
PPFC 290 - Lantai 8 Reruntuhan Dewi Iblis
Fei Chen tersengal-sengal menghadapi Mao Ruyue. Bukan karena tidak dapat mengontrol pernafasannya melainkan karena Hawa Iblis Sejati yang ada di benang Qi miliknya membuatnya kesulitan bergerak.
Terlebih kondisi Fei Chen saat ini kesulitan melepaskan Qi seperti biasanya. Kondisinya dimanfaatkan Mao Ruyue dengan sangat baik untuk melancarkan serangan pada Fei Chen.
“Sepertinya kau memang terlalu lemah manusia rendahan! Bukankah tadi kau berkata dengan sombongnya ingin menjadikan diriku ini sebagai pendamping hidupmu?!” Mao Ruyue menggelengkan kepalanya melihat Fei Chen kewalahan menangkis serangannya.
“Pada akhirnya kau hanyalah manusia yang sombong karena terpilih menjadi murid Dewa Naga dan Raja Neraka!” Kembali serangan tak kasat mata Mao Ruyue berbenturan dengan pedang Fei Chen.
Tubuh Fei Chen berhasil bertahan dan tidak bergeming. Pemuda itu mulai terbiasa dengan rasa nyeri disetiap ototnya. Bahkan sekarang Fei Chen mulai bisa melepaskan Qi berjumlah besar sedikit demi sedikit.
“Mao Ruyue, bisakah diam sebentar? Kau serius ingin membunuhku atau melatih ku? Tetapi terimakasih berkatmu aku mulai bisa mengontrol Hawa Iblis Sejati yang kau berikan.” Bukannya takut ataupun marah, Fei Chen justru tersenyum lebar.
Mao Ruyue menjadi bingung, ‘Manusia rendahan ini! Apa dia tidak sadar jika aku ingin membunuhnya?! Dia benar-benar aneh!’
Setelah itu Fei Chen bergerak maju kedepan sambil mengayunkan pedangnya, begitu juga dengan Mao Ruyue yang mengayunkan tangannya mengendalikan angin di sekitarnya menjadi sebuah senjata mematikan.
Fei Chen beradu serangan dengan Mao Ruyue dan kerusakan akibat dari serangan yang keduanya lakukan berdampak besar. Fei Chen mulai menemukan ritme serangannya dan membuat Mao Ruyue tersenyum tipis.
“Cukup baik rupanya.” Mao Ruyue berkata sinis.
Fei Chen menemukan Mao Ruyue yang sama sekali tidak menggunakan segenap kemampuan untuk melawan dirinya. Sosok yang dia hadapi sekarang adalah Dewi Iblis, Fei Chen menyadari hal itu dan dia mendapatkan banyak pengalaman dari pertarungan ini.
Serangan yang biasanya Fei Chen lepaskan pada manusia akan membunuh manusia tersebut, namun terhadap Mao Ruyue serangannya bukanlah serangan mematikan.
Hanya dengan hembusan nafas Mao Ruyue, jurus pedang Naga Petir Mengarungi Langit terhempas. Mao Ruyue juga dengan santainya menangkis beberapa jurus Pedang Raja Neraka yang merupakan serangan andalan Fei Chen.
“Seperti bertarung melawan bocah.” Mao Ruyue menghela nafas dan ucapannya ini membuat Fei Chen mengerutkan keningnya.
“Sial! Aku sudah menggunakan setengah Qi milikku dan kau mengatakan dirimu sedang bertarung dengan seorang bocah?!” Fei Chen mengeluarkan aura pembunuh dan bergerak cepat menuju Mao Ruyue.
“Aku akan membuatmu menarik kembali kata-katamu!”
Fei Chen mengarahkan satu serangan penghabisan pada Mao Ruyue, “Jurus Kedelapan Pedang Raja Neraka — Pembasmi Malam!”
Mao Ruyue yang belum siap dengan cepat menjentikkan jarinya, namun kali ini dia gagal mengantisipasi karena tebasan barusan bertindak sebagai pengalih.
“Cukup cerdik...” Mao Ruyue menggumam pelan dan menatap arah tebasan pedang Fei Chen yang mengarah padanya, “Tetapi aku masih dapat melihat jelas arah tebasanmu, manusia rendahan! Gerakan pedangmu tidak efisien dan berantakan!”
Fei Chen terkejut saat melihat Mao Ruyue menghindari tebasan pedangnya. Terlebih sekarang dirinya sedang melancarkan tebasan selanjutnya.
“Jurus Kesembilan Pedang Raja Neraka - Sembilan Cahaya Kebajikan!”
Kali ini Mao Ruyue tersenyum dan segera membuka telapak tangannya menciptakan sebuah pedang dari aura tubuhnya.
“Rupanya kau memiliki serangan yang cukup bagus!” Dengan Energi Iblis berjumlah besar Mao Ruyue menangkis tebasan pedang tersebut dan mementalkannya kearah pegunungan yang ada di sekitar lokasi pertempuran mereka.
Ledakan besar akibat dua benturan serangan itu menghancurkan pegunungan. Fei Chen kembali bersiap menyerang Mao Ruyue dan mempersingkat jarak namun Mao Ruyue dengan sendirinya mendekati Fei Chen.
Pertukaran serangan tidak dapat terhindarkan. Fei Chen menajamkan permainan pedangnya dan menyambut tebasan pedang Mao Ruyue yang memancarkan aura pekat mematikan.
Setiap tebasan pedang Mao Ruyue membuat mata Fei Chen terbuka lebar. Memang dirinya sudah berlatih secara mandiri bahkan ada Ying Xie yang mengajarinya, namun melihat sendiri bagaimana Mao Ruyue memainkan pedang membuat mata Fei Chen terbuka lebar.
Gerakan Mao Ruyue sangat efisien dan tidak menbuang banyak tenaga bahkan Mao Ruyue dapat melakukan serangan beruntun berulang kali. Fei Chen yang menyadari bahwa pertarungan ini dapat meningkatkan kemampuannya segera mempelajari dan menyambut setiap serangan dengan segenap kemampuannya.
Keduanya sudah melakukan ratusan pertukaran serangan dan sudah puluhan jurus beradu sengit diudara. Namun Mao Ruyue belum terlihat berkeringat bahkan Fei Chen yang terlihat tidak mendominasi serangan juga masih berdiri tegak. .
Setelah melakukan pertarungan sejauh ini akhirnya Fei Chen sadar jika Mao Ruyue tidak berniat membunuhnya. Walaupun serangannya mematikan dan mungkin sudah seratus peluang bagi Mao Ruyue untuk membunuhnya, namun Mao Ruyue selalu menahan diri. .
__ADS_1
Fei Chen yang menyadari itu tersenyum tipis dan membuat Mao Ruyue mengerutkan keningnya.
“Ada apa? Kenapa kau tersenyum? Apa kau tidak sadar jika dirimu ini sedang terdesak?” Mao Ruyue heran dengan sikap Fei Chen.
Bukannya menjawab Fei Chen justru menyambut serangan Mao Ruyue penuh semangat. Saat menghadapi musuh yang lebih kuat, Fei Chen tidak dapat menghentikan kegembiraannya.
Permainan pedangnya menjadi lebih baik dan itu membuat Mao Ruyue terkejut karena Fei Chen dapat berkembang dalam waktu yang sangat singkat. Terlebih sekarang Fei Chen mampu menghindari serangan mematikan yang di lepas Mao Ruyue.
“Bukankah dari tadi kau terus menghindar? Kenapa tidak menyambut seranganku secara langsung? Percuma saja melawan ku dengan kemampuanmu yang sekarang, Qi dalam tubuhmu telah terkuras sejak awal dan sekarang mencapai setengahnya. Kau bisa menggunakan alasan itu untuk kalah dari ku kembali.” Mao Ruyue melemparkan senyum ejekan pada Fei Chen dan membuat pemuda itu menatap tajam wanita tersebut.
Saat Mao Ruyue melepaskan satu tebasan yang membentuk mulut naga, Fei Chen tidak lagi menghindar melainkan menyambut tebasan tersebut. Pedangnya berhasil memotong mulut naga tersebut menjadi dua bagian hingga akhirnya tebasan Mao Ruyue itu lenyap.
Hal ini membuat Mao Ruyue bergerak cepat mengayunkan pedangnya melepaskan serangan penghabisan pada Fei Chen. Namun saat pedangnya hampir menyentuh leher Fei Chen, Mao Ruyue menunjukkan keraguan untuk membunuh Fei Chen.
’Kenapa? Kenapa? Kenapa? Aku tidak bisa melanjutkan serangan ini?! Kenapa aku tidak bisa membunuhnya?!’ Mao Ruyue berteriak dalam hatinya karena satu sisi dirinya yang lain ingin membantu Fei Chen menjadi lebih kuat, sedangkan sisinya yang sering terlihat ingin memusnahkan Fei Chen dan Su Xiulan serta tidak bersahabat dengan pemuda itu.
Fei Chen tersenyum tipis melihat keraguan Su Xiulan dan menggunakan kesempatan tersebut untuk menyerang pergelangan tangan Mao Ruyue. Dengan gerakan yang sangat cepat Fei Chen berhasil membuat Mao Ruyue melepaskan genggaman erat pada pedangnya.
“Aku yang menang Mao Ruyue!” Fei Chen hendak mengayunkan pedangnya pada Mao Ruyue dan mengancamnya.
Namun saat-saat terakhir Mao Ruyue melepaskan Hawa Iblis Sejati yang sangat besar dan membuat tubuh Fei Chen terpental.
“Menang katamu? Aku tidak akan membiarkan-”
“Uhuk... Uhuk!”
Mao Ruyue menyeringai lebar namun dia baru tersadar saat mengetahui dirinya terlalu berlebihan melepaskan Hawa Iblis Sejati. Hawa Iblis Sejati yang baru saja dia keluarkan bukannya membuat Fei Chen ketakutan, melainkan benang Qi dan titik meridiannya menyerap secara paksa.
Fei Chen merasakan sesak nafas dan pandangannya mulai buram. Dengan penuh konsentrasi dia melakukan pernafasan dalam yang luar biasa untuk menghentikan kelumpuhan benang Qi miliknya.
“Manusia... Manusia rendahan!” Melihat Mao Ruyue panik membuat Fei Chen tersenyum tipis.
“Tidak, jika kau mati maka aku tidak akan menang. Aku berlebihan!”
Reaksi Mao Ruyue membuat Fei Chen terkejut bahkan kedua matanya melebar. Fei Chen memuntahkan cairan hitam dari dalam mulutnya dan berkata lemah.
“Sepertinya waktuku tidak banyak...”
“Jangan! Jangan katakan itu!” Mao Ruyue memeluk tubuh Fei Chen yang duduk bersila dengan sangat erat hingga membuat Fei Chen kesulitan bernafas.
‘Aku hampir pingsan...’ Fei Chen ingin melanjutkan perkataannya dan mengatakan itu, namun pelukan Mao Ruyue sangat erat membuatnya tidak dapat berbicara.
‘Untuk beberapa saat aku tidak akan dapat menggerakkan tubuhku jadi aku ingin berbaring dengan tenang. Hawa Iblis Sejati ini akan menandakan kebangkitan diriku sebagai Raja Neraka, dengan ini aku akan memulai perburuanku menghentikan Sembilan Kekacauan Surgawi...’ Fei Chen membatin senang karena mengetahui dirinya mendapatkan kekuatan roh yang luar biasa dari Dewi Iblis.
“Manusia rendahan katakan padaku apa aku bisa membantumu? Aku akan melakukan apapun itu walau aku harus melakukan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang denganmu?” Mao Ruyue mengatakan itu dengan ekspresi malu dan merasa bersalah.
Mao Ruyue mengira Fei Chen akan mati dan dia mengetahui jika keduanya melakukan teknik itu, maka Mao Ruyue akan sepenuhnya memiliki sebuah ikatan dengan Fei Chen. Bisa dibilang Su Xiulan akan terbebas dari rasa sakit dan Mao Ruyue akan menyerap energi kehidupan Fei Chen sebagai gantinya.
“Tetapi itu akan menyakitimu... Pilihan kedua aku akan memberikan seluruh roh ku pada tubuhmu agar kau dapat menggapai ambisimu itu, manusia rendahan. Dengan ini aku tidak akan melukai siapapun dan menghilang-”
“Mao Ruyue... Jangan katakan itu. Seraplah energi kehidupanku.” Fei Chen tertarik melakukan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang dengan Mao Ruyue.
“Tetapi itu akan membunuhmu...” Mao Ruyue untuk pertama kalinya merasakan hukum cinta yang membuatnya lupa.
Fei Chen tersenyum hangat, “Bukankah aku sudah mengatakan padamu... Apa kau mau menjadi pendamping hidupku?”
Fei Chen tertarik pada Mao Ruyue dan sedikit hatinya ingin merasakan kenikmatan merengkuh tubuh Mao Ruyue dalam bentuk roh.
“Aku... Aku bersedia, manusia rendahan...” Mao Ruyue dengan latah menjawab.
__ADS_1
Fei Chen tersenyum kecut mendengarnya, “Yue‘er, dengar jangan panggil aku manusia rendahan... Sebut namaku sayang...”
Mao Ruyue tersipu malu dan menghilang sudah wajah sadis yang dipenuhi kesombongan itu.
“Chen‘gege...”
Mendengar itu Fei Chen tersenyum lebar.
“Jadi apa yang harus aku lakukan Chen‘gege?” Mao Ruyue bertanya karena keduanya akan melakukan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang.
“Aku tidak bisa menggerakkan tubuhku jadi...” Fei Chen menelan ludah karena suaranya serak sedangkan matanya menatap kebawah celananya.
“Apa aku harus melepaskannya?” tanya Mao Ruyue dan Fei Chen mengangguk.
Telapak tangan Mao Ruyue menyentuh perut Fei Chen dan bergerak kebawah menyentuh inti yang berukuran normal dan hanya dengan sentuhan telapak tangannya, dalam sekejap inti Fei Chen yang masih normal itu menjadi besar dan keras.
Mao Ruyue membuka pakaian bawah yang dikenakan Fei Chen dan tercengang saat melihat sebuah benda terbebas dari sarangnya. Benda itu bergoyang melambai tepat di depan kedua bola matanya.
Glek...
Mao Ruyue mengingat jelas bentuk benda ini karena dia pernah mengendalikan tubuh Su Xiulan.
Melihat Mao Ruyue tercengang membuat Fei Chen tersenyum.
“Yue‘er, kau sudah pernah merasakannya bukan?” Fei Chen menggoda Mao Ruyue dan membuat sang Dewi Iblis semakin tersipu malu.
“Itu... Aku melakukannya karena ingin mengetahui rasanya. Aku heran mengapa istrimu yang kujadikan wadah terlihat sangat kenikmatan. Selain itu aku selalu bisa melihat dengan jelas kegiatan kalian dialam bawah sadarnya dan merasakan kenikmatan yang menajalar setiap tubuh istrimu.” Mao Ruyue menjelaskan semuanya pada Fei Chen dan memalingkan wajahnya karena mengetahui benda pemuda tersebut semakin membengkak dan berurat melambangkan keperkasaan yang tidak tara.
“Jadi apa yang harus aku lakukan selanjutnya?” Mao Ruyue bertanya karena Fei Chen tidak dapat menggerakkan tubuhnya.
“Yue‘er... Apa kau bisa memanjakan dia?” Fei Chen melirik tajam keperkasaan miliknya dan berharap Mao Ruyue mau melakukan permintaannya.
Fei Chen menjelaskan kondisinya pada Mao Ruyue bahwa dirinya tidak dapat menggerakkan tubuhnya sama sekali.
“Aneh.” Mao Ruyue menanggapi penjelasan Fei Chen.
“Aneh? Apa menurutmu aku berbohong?” Fei Chen membalas.
“Bukan. Kau berkata tidak dapat menggerakkan tubuhmu, tetapi lihatlah dia berdiri dengan sangat keras.” Fei Chen menunjuk benda Fei Chen dan menghela nafas.
“Itu karena sentuhan tanganmu Yue‘er dan melihatmu membuat dia seperti ini...”
Mendengar jawaban Fei Chen membuat wajah Mao Ruyue merah merona. Mao Ruyue menatap kagum benda Fei Chen lalu menghirup nafas yang dalam sebelum melepaskan gaun yang dikenakannya.
Fei Chen menelan ludah dan tidak berkedip sedikitpun saat melihat wanita berambut putih dengan tanduk berwarna merah itu melepaskan semua benda yang menutupi tubuh indahnya.
Keindahan tubuh sang Dewi Iblis terpampang jelas dihadapan Fei Chen. Bibir tipis yang menggoda dan tatapan nakal Mao Ruyue membuat benda Fei Chen semakin membara.
Lekukan tubuh yang ramping dua bukit kembar yang membusung indah dengan ujungnya yang berwarna merah muda dan kulit putih yang mulus berisi.
Bongkahan padat yang seksi dan kedua paha jenjang yang menggoda itu membuat detak jantung Fei Chen berpacu cepat saat melihat Mao Ruyue mendekat.
Mao Ruyue merangkak dicelah paha Fei Chen dan menatap benda yang keras dan tegak berdiri menantang langit.
Telapak tangan yang lembut itu menyentuh sesuatu yang keras dan besar. Setelah digenggaman benda berurat itu sangat terasa.
‘Ini sangat besar dan keras... Aku tidak pernah menyentuhnya secara langsung...’ Mao Ruyue menelan ludah begitu juga dengan Fei Chen yang menahan nafas saat melihat Mao Ruyue mendekatkan wajahnya ke ujung benda tumpul itu.
Nafas Fei Chen naik turun melihat bagaimana Mao Ruyue beralih ke tahap selanjutnya. Kecupan lembut dibawah sana dan kelembutan gerakan tangan yang naik turun membuat Fei Chen merasakan kenikmatan.
__ADS_1
Fei Chen memejamkan mata berulang kali dan akhirnya dia melihat Mao Ruyue membuka mulut dan mengikuti arahannya untuk memanjakan dirinya.