
PPFC 63 - Pembantaian Tujuh Malam
Di suatu tempat yang ada di Kekaisaran Chu tepatnya di Ibukota Chudian terlihat kota megah yang kini dipenuhi mayat yang terbakar dan bangunan yang hancur dipenuhi api yang membara.
Selama tujuh hari tujuh malam Ibukota Chudian menjadi medan pertempuran besar saat sekelompok orang tidak dikenal tiba-tiba menyerang.
Sejumlah kelompok aliran putih dan netral telah bersatu namun tetap saja di hadapan kekuatan mutlak mereka semua tidak berdaya.
“Tolong...” Suara gadis kecil berumur empat belas tahun terdengar.
Gadis kecil itu terlihat syok setelah mengetahui tempat tinggalnya telah diratakan menjadi reruntuhan. Kejadian mengerikan itu terngiang jelas didalam ingatannya saat sosok makhluk legendaris yang seharusnya tidak ada membabi-buta membumihanguskan Ibukota Chudian menggunakan semburan apinya.
Saat gadis kecil itu terbangun dia melihat ribuan mayat bergelimpangan dan beberapa pendekar yang sekarat.
Saat gadis kecil itu mencoba mendekati salah satu seorang wanita berumur tiga puluh tahun yang merupakan kenalan Ibunya sedang terbaring lemah, dia dikejutkan dengan sosok wanita yang berlumuran darah dan tak bernyawa disamping wanita itu.
“Bunda!” Gadis kecil itu menjerit histeris saat mengetahui wanita yang tak bernyawa itu adalah Ibunya.
Saat gadis kecil itu menjerit hembusan angin yang kencang datang menerpa tubuhnya, terlihat di depannya seoarang pemuda berparas tampan menatapnya teduh.
“Ini sangat mengerikan bahkan lebih mengerikan daripada malam itu.” Pemuda itu tidak lain adalah Fei Chen.
Fei Chen menatap beberapa pendekar yang masih hidup dan dalam keadaan sekarat. Melihat gadis kecil didepannya menangis histeris membuatnya menenangkan gadis kecil tersebut.
Gadis kecil itu berhenti menangis setelah Fei Chen berkata, “Kehidupan memanglah kejam. Merenggut atau direnggut, siklus seperti itu tidak bisa kau tolak. Tidak apa jika sekarang kau menangis, setelah itu bangkitlah, karena dunia ini tetap berjalan dengan semestinya meski kau dalam keadaan berduka.”
Melihat tatapan teduh Fei Chen yang seolah-olah telah merasakan nasib yang sama seperti dirinya membuat gadis kecil itu berhenti menangis walaupun sulit.
__ADS_1
Gadis kecil ini memperkenalkan dirinya sebagai Chu Meilan dan merupakan putri semata wayang Kaisar Chu yang bernama Chu Hen.
Fei Chen menepuk pundak Chu Meilan dan berkata, “Aku akan menyelamatkan orang-orang yang masih bernafas, setelah itu kita berikan penguburan yang layak untuk orang tuamu dan mereka semua.”
“Heemmm...” Kedua bola mata Chu Meilan berair mendengar perkataan Fei Chen.
Segera Fei Chen mengeluarkan Pil Embun Bening berjumlah sekitar ratusan pil yang telah dia buat. Harga pil yang dikeluarkan Fei Chen bukanlah sembarangan karena sangatlah berharga.
Berkat latihannya selama tiga tahun, Fei Chen dapat membuat puluhan Pil Embun Bening hanya dalam beberapa bulan.
Beberapa orang yang masih bernafas lemah terselamatkan. Fei Chen sudah merasakan hawa keberadaan manusia menggunakan aura tubuhnya, namun jumlah nyawa yang terselamatkan hanya sekitar lima ratus orang.
Yang membuat Fei Chen heran adalah para pendekar yang dia selamatkan kebanyakan dari mereka adalah perempuan.
Setelah itu Fei Chen memberikan penguburan untuk orang tua Chu Meilan, kemudian seorang kakek sepuh datang menghampirinya.
“Terimakasih anak muda, aku akan membalas kebaikanmu ini. Aku-”
“Tidak anak muda. Aku tidak akan bisa tenang karena makhluk jahanam itu berniat menghancurkan seluruh Kekaisaran Chu...” Nafas kakek sepuh tidak beraturan bahkan terlihat jelas jika dia kesulitan bernafas.
Fei Chen memberikan Pil Awan Merah dan Pil Daun Hijau pada kakek sepuh itu. Sembari menerima pil pemberian Fei Chen, kakek sepuh itu memperkenalkan dirinya sebagai Liang Cheng dan merupakan Patriark Istana Harimau Api yang merupakan sekte aliran putih terbesar di Kekaisaran Chu.
Liang Cheng menelan pil pemberian Fei Chen kemudian menceritakan tentang kelompok aliran hitam di Kekaisaran Chu yang berniat membangkitkan Pedang Sembilan Petir dengan mengorbankan nyawa tak bersalah.
“Kejadian ini ada hubungannya dengan Sembilan Kekacauan Surgawi. Baju Naga Sesat yang sekarang digunakan oleh Raja Naga Iblis telah membuat malapetaka. Kita harus menghentikan pembantaian ini.”
Liang Cheng hendak bersujud dihadapan Fei Chen namun ditahan.
__ADS_1
“Anak muda, tolong bantu aku menghentikan amukan Naga itu! Jika tidak maka seluruh sekte dan kota di negeri ini akan binasa!” Liang Cheng mengatakan semua itu dengan nada memohon.
Fei Chen sendiri tidak menyangka akan terlibat dengan salah satu Sembilan Kekacauan Surgawi yakni Raja Naga Iblis.
“Kakek Liang, bisa ceritakan padaku tentang pembantaian tujuh malam.” Fei Chen ingin mengetahui secara mendetail.
Liang Cheng mengangguk kemudian menceritakan kepada Fei Chen tentang kelompok aliran hitam bernama Jalan Naga Hitam yang selama puluhan tahun terakhir ini berhasil menyatukan seluruh sekte aliran hitam menjadi bagiannya.
Tujuan Jalan Naga Hitam adalah membangkitkan Pedang Sembilan Petir yang konon mampu menyegel Raja Naga Iblis yang menggunakan Baju Naga Sesat.
“Jika mereka berhasil membangkitkan Pedang Sembilan Petir, maka mereka bisa mencegah seseorang untuk menyegel Raja Naga Iblis.” Liang Cheng berpendapat jika dalang semua ini adalah Raja Naga Iblis.
Yang paling membuat Fei Chen terkejut adalah Raja Naga Iblis ini membuat markasnya di Benua Tujuh Bintang tepatnya Kekaisaran Kai.
‘Apa semua ini kebetulan?’ Fei Chen menaikan alisnya sebelum memilih untuk terlibat.
“Baiklah, Kakek Liang aku akan membantu.” Fei Chen tertarik untuk mendapatkan Pedang Sembilan Petir.
“Anak muda, aku tidak tahu harus berkata apa. Balas budi saja tidak cukup untuk membalas semua kebaikanmu ini...” Liang Cheng menundukkan kepalanya.
“Kakek Liang, panggil aku Chen‘er dan tidak perlu menundukkan kepala padaku.” Fei Chen menatap beberapa pendekar perempuan yang berjalan kearah mereka berdua.
“Izinkan kami bergabung Senior Liang.” Terlihat wanita dewasa dengan gaun yang dipenuhi sobekan datang menghampiri Fei Chen dan Liang Cheng.
“Junior Qiao? Baiklah, makin banyak orang makin bagus. Aku akan menjelaskan rencanaku ini...” Liang Cheng berniat membagi tugas pada para pendekar yang untuk melihat kondisi seluruh kota serta sekte aliran putih dan netral di Kekaisaran Chu.
“Kalau begitu, kami bisa membantu. Selain itu kemampuan Saudari Zhang sangatlah cocok untuk kondisi ini.” Wanita dewasa yang mengobrol dengan Liang Cheng berbicara.
__ADS_1
Fei Chen memperhatikan sembilan wanita yang berada dihadapannya serta beberapa ratus pendekar yang berniat bergabung.
‘Hmmm...’ Fei Chen mengangkat alisnya mengingat perjanjian konyolnya dengan Pedang Raja Neraka tepat setelah dirinya melihat sembilan wanita itu.