
PPFC 375 - Jalan Penguasa Benua Tujuh Bintang
INFO!
Setelah Perjalanan Pedang Fei Chen tamat, tanggal 1 November 2022 nanti ada cerita baru tapi bukan kelanjutannya. Kelanjutannya nunggu bab ceritanya terkumpul sekitar seratusan baru gue up.
#SelamatMembaca
____
Malam yang berapi-api telah usai, perang besar itu dimenangkan oleh Fei Chen dan sekutunya. Tidak pernah ada yang menyangka jika Sun Yelong telah binasa dan sekarang sosok orang yang paling dibicarakan adalah Fei Chen.
Setelah perang besar itu Fei Chen menghilang dan tidak ada yang mengetahui keberadaannya kecuali Ying Xie, Su Xiulan dan Mao Ruyue.
Mereka bertiga membicarakan sesuatu yang penting dengan Fei Chen mengenai sosok Liu Fang. Dua kepercayaan Liu Fang yang bernama Zmeya dan Machina merupakan dalang dibalik munculnya Raja Iblis Agung.
Mereka berdua berniat mengorbankan ribuan bahkan jutaan nyawa manusia untuk menciptakan ras terkuat yang pernah ada yakni keturunan Liu Fang. Namun tujuan itu masih jauh karena setiap Raja Iblis Agung memiliki ego yang berbeda-beda.
Berkat penjaga Pulau Sembilan Keseimbangan yang bernama Shin Mao, para Raja Iblis Agung tidak bertindak gegabah. Namun Shin Mao memiliki maksud lain yakni menjadi Sembilan Kekacauan Surgawi menjadi sumber kekuatannya.
“Sebelum rencananya berhasil, anak bodohnya mengkudeta. Situasi sekarang sangat kacau dan Dunia Bulan memasuki era kekacauan yang baru.” Ying Xie menjelaskan.
“Yang ingin aku tanyakan disini adalah tentang tujuanmu yang pasti kedepannya Chen‘er?” Ying Xie bertanya kepada Fei Chen yang dipeluk Su Xiulan dan Mao Ruyue.
Nampak pemuda itu menjadi rebutan kedua wanita cantik dewasa tersebut. Fei Chen yang sedang membiasakan diri dengan aliran qi yang baru dalam tubuhnya tidak bisa melakukan konsentrasi secara penuh karena kedua tangannya berada di belahan dada Su Xiulan dan Mao Ruyue.
“Chen‘er,” ucap Ying Xie.
“Aku sudah memutuskan Guru.“ Fei Chen menatap Su Xiulan dan Mao Ruyue agar diam.
‘Dasar wanita Iblis ini!’ Su Xiulan menatap sengit Mao Ruyue yang tersenyum mengeledek.
‘Hihihi... Mengganggu Su Xiulan ternyata sangat menyenangkan. Ekspresi cemburunya membuatku ingin lebih jauh menggoda Gege.’ Mao Ruyue tertawa dalam hatinya melihat tatapan sengit Su Xiulan.
“Dengan kematian orang-orang terdekat ku, aku memutuskan untuk menjadi Penguasa Benua Tujuh Bintang. Dan aku akan mengambil semua kursi Sembilan Raja Iblis Agung dengan yang baru.” Fei Chen menatap Su Xiulan dan Mao Ruyue setelah mengatakan itu.
__ADS_1
“Gege... Jangan bilang kau...” Su Xiulan bisa menebak apa yang ingin Fei Chen katakan, begitu juga dengan Mao Ruyue.
“Tidak buruk juga. Aku tidak keberatan. Aku akan menjadi satu dari istrimu yang akan mengisi kursi Raja Iblis Agung.” Mao Ruyue berkata penuh percaya diri dan membuat Su Xiulan ikut terpancing.
“Aku juga akan menyandang Dewi Kematian. Kau tidak keberatan bukan Gege?!” Su Xiulan dengan usilnya mencubit sesuatu dicelah paha Fei Chen dan membuat pemuda itu menjerit.
Ying Xie yang melihat ini memejamkan mata dan menghela nafas.
“Bagaimana dengan posisi yang lain?” Ying Xie bertanya.
“Guru, kau salah satunya. Aku memiliki wanita-wanita hebat yang pantas berada disampingku. Mereka yang akan mengisi kekosongan itu. Namun tentu saja aku akan membicarakan dengan semuanya.” Fei Chen menjawab dan membuat Ying Xie malu.
“Aku termasuk? Tetapi aku bukan istrimu muridku...” Seketika ruangan kamar Ying Xie hening saat wanita mengatakan itu.
Su Xiulan dan Mao Ruyue saling menatap satu sama lain sebelum tertawa renyah, sedangkan Fei Chen merasa sangat yakin jika Ying Xie juga memiliki perasaan tersembunyi padanya.
“Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Aku sendiri pernah menjadi Guru dari bocah ini lalu menjadi istrinya.” Su Xiulan merangkul Fei Chen tanpa malu lalu mengecup pipi Fei Chen.
“Xiu‘er...” tegur Fei Chen.
“Xiuxiu! Berhenti bermesraan dalam kamarku!” Ying Xie langsung pergi keluar dan meninggalkan Fei Chen yang duduk diranjang bersama Su Xiulan dan Mao Ruyue.
“Bo... Boleh...” Su Xiulan menjawab malu.
“Xiuxiu.” panggil Mao Ruyue.
“Iya.” Su Xiulan menjawab.
“Xiuxiu,” sebut Mao Ruyue.
“Apa?” sahut Su Xiulan.
“Xiuxiu!”
“Cukup! Kau menyebalkan sekali!” Su Xiulan cemberut dan berdiri, lalu Mao Ruyue mengikutinya.
__ADS_1
Fei Chen yang melihatnya hanya menghela nafas, “Dewi Iblis benar-benar akan menjadi istriku... Dia yang memiliki kekuatan mengerikan dan dahysat menjadi wanitaku... Ini gila...”
Fei Chen masih tidak menyangka dan kembali membaringkan tubuhnya. Saat ini Fei Chen memikirkan keadaan anaknya yang berada di Dunia Matahari. Namun Fei Chen yakin Fei Long akan baik-baik saja selama Dewa Naga menuntunnya.
“Long‘er... Lindungi dan jaga Kucing Manis... Jangan sampai kau kehilangannya...” Sebelum tertidur Fei Chen bergumam pelan.
Sementara di suatu tempat yang ada di Dunia Atas terlihat sosok mengerikan yang sedang duduk memakan buah-buahan. Pria itu terlihat dikelilingi rantai yang berapi-api berwarna hitam membakar tubuhnya.
“Liu Fang! Kau belum cukup kuat untuk mengalahkanku! Lihat dirimu itu bahkan setelah Era Para Dewa berakhir, kau masih saja lemah!” Pria itu berkata dengan ketenangannya menatap seorang pria yang terkapar ditanah.
“Kau... Tidaklah normal... Sebelum Kutukan Sembilan Kekacauan Surgawi Murni mengambil alih kesadaranmu... Aku rela menjadi sosok Iblis sekalipun... Guru...” Pria bernama Liu Fang pingsan setelah mengatakan itu.
“Dominasi Dewa, kebencian manusia dan kekejian Iblis merupakan awal dari semuanya. Aku tidak menyalahkanmu karena membunuh banyak Dewa demi membunuhku, tetapi kau bukanlah orang yang dijanjikan Liu Fang.” Pria yang disebut Dewa Sembilan Kekacauan Surgawi menatap Liu Fang yang sekarat.
“Aku menanti datangnya sang Pembunuh Dewa yang akan membunuhku, seberapa lama pun itu sebelum aku kehilangan kendali atas diriku ini dan menghancurkan Dunia Bulan dan Matahari...” ucap Dewa Sembilan Kekacauan Surgawi.
- Perjalanan Pedang Fei Chen Tamat -
______
#KesetiaanItuBernamaPembaca
Novel pertama yang gue buat akhirnya kelar juga, tapi kisahnya masih berlanjut tentunya dengan judul yang berbeda yakni, ‘Penguasa Benua Tujuh Bintang’
Dukungan kalian semua benar-benar berarti buat gue. Gue pernah dalam posisi down, terutama tahun ini merupakan perjuangan gue buat berhenti ketergantungan, gue bisa aja menyerah atau berhenti nulis, tapi gue memilih berjuang dan kembali menulis itu semua berkat kalian.
Novel ini sangat jauh dari kata ‘bagus’ dan menurut gue cerita ini sekedar pelampiasan gue buat berhenti gunain anti depresi. Gue bikin diri gue ini sesibuk mungkin.
Gue kadang mikir mau berhenti nulis karena ujung-ujungnya gue gak bisa lepas dari tekanan, tapi waktu baca komentar kalian, jujur disitu gue akhirnya sadar ternyata ada sebagian orang diluar sana pada nunggu cerita yang gue buat.
Untuk orang kaya gue tentu itu sangat berarti.
Sesederhana itu, kalian telah memberikan keberanian buat gue untuk tetap menulis, berkarya, melanjutkan sebuah cerita.
Terimakasih udah ngikutin karya gue sejauh ini dan terimakasih udah mau menjadi pembaca yang setia menanti kelanjutan cerita yang gue buat karena sempat hiatus beberapa bulan.
__ADS_1
Dari gue, SAM ILFAR, ‘Kesetiaan Itu Bernama Pembaca’
#Terimakasih