Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 229 - Hutan Seribu Mawar


__ADS_3

PPFC 229 - Hutan Seribu Mawar


Luo Rou dan Qie Shie sama sekali tidak menyadari jika mereka berdua diikuti Deshe. Perjalanan keduanya terbilang lancar dan tanpa gangguan, sehingga mereka dapat mencapai Hitam Seribu Mawar tanpa halangan yang berarti.


“Rourou, apa kau bertengkar dengan Chen‘er? Aku penasaran mengapa dia memasang ekspresi dingin saat kau berpamitan...” ucap Qie Shie yang penasaran dengan keberadaan Fei Chen di kediaman sahabatnya tersebut.


“Dia mengatakan padaku jika dirinya ingin melindungiku. Lalu aku menolaknya. Tetapi yang membuatnya seperti itu mungkin karena aku menganggapnya seperti seorang anak.” Luo Rou tersenyum kecut saat menjelaskan.


Sedangkan Qie Shie tertawa lirih, “Bukankah sudah jelas jika Chen‘er memiliki perasaan khusus padamu.”


Mendengar itu Luo Rou ikut tertawa, “Tidak, aku sudah menganggapnya seperti anakku. Dia tidak mungkin memiliki perasaan padaku, Shieshie. Jika perasaan itu ada, itu hanyalah perasaan seorang anak kepada Ibunya.”


“Perasaan seorang anak kepada Ibunya ya? Seharusnya kau menyadari posisi Chen‘er juga. Dia pernah mengatakan padamu bukan tentang kutukannya dan kau tidak sengaja bercerita padaku. Aku sendiri menunggu tanggung jawabnya karena telah membunuh Suami dan anakku.” Qie Shie tertawa lirih saat mengingat penyesalannya menikah dengan Qie Xuexuan.


“Aku terlalu bodoh karena termakan rayu manis pria itu bahkan dia mendidik anak kami dengan pola pikir yang mengerikan. Tetapi aku sadar, aku tidak bisa selamanya seperti ini dan aku siap membuka hati untuk pria yang tulus menerimaku, termasuk Chen‘er yang lebih pantas menjadi anakku.” Kembali ucapan Qie Shie membuat Luo Rou gelisah.


“Shieshie, jika lelaki yang seperti dirinya ada maka aku akan membuka hati...” Luo Rou tidak dapat mengatakan apapun lagi karena mengingat bayangan sosok Fei Chen.


‘Tidak, perasaan ini tidak boleh ada. Chen‘er adalah anakku. Iya, dia sudah kuanggap seperti anakku sendiri...’ Hati Luo Rou dipenuhi kegelisahan.


Namun tiba-tiba dia mengingat bagaimana Fei Chen kecil yang selalu memuji masakannya dan ingin memiliki pendamping hidup sepertinya. Bahkan Fei Chen pernah mengatakan agar Luo Rou dapat membimbingnya jika dirinya kehilangan arah.


“Tidak mungkin...”


Qie Shie mengerutkan keningnya melihat alis Luo Rou mengerut, “Ada apa Rourou?”


“Tidak ada apa-apa. Aku hanya teringat akan masa lalu,” dalih Luo Rou karena sekarang dia mengingat jelas bagaimana Fei Chen mengagumi dirinya.


“Masa lalu ya... Emmm.” Sengaja Qie Shie menggoda Luo Rou, dia bisa melihat ada sejuta kebimbangan diwajah cantik sahabatnya itu.

__ADS_1


Dalam perjalanan menuju lokasi Gua Luo yang merupakan tempat istimewa bagi leluhur keluarga Luo itu, Qie Shie terus menggoda Luo Rou tanpa henti.


Keduanya tidak menyadari jika lokasi Hutan Seribu Mawar telah menjadi markas utama Bandir Mawar Berduri. Bahkan saat mereka berdua masuk lebih jauh, beberapa pasang mata sudah mengawasi mereka dengan menyembunyikan hawa keberadaannya.


Situasi tersebut membuat Qie Shie dan Luo Rou menjadi waspada karena semakin mereka melangkah jauh, semakin terasa samar-samar aura seorang pendekar.


“Rourou...” Qie Shie memberi peringatan kepada Luo Rou jika sekarang mereka berdua sedang diawasi.


“Shieshie, lokasi Hutan Seribu Mawar hanya diketahui oleh beberapa petinggi Lembah Pedang di kala itu. Situasi ini membuat perasaanku tidak enak...” Luo Rou berekspresi buruk saat menyadari aura yang pertamanya samar menjadi lebih terasa dan membesar.


“Salah satu hukum alam yang tidak bisa kau hindari adalah pengkhianatan. Dewa sudah menggariskan, jika ada orang setia kepada kita, maka ada juga seorang pengkhianat.” Qie Shi sudah berulang kali melihat hal seperti ini dan menurut semuanya adalah hal yang wajar.


Luo Rou terdiam dan semakin waspada saat satu tekanan aura pembunuh langsung mengarah padanya. Sebelum dia mengeluarkan tenaga dalamnya, sebuah tebasan golok mengarah padanya dengan kecepatan tinggi.


Qie Shie yang menyadarinya lebih cepat langsung menangkis, “Rourou! Jangan lengah! Tidak pernah aku sangka jika hutan ini adalah markas dari Bandit Mawar Berduri!”


“Ini kesempatan yang bagus untuk kita mengakhiri para penjahat seperti mereka,” ucap Qie Shie.


“Hahaha! Ini merupakan hari keberuntunganku! Sesuai perkataannya, kau benar-benar datang kemari Luo Rou sang Dewi Bulan!” Pria berbadan bongsor itu adalah Cang Guofang. Pria itu tidak berbasa-basi dan langsung menyerang titik meridian Luo Rou.


Tapak tangannya berbenturan langsung dengan air yang memadat melindungi tubuh Luo Rou. Mata Cang Guofang melebar saat melihat bentuk tubuh Luo Rou dari dekat.


“Dilihat dari dekat kau terlihat sangat cantik Luo Rou!” Seringai lebar Cang Guofang yang membuat pria itu semakin agresif menyerang Luo Rou.


“Aku dengar kalian menculik istri mendiang Jendral Song Bei bukan?! Asal kalian tahu, aku sangat membenci pria yang tidak pernah menghargai wanita!” Luo Rou mengayunkan tangannya dan seketika sebuah ombak air menghantam tubuh Cang Guofang.


“Bagus, Rourou. Aku akan membunuhnya!” Qie Shie langsung bergerak dan mengayunkan pedangnya mengincar perut Cang Guofang.


“Qie Shie! Tidak buruk! Aku memberikan Song Na kepada pria itu dan mendapatkan dua wanita ini!” ujar Cang Guofang sambil melepaskan tenaga dalamnya berjumlah besar.

__ADS_1


Sebuah tebasan golok yang mengandung tenaga dalam langsung berbenturan dengan pedang Qie Shie.


‘Seharusnya kemampuan kami sama, tetapi sepertinya semua itu hanyalah rumor belaka...’ Qie Shie membatin dan mengalirkan tenaga dalam pada bilah pedangnya.


Ayunan tebasan Qie Shie begitu lembut namun daya ledakan dari tebasannya lebih besar dari yang diperkirakan Cang Guofang.


“Gelombang Kuasa!”


Tubuh Cang Guofang terpental jauh dengan sayatan di sekujur badannya.


Saat Qie Shie hendak mengakhiri nyawa Cang Guofang, seketika para bandit mulai bermunculan dan langsung melindungi pria berbadan bongsor tersebut.


Qie Shie berhenti bergerak dan memberi tanda pada Luo Rou agar bersiap dalam kemungkinan buruk yang akan terjadi. Mengingat situasi yang mereka hadapi ini, Qie Shie bisa merasakan jika kemampuan Cang Guofang dua tingkat diatasnya.


Luo Rou yang sedari tadi diam mengamati juga bisa merasakan kemampuan Cang Guofang berada diatasnya. Sehingga saat para bandit mulai bermunculan, Luo Rou langsung memanipulasi aura tubuhnya menciptakan ombak air yang langsung menghantam tubuh para bandit tersebut.


“Pasang Surut Rembulan!”


Ombak air itu layaknya banjir bandang yang langsung membuat kesempatan bagi Qie Shie dan Luo Rou melarikan diri untuk menjauh. Keduanya langsung bergerak menuju Gua Luo, mengingat rute menuju gua tersebut hanya diketahui oleh Luo Rou.


____


Dear, pembaca tersayang, misalkan penulis membuat grup WA khusus membahas obrolan novel PPFC, sekiranya kalian pada mau gabung engga?


Mengingat salah satu hukum alam yang sudah digariskan Tuhan kepada manusia, jika ada yang menyukai karya saya, pasti ada juga yang membencinya. Jadi saya ngajak yang benar-benar menyukai karya saya ini.


Kalau minat bergabung jawab tiga pertanyaan ini dan hubungi no. 082251644397.


1. Sebutkan nama wanita yang pertama kali bertemu dengan Fei Chen tepat setelah Fei Chen keluar dari Gunung Menangis?

__ADS_1


2. Sebutkan nama Guru Fei Chen? (Ada tiga ya)


3. Sebutkan nama istri Fei Chen secara berurutan mulai dari yang pertama sampai yang kesembilan? (Istri resminya)


__ADS_2