Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 43 - Keberangkatan


__ADS_3

PPFC 43 - Keberangkatan


“Guru, bukankah Teknik Pedang Matahari adalah teknik andalan Tetua Tian Hu? Mengapa orang itu bisa menggunakannya?” Fei Chen bertanya pada Feng Lao mengingat Qie Xumao yang tidak menggunakan Teknik Pedang Bulan.


“Qie menyukai Teknik Pedang Matahari dibandingkan dengan Teknik Pedang Bulan. Kami bertiga menguasai setiap tiga jurus dari masing-masing teknik. Tetapi Chen‘er ada satu jurus terakhir dari masing-masing teknik pedang dan hanya aku yang mengetahuinya, suatu saat aku ingin mewariskan ini padamu.” Feng Lao mengusap kepala Fei Chen karena bocah itu sudah bertanya padanya.


“Panggil Li‘er, aku akan mengajarkan Teknik Pedang Matahari dan Teknik Pedang Bulan pada kalian berdua,” perintah Feng Lao pada Fei Chen.


“Baik, Guru. Murid akan memanggil saudari seperguruan.” Fei Chen segera memanggil Jia Li untuk berlatih.


Untuk menguasai Teknik Pedang Matahari dan Teknik Pedang Bulan butuh waktu satu minggu bagi Fei Chen, berbeda dengan Jia Li yang memakan waktu dia bulan penuh.


Fei Chen mengajari Jia Li atas perintah Feng Lao dan membuat Jia Li semakin termotivasi. Terkadang Fei Chen berpikir jika tingkah dan sikap manja Jia Li seperti seorang tuan putri kerajaan.


Tetapi Fei Chen menepis pikiran itu karena menurutnya Jia Li tidak mungkin berasal dari keluarga kerajaan walaupun memiliki paras bangsawan yang sangat kental.


“Bagaimana Lili, apa kau bisa mengimbangi permainanku ini?” Fei Chen bertanya di sela-sela pertarungan keduanya.


Adu pedang Fei Chen dan Jia Li kembali membuat suara bising di aula latihan Paviliun Pedang Langit. Fei Chen tidak memberikan celah pada Jia Li untuk memberikan serangan balik bahkan dia lebih mendominasi serangan membuat Jia Li dalam posisi bertahan tanpa perlawanan berarti.


“Seharusnya kau memperlakukanku dengan lembut! Kau... Sungguh tega!” Jia Li kesulitan mengimbangi permainan pedang Fei Chen.


Walaupun sering memprotes tindakan Fei Chen saat melakukan adu pedang, dalam hatinya Jia Li merasa bahagia karena dirinya dapat pelajaran banyak dari pertukaran pedangnya dengan pedang Fei Chen.

__ADS_1


Melawan Fei Chen membuat mental Jia Li semakin jadi. Bagi Jia Li bakat yang dimiliki Fei Chen sungguh mengerikan bahkan sering terlintas didalam pikirannya jika Fei Chen adalah monster.


Seperti biasa adu pedang dimenangkan Fei Chen dan ini adalah kekalahan Jia Li yang ke sembilan puluh tujuh, sedangkan untuk Fei Chen ini adalah kemenangan yang ke sembilan puluh tujuh.


“Lili, kau semakin mahir.” Fei Chen mengulurkan tangannya pada Jia Li yang terduduk ditanah.


“Tidak perlu memuji! Hmph!” Jia Li bangkit sendiri dan berjalan melewati Fei Chen. Setelah melewati Fei Chen, Jia Li tersenyum manis.


“Kenapa dia marah?” Fei Chen menoleh kebelakang menatap Jia Li yang menghampiri Luo Rou.


“Selanjutnya aku akan melatih pernafasan...” Fei Chen melompat keatas genteng dan duduk bersila sambil bersiap mengolah pernafasan.


Jia Li dan Luo Rou menggelengkan kepala mereka karena melihat fisik Fei Chen yang tidak mengenal lelah.


“Li‘er, jangan memikirkan hal yang membuatmu pusing. Bibi yakin Chen‘er akan baik-baik saja. Walaupun terkadang Bibi ingin Chen‘er lebih santai dan menikmati masa muda seperti anak seusianya. Sepertinya dia tidak bisa melakukan itu.”


Luo Rou terkadang berpikir jika Fei Chen memiliki hati yang lemah karena terkadang tanpa sadar bocah itu merengek saat dibangunkan olehnya atau terkadang wajah Fei Chen bersemu merah saat menikmati masakannya.


“Tetapi Bibi Rou, bagaimana jika mimpiku menjadi kenyataan?” Jia Li merasa khawatir.


“Setiap kata adalah do‘a. Jadi kita do'akan saja yang terbaik untuk Chen‘er, dirimu sendiri dan kita semua yang ada disini.” Luo Rou mengelus kepala Jia Li setelah mengatakan itu.


“Hari sudah menjelang siang. Kalian harus bersiap-siap agar tidak membuat Tetua Tian Hu menunggu.” Luo Rou segera menyiapkan perbekalan untuk Fei Chen dan Jia Li didalam perjalanan menuju Lembah Naga.

__ADS_1


Jia Li segera bangkit dan berteriak, “Chenchen, cepat turun! Kita akan berangkat!”


Fei Chen membuka matanya dan membatin, ’Hari ini ya? Tidak kusangka aku sudah berada ditempat ini selama dia tahun.’


Fei Chen segera turun dan langsung menuju kolam air panas untuk membersihkan dirinya sebelum berangkat menuju Lembah Naga.


Setelah menyiapkan semua perbekalan dan kepentingan yang akan dia bawa ke Lembah Naga, Fei Chen dan Jia Li diantar oleh Feng Lao dan Luo Rou.


“Li‘er, Chen‘er, semoga keberuntungan berada di pihak kalian. Guru percaya dengan kemampuan kalian.” Feng Lao memeluk Fei Chen dan Jia Li.


“Murid tidak akan mengecewakan Guru...” Fei Chen membalas pelukan Feng Lao.


“Aku juga tidak akan mengecewakan harapan Kakek Feng...” Jia Li ikut memeluk Feng Lao.


“Li‘er, Chen‘er, makan yang cukup dan istirahat yang teratur terutama kamu Chen‘er.” Luo Rou menatap tegas Fei Chen sebelum memberikan pelukan kasih sayang pada Fei Chen dan Jia Li setelah Feng Lao berdiri.


“Aku mengerti, Bibi Luo.”


Setelah itu Fei Chen dan Jia Li berjalan keluar Paviliun Pedang Langit. Keduanya disambut oleh anggota Lembah Pedang. Semuanya mengantar kepergian Fei Chen, Jia Li, Tian Zhou dan Tian Hu keluar gerbang sekte.


Sebelum pergi meninggalkan Lembah Pedang, Fei Chen menatap penuh makna tempat dimana dia tumbuh selama dua tahun belakangan ini.


‘Chen, apa kau akan merindukan tempat ini?’ Kucing Manis bertanya.

__ADS_1


Fei Chen menjawab melalui telepati, ‘Ya, aku akan sangat merindukannya.’


__ADS_2