er... Tunggu aku tidak bisa-”
Fei Chen membungkam bibir ranum Ning Guang dengan bibirnya sambil terus menggesekkan tubuhnya.
Tepat setelah pemanasan yang dirasa cukup itu, Fei Chen mulai membenamkan tubuhnya secara perlahan namun suara pintu ruangan Ning Guang yang digedor terdengar keras membuat keduanya langsung buyar dan kaget.
Dor... Dor... Dor...
“Bibi Ning! Bibi Ning! Aku ingin tidur bersama Bibi! Apa Bibi didalam?”
Fei Chen dan Ning Guang saling berpandangan. Berbeda dengan Ning Guang yang bernafas lega, Fei Chen berdecak kesal karena hasratnya sudah diubun-ubun bahkan dirinya belum melakukan pelepasan sekalipun berbeda dengan Ning Guang yang sudah beberapa kali mencapai pelepasan dengan permainan tangannya.
“Kenapa aku tidak dapat merasakan hawa keberadaan seseorang saat hendak melakukan hubungan?” Fei Chen baru menyadari ada yang aneh dengan dirinya. Namun dia tidak menyadari jika ini adalah perbuatan Su Xiulan yang terobsesi akan tindakan Fei Chen terhadap Ning Guang ataupun wanita yang lebih dewasa dari pemuda itu.
“Bibi Ning! Apa kau sudah tidur?” Kembali suara gedoran pintu terdengar bersamaan dengan suara Ma Mingyan.
“Jangan menindihku terus!” Ning Guang mendorong tubuh Fei Chen dan menatap kasihan keperkasaan pemuda itu yang gagal bersarang di tubuhnya.
“Pakai pakaianmu dan pura-pura tidur...”
Ning Guang secepat mungkin memakai gaun yang ada di lemari pakaian dan menaruh pakaian kebesarannya serta pakaian lentur nya kedalam lemari.
__ADS_1
“Tunggu sebentar Yanyan!”
“Bibi Ning kenapa lama sekali...”