
PPFC 179 - Kepengin Cucu
Fei Chen merasakan Kutukan Raja Neraka mulai menggerogoti tubuhnya dan itu membuatnya mendecakkan lidah.
“Ini lebih parah dari yang aku kira... Energiku diserap setiap waktunya dan aku merasa diriku ini bisa menghilang kapan saja...”
Setelah mengantar Xhin Li Wei, Fei Chen kembali ke Istana Ma dan merenungi setiap tindakannya selama ini. Dia tidak ingin meratapi terlalu jauh kebelakang dan menatap kedepan.
Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya hari kedatangan Yin San sekeluarga tiba. Fei Chen melihat penduduk Ibukota Mafei menyambut kedatangan Yin San penuh antusias.
Yin San datang bersama istrinya Guan Ling dan Yin Jinxia. Ketiganya dikawal pasukan yang dipimpin oleh Song Bei. Kemegahan Ibukota Mafei serta bagaimana penduduknya yang terlihat bahagia membuat Yin San, Guan Ling dan Yin Jinxia berdecak kagum.
“Chen‘er, senang bertemu denganmu kembali...”
Sesampainya di ruangan khusus perjamuan, Yin San langsung memeluk Fei Chen. Keduanya terlihat sangat akrab seperti seorang Ayah dan Anak.
“Paman Yin, bagaimana dengan pil yang aku berikan? Apa kau sudah menerobos puncak Pendekar Suci?” tanya Fei Chen sambil melepaskan pelukannya.
Yin San tertawa dan menepuk pundak Fei Chen kuat, “Berkat dirimu Chen‘er. Kau membuatku kagum dengan kepemimpinanmu.”
Fei Chen hanya tersenyum sebelum akhirnya Yin San dan keluarga menikmati jamuan yang disajikan oleh ahli masak terbaik Istana Ma yakni Xhin Li Wei dan Ling Xiyao. Menurut Fei Chen, makanan buatan dari kedua orang itu memiliki rasa yang paling mirip dengan mendiang Ibunya sama seperti Luo Rou dan Hong Zi Ran.
Fei Chen duduk bersama Su Xiulan dan Ma Mingyan. Melihat Fei Chen bertingkah seperti seorang Ayah membuat Yin Jinxia lebih memilih diam dan menikmati hidangan karena bagaimana pemandangan dihadapannya sedikit membuat dadanya sesak.
Mereka semua makan dengan lahap dan terlihat begitu menikmati hidangan yang disajikan sebelum akhirnya saling mengobrol. Terlihat Ma Mingyan mengobrol akrab dengan Yin Jinxia dan Guan Ling.
“Chen‘gege, aku tidur lebih awal. Entah mengapa badanku tidak enak dan kepalaku pusing...” Su Xiulan mencium pipi Fei Chen sebelum pergi kembali ke kamarnya.
Fei Chen menatap heran Su Xiulan dan mulai mengobrol dengan Yin San. Hubungan keduanya sangat baik dan Yin San berulang kali membahas mengenai pembangunan yang dilakukan Fei Chen selama dua bulan belakangan ini.
__ADS_1
Yin San tercengang dan tertawa karena merasa kalah, “Butuh waktu bertahun-tahun bagiku untuk mendapatkan kepercayaan, itu saja semua penduduk tidak mempercayaiku sepenuhnya. Sedangkan kau Chen‘er... Kau benar-benar luar biasa dan diberikahi Dewa karena bisa mendapatkan kepercayaan penduduk...”
“Jangan khianati kepercayaan mereka Chen‘er. Ciptakan negeri yang damai dan makmur...” Yin San menambahkan.
Fei Chen mengangkat cangkir dan pelayan segera menuangkan teh hangat kedalam cangkirnya. Fei Chen meminumnya dengan elegan dan membuat Yin Jinxia serta Guan Ling menatapnya penuh kekaguman.
“Paman Yin, masalah yang kita bahas mengenai Kekaisaran Kai dan dua negeri lainnya bukan? Aku sudah mencoba mencari tahu dan sepertinya tidak ada cara lain selain kita datang kesana...” Fei Chen berkata dan berkeinginan untuk melanjutkan perjalanannya mencari Sembilan Pusaka Dewa.
“Bahaya besar yang dirimu maksud itu membuatku khawatir. Selain itu pergejolakan yang terjadi di negeriku hanyalah pengalihan saja. Cepat atau lambat kekacauan akan segera terjadi Chen‘er, entah itu di negerimu atau negeriku...”
Yin San khawatir jika Raja Naga Iblis Sun Yelong melakukan pergerakan. Mendengar itu Fei Chen hanya tersenyum tidak menunjukkan rasa takut.
“Kita memiliki banyak pendekar hebat di Istana Naga Neraka Terdalam. Jangan meremehkan mereka, mereka semua adalah keluargaku dan aku percaya dengan kemampuan yang mereka semua miliki termasuk kemampuan anakmu Paman Yin...” Ucapan Fei Chen membuat Yin San tersenyum lebar.
Sedangkan Yin Jinxia tersipu malu. Ayahnya mengetahui jika dirinya terobsesi kepada Fei Chen bahkan gadis itu tidak memungkiri jika dirinya menyukai Fei Chen.
Fei Chen tidak menjawab melainkan menatap Yin Jinxia yang tersipu malu. Pandangan keduanya sempat bertemu sebelum akhirnya Yin Jinxia mengalihkan pandangannya.
“Chen‘er, Bibi merasa sangat senang jika menitipkan Xiaxia padamu. Selama kau membuat Xiaxia bahagia, maka itu sudah cukup karena kebahagiaan Xiaxia adalah yang terpenting...” Guan Ling tiba-tiba bicara dan membuat Yin Jinxia malu.
“Ibunda!” Yin Jinxia merasa begitu malu saat Ibunya terus menggoda Fei Chen untuk melihat anak gadisnya itu.
Akhirnya Yin Jinxia yang kesal sengaja menyinggung Fei Chen tentang kondisi pemuda itu yang sekarang memiliki istri.
“Saudara Fei sudah memiliki istri. Selain itu aku tidak pantas untuknya...”
Mendengar itu Fei Chen membatin, ‘Kau memandang rendah dirimu sendiri, Tuan Putri...’
“Hahaha... Bukankah ini hal biasa? Pendekar hebat seperti Chen‘er yang menjabat sebagai Patriark sekaligus Kaisar memiliki lima sampai enam istri? Seorang pendekar yang memiliki ambisi besar butuh pendamping yang dapat membantunya dan kau harus membantu Chen‘er, Xiaxia...”
__ADS_1
‘Ayahanda berhenti!’ Yin Jinxia kesal karena Ayahnya merasa tidak keberatan jika dirinya menjadi salah satu istri Fei Chen.
“Paman Yin, selama Tuan Putri menerima kondisiku, maka aku akan menjaganya. Tetapi kembali ke perasaan Tuan Putri sendiri karena bagaimanapun aku bukanlah pria yang setia karena akan memiliki istri lebih dari satu. Tuan Putri berhak bahagia dan memiliki hak untuk memilih pria yang pantas mejadi suaminya...” Fei Chen berkata sambil menatap Yin Jinxia dalam.
Yin Jinxia langsung mengalihkan pandangannya dan menahan debaran jantungnya yang tidak karuan.
“Chen‘er, dimataku kau adalah orang yang baik...” Yin San menanggapi ucapan Fei Chen dan itu membuat Fei Chen tersenyum kecut.
“Orang baik ya? Aku membenci istilah itu...”
Karena perkataan Fei Chen akhirnya suasana hening sebelum Yin Jinxia angkat bicara.
“Saudara Fei apa kau serius dengan ucapanmu itu?”
Fei Chen mengetahui jika Yin Jinxia ingin memastikan. Segera dia menjawab dengan tegas dan penuh kepastian.
“Apa wajahku ini terlihat sedang bercanda?” Tentu saja Fei Chen tidak bercanda masalah perasaan. Yin Jinxia menggelengkan kepalanya dan membuat gadis itu diam seribu bahasa karena merasa bahagia Fei Chen memiliki perasaan yang sama dengan dirinya.
“Jadi kapan kau akan menikahi Xiaxia? Aku tidak sabar memiliki cucu. Dengan ini kita sudah seperti keluarga. Kemakmuran untuk Kekaisaran Yin dan Kekaisaran Ma...” Yin San meminum arak berkelas tinggi sebelum berbicara.
Fei Chen tersenyum dan menatap Yin Jinxia yang begitu malu akan ucapan Ayahnya. Kemudian Ibunya mengucapkan hal yang membuat Yin Jinxia lebih malu lagi.
“Chen‘er, sekalian saja kau menikahi Xiaxia bulan depan bersama pernikahanmu itu. Mungkin lima atau enam tahun lagi aku bisa bermain dengan cucuku yang sudah bisa berlari hihi...”
Yin Jinxia menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap Fei Chen yang juga mengalihkan pandangannya ke arah lain.
____
Jangan lupa pisaunya untuk motong bunga sambil ngopi pakai hati. Hadiah Imlek untuk authornya ada gak nih dari kalian?
__ADS_1