Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 174 - Jia Li Menawarkan Diri


__ADS_3

PPFC 174 - Jia Li Menawarkan Diri


Setelah lima hari berada di Gunung Menangis, proses penempaan tubuh Jia Li bisa dibilang berhasil. Jia Li tersenyum puas saat mengetahui dirinya telah menjalani semua proses penempaan tubuh dengan baik.


Hanya saja Jia Li merasakan ada yang kurang dari dirinya. Gadis itu memandang Fei Chen yang terlihat ingin membicarakan sesuatu dengannya namun pemuda yang dua tahun lebih muda darinya itu terlihat enggan membicarakan dan memilih menyembunyikan.


“Chenchen, kenapa akhir-akhir ini kau menjauh dariku? Apa kau membenciku?” Jia Li memasang wajah cemberut sambil memperhatikan Fei Chen yang berjalan mendekatinya.


“Aku tidak menjauh, aku hanya bingung harus bersikap seperti ada padamu Lili...” Fei Chen menghela nafas ringan karena bagaimanapun dirinya bingung harus bersikap seperti ada kepada Jia Li.


“Kenapa harus bingung? Bersikaplah seperti biasa Chenchen. Dasar walaupun kau terkadang bersikap seperti Kakakku, tetapi kau tetap lebih muda dariku.” Jia Li mengelus kepala Fei Chen dan tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.


Fei Chen hanya diam dan mulai membiasakan diri bahwa sekarang Jia Li bukan lagi teman masa kecilnya melainkan sosok wanitanya.


“Chenchen, katakan saja padaku mengapa aku tidak bisa mempunyai kualitas Tulang Naga Langit?” Jia Li menyadari jika Fei Chen bersikap demikian karena berhubungan dengan kondisi tubuhnya.


“Lili, seandainya kau tidak melatih tubuhmu dengan keras terlalu jauh mungkin saat ini kau sudah mempunyai kualitas Tulang Naga Langit. Saat kualitas tulangmu rendah dan tubuhmu masih lemah, kau telah memperagakan Teknik Hasrat Kematian.”


Fei Chen sangat yakin tubuh Jia Li akan terbebani seiring berjalannya waktu. Tinggal menunggu waktu hingga Jia Li menyadari tubuhnya akan merasa kelelahan dan lemah hingga membuatnya lumpuh total.


Jia Li syok mendengar ucapan Fei Chen. Jelas pemuda itu tidak mengatakan sesuatu candaan ataupun lelucon.

__ADS_1


“Apa kau menyadari sesuatu?” Fei Chen menebak jika Jia Li sudah merasakan gejalanya.


Jia Li mengangguk lemas, “Tidak lama setelah kita berjumpa, aku mencoba bertarung namun aku merasa tenagaku cepat terkuras seperti saat Guncangan Buas.”


“Chenchen, katakan sejujurnya padaku. Kau mengetahui cara mencegahnya bukan? Saat kita bertemu di Gua Pedang, aku ingin mengatakan padamu jika tubuhku memiliki kondisi khusus yang unik...”


Jia Li mengatakan kepada Fei Chen bahwa dirinya akan menjadi lebih kuat jika melakukan hubungan badan dengan pria saat menggunakan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang.


Fei Chen batuk dan berhenti bernafas selama beberapa detik karena mengira hanya dirinya dan Su Xiulan yang mengetahui teknik ini. Setelah mendengar penjelasan Jia Li tentang bagaimana uniknya Tubuh Dewi Pedang tentu membuat Fei Chen mengerti jika Jia Li akan memberikan banyak keuntungan padanya.


“Lili, aku tidak tahu harus mengatakan apa namun aku merasa kehadiranmu ini melengkapiku...”


“Sejak kapan kau pandai mengatakan hal yang manis Chenchen?” Jia Li tersenyum manis sambil bertanya.


“Jadi apa kau mau melakukannya?”


Sebuah ajakan khusus dari Jia Li membuat darah Fei Chen berdesir hebat. Gadis itu terlihat malu-malu saat mengatakan itu namun wajahnya menunjukkan ekspresi tidak keberatan.


“Jangan mengambil keputusan gegabah Lili. Biarkan semuanya berjalan semestinya tidak perlu buru-buru...” Fei Chen sendiri tidak keberatan namun dia merasa Jia Li terburu-buru memutuskan.


“Apa aku tidak menarik dimatamu? Kau lebih menyukai wanita dewasa seperti Kakak Xiuxiu dan Kakak Liu?”

__ADS_1


“Kenapa kau berpikir seperti itu?”


“Karena kau tidak pernah melihatku sebagai seorang wanita.”


“Lili, kau salah paham.”


“Kalau begitu buktikan padaku.”


Fei Chen terdiam lama dan memandang tubuh Jia Li yang menawan. Tentu saja Jia Li yang sekarang ini sangat cantik dimata setiap pria bahkan gadis itu sudah menjadi idaman banyak pria.


Cukup lama Fei Chen dan Jia Li saling berpandangan sebelum akhirnya Fei Chen tersenyum hangat dan membisikkan sesuatu ditelinga Jia Li yang mana membuat wajah Jia Li merah padam.


Fei Chen menggendong tubuh Jia Li dan membawanya menuju rumah sederhana yang dia buat.


“Chenchen, aku hanya bercanda...” Walaupun memberontak kecil akhirnya Jia Li mengalungkan kedua tangannya pada leher Fei Chen.


“Dan aku tidak bercanda. Aku serius akan melakukannya. Kau yang telah menawarkan diri dan aku tidak akan menyia-nyiakannya malam ini. Lagipula kau memintaku untuk membuktikannya bukan?”


Fei Chen tersenyum penuh kemenangan saat melihat ekspresi cemberut Jia Li yang terlihat manja padanya.


____

__ADS_1


Jangan lupa pisaunya untuk motong bunga sambil ngopi pakai hati. Hadiah Imlek untuk authornya ada gak nih dari kalian?


__ADS_2