
PPFC 76 - Duri Dalam Daging
Pagi hari di Paviliun Fajar terjadi kegaduhan karena ditemukannya mayat seorang pria paruh baya yang tidak lain adalah kakak kandung Mu Rong.
Bersamaan dengan kejadian ini, Chu Meilan tidak mengetahui jika dirinya dalam bahaya. Saat ini Chu Meilan berada di reruntuhan Istana Chu yang akan segera dibangun kembali oleh Fei Chen.
Namun saat dirinya menyelusuri reruntuhan Istana Chu, beberapa orang yang memakai penutup wajah dan jubah berwarna hitam menghadangnya.
“Jadi dia Tuan Putri Chu? Jadi informasi ini benar, sebaiknya kita tangkap dia!”
“Pada akhirnya negeri ini akan dihancurkan! Ini kemenangan kita!”
Chu Meilan tidak memahami situasinya. Namun dia mengetahui orang-orang yang mengelilinginya bukanlah anggota Istana Naga Neraka Terdalam.
“Siapa kalian? Kenapa kalian mengepungku?! ” Chu Meilan menjaga jarak dan waspada, namun salah satu orang itu menyerangnya menggunakan tapak tangannya.
Secara refleks Chu Meilan menyambut tapak tersebut. Saat kedua tapak tersebut bersentuhan, pergelangan tangan pria itu patah.
“Argh! Tanganku!” Pria itu mengerang kesakitan dan berguling di tanah. Terlihat terlihat rekannya yang lain terkejut.
“Saudara sekalian terlalu meremehkan. Sebaiknya membuatnya pingsan menggunakan tenaga dalam.” Suara pria paruh baya yang tidak asing ditelinga Chu Meilan terdengar.
Sebelum Chu Meilan menyadari, lehernya ditotok dan membuatnya pingsan tidak sadarkan diri.
__ADS_1
____
Kabar mengejutkan yang terjadi secara bersamaan ini membuat Fei Chen memijat keningnya.
“Pada akhirnya tetap ada duri di yang menancap dalam dagingku,” ujar Fei Chen sambil mengusap wajahnya.
Didalam Aula Neraka terlihat ada Liang Cheng dan Qiao Mi yang memberitahu kabar ini kepada Fei Chen.
“Chen‘er, apa kau mengetahui dalang dibalik semua ini?” Liang Cheng memperhatikan raut wajah Fei Chen yang berulang kali mengerutkan keningnya.
Fei Chen menghela nafas panjang, “Kakek Liang, aku tidak mengetahuinya. Tetapi diantara kita ada yang berkhianat. Apa kau mengetahuinya?”
“Aku tidak akan segan membunuh siapapun yang menghalangi jalanku. Akan kupastikan orang yang bersandiwara ini mati ditanganku.” Fei Chen berdiri dari kursi pemimpin dan berjalan menuju luar Aula Neraka.
‘‘Sebaiknya aku ikut menyelidiki.’ Qiao Mi membatin dan segera pergi menuju wilayah utara khususnya Lentera Bunga Persik.
Sementara Fei Chen dan Qiao Mi pergi meninggalkan Aula Neraka, Liang Cheng berniat menggelar pertemuan sendiri dengan anggota Benteng Harimau Api guna membahas sosok pengkhianat.
Setelah pergi meninggalkan Aula Neraka, Fei Chen langsung bergerak menuju reruntuhan Istana Chu. Disana dia menemukan orang-orang yang berkumpul mencari keberadaan Chu Meilan.
Fei Chen tidak ikut bergabung dalam kerumunan itu dan mengamati dari kejauhan. Mengingat ada aroma aura yang tidak dia kenal, Fei Chen langsung melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar dan melacak keberatan aura asing yang tidak dia kenal sebagai anggota Istana Naga Neraka Terdalam.
Telinga Fei Chen bergetar karena merasakan hawa keberadaan asing di wilayah selatan. Ekspresi dingin Fei Chen membuatnya melepaskan Aura Raja Neraka dalam jumlah besar dan membuat penduduk biasa terkena imbasnya.
__ADS_1
Orang-orang yang berkumpul di reruntuhan Istana Chu seketika terduduk lemas. Mereka semua tidak mengetahui penyebab dari kaki mereka yang tiba-tiba merasa tidak berdiri atau tubuh mereka yang terasa lemas.
Fei Chen menekan Aura Raja Neraka dan membatin, ‘Satu pengkhianat sudah kutemukan. Sisanya masalah di Paviliun Fajar.’
Dengan kecepatan tinggi Fei Chen bergerak menuju Paviliun Fajar guna mencari orang yang membunuh kakak kandung Mu Rong.
Fei Chen tidak menduga jika dua bangsawan yang ditempatkan di Paviliun Fajar tidak sejalan.
Fei Chen mengamati dari atas langit. Terlihat dibawah sana begitu ramai khususnya di tempat kediaman keluarga bangsawan Mu.
Fei Chen menajamkan indera pendengarannya untuk mengetahui situasi dibawah sana.
“Aaahhh... Nyonya Mu, kau sangat menggairahkan!”
“Tan Hongche! Kau sungguh biadab! Dasar binatang tak berperasaan!”
“Aaahhh... Tidak lepaskan! Tolong-”
“Nyonya Mu, sejak awal aku mengincarmu. Kita sudah mengenal sejak remaja dan kau justru menikah dengan suami bodohmu yang telah mati. Kakakmu itu tidak menyetujui lamaranku sehingga aku membunuhnya. Sekarang aku tidak peduli jika harus mati asalkan dapat merasakan tubuhmu sayang...”
“Hakkksss! Jangan dibuka!”
Fei Chen menaikan alisnya mendengar suara yang paling emosional dibawah sana.
__ADS_1
“Cih, lelucon macam apa ini?” Geram Fei Chen mengetahui Tan Hongche membunuh kakak kandung Mu Rong karena alasan pribadi.