Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 176 - Teknik Dunia Jiwa Yin Yang II


__ADS_3

PPFC 176 - Teknik Dunia Jiwa Yin Yang II


Sudah sepuluh hari Fei Chen dan Jia Li berada di Gunung Menangis. Semenjak malam itu, Fei Chen dan Jia Li hampir selalu melakukan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang setiap selesai melakukan metode penempaan tubuh di Kolam Siksa Petir.


Fei Chen mendapatkan keuntungan besar saat melakukan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang dengan Jia Li karena sekarang dirinya memiliki Tubuh Dewa Pedang. Berkat Tubuh Dewa Pedang akhirnya Fei Chen bisa mempelajari setiap esensi pedang hingga akhirnya dia mampu membuat Pedang Raja Neraka menyatu dengan tubuhnya.


Sedangkan Jia Li juga mendapat keuntungan besar karena akhirnya dia berhasil menembus Pendekar Bumi Tahap Puncak seperti yang dikatakan Fei Chen. Selain itu sekarang Jia Li memiliki kualitas Tulang Naga Langit.


Fei Chen tidak pernah bosan melaksanakan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang dengan Jia Li bahkan dia terlihat sangat menikmatinya.


Hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk kembali ke Rumah Hijau Daun. Sebelum pergi Fei Chen menahan Jia Li karena merasa dirinya sulit mendapatkan kesempatan ini kembali.


“Chenchen, bukankah semalam kita telah melakukannya?” Jia Li sebenarnya tidak masalah dan siap menuruti kemauan Fei Chen karena tidak ada ruginya melakukan itu.


“Tetapi kau kelelahan sebelum aku menuntaskannya...” Fei Chen memeluk tubuh Jia Li dari belakang dan mulai meraba buah dada dari balik pakaian yang dikenakan Jia Li.


Jia Li yang sudah terbakar birahi karena perbuatan Fei Chen akhirnya mulai pasrah saat Fei Chen menghimpit tubuhnya ke dinding.


Keduanya berciuman sambil meraba bagian tubuh masing-masing. Fei Chen tidak melepas pakaian Jia Li dan hanya menyingkap pakaian bawahnya dan Jia Li sambil memposisikan miliknya.


“Teknik Dunia Jiwa Yin Yang...”


Jia Li menaikan satu kakinya dan dipegang Fei Chen. Keduanya saling menatap penuh kasih saat kedua inti tubuh mereka saling menyatu. Dalam posisi berdiri Fei Chen dan Jia Li memacu tubuh masing-masing terbang ke alam surgawi.

__ADS_1


“Aaahhhkkk!” Pekikan Jia Li terdengar saat keperkasaan Fei Chen masuk lebih dalam dan kepalanya mendongak saat Fei Chen menghisap leher jenjangnya.


”Ular berkepala tumpul itu tidak bisa masuk semuanya Chenchen... Emmm...”


“Ooohhh... Lili, kau meremasku kuat sayang!”


“Ahhhsss... Chenchen pelan akh!”


Jia Li menggelengkan kepalanya dan memeluk erat tubuh Fei Chen. Dengan satu kaki diangkat, Jia Li dibuat melayang oleh Fei Chen dalam posisi baru yang mereka lakukan ini.


“Ugh! Ini sangat sempit!” Fei Chen akhirnya memegang kedua kaki Jia Li hingga tubuh gadis itu terangkat.


“Ah! Chenchen!” Jia Li panik dan langsung mengalungkan tangannya ke leher Fei Chen dengan erat.


“Pegangan yang erat.”


Jia Li tersipu malu namun dia menikmati kegiatan ini. Seiring gerakan yang dilakukan Fei Chen membuat nafas keduanya tidak beraturan. Berbeda dengan Fei Chen yang terus mengerang kenikmatan, nafas Jia Li terdengar berat kadang tersengal-sengal dan tercekat beberapa kali.


Tak lama Fei Chen membaringkan tubuh Jia Li dilantai dan menaruh kedua kakinya dibahu sebelum menghujamkan tubuhnya dengan cepat dan dalam membuat Jia Li memekik.


“Chenchen... Ah... Aaaahhh....”


Fei Chen memacunya semakin cepat bersamaan dengan itu tubuh keduanya bergetar hebat dan mengejang. Fei Chen dan Jia Li berpelukan erat dengan nafas yang tidak beraturan.

__ADS_1


Mata Fei Chen terpejam menikmati cengkeraman erat dibawah sana dan dia membiarkan miliknya terbenam disana hingga tetes cinta terakhir.


“Emmmssss...” Jia Li memeluk tubuh Fei Chen yang berada diatasnya dan mulai mengatur nafasnya.


“Chenchen, jika aku hamil apa kau akan bertanggung jawab?” Jia Li tiba-tiba bertanya di sela-sela ketenangan itu.


“Apa kau ingin aku pergi meninggalkanmu?” Fei Chen bertanya dan Jia Li menggelengkan kepalanya.


“Dasar! Kau bukanlah pria seperti itu Chenchen!”


“Setelah kita kembali dan membicarakan hubungan kita dengan Guru, aku akan menikahimu...” Fei Chen mengecup bibir Jia Li singkat dan tersenyum hangat.


“Jadi sampai kapan kita dalam posisi seperti ini?” Jia Li merasa aneh jika dirinya terus berbaring terlentang dengan tubuh mereka berdua yang masih menyatu.


Fei Chen pun tersenyum, “Sampai ular berkepala tumpul ini mengecil Lili...”


Mendengar itu Jia Li pun memukul dada Fei Chen pelan, “Apa kau ingin membuatku tidak bisa berjalan dan pingsan?”


Fei Chen menahan tangan Jia Li dan mengubah posisi keduanya. Kali ini Fei Chen duduk bersender pada dinding dengan Jia Li yang duduk dipangkuannya.


Kembali suara erangan keduanya terdengar. Bibir Jia Li terus terbuka mengeluarkan suara-suara indah ditelinga Fei Chen hingga akhirnya mereka berdua mencapai pelepasan secara bersamaan.


____

__ADS_1


Jangan lupa pisaunya untuk motong bunga sambil ngopi pakai hati. Hadiah Imlek untuk authornya ada gak nih dari kalian?


__ADS_2