
PPFC 75 - Tubuh Dewa Perang
[Chu Meilan, Tuan Putri Chu, Pemilik Tubuh Dewa Perang, Umur 14 Tahun] [Sumber : Pinterest]
Walaupun terkesan tidak peduli, Fei Chen sangat membantu anggota Istana Naga Neraka Terdalam. Bahkan dia tidak segan untuk bergotong-royong dengan para penduduk.
“Tuan Muda Fei, sebaiknya anda istirahat terlebih dahulu. Istriku sudah membuatkan teh hangat dan tahu goreng.”
“Tuan Fei, anda tidak perlu turun tangan membantu kami.”
“Tuan Muda Fei, berkat dirimu pekerjaan kami lebih cepat selesai dari yang diperkirakan.”
Para penduduk merasa bersyukur dengan bantuan Fei Chen. Pemuda itu menyelamatkan nyawa mereka bahkan melindungi mereka.
“Aku pernah memiliki kakak sepupu yang sangat perhatian pada orang-orang di wilayahnya. Tetapi kakak sepupuku telah tiada. Mungkin aku kagum dengan tindakannya sehingga mencoba melakukan hal yang sama...” Fei Chen tanpa sadar bergumam dengan tatapan teduhnya.
Chu Meilan yang mendengar gumamam itu langsung duduk disebelah Fei Chen yang mendapatkan jamuan makanan dari para penduduk.
“Guru, aku sangat mengagumimu.” Chu Meilan tertawa kecil sambil mengambil cemilan yang dibuat penduduk.
“Sudah berapa kali dirimu ku peringatkan agar tidak memanggilku Guru?” Fei Chen mencubit hidung Chu Meilan dengan ekspresi sebal.
“Hihi... Guru adalah Guru.”
Para penduduk tersenyum melihat Chu Meilan yang masih bisa tersenyum dan tertawa lepas saat bersama Fei Chen.
__ADS_1
Tidak dipungkiri Fei Chen memiliki paras yang memikat kaum perempuan. Walaupun sifatnya arogan namun Fei Chen disukai banyak orang.
“Guru, bisakah kau mengajariku cara membela diri. Aku ingin melindungi para pendudukku. Walaupun mereka adalah anggota sektemu, tetapi aku tetaplah pewaris utama Kaisar Chu.” Chu Meilan berdiri dan menatap Fei Chen dengan tatapan memohon.
“Baiklah, aku merasa kau memiliki bakat yang tersembunyi. Namun kau harus ingat Meilan‘er, untuk masalah dendam, aku ingin kau mempercayakannya padaku.” Fei Chen mengelus kepala Chu Meilan dan mengarahkan jari kelingkingnya didepan wajah Chu Meilan.
“Aku akan membalaskan kematian kedua orang tuamu. Kau tidak perlu mengotori tanganmu itu. Bisakah kau berjanji padaku?”
Mata Chu Meilan melebar. Dalam hatinya dia bertanya-tanya tentang sosok Fei Chen yang sekarang sangat perhatian pada dirinya.
‘Apakah seperti ini jika aku memilih seorang kakak?’ Chu Meilan bertanya dalam hatinya.
“Setelah ini datanglah ke Aula Neraka.” Setelah berkata demikian Fei Chen mengobrol dengan para penduduk sebelum pergi menuju Aula Neraka.
Chu Meilan langsung mengikuti Fei Chen dari belakang. Segera dia menuju Aula Neraka tempat dimana Fei Chen mengajaknya.
Fei Chen menoleh kebelakang melihat Chu Meilan yang mengikutinya. Sesama di Aula Neraka, Fei Chen langsung memberi tanda pada Chu Meilan untuk masuk kedalam.
“Ya, hanya kita berdua.” Fei Chen langsung menutup pintu setelah Chu Meilan masuk kedalam aula, “Ada apa?”
Chu Meilan menggelengkan kepalanya, “Tidak, Guru. Hanya saja aku merasa gugup karena akan menjadi muridmu.”
“Siapa yang mengatakan kau akan menjadi muridku? Seenaknya saja memutuskan. Lagipula kau itu sangat menyebalkan.” Fei Chen mendecakkan lidahnya sebelum berdiri di depan Chu Meilan.
“Langsung saja aku akan mengajarimu pernafasan halus. Namun sebelum itu, aku ingin mengetahui sejauh mana kemampuan fisik dan mentalmu.” Fei Chen menatap Chu Meilan yang terlihat tegang, “Ulurkan tangan kananmu...”
Chu Meilan segera mengulurkan tangan kanannya, “Ada apa Guru? Apa kau ingin menyentuh kulitku?”
__ADS_1
“Hah? Apa yang kau katakan, ini bukan waktunya bercanda dan satu hal lagi jangan memanggilku Guru!” Fei Chen menyentuh tangan Chu Meilan dan memeriksa denyut nadinya.
Mata Fei Chen melebar dan menggelengkan kepalanya beberapa kali seperti tidak percaya. Pertama Fei Chen memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Chu Meilan, kemudian dia meraba leher Chu Meilan sesaat.
‘Ini...’
“Guru, kau... Mesum...”
Fei Chen tersadar setelah mendengar ucapan Chu Meilan.
“Mesum? Mulutmu ini sepertinya harus diberi pelajaran.” Fei Chen menghela nafas setelah mencubit gemas pipi Chu Meilan.
“Meilan‘er, aku akan menjelaskan satu hal padamu. Dirimu ini istimewa karena memiliki tubuh khusus yang merupakan peninggalan Para Dewa-Dewi...” Mendengar perkataan Fei Chen membuat Chu Meilan menelan ludah.
Chu Meilan sendiri baru mengetahui hal ini. Semua itu berkat Fei Chen yang memeriksa denyut nadi dan kondisi tubuhnya.
“Kau memiliki tubuh khusus... Tubuh Dewa Perang...”
Fei Chen mengusap wajahnya secara kasar sebelum menghela nafas panjang.
“Baiklah, aku akan menjelaskan secara singkat mengenai pernafasan halus lalu kita akan mempraktekkannya.”
Fei Chen menatap serius Chu Meilan.
“Mohon bimbingannya Guru!”
Nampak Fei Chen mengerutkan keningnya karena Chu Meilan memanggilnya Guru. Namun pada akhirnya Fei Chen mengajari Chu Meilan gerakan pukulan, tapak dan tendangan.
__ADS_1
Setelah mengajarkan beberapa gerakan kepada Chu Meilan, Fei Chen memberikan Cincin Petir kepada Chu Meilan untuk berjaga-jaga.
“Cincin ini telah kualirkan tenaga dalam khusus. Saat dalam bahaya, maka aku akan datang padamu. Namun ini hanya berlaku tiga kali.”