Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 273 - Bawahan Kedua


__ADS_3

PPFC 273 - Bawahan Kedua


Bei Ping mengambil langkah yang menurutnya paling berbahaya dalam hidupnya. Tubuhnya gemeteran saat memutuskan itu, namun melihat tatapan Fei Chen yang tidak mengenal takut membuat Bei Ping mengambil satu keputusan yang menurutnya tepat.


“Apa kau yakin dengan jawabanmu, Bei Ping?” Fei Chen kembali bertanya untuk memastikan.


“Apa kau yakin dengan pilihanmu?”


Bei Ping menahan nafas untuk sesaat sebelum kembali bersuara, “Pemuda... Aku memilih yang kedua. Aku ingin melawan takdirku dan mengembalikan kehidupan yang dulu. Aku akan memberontak dan memilih jadi bawahanmu!”


Fei Chen tersenyum tipis, “Bagus. Namun aku tidak membutuh bawahan seorang pengkhianat. Aku bisa membunuhmu saat aku merasa kau mengkhianatiku, mengerti?”


“Aku... Aku mengerti...”


Setelah itu Fei Chen memperkenalkan dirinya pada Bei Ping. Mendengar identitas Fei Chen seketika raut wajah Bei Ping terkejut. Bei Ping ingin memastikan bahwa pemuda dihadapannya adalah orang yang dirumorkan atau bukan.


“Fei Chen... Kau sedang tidak bercanda denganku bukan?” Bei Ping masih tidak percaya dan membuat Fei Chen menggelengkan kepalanya.


“Bercanda? Untuk apa aku melakukan itu?” Keseriusan Fei Chen membuat Bei Ping yakin.


“Baiklah, aku akan bekerjasama denganmu...” Bei Ping mengulurkan tangannya dan disambut Fei Chen.


“Pemuda... Bagaimana aku memanggilmu?”


“Terserah.” Fei Chen berdiri dan pergi menuju kasir pembayaran.


Fei Chen berdiri lama dan memejamkan mata. Telinganya mendengarkan dengan jelas setiap obrolan sebelum akhirnya dia pergi bersama Bei Ping.


“Jadi bagaimana rencanamu Tuan Fei?” tanya Bei Ping karena mengira Fei Chen telah memilki sebuah rencana.


“Aku ingin melakukan penyusupan tanpa kegaduhan. Awalnya seperti itu, tetapi aku baru saja memikirkan sebuah rencana untuk langsung membunuh seluruh anggota Tujuh Bunga Iblis di kota ini.” Jawaban Fei Chen membuat Bei Ping melongo.

__ADS_1


“Tuan Fei... Kau serius? Bisa saja kita melakukannya tetapi itu akan membuat orang-orang ketakutan setelah mengetahui ada orang yang dapat membunuh seluruh anggota Tujuh Bunga Iblis...”


Setelah mengetahui identitas Fei Chen tentu saja Bei Ping yakin jika pemuda dihadapannya itu dapat memusnahkan seluruh anggota Tujuh Bunga Iblis saat ini juga.


“Untuk itu aku ingin kau memainkan sebuah peran sebagai anggota Tujuh Bunga Iblis yang berbeda pemikiran dengan yang lainnya,” ujar Fei Chen, lalu melirik Bei Ping sebelum menanyakan.


“Kapan para pendekar menarik pajak?” Fei Chen bertanya.


“Besok. Besok adalah hari dimana Tuan Hei Yu akan melakukan penarikan pajak pada orang-orang di permukiman bawah. Tujuan sebenarnya dari orang itu adalah membubuh orang yang tidak mampu membayar pajak dan mengambil anak gadis mereka serta perempuan.” Bei Ping juga menjelaskan kepada Fei Chen jika Hei Yu melakukan itu demi kesenangannya.


“Baiklah, besok aku akan menyamar dan kau akan memberontak. Aku akan memastikan besok kota ini akan menjadi wilayah kekuasaanmu. Aku memberimu sebuah perintah untuk berperan sebagai penguasa Kota Yangping setelah kita berhasil memusnahkan seluruh anggota Tujuh Bunga Iblis di kota ini.” Fei Chen menjelaskan.


Bei Ping menerima perintah Fei Chen dan keduanya berpisah saat matahari mulai tenggelam. Bei Ping sempat mengajak Fei Chen untuk berkunjung ke rumahnya, namun Fei Chen menolak karena ingin menikmati Kota Yangping.


Dibandingkan menikmati, Fei Chen justru akan memulai aksinya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Bei Ping. Dengan menyuruh Deshe untuk membuat kekacauan di kediaman Hei Yu, Fei Chen berniat memberikan ancaman pada sosok anggota inti Tujuh Bunga Iblis tersebut.


“Deshe, informasi yang kau dapat berguna. Jika benar, maka anggota Tujuh Bunga Iblis akan berada di rumah bordil. Aku ingin kau membuat kekacauan disana dengan membunuh para pendekar tersebut.”


Dengan langkah yang tidak bersuara dan ketenangan yang dilakukannya, Fei Chen berhasil melewati para penjaga dan menerobos tanpa sepengetahuan penjaga.


Bangunan paling luas dan megah di Kota Yangping itu berhasil Fei Chen susupi. Pemuda itu mengamati keadaan sekitarnya sebelum menemukan keberadaan Hei Yu.


“Tuan Hei Yu! Pria yang menyusup dan bertarung dengan anda telah pergi dari kota ini. Sementara kami berhasil membawa gadis yang anda tangkap, sedangkan untuk wanita yang lainnya kami bawa ke Ibukota Yangdian untuk dipersembahkan pada Yang Mulia Yang Ergou.”


“Kerja bagus. Kalian membawa gadis itu kedalam ruangan ku bukan? Malam ini buatlah penjagaan yang ketat. Aku ingin mencicipi darah segar dan suci terlebih dahulu. Gadis itu telah dibawah kendali obat perangsang dan tidak akan bisa memberikan perlawanan.” Hei Yu tertawa dan menepuk pundak bawahannya.


“Kami mengerti, Tuan Hei Yu. Kami akan memastikan bahwa malam ini anda akan menikmati malam dengan tenang tanpa gangguan.” Penjaga tersebut menjawab.


Hei Yu berjalan memasuki ruangannya disusul Fei Chen yang bergerak secepat kilat. Hei Yu sempat merasakan hembusan angin sehingga dia memeriksa keadaan disekitarnya dengan aura.


“Aneh... Apa hanya perasaanku saja?” Hei Yu kebingungan.

__ADS_1


Fei Chen sendiri sudah bersembunyi dibelakang ruangan sebelum masuk kedalam atap bangunan. Dengan merasakan aura tubuh Hei Yu, Fei Chen berjalan mengikuti arah kemana yang Hei Yu tuju.


’Saudari Qiao Ling... Dia benar-benar ceroboh. Bahkan setelah Hirataka menyelamatkan mereka, dia justru berniat kembali balas dendam. Apa yang sebaiknya aku lakukan?’ Fei Chen memejamkan mata dan bisa merasakan aura Qiao Ling yang tidak stabil dan beraturan.


Fei Chen dengan hati-hati membuat lubang diatap dan menemukan Qiao Ling yang sedang terbaring lemah diatas ranjang dengan tubuh terikat. Tak lama suara pintu terbuka memperlihatkan Hei Yu yang tersenyum menyeringai seolah-olah menemukan sang mangsa.


“Saat pertama kali melihatmu. Aku sangat yakin kau berasal dari Kekaisaran Chu. Mungkin rumor itu benar, kau salah satu dari sisa-sisa Tetua Istana Bunga Persik bukan? Malam ini sepertinya hari keberuntunganku, aku akan menikmatimu perlahan-lahan.” Hei Yu tertawa lebar dan merangkak diatas ranjang menindih tubuh Qiao Ling.


“Hentikan...” Nafas Qiao Ling tidak beraturan bahkan hanya dengan bersentuhan dengan tubuh Hei Yu saja sudah membuat tubuhnya merasa sangat panas.


“Ah.”


Mendengar suara lembut Qiao Ling membuat Hei Yu tertawa mengejek.


“Suaramu indah...”


Qiao Ling ingin menangis karena mengalami hal pahit yang baru pertama kali dia rasakan dalam hidupnya.


‘Lebih baik aku mati-’ Saat Qiao Ling dalam keputusasaan, dia dikejutkan dengan suara hantaman pada kepala Hei Yu.


“Keparat! Siapa-” Hei Yu tidak dapat menyelesaikan perkataannya saat Fei Chen mencekik lehernya dan membanting tubuhnya.


“Lihat dirimu ini Saudari Qiao Ling, kau menangis...” Fei Chen menatap dingin Qiao Ling sesaat sebelum menghela nafas.


‘Fei... Chen...’ Qiao Ling terkejut karena Fei Chen muncul dalam keputusasaannya.


Sebelum Hei Yu mengenali wajahnya, Fei Chen memakai topeng dan langsung mengangkat tubuh Qiao Ling menuju luar kediaman.


“Berhenti menangis...” Fei Chen menegur Qiao Ling yang menangis sesenggukan. Namun saat dia melihat wajah gadis itu, semu merah merona memenuhinya.


“Kenapa wajahmu memerah?”

__ADS_1


__ADS_2