Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 272 - Kota Yangping


__ADS_3

PPFC 272 - Kota Yangping


Banyaknya antrian penduduk membuat pendekar Tujuh Bunga Iblis menjaga ketat gerbang utama Kota Yangping. Akses masuk satu-satunya itu diwajibkan untuk memiliki uang sebanyak seratus keping emas jika ingin hidup atau berkunjung di Kota Yangping.


Sebuah biaya yang sangat mahal. Sekitar lima ratus orang mengantri dan Fei Chen berada didalam antrian tersebut. Fei Chen sendiri bisa saja membayar semua orang yang selamat dari korban serangan Binatang Iblis untuk hidup di Kota Yangping, hanya saja jika dirinya melakukan itu maka akan menimbulkan kegaduhan.


‘Merepotkan...’ gumam Fei Chen dalam hati.


“Deshe, bisa kau jaga orang-orang diluar ini selama aku berada didalam?” tanya Fei Chen pelan. Deshe yang mengubah wujudnya menjadi kecil muncul di antara rambut kepala Fei Chen.


“Tentu saja bisa Tuanku.”


Fei Chen mengangguk dan mulai berjalan mendekati antrian paling depan dengan gerbang. Aura Raja Neraka yang keluar dari tubuhnya membuat orang-orang menjaga jarak dan segan padanya. Fei Chen sendiri berjalan seperti menganggap disekitarnya tidak ada orang.


“Kau... Apa kau memiliki uang yang cukup? Jangan sampai kami bertindak kasar padamu seperti yang kami lakukan pada mereka.” Salah satu pendekar dengan wajah malas menatap Fei Chen.


“Ambil ini.” Fei Chen mengeluarkan seratus keping emas dan memberikannya pada pendekar tersebut.


“Hei, tunggu sebentar. Sangat aneh jika ada orang yang mempunyai uang sebanyak itu ditengah kekacauan ini? Kau siapa pemuda?” Penjaga yang lain menegur dan bertanya dengan maksud menginterogasi.


Fei Chen menghela nafas panjang dan memperlihatkan ular kecil berwarna putih yang bersembunyi dibalik jubahnya. Seketika para pendekar yang berjaga kaget dan menjaga jarak.


“Bocah! Apa kau mengancam kami?!”


“Ular ini ciri-cirinya sama persis yang dibicarakan!”


“Katakan! Siapa kau sebenarnya?!”

__ADS_1


Kegaduhan di gerbang kota membuat orang-orang langsung menjaga jarak, sedangkan Fei Chen tetap tenang dan menjelaskan kepada para penjaga jika dirinya adalah seorang pawang ular.


“Aku mendengar Yang Mulia membenci ular ini bukan? Aku menangkap dan menjual bagian tubuh ular ini untuk mencukupi kehidupanku. Aku memang telah menangkap beberapa dari mereka karena kupikir akan membantu kehidupan baruku didalam dinding kota yang aman,” jelas Fei Chen dengan wajah yang santai membuat orang-orang percaya akan perkataannya.


“Pawang ular ya? Pekerjaanmu sangat langka di tengah kekacauan ini. Masuklah, kau mendapatkan hak untuk hidup di Kota Yangping. Tetapi kau harus ingat pajak setiap bulannya kawan.” Salah satu penjaga merangkul Fei Chen dan membawanya memasuki gerbang.


“Pemuda, jika kau memberikan beberapa keping emas, aku akan memberitahumu cara bertahan hidup di kota ini. Bagaimana apa kau mempunyai uangnya?” Penjaga yang merangkulnya berkata. Fei Chen menghela nafas ringan dan memberikan penjaga itu uang sebanyak lima ratus keping emas.


Sontak saja penjaga tersebut kaget bukan kepalang, “Ini!” Namun saat melihat tatapan tajam Fei Chen, seketika penjaga tersebut mengangguk pelan dan mengambil uangnya.


“Aku tidak menyangka kau mempunyai uang sebanyak ini. Tenang saja, aku akan bungkam.” Penjaga tersebut berkeringat dingin karena berada dibawah tekanan Fei Chen.


“Dengar, aku ingin memiliki akses bertemu dengan pemimpin kota ini. Ada yang ingin ku bicarakan dengannya. Apakah bisa kau melakukan itu?” Fei Chen bertanya dan penjaga tersebut sudah memucat wajahnya.


“Pemuda... Apa yang ingin kau lakukan setelah bertemu Tuan Hei Yu?”


“Jadi penguasa ini bernama Hei Yu. Seperti apa ciri-cirinya? Kekuatan yang dimilikin? Dan pengaruhnya terhadap kota ini... Bisa kau katakan semuanya padaku?” Sebuah pertanyaan dari Fei Chen membuat penjaga tersebut ingin melarikan diri.


“Hei, kalian berdua menghalangi jalan!” teriak penjaga yang melihat keduanya berbicara.


Fei Chen tersenyum tipis dan menjawab, “Maaf, kami akan pergi.” Segera Fei Chen memberi isyarat pada penjaga tersebut untuk mengikutinya.


Penjaga tersebut memberitahu Fei Chen tentang identitasnya sebagai Bei Ping. Demi menjaga kelangsungan hidup keluarganya, Bei Ping terpaksa bekerja sebagai seorang pendekar Tujuh Bunga Iblis.


Dahulu Bei Ping merupakan anggota sekte aliran putih, namun sejak pengaruh Kaisar Yang Ergou semakin besar dan pembantaian tidak dapat terhindarkan. Bei Ping mencari hidup aman demi keluarganya.


“Benar-benar menyedihkan bukan diriku ini?” ucap pria tersebut dengan helaan nafas panjang.

__ADS_1


Fei Chen tersenyum tipis, “Aku kira kau seorang pecundang tetapi aku salah. Situasi ini tidak salah. Jika kau ingin menyalahkan atas semua yang terjadi, kau harus menyalahkan dirimu sendiri karena terlalu lemah.”


Bei Ping menatap Fei Chen rumit. Dibandingkan dengan pekerjaannya sebagai pawang ular, kharisma dan ketampanan Fei Chen membuat Bei Ping yakin jika pemuda rupawan itu adalah bangsawan tinggi.


“Sebaiknya kita ke kedai itu. Kita minum-minum sebentar,” ajak Fei Chen karena ingin mengorek informasi.


Bei Ping hanya mengangguk dan tersenyum canggung saat para pendekar Tujuh Bunga Iblis menyapanya.


Didalam kedai Fei Chen menemukan banyak anggota pendekar Tujuh Bunga Iblis sedang meminum arak. Fei Chen dan Bei Ping bergabung sebelum Fei Chen bertanya kepada Bei Ping tentang kesiapannya mengubah takdirnya.


“Bei Ping, aku memberimu dua pilihan sekarang...” Tatapan tajam dan dingin Fei Chen menusuk tubuh Bei Ping.


‘Aura ini... Mereka semua tidak merasakannya... Aura ini lebih kuat dari Kaisar Yang Ergou... Siapa dia?’ Bei Ping berkeringat dingin saat mengetahui Fei Chen sedang mengancam dirinya.


“Pilihan pertama bekerjalah di bawahku selama aku berada di kota ini... Pilihan kedua, lawan takdirmu dan jadilah bawahanku...”


“Heh?”


Ucapan Fei Chen membuat Bei Ping terkejut. Pria itu kebingungan untuk sesaat dan pikirannya langsung larut dalam masa lalu kelamnya sebelum berganti dengan masa depannya.


‘Pilihan? Apa berhak aku memilih?’ Batin Bei Ping yang merasakan jiwa membara dalam tubuhnya.


“Pemuda... Aku memilih...”


“Hei, Bei Ping! Siapa pemuda ini? Sepertinya kau memeras nya! Belikan aku arak segelas!” Sebelum Bei Ping menyelesaikan ucapannya, salah satu pendekar yang berisik merangkulnya.


“Ambil dengan namaku,” ucap Bei Ping memberikan satu keping emas pada pendekar tersebut.

__ADS_1


__ADS_2