
PPFC 175 - Ular Berkepala Tumpul
Fei Chen merebahkan tubuh Jia Li diranjang penuh kelembutan seolah-olah takut gadis itu terluka. Mendapatkan perlakuan hangat Fei Chen membuat Jia Li tersipu malu saat pemuda itu sekarang menindih tubuhnya.
“Chenchen, buktikan sekarang... Aku milikmu...”
Jia Li berbisik mesra saat pandangan matanya bertemu dengan Fei Chen. Seolah merasakan perasaan yang sama dan menggebu-gebu, Fei Chen dan Jia Li menyatukan bibir mereka dan menyesap manis mulut masing-masing.
Tangan Fei Chen meraba dengan kasar gaun yang dikenakan Jia Li. Dengan gerakan lembut dan terkadang kasar, Fei Chen meremas dan memilin gundukan kenyal yang sesuai dengan genggaman tangannya penuh gairah.
“Mmmmhhh...” Secara tidak sadar Jia Li mengeluarkan ******* saat telapak tangan Fei Chen meremas kuat bagian atas tubuhnya yang membulat sempurna dan indah.
“Lili, keluarkan... Aku menyukai suaramu sayang...”
Jia Li terkejut sekaligus malu saat mengetahui dirinya bagaikan mangsa yang ditangkap Fei Chen dan hanya bisa mendesah pasrah atas perlakuan pemuda itu pada tubuhnya.
Tangan Fei Chen terus menyusuri lekuk tubuh Jia Li tanpa henti hingga gaun yang dikenakan gadis itu berantakan. Fei Chen dengan sigap melepasnya dibantu Jia Li yang merasa bangga karena Fei Chen terlihat mengagumi keindahan tubuh dirinya.
“Chenchen! Akh jangan melihat! Ini memalukan!”
Setelah Fei Chen melepaskan seluruh kain yang menutupi tubuhnya, sontak Jia Li duduk dan menutupi kedua dadanya yang membulat indah dan itu membuat Fei Chen menelan ludah.
“Sungguh indah...”
Tubuh mulus dan mempesona itu sangat memanjakan matanya. Kulit sehalus giok dan kecantikan yang terpampang dihadapannya itu sulit untuk dia lepaskan.
Keindahan yang dimiliki Jia Li sulit digambarkan kata-kata terlebih wajah cantik yang menambah gairahnya itu membuat Fei Chen memegang kedua tangannya dan kembali menindihnya.
Jia Li terkesiap saat Fei Chen meremas buah dadanya. Pujaan hatinya itu sangat mahir memanjakan tubuhnya dan membuatnya sekarang seakan sedang terbang ke awan dan langit tertinggi.
Kembali Jia Li memekik dan terkesiap saat jari Fei Chen membelai celah lembah perawan yang dia jaga. Mahkota berharganya disentuh Fei Chen dan membuat tubuhnya menggeliat tak karuan saat pemuda itu mengobrak-abrik pertahanannya.
“Mmmm... Aaahh...”
Fei Chen tersenyum bahagia melihat semua ekspresi diwajah Jia Li. Mulutnya menghisap dan menggigit tengkuk lalu secara perlahan turun ke leher dan buah dada gadis itu hingga membuatnya merasakan sensasi kenikmatan yang luar biasa.
“Chenchen! Jangan digigit akh! Emmm... Chen chen Ahhhsss!” Tangan Jia Li meremas rambut Fei Chen dan menjambaknya karena pemuda itu menggigit ujung buah dadanya penuh gairah.
“Mmm... Lili, kau memiliki tubuh yang sangat indah...” Fei Chen menatap kagum keindahan tubuh Jia Li yang tidak pernah terjamah oleh siapapun.
Tubuh Jia Li menegang saat jari Fei Chen membelai inti tubuhnya dan membuat Jia Li merasakan kenikmatan yang baru pertama kali dia rasakan.
“Lili, kau menikmatinya?” Fei Chen bertanya sambil menunjukkan jarinya yang basah. Ada kebahagiaan di hatinya karena mengetahui dirinya yang pertama kali menikmati dua pegunungan kembar dan bagian pribadi Jia Li yang paling berharga.
“Haaah... Haaah... Emmm...”
__ADS_1
Jia Li mengangguk lemas sambil mengatur nafasnya. Gadis itu memperhatikan Fei Chen yang melepaskan pakaiannya secara perlahan karena pemuda itu membiarkan dirinya mengatur nafas.
Saat Fei Chen melepas seluruh pakaiannya, mulut Jia Li terbuka lebar begitu juga dengan kedua bola matanya saat melihat keperkasaan Fei Chen yang gagah dan menggairahkan.
“Golok? Tidak, itu seperti ular berkepala tumpul.” Jia Li menggumam tanpa sadar.
Reaksi Jia Li ini membuat Fei Chen tersenyum, “Ular berkepala tumpul? Aku tidak peduli kau memanggilnya apa Lili. Karena bagaimanapun ular ini akan melahapmu malam ini.”
Fei Chen membuka kedua paha Jia Li dan terpana melihat keindahan yang terjaga, bersih dan terawat. Segera Jia Li merapatkan kembali pahanya karena merasa malu.
“Chenchen, aku malu.”
“Tidak perlu malu Lili. Kau terlihat sangat cantik malam ini. Lagipula aku sudah melihat semuanya. Tubuhmu sempurna sayang.”
“Tetapi tetap saja ini memalukan.”
“Kau melihat milikku juga bukan? Kita impas.”
Fei Chen kembali membuka paha Jia Li dan menelan ludah. Matanya sekarang menyusuri setiap lekuk tubuh Jia Li sama seperti tangannya hingga akhirnya Fei Chen berhenti tepat dikedua aset yang menggunung milik Jia Li.
Mata Fei Chen menatap keindahan buah dada yang padat dan kenyal dengan ujungnya yang berwarna merah muda. Fei Chen akhirnya memutuskan menjelajahi gunung kembar tersebut dan sudah dipastikan dia menjadi orang pertama yang menjelajahinya.
“Emmm... Chenchen...”
“Chenchen, aku takut...” Jia Li merapatkan pahanya dengan wajah yang menegang.
“Ular itu sangat besar. Apa bisa masuk? Hanya dengan melihatnya saja membuatku bergidik ketakutan...” Kejujuran Jia Li membuat Fei Chen berdesir tubuhnya karena ekspresi manis yang menggairahkan itu.
Fei Chen mengecup kening Jia Li dan menenangkan gadis itu.
“Lili, tatap mataku. Memang awalnya akan sakit, tetapi setelahnya nikmat. Kita bisa melakukannya pelan-pelan sayangku...”
Mendengar perkataan Fei Chen membuat Jia Li kembali membuka pahanya lebar-lebar. Lalu Fei Chen kembali memposisikan miliknya dengan Jia Li.
“Jangan tegang sayang. Rileks, aku tidak akan menyakitimu...” Fei Chen mencium lembut bibir Jia Li lalu melepasnya sambil memandang wajah Jia Li yang menegang.
Jia Li menganggukkan kepalanya lembut dan memberikan izin kepada Fei Chen untuk memecahkan apa yang paling dia jaga selama ini.
“Ah!”
Jia Li menahan dada Fei Chen karena terlalu khawatir. Terlihat ekspresi wajah Jia Li yang semakin menegang saat mengetahui milik Fei Chen kesulitan untuk masuk. Butuh waktu bagi keperkasaan Fei Chenu untuk masuk ke inti tubuhnya yang sempit itu.
“Sssshhh...” Jia Li mendesis dan meringis kesakitan saat Fei Chen membenamkan miliknya lebih dalam dari sebelumnya. Terlihat alisnya mengkerut dan matanya meneteskan air mata.
“Lili, maaf sayang. Apa aku menyakitimu?” Fei Chen berhenti sejenak dan merasakan cengkeraman yang sangat kuat pada keperkasaannya.
__ADS_1
“Hiks... Hiks...”
“Chenchen, aku merasa sangat bahagia. Kau telah merenggutnya...” Jia Li menjawab dengan nada terbata-bata karena bagian bawahnya terasa nyeri dan begitu sakit.
Fei Chen mencium kening Jia Li dan turun ke bibirnya. Pemuda itu menggerakkan tubuhnya sangat pelan dan lembut sambil mencium bibir Jia Li mesra penuh kasih sayang.
“Terimakasih telah menjaganya untukku Lili. Mulai sekarang kau adalah wanitaku, aku akan bertanggung jawab...” Fei Chen tersenyum hangat dan membuat Jia Li tenang.
Walaupun di bagian bawahnya masih terasa sakit dan nyeri, Jia Li membalas senyuman Fei Chen dan mengizinkan pemuda itu untuk membimbingnya ke tahap selanjutnya.
Dengan penuh gairah Fei Chen mulai menggerakkan tubuhnya secara perlahan dan menjelajahi gua sempit yang tidak pernah terjamah. Erangan dan pekikan Jia Li berulang kali terdengar diiringi suara deritan ranjang yang menggema.
Jia Li masih merasakan sakit karena Fei Chen semakin liar bergerak diatasnya namun secara perlahan rasa sakit itu berubah menjadi kenikmatan tiada tara. Tubuh Jia Li bergetar hebat saat merasakan kenikmatan dan itu membuat inti Jia Li meremas keperkasaan Fei Chen lebih erat dari sebelumnya.
“Oooh... Lili! Kau sangat sempit!” Fei Chen mengerang nikmat dan Jia Li memekik hebat.
“Akh! Chenchen! Pelan! Haaaksss!”
Fei Chen terus memacu tubuhnya diatas Jia Li hingga tak terasa keduanya mencapai pelepasan bersama. Berbeda dengan Jia Li yang berulang kali mencapai pelepasan, Fei Chen terlihat belum puas.
“Lili, apa kau masih kuat?” Fei Chen ingin mencoba Teknik Dunia Jiwa Yin Yang dengan Jia Li.
“Tidak sekarang... Aku lelah...” Jia Li terengah-engah menjawab. Gadis itu membelakangi tubuh Fei Chen dimana pemuda itu memeluk tubuhnya dari belakang dengan kedua inti mereka yang menyatu.
Fei Chen terlihat kecewa, “Biarkan seperti ini. Aku ingin menghangatkanmu.”
Jia Li hanya diam dan tersenyum bahagia. Matanya menatap dinding dan pikirannya benar-benar kosong.
“Ular berkepala tumpul belum juga mengecil...” Jia Li tertawa lemas mengingat bagaimana perkasanya Fei Chen diatas ranjang, “Sampai kapan dia membesar seperti itu?”
Fei Chen tersenyum bangga dan meremas buah dada Jia Li sebelum membelai perut gadis itu.
“Dia tidak akan mengecil karena telah menemukan sarangnya.”
“Hentikan, Chenchen. Aku benar-benar lelah. Jangan menggodaku sekarang, besok kita akan melakukannya lagi...” Jia Li lemas karena tangan nakal Fei Chen terus meraba tubuhnya.
“Aku akan menagihnya...” Fei Chen tersenyum dan mengecup bagian belakang kepala Jia Li.
“Tidurlah sayang...” ucap Fei Chen mesra sambil memeluk tubuh Jia Li dari belakang.
Dan tak lama keduanya tertidur pulas dengan senyuman kebahagiaan yang mengembang diwajah keduanya.
____
Jangan lupa pisaunya untuk motong bunga sambil ngopi pakai hati. Hadiah Imlek untuk authornya ada gak nih dari kalian?
__ADS_1