Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 173 - Penempaan Tubuh


__ADS_3

PPFC 173 - Penempaan Tubuh


Jia Li melepaskan pakaian yang dia kenakan satu demi satu dengan gerakan yang gemulai. Setelah itu dia menaruh pakaiannya kedalam Cincin Ruang sebelum masuk kedalam Kolam Siksa Petir secara perlahan.


“Chenchen, berbaliklah.” Jia Li merasa begitu malu sehingga dia masuk ke Kolam Siksa Petir tanpa sadar.


“Ah!” Jia Li terkejut saat merasakan sengatan ditelapak kakinya.


Fei Chen yang sudah membalikkan badannya segera memalingkan wajahnya saat melihat lekukan indah tubuh Jia Li. Pemuda itu memerah wajahnya secara sempurna karena tidak menyangka cinta pertamanya itu memiliki tubuh seindah ini.


“Chenchen! Kau melihatnya bukan?” Jia Li menutupi tubuhnya dan memprotes tindakan Fei Chen.


“Kau memintaku berbalik, aku hanya mengikuti perkataanmu.“ Fei Chen membela diri.


“Benar-benar menyebalkan.” Fei Chen melepaskan pakaian atasnya dan berjalan mendekati Jia Li.


“Dasar tidak tahu malu!” Jia Li mengembungkan pipinya saat melihat Fei Chen memperlihatkan tubuh bagian atasnya.

__ADS_1


“Setelah ini kita berdua tidak akan memikirkan perasaan malu.” Fei Chen langsung membungkus tubuhnya dengan aura serta memberikan rangsangan pada titik-titik meridiannya sebelum menceburkan tubuhnya ke dalam Kolam Siksa Petir.


BYUUURRR. . .


Jia Li terkejut melihat tindakan Fei Chen. Pemuda itu tidak pernah melakukan tindakan bodoh seperti membohongi sehingga gadis itu percaya dan mengikuti apa yang dilakukan oleh Fei Chen.


“Aku juga ingin melatih tubuhku disini setelah sekian lama.” Fei Chen menggumam pelan sambil merasakan sensasi tubuhnya disengat aliran listrik hingga suara tulangnya mengeluarkan bunyi gemertak.


“Cih!” Fei Chen terlihat meringis kesakitan dan itu membuat Jia Li memberanikan diri membuka tubuhnya yang dia tutupi dengan tangan.


“Aaaahhh!” Jia Li tersentak kaget saat merasakan energi besar memasuki pori-pori dalam tubuhnya.


“Lili, atur aliran nafasmu. Tetap tenang dan jangan panik.” Fei Chen memeluk tubuh Jia Li dengan kedua tangan yang memberikan rangsangan pada titik-titik meridian Jia Li.


Kembali Jia Li menjerit kesakitan hingga membuat gadis itu menggigit bibir bawahnya sampai berdarah. Fei Chen berbisik lembut pada Jia Li agar jangan melukai bibirnya.


“Lili, apa kau siap melalui Penyiksaan Petir? Mundur jika kau ragu.” Tatapan tegas Fei Chen membuat Jia Li mengerti jika Fei Chen tidak main-main membantunya atau sekedar mencari keuntungan untuk melihat tubuhnya.

__ADS_1


Jia Li mengangguk lembut dan percaya pada Fei Chen. Tak lama Kolam Siksa Petir menjadi berwarna ungu kehitaman. Energi besar yang mengandung petir itu membuat tubuh Jia Li terhenyak dan langsung meresponnya dengan teriakan.


Apa yang terjadi selanjutnya adalah Jia Li yang terus berteriak merasakan kesakitan, sedangkan Fei Chen ada disisinya untuk menenangkannya.


Fei Chen menetralisir energi berlebih yang hendak masuk kedalam tubuh Jia Li. Walaupun tindakannya ini mengurangi rasa sakit yang diterima Jia Li, tetapi dirinya mendapatkan keuntungan karena metode ini membuat otot-otot dalam tubuhnya semakin menguat.


Rasa sakit yang dirasakan Jia Li sendiri membuatnya hampir kehilangan kesadarannya selama berkali-kali. Gadis itu sudah menekan rasa malunya hingga dia duduk dipangkuan Fei Chen dan terus berteriak kesakitan.


Hingga akhirnya tiga hari berlalu, pori-pori dalam tubuh Jia Li mengeluarkan cairan berwarna hitam. Suara tulang retak menggema selama seharian penuh. Dentuman keras itu membuat Jia Li tersenyum lemah saat Fei Chen memberitahu dirinya telah mempunyai kualitas Tulang Naga Perunggu.


“Istirahatlah Lili...” Fei Chen berdiri dan meninggalkan Jia Li yang terlihat begitu lemah.


Gadis itu menatap punggung Fei Chen dan merasa begitu malu saat mengingat dirinya yang membiarkan Fei Chen menyentuh tubuhnya dan melihat tubuhnya.


Mengingat semua itu membuat Jia Li ingin mati karena dirinya justru terus berteriak kesakitan. Disisi lain Fei Chen memerah wajahnya dan menggelengkan kepalanya berulang kali mengingat bagaimana pahatan indah tubuh Jia Li.


‘Sial! Aku hampir kehilangan kendali!’

__ADS_1


____


Jangan lupa pisaunya untuk motong bunga sambil ngopi pakai hati. Hadiah Imlek untuk authornya ada gak nih dari kalian?


__ADS_2