
PPFC 89 - Fei Chen Digoda
“Chen‘er kau bisa memulainya...” Hua Ruyunmenoleh kearah Fei Chen sehingga tubuh bagian depannya terlihat jelas dimata pemuda itu.
“Senior Hua! Kau!” Fei Chen mengumpat karena ulah Hua Ruyun yang menggodanya.
“Bagaimana menurutmu Chen‘er? Lebih menggoda siapa? Aku atau Wei‘er?” Sambil mengedipkan matanya Hua Ruyun terlihat gemas ingin mengeledek Fei Chen lebih jauh.
“Bibi Ruyun cukup!” Xiu Ziwei tidak bisa menahan malu karena ulah Hua Ruyun.
Akhirnya Hua Ruyun diam dan membiarkan Fei Chen memulai penyembuhan titik-titik meridian mereka berdua.
Fei Chen meraba punggung Hua Ruyun dan Xiu Ziwei secara bersamaan. Keduanya terlihat menahan sesuatu saat tangan Fei Chen mulai mengalirkan tenaga dalam dan aura tubuhnya untuk memberikan rangsangan pada tubuh keduanya.
Sama halnya dengan Xi Taohua dan Zhang Xue, Hua Ruyun dan Xiu Ziwei juga telah membuka titik-titik meridian mereka yang telah lumpuh.
Fei Chen menahan nafas untuk sesaat karena meraba punggung Hua Ruyun dan Xiu Ziwei juga membutuhkan tekad.
Baik Hua Ruyun ataupun Xiu Ziwei keduanya merasakan kehangatan yang menjalar ditubuh mereka. Hua Ruyun tersenyum manis kearah Fei Chen yang melirik dirinya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Hua Ruyun pergi beranjak dari ranjang. Wanita dewasa itu membatin dalam hati, ‘Suatu saat aku akan mengucapkan terimakasih dengan tulus. Kau telah mendapatkan hati dan tubuhku ini, Chen‘er...’
__ADS_1
Senyuman penuh arti Hua Ruyun membuat tubuh Fei Chen bergidik. Pemuda itu menatap Hua Ruyun yang sudah memakai pakaian atasnya dan pergi.
“Terimakasih...” Sangat singkat Xiu Ziwei berkata sebelum pergi menyusul Hua Ruyun.
Selepas kepergian keduanya Fei Chen mengolah Seni Nafae Naga untuk menenangkan dirinya. Tindakannya ini terbukti efektif namun tak lama suara pintu kamar kembali diketuk.
Kali ini dua wanita dewasa datang bersamaan menghampiri Fei Chen. Keduanya tidak lain adalah Shin Riu yang berumur tiga puluh satu tahun dan Bai Shinhwa yang berumur tiga puluh empat tahun.
“Bagaimana kami memanggilmu?” Bai Shinhwa bertanya dengan nada yang ramah.
“Terserah kalian.” Fei Chen tidak terlalu mempedulikan hal sepele seperti itu.
“Terserah ku ya?” Bai Shinhwa memegang dagunya dan nampak berpikir, “Bagaimana kalau aku memanggilmu bocah?”
“Bukankah kau barusan saja mengatakan padaku untuk terserah memanggilmu dengan sebutan apa saja?” Bai Shinhwa tersenyum karena melihat ekspresi Fei Chen.
‘Wanita ini bahaya! Dia sama seperti wanita tadi!’ Fei Chen langsung diam mengingat Hua Ruyun.
“Cukup basa-basinya. Kita bisa memulainya sekarang Bibi Shinhwa, Bibi Riu.” Fei Chen tersenyum tipis setelah mengatakan itu. Dia berpikir keduanya tidak akan menyukai sebutan tersebut.
“Bibi Shinhwa? Boleh juga.” Bai Shinhwa tertawa lirih lalu melepaskan pakaian atasnya secara perlahan dihadapan Fei Chen.
__ADS_1
“Bibi Riu? Aku tidak setua itu... Tetapi tidak buruk juga...” Shin Riu ikut tertawa lirih dan segera melepaskan pakaian atasnya.
Keduanya seperti tidak peduli dengan kehadiran Fei Chen. Justru Fei Chen seperti terjebak perkataannya sendiri.
‘Kenapa harus aku yang malu?’ Fei Chen memalingkan wajahnya dan menunggu keduanya menghadap kebelakang.
“Chen‘er, kau harus bertanggung jawab karena telah melihat tubuh dan menyentuh kulitku yang telah kujaga ini.” Shin Riu tersenyum penuh makna kearah Fei Chen dan disusul oleh Bai Shinhwa.
“Chen‘er, mungkin aku terlalu tua untukmu, tetapi tubuhku tidak pernah disentuh oleh pria manapun. Detik ini aku berjanji padamu, jika hati dan tubuhku ini hanya untukmu.”
Fei Chen menelan ludah akibat perkataan keduanya. Dia tumbuh tanpa mengenal manusia selama beberapa tahun dan tentu itu tidak mudah.
Namun dia tidak menyangka akan ada perempuan yang dengan tegas menyatakan perasaan mereka pada dirinya.
“Kita akan memulainya.” Fei Chen mengabaikan perkataan keduanya dan mulai meraba punggung Bai Shinhwa dan Shin Riu.
[Hua Ruyun Dewi Tapak Air, Umur 34 Tahun] [Sumber : Pinterest]
__ADS_1
[Shin Riu, Dewi Bumi, Umur 31 Tahun] [Sumber Pinterest]