
PPFC 331 - Dibawah Guyuran Hujan
Pembantaian sepihak di Kota Hinogawa terjadi dalam waktu yang sangat singkat. Setelah kematian Hirataka dan lenyapnya pasukan pemberontakan, Fei Chen datang melakukan pembalasan.
Saat ini Fei Chen terlihat melayani perlawanan Budou yang melepaskan sejumlah serangan dahsyat. Memang kemampuan Budou ini setara dengan San Zhu menurut Fei Chen, namun semua serangaj itu tidak berarti di hadapannya yang sekarang telah menyandang Raja Neraka.
Sudah beberapa kali ledakan petir menggema saat Budou mencoba melepaskan satu tebasan mematikan kepada Fei Chen. Namun tebasan nya yang tajam dan mematikan tidak ada satupun yang mendarat ditubuhnya.
Fei Chen hanya menangkis setiap serangan yang dilepaskan Budou sebelum akhirnya satu tebasan yang membentuk seekor naga petir mengenai tubuh Budou dan menbuat lawannya terkapar.
Budou tidak mampu menghindar dan tidak menyangka dirinya yang menggunakan unsur petir sebagai bawaannya akan kalah dengan petir yang dimiliki Fei Chen.
Nafas Budou tersengal-sengal karena menghadapi Fei Chen. Tak lama tubuhnya tidak dapat digerakkan saat Fei Chen berjalan mendekati dirinya dan mengeluarkan Aura Raja Neraka yang lebih pekat dari sebelumnya.
“Katakan padaku... Siapa dirimu yang sebenarnya?” Budou ingin mengetahui nama orang yang membunuhnya namun Fei Chen tidak menggubris ucapannya dan menusuk mulut pria tersebut.
Dengan pedang yang tertancap dimulut dan menembus tenggorokan, Fei Chen membuat a Budou tidak dapat mengeluarkan sepatah katapun selain merasakan rasa sakit yang mengerikan.
Selanjutnya Fei Chen menginjak tubuh Budou dan menatapnya dengan dingin dari balik topengnya. Tanpa ampun Fei Chen meledakkan tubuh Budou dan selanjutnya Fei Chen mengeluarkan api yang meledakkan tubuh mayat lainnya dari Organisasi Sakura Darah.
Dalam hitungan detik kabur darah memenuhi Kota Hinogawa. Fei Chen yang diambang perasaan dendam diselimuti kebencian berdiri menatap jenazah Hirataka dan para anggota pasukan pemberontakan.
“Hukong keluarlah...” Fei Chen memanggil Hukong dan memberikan perintah pada Kera Langit tersebut untuk membawa jenazah Hirataka dan para anggota pasukan pemberontakan ke luar dari Kota Hinogawa.
Fei Chen ingin memakamkan mereka semua dengan layak. Hukong langsung mengetahui apa yang terjadi pada Fei Chen setelah melakukan kontak mata dengan Deshe. Sehingga Hukong langsung mengikuti perintah Fei Chen dan melaksanakan apa yang diperintahkannya.
‘Tuanku, perjalananmu masih panjang. Ini hanyalah awal. Melawan salah satu Raja Iblis Agung akan membuat banyak pengorbanan.’ Hukong berharap Fei Chen tidak tenggelam akan dendam dan diselimuti kebencian.
__ADS_1
Setelah kepergian Hukong segera Fei Chen mengeluarkan aura tubuh yang jumlahnya sangat besar. Aura tubuhnya menjangkau seisi Kota Hinogawa.
“Sekitar lima puluh orang mulai melarikan diri dan sepertinya mereka adalah anggota Organisasi Sakura Darah...” Fei Chen memejamkan mata dan menggumam pelan.
Selanjutnya Fei Chen memburu satu demi satu anggota Organisasi Sakura Darah yang mencoba melarikan diri. Tidak ada satupun akses untuk menyampaikan kejadian barusan ke petinggi mereka.
Namun Fei Chen tidak mengetahui jika di beberapa sudut Kota Hinogawa terdapat sebuah Batu Langit.
Batu Langit itu sendiri layaknya kamera pengawas dan informasi pembantaian ini langsung diketahui Shogun Raido.
Setelah Fei Chen membunuh anggota Organisasi Sakura Darah yang tersisa, pemuda itu membawa Ichiba keluar kota. Dalam perjalanan Fei Chen merasa heran karena dia tidak merasakan aura keberadaan San Zhu.
“Sepertinya dia tersesat atau hanya ingin berjalan-jalan...” Fei Chen menghela nafas panjang sebelum menurunkan tubuh Ichiba yang dia gendong dan berdiri didepan pemakaman yang sudah dibuat Hukong.
“Tuanku, apa kau-”
“Aku tahu apa yang kau pikirkan Hukong, begitu juga denganmu Deshe. Aku sudah mengalami hal ini. Bagaimanapun aku juga seorang pembunuh, sudah pasti akan dibunuh ataupun kehilangan. Jadi jangan khawatir, aku masih bisa mengontrol emosiku dan tidak melakukan tindakan bodoh. Aku akan memastikan negeri ini bebas, aku berjanji atas namaku, saudaraku.”
“Hukong, Deshe bisa tinggalkan aku sendiri?” Fei Chen menatap kedua hewan peliharaan sekaligus penjaga untuk dirinya.
Hukong dam Deshe langsung menjauh dari Fei Chen. Keduanya melihat Fei Chen berdiri menatap keatas langit yang meneteskan hujan ke tubuhnya.
Pengkhianatan Xiao Gang, kematian para budak sebangsanya yang dijadikan Monster Penghisap Darah, Kematian Hirataka dan kondisi di Kekaisaran Kai membuat mata Fei Chen terbuka lebar.
Melawan Raja Iblis Agung merupakan pertaruhan yang besar. Diserang ataupun menyerang, Fei Chen terjebak dalam dua pilihan itu. Dia sudah menyiapkan tekadnya, namun dirinya tidak lebih dari seorang pemuda yang telah melewati berbagai hal pengalaman kehidupan yang memaksanya menjadi seperti sekarang ini.
Fei Chen mampu menahan perasaannya untuk tidak menangis, namun sekarang dirinya diselimuti kesedihan yang mendalam. Dia telah kehilangan Hirataka dan dia tidak ingin dalam peperangan ini dirinya kehilangan lebih banyak orang yang dia cintai.
__ADS_1
Guyuran hujan yang turun menyamarkan air mata yang menetes membasahi pipi Fei Chen. Butuh waktu untuk Fei Chen menenangkan dirinya bahkan ia tidak sadar dan larut dalam kesedihannya saat Ichiba sudah terbangun dan menatap dirinya kebingungan.
‘Pemakaman?’ Ichiba memperhatikan makam yang ada disekitarnya.
Menurut Ichiba pemakaman itu dibuat oleh pemuda yang tengah menangis dan terlihat begitu sedih. Ichiba memperhatikan topeng yang dilepas Fei Chen dan dipegang ditangannya.
‘Topeng Iblis Hitam?’ Ichiba terkejut dan langsung mencoba berdiri, namun kakinya terpeleset.
Seluruh tubuhnya basah begitu juga dengan pakaiannya. Ichiba mencoba untuk tidak bergerak karena takut kepada Fei Chen.
Sementara itu Fei Chen terduduk di tanah dan memegang gundukan tanah yang merupakan makam Hirataka.
“Hirataka, kau adalah bawahan pertama yang aku pilih. Kesetiaan dan semua hal yang telah kau lakukan tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Memang singkat, tetapi aku bersumpah atas nama Kaisar Ma dan Raja Neraka akan membebaskan negerimu ini. Kau bisa tenang di alam sana Saudaraku. Awasi perjuanganku darisana.” Fei Chen tersenyum kecut setelah mengatakan itu.
Ichiba tercengang mendengar ucapan Fei Chen. Setelahnya dia kembali mendengar Fei Chen berbicara sendiri. Dimana Fei Chen mengungkit pertemuannya dengan Hirataka dan menyesal karena mengira Hirataka baik-baik saja.
Fei Chen mengatakan bahwa dirinya mengira Hirataka dan Ichiba akan berbaikan sehingga dia membiarkan Hirataka waktu untuk menenangkan dirinya. Namun semua keputusannya itu menjadi bumerang karena kepergiannya ke Ladang Yasai berakhir dengan kematian Hirataka.
Ichiba yang melihat Fei Chen hanya terdiam membisu. Fei Chen terlihat begitu pilu saat menatap makam Hirataka.
Butuh waktu lama untuk Fei Chen tenang dan saat pemuda itu menoleh kebelakang dan menemukan Ichiba yang menatap dirinya ketakutan.
Fei Chen tidak mengatakan apapun selain mengusap wajahnya dan berdiri. Lalu Fei Chen berjalan melewati Ichiba.
“Tunggu, apa kau yang memakamkan mereka semua?” Ichiba bertanya.
Fei Chen berhenti berjalan dan menatap Ichiba penuh rasa bersalah, lalu menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
“Terimakasih...” Setelah mengatakan itu Ichiba langsung berlari menuju makam Hirataka dan menangis sejadi-jadinya. Air matanya turun bagaikan air bah.
Fei Chen memperhatikan Ichiba dan menunggu wanita itu tenang.