
PPFC 164 - Patriark Fei
Selama tujuh hari Fei Chen dan Su Xiulan menikmati pergumulan indah mereka hingga akhirnya Fei Chen mengatakan kepada Su Xiulan bahwa dirinya akan kembali ke Kekaisaran Ma untuk mengurus masalah di tanah kelahirannya itu.
“Aku sudah menyuruh San Zhu melatih orang-orang di Istana Naga Neraka Terdalam. Selain itu ada Mi‘er. Dan kau Xiu‘er, aku ingin kau membantu Yan‘er jika aku tidak ada disana karena kau adalah istri pertamaku.”
Fei Chen membuka selimut yang menyelimuti tubuh Su Xiulan sebelum mengangkat tubuh wanita itu menuju Kolam Aura. Disana Fei Chen melakukan pemanasan pagi dengan Su Xiulan sebelum keduanya pergi meninggalkan Gunung Menangis.
Sebelum langsung menuju Istana Ma, Fei Chen kembali ke Lembah Pedang untuk mengajak Jia Li menemui Liu Xianlin.
“Aku curiga kau memiliki perasaan khusus pada Lili dan Xianlin bukan?” Su Xiulan tersenyum saat melihat Fei Chen memalingkan wajahnya.
“Ah, apapun itu aku tidak peduli. Aku tidak keberatan jika kau memiliki seratus wanita sekalipun Chen‘gege. Selama kau mampu berbuat adil dan mencintai semuanya, maka itu tidak masalah. Lagipula aku tetap menjadi yang pertama...” Suara tawa jahat penuh kemenangan Su Xiulan menggema ringan.
“Aku istri pertamamu dan aku yang telah merenggut keperjakaanmu. Itu sudah kemenangan mutlak bagiku. Dan aku akan menjadi wanita pertama yang akan memberikanmu buah hati, Suamiku.”
Fei Chen hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Su Xiulan. Wanita berambut putih itu memang telah mengajarkan berbagai macam pengalaman dalam waktu singkat.
Setelah beberapa hari menghilang tanpa jejak akhirnya Fei Chen dan Su Xiulan muncul di Lembah Pedang dengan wajah yang berseri-seri.
Fei Chen terlihat semakin gagah, sedangkan Su Xiulan tersenyum penuh kebahagiaan. Kedatangan keduanya disambut Hong Zi Ran dan Luo Rou yang sedang mengobrol di teras Aula Pedang Bunga.
Hong Zi Ran bisa menebak apa yang telah keduanya lakukan selama tujuh hari belakangan ini. Terlihat cara Su Xiulan berjalan yang kesulitan dan Fei Chen yang terlihat semakin tampan.
‘Aku tidak menyangka Chen‘er telah dewasa...’ Hong Zi Ran menghela nafas secara tiba-tiba setelah membatin dan itu membuat Luo Rou bertanya.
“Kemana saja mereka berdua? Apa hanya perasaanku saja mereka berdua terlihat begitu bahagia?” Luo Rou yang sudah berumur tiga puluh sembilan tahun namun masih seorang perawan tentu tidak menyadari apa yang terjadi pada Su Xiulan.
Hong Zi Ran tertawa lirih, “Rou, bukankah sudah waktunya untukmu menikah? Kau terlalu matang jika tidak dipetik.”
Sengaja Hong Zi Ran menggoda karena penasaran dengan kisah cinta Luo Rou. Hong Zi Ran berharap Luo Rou telah menemukan pengganti Feng Xinrui.
__ADS_1
“Aku tidak tertarik pada lelaki manapun.”
“Hmmm... Misalkan dengan Chen‘er...” Sengaja Hong Zi Ran mengatakan itu dan reaksi tak terduga dari Luo Rou terlihat kesal.
“Berhenti menggodaku Zi Ran. Chen‘er sudah kuanggap seperti anakku sendiri.” Luo Rou menepis pemikiran Hong Zi Ran.
Memang benar Fei Chen memiliki paras yang rupawan melebihi Feng Xinrui. Selain jenius, Fei Chen memiliki sisi gelap yang menakutkan namun kebaikan pemuda itu tentu saja menjadi sisi tersendiri yang menarik banyak wanita.
Setelah berada di lapangan yang biasa digunakan untuk berlatih, Fei Chen disambut banyak pendekar Benteng Lembah Pedang. Darisini Fei Chen mengetahui jika Feng Lao pergi meninggalkan Benteng Lembah Pedang dan memilih menghabiskan waktu bersama Dao Tao dan Long Jirou di Ibukota Huayin untuk membuka Rumah Arak Dewa Pedang.
Fei Chen hampir tertawa saat mengetahui ini, “Mereka bertiga... Ada-ada saja kelakuannya...”
“Chenchen, kemana saja kau tujuh hari ini?” Jia Li langsung bertanya dengan tegas untuk memastikan.
“Aku pergi ke suatu tempat bersama Xiu‘er. Aku juga akan mengajakmu kesana Lili.” Fei Chen mencubit pipi Jia Li karena gadis itu terlalu dekat dengan dirinya.
“Aku akan kembali ke Istana Ma untuk mengurus beberapa hal. Apa kau mau ikut denganku? Kau sudah lama tidak bertemu dengan Bibi Xianlin bukan?”
Saat Fei Chen dan Jia Li mengobrol, sejumlah bocah berusia tujuh sampai sepuluh tahun menghampiri Fei Chen. Bukan hanya bocah saja namun para pendekar melihat Fei Chen dari dekat karena penasaran dengan rumor yang beredar.
“Ternyata benar dia sangat tampan...”
“Aku dengar dia seorang Pendekar Langit Tahap Puncak. ”
“Pantas saja semua janda di Lentera Seribu Pedang ingin menjadikan dia suaminya.”
Sejumlah komentar dari orang-orang di Benteng Lembah Pedang membuat Fei Chen tersedak saat mendengarnya.
“Patriark! Patriark! Bisa ajarkan kami berpedang?”
“Hei, jangan sembarangan bicara pada Patriark! Kita harus memberi hormat terlebih dahulu!”
__ADS_1
Fei Chen tersenyum melihat dirinya dikelilingi banyak orang. Akhirnya dia mengambil sebuah ranting kayu dan berjalan menuju tengah lapangan.
“Khusus hari ini aku akan memperagakan sebuah gerakan dari Teknik Pedang Langit, Teknik Pedang Matahari dan Teknik Pedang Bulan kepada kalian...”
Fei Chen tersenyum hangat kepada semua orang sebelum menambahkan, “Kalian harus mewarisi ketiga teknik berpedang ini dan jangan biarkan teknik ini putus di generasi kalian.”
Setelah berkata demikian, Fei Chen mulai bergerak pelan dan terlihat begitu menikmati setiap gerakannya. Walaupun pelan dan penuh kelembutan, tetapi dalam setiap ayunannya terasa seperti dipenuhi sesuatu yang bertenaga.
Semua orang yang melihat ini berdecak kagum. Mereka lebih paham dengan gerakan yang dicontohkan Fei Chen dibandingkan saat Jia Li mengajarkan mereka.
Fei Chen berhenti memperagakan setelah melihat Luo Rou, Hong Zi Ran dan Su Xiulan berjalan kearahnya.
Anak-anak kecil langsung mengelilingi Fei Chen dan memberikan minuman karena berpikir Fei Chen kehausan setelah menuruti permintaan mereka.
“Patriark Fei, minumlah ini...”
“Wah, aku ingin memperagakan gerakan tadi. Patriark Fei benar-benar keren. Aku akan menjadi pemimpin Benteng Lembah Pedang jika sudah besar nanti.”
“Apa aku bisa memperagakan gerakan seperti itu?”
Fei Chen tersenyum hangat pada semua anak-anak sebelum dia menerima minuman hangat pemberian salah satu anak kecil.
“Kalian harus tahu tidak ada yang namanya mustahil, jika kalian masih memiliki kemauan. Tetaplah giat berlatih dan jangan menyerah sebelum menggapai tujuan kalian.”
Melihat bagaimana Fei Chen yang dikerubungi anak-anak membuat Luo Rou dan Hong Zi Ran tersenyum hangat.
Fei Chen menoleh kearah Luo Rou dan menghampiri wanita itu sebelum meminta izin untuk kembali ke Istana Ma.
Fei Chen pergi secara mendadak dengan Su Xiulan dan Jia Li yang ikut bersamanya.
“Kenapa kau terlihat sedih, Rou?” Hong Zi Ran menatap Luo Rou yang terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu pada Fei Chen.
__ADS_1
“Aku ingin membicarakan banyak hal dengan anak itu. Tetapi dia terlihat seperti terus menghindariku.”