
PPFC 226 - Hua Kangjie
Mendengar penjelasan Ji Ho membuat Fei Chen mengerti jika perasaan Huohuo ada didalam diri Ji Ho.
“Hahaha! Huohuo, aku bisa merasakan kau hidup didalam tubuh anak ini!” Hukong mengelus kepala Ji Ho dan tertawa.
“Paman, apa ini peliharaanmu?” Ji Ho bertanya kepada Fei Chen sambil menjaga jarak dari Kera Langit tersebut.
“Iya, dia adalah peliharaanku. Kau bisa bermain dengannya Ho‘er.” Fei Chen memberi isyarat pada Hukong agar membawa Ji Ho menjauh dari kamar.
Fei Chen mengetahui kondisi Guan Ai, kemudian dia berbincang singkat dengan Ji Xiuha yang nampak malu menatap dirinya.
Paras Fei Chen membuat Ji Xiuha mengingat perkataan Huohuo. Mengabdi dan melayani Fei Chen, dengan senang hati Ji Xiuha akan melakukannya karena pemuda itu menyelamatkan anaknya.
“Yang Mulia-”
“Nyonya Ji, kau bisa memanggilku Chen‘er.” Fei Chen memotong perkataan Ji Xiuha dan membuat wanita itu menggelengkan kepalanya.
“Tidak, itu tidak pantas,” ucap Ji Xiuha.
Lalu Ji Xiuha pamit untuk mengikuti Ji Ho yang dibawa oleh Hukong. Ji Xiuha sebenarnya menyadari jika ada gerak-gerik mencurigakan dari Guan Ai.
‘Ai, lebih baik kau menuntaskan obat perangsang itu dengan Yang Mulia daripada dengan Menteri Song keparat itu...' Detak jantung Ji Xiuha semakin tak menentu saat membayangkan apa yang dilakukan Fei Chen dengan Guan Ai didalam kamar penginapan.
____
Saat hari menjelang sore Ji Xiuha sedang berada di ruang makan bersama Ji Ho, sedangkan Hukong sudah kembali ke bayangan tubuh Fei Chen.
Beberapa jam kebelakang Ji Xiuha mondar-mandir melewati kamar penginapan yang digunakan Guan Ai dan Fei Chen. Pipinya memerah saat mendengar pekikan Guan Ai berulang kali.
Saat melamun Ji Xiuha dikejutkan dengan Guan Ai yang terlihat begitu lemas dengan pipi yang bersemu merah.
‘Ini sangat memalukan. Chen‘er hanya menyentuh tubuhku dan aku dibuat puas hanya dengan permainan mulut dan tangannya...’ Guan Ai membatin mengingat kejadian beberapa jam kebelakang.
‘Miliknya begitu besar saat aku menyentuhnya. Tetapi dia tidak memasuki tubuhku...’ Hati Guan Ai semakin gelisah mengingat kejadian tersebut.
Namun wanita paruh baya ini tidak dapat menyalahkan Fei Chen mengingat dirinya dibawah pengaruh obat perangsang. Sedangkan Fei Chen hanya membantunya saja.
“Kenapa wajahmu merah padam, Ai?” Ji Xiuha bertanya walaupun sudah mengetahuinya.
Guan Ai gelagapan, “Itu... Aku... Aku... Yang Mulia sangat tampan, aku berharap jika aku dapat memiliki anak seperti dia.”
Alasan Guan Ai ini membuat Ji Xiuha tersedak.
“Ibu makan yang pelan. Bukankah Ibu yang mengajarkan aku agar tidak berbicara saat makan?” Ji Ho mengambil segelas air dan memberikannya pada Ji Xihua.
Ji Xihua hanya tersenyum manis. Dia tersedak bukan karena makan, tetapi karena ucapan Guan Ai.
__ADS_1
Saat kedua wanita paruh baya itu mengobrol Fei Chen datang dengan pakaian yang berbeda dan pemuda itu terlihat sudah membersihkan tubuhnya. Parasnya yang rupawan tentu saja menarik perhatian.
Jantung Ji Xiuha semakin tak menentu mengetahui Fei Chen bergabung. Dan yang paling menatap Fei Chen dengan perasaan tak karuan adalah Guan Ai.
Disisi lain Fei Chen bersikap tenang seolah tidak terjadi apapun. Pemuda itu duduk disamping Ji Ho dan mengobrol hangat.
“Paman, aku ingin menjadi muridmu. Apa Paman bisa ajari aku cara berkelahi? Aku ingin melindungi Ibu agar tidak ada kejadian seperti sebelumnya. Dan aku tidak ingin selamanya menjadi anak yang lemah. Aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi.” Ji Ho tiba-tiba meminta Fei Chen mengangkatnya menjadi murid.
“Murid ya? Itu hal yang sulit. Aku bukanlah contoh yang baik. Aku tidak bisa mengangkatmu menjadi murid,” ucap Fei Chen sambil mengelus kepala Ji Ho.
“Paman!” Ji Ho merengek dan memaksa.
Melihat Fei Chen dan Ji Ho membuat Ji Xiuha bimbang akan perasaannya. Keputusasaan yang selama ini menghampirinya menguap berubah menjadi perasaan hangat saat melihat momen ini.
Namun berlangsungnya momen itu sangat singkat karena tiba-tiba pintu depan penginapan dihancurkan oleh seseorang.
“Song Zhein sialan! Dia mengatakan bawahanku berada disini, tetapi aku tidak melihat siapapun disini kecuali...”
Seorang pria berbadan kekar datang dan menatap Fei Chen yang berada di ruang tengah.
“Maaf, penginapan ini telah aku beli dan sekarang penginapan ini kuberi nama Penginapan Bulan Madu. Anda bisa mencari penginapan yang lain.” Fei Chen dengan santai berkata demikian.
“Cih, bocah songong! Hua Ying, jika kau ingin aku memberikan penawar racun itu... Bunuh mereka semua!”
Mata Fei Chen melebar saat mendengar ucapan pria tersebut. Langsung Fei Chen menoleh untuk memastikan dan dia melihat seorang gadis yang dipenuhi luka lebam pukulan terhuyung dibelakang pria berbadan kekar.
Sedangkan Guan Ai memucat wajahnya.
“Ying‘er!” Guan Ai adalah orang yang sempat merawat Hua Ying saat kecil sejak kematian Ibu gadis tersebut. Mengetahui kondisi Hua Ying yang mengerikan, akhirnya dia sadar jika pria yang datang ke penginapan ini adalah Hua Kangjie.
“Chen‘er! Dia adalah Hua Kangjie! Paman dari Ying‘er!” Teriak Guan Ai.
“Aku mengerti Bibi Guan...”
Ji Xiuha mengerutkan keningnya mendengar ucapan Guan Ai.
“Chen‘er? Bibi Guan?”
Sementara itu Fei Chen berjalan mendekat dan tersenyum dingin kearah Hua Ying ataupun Hua Kangjie.
“Lagi-lagi Racun Laba-Laba Hitam. Racun ini membawamu kepadaku Senior Hua...” ucap Fei Chen yang kini berada dihadapan Hua Kangjie.
“Kau tidak melupakanku bukan?”
Mata Hua Ying melebar, “Kau... Chen? Bocah yang aku tipu itu bukan?”
“Cih!” Fei Chen mendecakkan lidahnya karena mendengar tanggapan Hua Ying.
__ADS_1
“Chen? Siapa kau bocah?!” Hua Kangjie menatap geram Fei Chen sambil mengangkat tangan kanannya hendak memukul wajah Fei Chen.
Sebelum tangan Hua Kangjie menyentuh wajah Fei Chen, Kera Langit muncul dan langsung memukul wajah Hua Kangjie terlebih dahulu bersamaan dengan suara jentikan yang dilakukan Fei Chen.
“Aku tidak memiliki urusan denganmu!” Fei Chen dengan santainya menginjak wajah Hua Kangjie dan langsung menarik Hua Ying kedalam pelukannya.
“Aku akan membuatmu mengingatnya Senior Hua!”
Hua Ying sekarang mengingat jelas namun dia tidak pernah menyangka bocah naif yang dulu ditipu olehnya sekarang menjadi sosok yang sangat berbeda.
Hua Ying bahkan tidak memberontak saat Fei Chen mendekapnya.
“Aku tidak keberatan jika pria tampan sepertimu memelukku. Berkat dirimu aku bisa kembali bertemu Ratu dan teman bodohku.”
Fei Chen melepaskan pelukannya dan menoleh kebelakang saat melihat Hua Kangjie kembali berdiri dengan aura pembunuh yang sangat besar.
“Kera yang tiba-tiba muncul dan menghajar wajahku! Lalu bocah sialan yang menginjak wajahku! Ini penghinaan terbesar dalam hidupku!” Hua Kangjie terlihat begitu marah seakan-akan ingin mencabik-cabik tubuh Fei Chen.
“Tuanku!”
“Jangan buat kerusakan besar, Hukong. Cukup patahkan kedua tangan dan kakinya. Ada banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan pada keparat ini!” Hanya dengan perintah Fei Chen, sosok pemimpin yang mengendalikan Organisasi Bunga Gelap berakhir menyedihkan.
Hukong bergerak secepat kilat dan langsung mematahkan kedua tangan serta kaki Hua Kangjie. Bahkan Kera Langit tersebut membungkam mulut Hua Kangjie dengan cekikikan di lehernya.
‘Mengerikan... Bocah itu telah berkembang sejauh ini?’ Hua Ying sendiri tidak menyangka dengan perkembangan Fei Chen.
Beberapa menit kemudian Hua Ying melihat bagaimana cara Fei Chen mendapatkan informasi dari Hua Kangjie. Bisa dibilang tangan Fei Chen begitu dingin saat menyiksa Hua Kangjie.
Ji Xiuha membawa Ji Ho kedalam kamar bahkan dirinya bersama Guan Ai tidak berani melihat Fei Chen yang menyiksa Hua Kangjie.
“Senior Hua, dia pamanmu bukan? Maaf aku telah membunuhnya. Informasinya sudah cukup. Jadi Raja Iblis Buas adalah pemilik Racun Laba-Laba Hitam...” Fei Chen menghela nafas panjang karena dari Hua Kangjie dia mendapatkan banyak informasi.
“Tidak masalah. Daripada itu aku merasa kehilangan seluruh tenagaku...” Lemas Hua Ying menjawab.
“Kalau begitu, Deshe, waktunya makan...” Fei Chen dengan santai memanggil Ular Bumi.
Lalu Fei Chen memberikan perintah kepada Deshe si Ular Bumi untuk melahap tubuh Hua Kangjie sebelum akhirnya dia memutuskan untuk menuju Benteng Lembah Pedang.
“Kenapa kau terlihat begitu marah saat mendengar Pamanku itu mengatakan tentang niat Cang Guofang yang mengincar Luo Rou dari Benteng Lembah Pedang?” Hua Ying bertanya karena penasaran.
Bukannya menjawab Fei Chen hanya diam untuk beberapa saat sebelum berdecak pelan mengingat dirinya yang masih belum bisa menggunakan Qi.
_____
Bonus Picture
__ADS_1
[Hua Ying, Putri Bunga Dosa, Umur 23 Tahun]