Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 244 - Zmeya


__ADS_3

PPFC 244 - Zmeya


Fei Chen menatap dua shinobi yang langsung melayangkan serangan kejutan. Sebuah kunai berapi mengenai lehernya dan membuat leher Fei Chen terbakar.


“Kupikir dia kuat ternyata lemah!” ucap seorang shinobi yang tidak lain adalah Ryouta.


Ryouta mendekati tubuh Fei Chen yang terbakar sebelum tubuh tersebut berubah menjadi serpihan abu. Sedangkan shinobi lainnya yang bernama Henji mengerutkan kening saat merasakan aura pembunuh kembali terasa di kulitnya.


“Ryouta!” teriak Henji saat menyadari betapa bahayanya orang yang mereka serang.


Fei Chen muncul dibelakang Ryouta dan melayangkan pukulan tepat dipunggungnya membuat pria itu tersungkur. Perlawanan Ryouta terlihat saat pria itu mengeluarkan semacam energi seperti aura tubuh yang membuat Fei Chen tersenyum tipis.


“Dia! Henji! Orang ini adalah Fei Chen!” Ryouta langsung mengenal Fei Chen hanya dengan melihat wajahnya.


‘Kesempatan bagus untuk membunuhnya!’ Batin Ryouta penuh percaya diri.


“Kemampuan kalian memang mencapai Pendekar Langit, namun tetap saja kalian bukanlah lawanku!” ujar Fei Chen saat Ryouta menyerangnya lincah.


“Jangan memandang rendah kami! Dirimu telah menjadi buruan Tuan Sun! Tidak ada yang bisa mengalahkan beliau! Kematian adalah satu-satunya masa depanmu Fei Chen!” ejek Ryouta saat Fei Chen tidak menghindari serangan.


Ryouta tersenyum menyeringai saat mengayunkan pedangnya pada leher Fei Chen. Apa yang terjadi membuat Ryouta syok karena bukan leher Fei Chen yang putus melainkan pedang Ryouta yang patah dan hancur berkeping-keping.


“Jangan gegabah Ryouta! Kita ulur waktu sampai Tuan Abashiri datang!” tegur Henji dan menyelamatkan Ryouta dari serangan balasan Fei Chen.


Keributan itu memancing rasa penasaran para penduduk. Fei Chen sendiri sama sekali tidak terpengaruh dengan para penduduk yang menanyakan tindakannya itu.


Tidak ada yang tidak mengenal sosok Fei Chen di Kekaisaran Ma. Tatapan dingin dan dominasinya membuat semua penduduk bertanya-tanya mengapa Fei Chen menyerang Rumah Panti Sakura.

__ADS_1


Fei Chen sendiri mempelajari pergerakan Shinobi yang cepat dan lincah sambil menyambut setiap serangan yang datang. Pertahanan kokoh Fei Chen dalam memainkan pedangnya membuat Ryouta menyadari betapa jauhnya perbedaan keduanya.


Namun sifat Ryouta yang tidak mengenal takut itu membuatnya semakin tertantang melawan Fei Chen. Pertarungan keduanya membuat Henji tidak memiliki celah untuk membantu namun Henji selalu memperhatikan setiap gerak-gerik Ryouta ataupun Fei Chen sambil menunggu kesempatan menyerang.


‘Ini situasi yang buruk! Mereka mengetahui tentang kami! Jika seperti ini maka Organisasi Sakura Darah akan berakhir dan saudara kami akan binasa ditangan Kerajaan Binatang Buas!’ Henji mengumpat saat melihat jelas bagaimana ketenangan Fei Chen menghadapi Ryouta yang sudah serius.


Pertukaran serangan antara Fei Chen dan Ryouta membuat semua orang yang melihatnya berdecak kagum. Fei Chen mengunci pergerakan Ryouta sebelum akhirnya dia mengakhiri serangan Ryouta dengan satu tebasan yang memotong tangan kanan lawannya tersebut.


Lalu Fei Chen menendang perut Ryouta tepat setelah tangan kanan Ryouta putus olehnya. Tindakannya ini membuat Henji menyerangnya, namun puluhan kunai yang beracun dapat dia tangkis dengan mudah.


“Sial! Aku tidak akan mati disini! Walaupun harus mengorbankan ribuan nyawa aku tidak peduli!” Ryouta bangkit berdiri dan menyerang Fei Chen secara membabi-buta.


“Sepertinya kalian terpaksa melakukan perdagangan manusia, tetapi aku tidak peduli karena kalian telah berani menyentuh orang-orangku!” Fei Chen menghindari pukulan tangan kiri Ryouta dan mencekik leher pria tersebut sebelum membanting tubuhnya.


Mulut Ryouta mengeluarkan banyak darah disusul dengan sosok pria berumur tiga puluhan tahun yang tidak lain adalah Abashiri dililit seekor ular berwarna putih yang besar datang dari arah bangunan.


“Tuanku, aku sudah melumpuhkannya. Orang ini mengenal pria bernama Zmeya.” Deshe berkata dan langsung melepaskan lilitan tubuhnya pada Abashiri.


“Zmeya... Dia menjual para gadis padaku untuk memancing kemarahan Ratu... Neraka...” Abashiri langsung menjelaskan setelah merasakan aura pembunuh Fei Chen.


“Dia ada diantara penduduk itu...” Abashiri menunjuk pria yang memakai tudung dan topeng diantara kerumunan penduduk.


Fei Chen langsung mengubah pandangannya dan merasakan hawa keberadaan yang biasa dari pria tersebut.


DOR!!!


Namun saat sebuah suara keras terdengar diiringi kepala Abashiri yang pecah, Fei Chen langsung merasakan aura mematikan dari pria tersebut.

__ADS_1


“Kau!” Fei Chen sekarang merasakan aura milik pria tersebut setara dengan dirinya bahkan lebih.


“Sudah cukup sandiwaranya. Tidak buruk juga menyamar menjadi orang biasa.”


Pria tersebut memegang sesuatu yang asing dimata Fei Chen. Lalu menunjukkan identitasnya sebagai Zmeya. Sebuah senjata yang dipegang Zmeya adalah pistol dan pelurunya adalah aura tubuhnya sendiri.


Sebelum Fei Chen bertindak lebih jauh, Zmeya sudah berada dihadapannya dan tersenyum menyeringai.


“Jadi kau Raja Neraka? Aku akan memberitahu Tuan Machina tentang dirimu. Dari yang kulihat, sepertinya kau setara denganku!”


Mata Fei Chen melebar saat pistol yang dipegang Zmeya menempel di keningnya. Zmeya menarik pelatuknya dan membuat kepala Fei Chen berlubang.


Para penduduk yang melihat kejadian ini berteriak histeris dan berlarian, sedangkan Zmeya tertawa.


“Berhenti menahan diri!”


Tubuh Fei Chen tiba-tiba hangus terbakar. Apa yang Zmeya tembak adalah sebuah ilusi, sedangkan Fei Chen yang asli muncul di sampingnya sembari mengayunkan Pedang Raja Neraka.


“Hahahaha! Jika kita bertarung disini, tempat ini akan musnah!” Zmeya tersenyum semakin lebar saat pedang Fei Chen semakin dekat dengan lehernya.


Leher Zmeya tiba-tiba mengeras dan membuat Pedang Raja Neraka tidak dapat memotongnya.


Fei Chen menatap dingin Zmeya dan mendaratkan sentuhan dibadan Zmeya sebelum membawa pria tersebut berpindah tempat di Lembah Sunyi menggunakan Portal Teleportasi.


“Teleportasi?” Zmeya terkejut karena Fei Chen dapat menggunakannya dengan mudah.


“Disini kita bisa saling membunuh satu sama lain!” Fei Chen tersenyum dingin dan melepaskan Aura Raja Neraka berjumlah besar.

__ADS_1


Pada awalnya Zmeya tersenyum meremehkan Fei Chen, namun saat mendengar suara Pedang Raja Neraka yang seperti kobaran api itu, senyuman memudar dari wajah Zmeya.


__ADS_2