
PPFC 127 - Dendam Terbalaskan Dan Kehampaan
Ma Zhangsun tanpa bersuara sedikitpun menyaksikan kematian Guan Ji Ma. Tidak ada komentar apapun selain tubuhnya yang gemetar ketakutan.
“Aku ketakutan?” Ma Zhangsun yang tidak sanggup mengendalikan darah Iblis terkejut, “Aku Kaisar Ma ini ketakutan pada seorang bocah?! Tidak mungkin! Itu tidak mungkin terjadi!”
Fei Chen menoleh kebelakang dan menatap dingin Ma Zhangsun yang berteriak, “Sekarang giliranmu keparat! Kematianmu akan lebih menyakitkan daripada sialan tadi!”
Fei Chen menyarungkan Pedang Raja Neraka dan bergerak kearah Ma Zhangsun, begitu juga dengan sebaliknya.
Kedua pukulan saling berbenturan. Walaupun Energi Iblis yang terpancar dari tubuh Ma Zhangsun tercampur dengan tenaga dalam, Qi milik Fei Chen lebih kuat berkali-kali lipat.
Rasa nyeri ditangan kanannya akibat berbenturan dengan pukulan Fei Chen terasa. Ma Zhangsun mencoba melakukan serangan yang lain, kali ini dia melepaskan tendangan dimana kaki kanannya diselimuti petir.
Fei Chen tersenyum menyeringai melihat hal yang akan dilakukan Ma Zhangsun padanya, “Jangan berpikir aku hanya bisa bertarung menggunakan pedang!”
Tendangan Fei Chen lebih cepat dari tendangan kilat Ma Zhangsun. Kepala Ma Zhangsun terkena tepat didahinya dan membuat kepala pria itu membentur tanah.
“Sudah aku katakan padamu, kematianmu tidak akan mudah dan berakhir dengan cepat!”
Fei Chen mencekik leher Ma Zhangsun dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi sebelum melemparnya kearah gerbang, kemudian dia terbang dan melepaskan pukulan beruntun tanpa henti pada perut Ma Zhangsun.
Ekspresi Ma Zhangsun pucat pasi saat menyadari dirinya tidak berdaya dihadapan pemuda tersebut.
“Ugh! Katakan padaku, bocah...” Ma Zhangsun menatap wajah Fei Chen yang dipenuhi amarah, “Apa kau tidak ingin menjadi penguasa? Bergabunglah denganku, maka aku akan memberi harta dan wanita!”
Fei Chen berhenti memukul setelah Ma Zhangsun berkata demikian. Pemuda itu tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Orang yang akan mati masih memikirkan itu? Ambisimu itu tidak akan tercapai! Aku yang akan menjadi penguasa dan aku yang akan berdiri di puncak! Aku tidak akan membiarkan orang sepertimu ini mewujudkan sebuah impian!”
Suara tawa Ma Zhangsun menggelegar mendengar jawaban Fei Chen. Pria itu mengincar wajah Fei Chen dengan pukulannya yang dipenuhi tenaga dalam.
Namun sekali lagi pukulan Fei Chen lebih cepat Ma Zhangsun. Tubuh Ma Zhangsun terhempas menabrak gerbang kota dan menghancurkannya.
Para penduduk tercengang melihat kejadian tersebut. Tidak pernah mereka sangka Ma Zhangsun sama sekali tidak berkutik dan memberikan perlawanan pada seorang pemuda misterius yang membantai Aliran Pedang Iblis.
“Apa yang kau tertawakan?!” Fei Chen menatap dingin Ma Zhangsun yang tertawa begitu pelan karena mulutnya dipenuhi darah.
Ma Zhangsun menatap Fei Chen kasihan, “Aku merasa kasihan padamu karena dengan kematianku ini sama saja kau membawa dirimu pada sebuah kematian lainnya...”
“Apa kau pikir aku peduli dengan semua itu? Siapapun yang menghalangiku akan kubunuh!” Fei Chen mendekati Ma Zhangsun dan mencekik leher pria itu dengan kencang sebelum membanting tubuhnya ketanah lalu menginjak dada pria itu menggunakan kaki kanannya.
Fei Chen mengalirkan Qi pada tubuhnya dan menatap dingin Ma Zhangsun dibawahnya. Perlahan kedua tangannya menarik tangan kanan Ma Zhangsun secara paksa dan berniat memutuskannya.
Para penduduk yang menyaksikan ini langsung memalingkan wajahnya saat melihat bagaimana lengan kanan Ma Zhangsun tercabut oleh Fei Chen karena ditarik dengan begitu keras.
Fei Chen tersenyum dingin dan memegang tangan kanan Ma Zhangsun beserta lengannya itu, kemudian dia membakarnya menggunakan api hitam hingga lenyap tak bersisa.
“Semua yang telah kau bangun akan kuhancurkan dalam semalam sama seperti malam itu bukan? Aku tidak pernah melupakannya saat kau memenggal kepala Ayahku dan memotong tubuh Ibuku...”
Fei Chen tersenyum dingin dan mematahkan kedua kaki Ma Zhangsun sebelum menariknya hingga putus sama seperti yang dia lakukan pada lengan kanan pria itu.
Darah bercucuran dan Ma Zhangsun sudah diambang batas rasa sakit yang membuatnya ingin mati secepat mungkin.
“Bunuh... Aku...”
__ADS_1
Fei Chen tertawa dan mencekik leher Ma Zhangsun lalu mengangkat tubuh pria itu Tinggi-tinggi, “Bunuh aku? Jangan bercanda keparat! Ini belum seberapa! Kematian terlalu mudah untukmu!”
Fei Chen akhirnya lepas kendali dan memukul wajah Ma Zhangsun tanpa henti hingga pria itu berhenti bernafas. Wajah Ma Zhangsun sudah tidak dikenali dan hancur bahkan saat pria itu mati pun, Fei Chen masih terus melancarkan pukulan.
“Hei, apa kau tidak mendengarku?! Kematian terlalu mudah untukmu!” Fei Chen membanting tubuh Ma Zhangsun ke tanah dan mendecakkan lidahnya saat setengah bagian wajahnya terkena cipratan darah.
“Cih, sudah mati kah?” Fei Chen telah menuntaskan dendamnya namun hatinya merasa kosong. Kehampaan mulai menghampiri dirinya, perlahan pandannya gelap.
Dia tidak bisa membedakan mana yang kiri dan kanan hingga akhirnya aura pekat mematikan keluar dari tubuhnya.
“Suami!” Su Xiulan menampar pipi Fei Chen dengan sangat keras hingga pemuda itu kembali tersadar.
“Xiulan?”
Fei Chen terkejut dan memegang kepalanya, “Semuanya sudah berakhir...” Lalu Fei Chen menoleh kebelakang melihat Liu Xianlin, Xhin Li Wei, Ling Xiyao dan Ma Mingyan.
“Tuan Putri Mingyan, kemenangan ini untukmu... Kau bebas.”
Perkataan Fei Chen itu membuat mata Ma Mingyan berair dan gadis muda itu berlari kearah Fei Chen lalu memeluk tubuh pemuda itu dengan sangat erat.
“Chen‘gege!”
Fei Chen menaikan alisnya mendengar ucapan Ma Mingyan. Namun dia mengerti Ma Mingyan telah mengalami rasa sakit dan penderitaan yang sama sepertinya bahkan lebih.
“Semua akan baik-baik saja...”
Su Xiulan tersenyum melihat Fei Chen dan Ma Mingyan begitu juga dengan Liu Xianlin, Xhin Li Wei dan Ling Xiyao.
__ADS_1