
PPFC 126 - Mungkinkah Ini Balasan Atas Perbuatanku?
Serangan yang dilepaskan Ma Zhangsun bukanlah serangan sederhana jika seorang Pendekar Suci Tahap Puncak terkena serangan ini sudah pasti akan mati seketika ditempat.
Ma Zhangsun dan Guan Ji Ma adalah bukti pencapaian tertinggi di Kekaisaran Ma karena keduanya telah mencapai Pendekar Langit Tahap Puncak.
Namun perbedaan keduanya dengan Fei Chen akan terlihat jelas darisini saat Fei Chen masih terbaring ditanah dengan mata yang menatap Ma Zhangsun.
“Tidak buruk juga...”
Merasakan hawa keberadaan Fei Chen semakin kuat membuat Ma Zhangsun dan Guan Ji Ma terkejut. Tidak ingin membiarkan Fei Chen melakukan serangan balik, Ma Zhangsun turun dengan kecepatan tinggi sambil melapisi kedua kakinya menggunakan tenaga dalam.
Kedua kaki diselimuti petir dan suara menggelegar memenuhi langit. Ma Zhangsun tertawa keras saat kedua kakinya hampir menyentuh Fei Chen.
“Marilah, bocah keparat! Kau tidak akan bisa menghalangi rencanaku untuk menguasai Benua Tujuh Bintang!”
BOOOMMM!!!
“Aku akan memenuhi keinginan beliau!”
Suara tawa Ma Zhangsun menggelegar diiringi dengan suara ledakan akibat kedua tendangannya.
“Kau pikir bisa membunuhku hah?!”
__ADS_1
Suara tawa Ma Zhangsun berhenti saat mendengar ucapan Fei Chen memecahkan kebisingan telinganya. Matanya menatap pemuda dibawahnya yang sama sekali tidak terluka terkena serangannya.
“Aku datang kemari bukan untuk menjadi samsakmu keparat! Aku kemari untuk membunuh kalian semua!” Fei Chen membebaskan diri dari Ma Zhangsun dan menancapkan pedangnya.
“Kau... Pemuda bermarga Fei! Apa kau ingin mengetahui bagaimana kedua orang tuamu mati?!” Ma Zhangsun tersenyum menyeringai dan memusatkan tenaga dalam pada tangan kanannya.
Mata Fei Chen menghitam penuh kebencian saat Ma Zhangsun memprovokasi dirinya. Sebuah pukulan mengarah padanya dan Fei Chen menahannya dengan menggunakan satu tangannya sebelum tangan lainnya memukul wajah Ma Zhangsun dengan keras.
Menyadari jika nyawa Ma Zhangsun terancam, Guan Ji Ma melepaskan satu tebasan yang menyelamatkan nyawa Ma Zhangsun dan mengambil alih pertarungan melawan Fei Chen.
“Kau benar-benar berbahaya! Tetapi sayangnya kau akan mati disini!” Guan Ji Ma mulai memainkan pedangnya menyerang Fei Chen.
Fei Chen menjentikkan jarinya dan membuat Pedang Raja Neraka terbang kearahnya. Tangan kanannya menangkap pedang itu dan menggenggamnya erat.
Setelah mengatakan itu Fei Chen menghilang dari pandangan Guan Ji Ma. Pemuda itu berada di hadapan Guan Ji Ma secara tiba-tiba sebelum melepaskan satu tendangan yang diselimuti Qi pada perut Guan Ji Ma.
Mata Guan Ji Ma mendelik dan tubuhnya reflek menghindar namun reflek tubuhnya kalah cepat dengan tendangan Fei Chen.
Tendangan Fei Chen membuat tubuh Guan Ji Ma terpental sekitar seratus meter hingga menabrak bangunan yang ada di gerbang kota.
Kejadian ini tentu saja membuat para penduduk ketakutan terlebih saat mereka semua melihat Fei Chen bergerak dengan kecepatan tinggi kearah Guan Ji Ma.
Fei Chen mengangkat tubuh Guan Ji Ma dengan mencekik lehernya lalu melemparkan tubuh pria itu kearah Istana Ma.
__ADS_1
‘Pemuda ini dia memiliki kekuatan yang setara bahkan melebihi Senior Situ!’
Guan Ji Ma sulit mengendalikan tubuhnya terbang keatas langit dan jatuh menabrak tubuh Ma Zhangsun.
“Aku akan mengakhirinya sekarang...”
Fei Chen memusatkan Qi pada bilah pedangnya dan melepaskan energi pedang secara bersamaan. Kemudian dengan kecepatan tinggi dia bergerak menuju Guan Ji Ma yang mencoba menyerangnya.
“Jurus Kelima Pedang Raja Neraka...”
“Amarah Api Suci!”
Guan Ji Ma sudah berupaya melakukan pertahanan sebaik mungkin namun tetap saja kedua tangannya menjadi korban keganasan tebasan pedang Fei Chen.
Selanjutnya Fei Chen memotong kedua kaki Guan Ji Ma tanpa keraguan bahkan saat dia mencekik leher pria itu dan melempar tubuhnya kearah gerbang kota.
“Nyawamu sudah berakhir!”
Kekejian Fei Chen ini membuat semua penduduk kota yang menyaksikan kematian Guan Ji Ma ketakutan. Namun disi lain mereka begitu bahagia karena akhirnya sosok yang ditakuti akhirnya mati terlebih kondisi Ma Zhangsun juga tidak bisa diharapkan.
Guan Ji Ma tidak pernah menyangka dirinya akan berakhir seperti ini. Tubuhnya tertancap sebuah tombak yang menjadi simbol pertahanan gerbang kota dan kedua kaki dan tangannya juga telah dipotong.
Dengan sepenggal nafas terakhirnya Guan Ji Ma bergumam, “Mungkinkah ini balasan atas perbuatanku?”
__ADS_1