
PPFC 274 - Aksi Bei Ping dan Deshe
Qiao Ling tidak dapat menghentikan debaran jantungnya saat Fei Chen membopong tubuhnya menuju luar kota. Tidak pernah Qiao Ling sangka orang yang paling dia benci menyelamatkan dirinya disaat kritis.
Terlebih Qiao Ling merasakan hal lain saat berada di dekat Fei Chen. Kehangatan serta sentuhan tangan Fei Chen saat membawa tubuhnya membuat Qiao Ling larut dalam pikirannya yang kacau.
“Saudari Qiao Ling, kita tidak memiliki banyak waktu. Senior Ju Ling Shui tertangkap bukan? Masalah ini membuat rencanaku berantakan, tapi sudahlah aku bisa mengatasinya-”
Fei Chen belum menyelesaikan ucapannya, Qiao Ling sudah mencium bibir nya. Gadis itu secara sukarela memberikan ciuman pertamanya pada Fei Chen.
Mata Fei Chen melebar sepenuhnya. Dia sendiri tidak menyangka akan kejadian ini, namun saat itu juga Fei Chen merasakan bahwa Qiao Ling berada dibawah pengaruh obat perangsang.
Fei Chen turun dan menurunkan tubuh Qiao Ling. Seolah tidak percaya Fei Chen memegang bibirnya dan menggelengkan kepalanya.
“Apa yang kau lakukan barusan Saudari Qiao Ling?” Fei Chen bisa saja memanfaatkan keadaan ini, tetapi mengingat bagaimana Qiao Mi membuat Fei Chen tetap mempertahankan kesadarannya.
Qiao Ling tersipu malu, “Saudara Fei, tolong aku...”
Mengetahui Qiao Ling mendekat padanya dan memeluk tubuhnya, Fei Chen memusatkan Qi dengan ukuran normal dan mengarahkannya pada leher Qiao Ling.
Seketika Qiao Ling pingsan dan Fei Chen menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
“Dia benar-benar bodoh...”
____
__ADS_1
Malam itu di Kota Yangping terjadi pergejolakan hebat. Kemunculan ular berwarna putih yang membunuh para pendekar Tujuh Bunga Iblis meresahkan para penduduk.
Namun setelah melihat bagaimana sosok Deshe yang hanya menyerang para pendekar membuat orang-orang mulai menunjukan sikap mendukung.
Deshe sendiri berhasil melaksanakan tugas yang diberikan Fei Chen dan menambah masalah bagi Hei Yu.
Dengan kemunculan Deshe yang menebar teror pada pendekar Tujuh Bunga Iblis membuat Hei Yu turun tangan dengan sendirinya. Malam itu juga Fei Chen menemui Bei Ping untuk berpamitan karena sesuatu yang mendadak terjadi pada Ju Ling Shui.
“Tuan Fei... Aku mendengar bahwa ada orang yang menyusup ke kediaman Hei Yu dan seekor ular berwarna putih membunuh pendekar Tujuh Bunga Iblis. Apa semua itu ulahmu, Tuan Fei?”
Fei Chen menjelaskan secara singkat mengenai yang terjadi di Kota Yangping malam ini kepada Bei Ping.
Fei Chen meminta Bei Ping berperan mengendalikan ular putih dan berniat membalaskan dendam kepada Tujuh Bunga Iblis.
“Tidak banyak waktu. Aku akan pergi.” Tanpa mengatakan sepatah katapun lagi Fei Chen sudah menghilang dari pandangan Bei Ping.
Tanpa berpikir dua kali Bei Ping langsung mengenakan topeng dan keluar kediamannya. Pria itu langsung menuju kediaman Hei Yu untuk melaksanakan tugas dari Fei Chen.
“Tuan Fei, aku tidak menyangka dia orang yang sangat ceroboh. Tetapi perasaan ini apa ini? Aku merasa walau tindakannya ceroboh, tetapi aku seperti tidak akan kalah...” Bei Ping tersenyum sendiri sebelum akhirnya dirinya dicegat oleh ular berwarna putih yang tidak lain adalah Deshe.
“Tunggu sebentar, manusia!“ Deshe dengan wujud yang seukuran lengan manusia menghadang Bei Ping.
“Tuanku, memberikanku perintah untuk bekerjasama denganmu. Jangan tergesa-gesa, malam ini kita memiliki banyak waktu. Tenang saja, aku akan memastikan keselamatan dirimu dan aku akan memastikan kebinasaan seluruh pendekar Tujuh Bunga Iblis pada malam ini.” Deshe dengan sombong berkata demikian.
Mengetahui ular berwarna putih yang menghadang dirinya berbicara membuat Bei Ping kaget. Apalagi setelah mendengar ular berwarna putih berbicara, tentu saja hal itu membuat Bei Ping mengerjapkan matanya beberapa kali seolah-olah tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.
__ADS_1
“Ular ini berbicara? Aku tidak salah dengar bukan?” ujar Bei Ping memastikan dan itu membuat Deshe kesal.
“Ular ini katamu? Dengar manusia, aku adalah peliharaan suci Tuanku yang perkasa Fei Chen. Namaku Deshe, ingat itu baik-baik didalam kepalamu atau aku menggigit tubuhmu dengan bisa racunku!”
“Ternyata benar ular ini berbicara... Ah, maaf. Aku pikir aku salah mendengar. Namaku Bei Ping, salam kenal Deshe.” Seolah-olah melipat apa yang barusan terjadi, dengan cepat Bei Ping menerima kenyataan dengan fenomena ular berwarna putih yang dapat berbicara.
“Bagus, manusia karena kau telah mengingat namaku. Jadi namamu Bei Ping ya? Baiklah, aku akan mengingat namamu itu. Kau seharusnya merasa bangga karena aku mengingat namamu, manusia.” Kembali logat bicara Desya yang terdengar sombong.
“Mari kita mulai pembantaiannya.” Sebuah ajakan dari Deshe yang membuat Bei Ping mengayunkan pedangnya untuk melawan takdirnya.
Malam itu di Kota Yangping terjadi pergejolakan hebat. Para budak dan tahanan wanita yang dipermainkan Hei Yu dibebaskan sedangkan mayat para pendekar Tujuh Bunga Iblis bergelimpangan dijalanan.
Tidak pernah Bei Ping sangka dirinya akan melakukan hal seperti ini dalam hidupnya. Jika bukan karena pertemuan tidak terduga dengan Fei Chen atau bantuan Deshe, maka semua yang dia lakukan malam ini hanyalah sebuah mimpi belaka.
Namun saat ini Bei Ping berhasil melawan takdirnya dan memilih memberikan perlawanan pada Tujuh Bunga Iblis.
“Ada perasaan lega setelah membunuh mereka semua. Tetapi semua ini tidak akan berhenti sebelum pemerintahan Yang Ergou runtuh,” ucap Bei Ping.
Deshe menanggapi, “Bei Ping, untuk masalah itu kau bisa tenang karena Tuanku telah memiliki rencana matang untuk menghancurkan semua rencana yang dibangun musuhnya ataupun Kaisar tidak berguna itu.”
“Yang terpenting sekarang kau harus menjalankan tugasmu sebagai penguasa baru di kota ini. Aku akan meninggalkan klonku disini sebelum menyusul Tuanku.” Deshe menambahkan.
“Terimakasih Deshe. Sampaikan pada Tuan Fei, aku pasti akan membantunya di Ibukota Yangdian. Aku juga memiliki sebuah rencana khusus,” ujar Bei Ping kepada Deshe.
“Jangan sampai menjadi beban untuk Tuanku. Kalau begitu aku pergi. Sampai jumpa Bei Ping.” Deshe lalu menghilang dalam pandangan Bei Ping.
__ADS_1
Bei Ping tersenyum dan menoleh ke sekitarnya saat para penduduk mengelilinginya. Apa yang terjadi selanjutnya adalah hal yang tidak pernah Bei Ping pikirkan.