Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 187 - Ling Ye Kegirangan


__ADS_3

PPFC 187 - Ling Ye Kegirangan


Sore hari di dalam kamar yang disiapkan Ling Xiyao, terlihat seorang gadis sedang meringkuk dibawah selimut dan menggerutu sendiri. Tangannya memegang sebuah jarum dan menusuk bantal kecil dengan penuh kekesalan.


“Dasar Chen‘gege penipu! Bilangnya mencintaiku tetapi dia tiba-tiba mempunyai istri!” gerutu Ling Ye sambil menusuk jarum yang dipegangnya ke bantal kecil.


“Dia bilang mencintaiku, tetapi menghamili wanita lain dan menikahi wanita lain lagi, lagi dan lagi! Dasar Chen‘gege pemberi harapan palsu! Musuh semua perempuan!” teriak Ling Ye sambil melempar bantal kecil itu kearah pintu.


Tepat setelah Ling Ye melempar bantal kecil, pintu itu terbuka dan bantal kecil tersebut mengenai wajah Fei Chen.


“Apa ini sambutan untukku, Ye‘er?” Fei Chen mendengar apa yang diucapkan Ling Ye dari luar dan tersenyum saat melihat gadis itu terkejut dengan kedatangannya.


“Chen‘gege? Hmph!” Awalnya terkejut namun Ling Ye kembali lagi masuk kedalam selimut.


“Untuk apa kemari? Apa kau hanya ingin membagikan undangan? Jika iya pergilah!” Ling Ye terlihat sedang ngambek dan itu membuat Fei Chen menutup pintu lalu berjalan mendekati ranjang itu.


“Ye‘er, apa kau marah padaku?” Fei Chen berkata seraya duduk diranjang dan menggelitik pinggang gadis yang sedang meringkuk itu.


“Lepaskan!” Ling Ye menjerit lalu tertawa sebelum akhirnya gadis itu menahan tangan Fei Chen.


“Haaah... Haaah... Kenapa tiba-tiba menyentuhku?” Ling Ye memerah wajahnya dan segera duduk.


“Dasar pemberi harapan palsu,” ujar Ling Ye sambil mengembungkan pipinya.


Fei Chen mencubit gemas pipi Ling Ye dan tersenyum hangat, “Siapa yang kau bilang pemberi harapan palsu, kucing mansiku?”


Ling Ye menaikan alisnya dan menunjuk Fei Chen tegas, “Dirimu. Lalu siapa yang kau bilang kucing manismu?”


“Berhenti mencubitku.” Walaupun Ling Ye berkata seperti itu, tetapi gadis ini tidak menghentikan aksi Fei Chen yang mencubit gemas pipinya.


“Padahal aku datang kesini untuk mengundangmu agar datang ke pernikahanku. Tetapi sepertinya kau tidak antusias sama sekali.” Fei Chen berdiri dan membalikkan badannya lalu berjalan meninggalkan kamar.

__ADS_1


Mendengar ucapan Fei Chen dan melihat pemuda itu akan pergi, Ling Ye menarik tangan Fei Chen sekuat tenaga dan membuat tubuh Fei Chen memutar dan langsung menindih tubuhnya.


Fei Chen tersenyum karena dia sengaja ingin menggoda Ling Ye yang sedang marah padanya.


“Kau mengundangku hanya untuk melihatmu bersanding dengan wanita lain? Aku membencimu Chen‘gege!” Ling Ye menatap kesal Fei Chen yang menindih tubuhnya.


“Aku ingin kau hadir disana sebagai mempelai wanitanya. Apa sekarang kau masih marah?” Melihat wajah Fei Chen yang seolah-olah merendahkannya membuat Ling Ye kesal.


“Kau mengatakan itu dengan bercanda bukan?”


“Siapa yang bercanda? Apa kau ingin aku membuktikannya disini?”


Ling Ye menatap Fei Chen dan memberanikan diri menantang pemuda itu untuk menciumnya.


“Kalau begitu cium aku...” lirih Ling Ye seraya menatap Fei Chen malu.


Fei Chen tidak menjawab dan langsung mengikuti ucapan gadis itu. Sontak Ling Ye terkejut saat Fei Chen mengecup bibir ranumnya. Awalnya Ling Ye hanya diam membiarkan Fei Chen menyesap manisnya bibir ranumnya namun kelamaan gadis itu membalasnya ragu.


Fei Chen melepas ciumannya dan tersenyum tipis. Matanya memandang wajah Ling Ye yang bersemu merah. Nafas gadis itu tidak beraturan.


“Hari ini ada yang ingin ku bicarakan denganmu-”


“Minggir darisana! Beraninya kamu menciumku!” potong Ling Ye sambil mencoba mendorong tubuh Fei Chen.


“Jangan memotong ucapanku saat aku sedang bicara.” Fei Chen justru membenamkan tubuhnya menindih tubuh Ling Ye dengan tangan yang mengelus wajah gadis itu.


Ling Ye ketakutan karena tatapan Fei Chen begitu tajam, namun detak jantungnya terus berdebar kencang saat pemuda itu membenamkan wajahnya ke leher jenjangnya yang putih dan mulus.


“Apa aku membuatmu takut? Maaf...” Bisikan lirih Fei Chen membuat mata Ling Ye melebar dan terkejut.


“Sebenarnya aku kemari karena ingin meresmikan hubungan kita. Tetapi melihatmu seperti ini, membuatku merasa bersalah dan sadar. Menjalin hubungan dengan pria yang memiliki lebih dari satu wanita pasti membuatmu menderita...” Fei Chen masih membenamkan kepalanya dileher Ling Ye sebelum kembali berbisik lirih.

__ADS_1


“Belum terlambat Ye‘er, kau bisa memutuskan-” Tiba-tiba Ling Ye memeluk leher Fei Chen dan mencekiknya.


“Jangan katakan itu!”


“Kenalan kau mencekikku?” Sontak Fei Chen terkejut dan Ling Ye tidak menjawab sama sekali hanya menatap tajam dengan perasaan yang bahagia.


Saat suasana sedang hangat tiba-tiba langsung menjadi gaduh kembali. Ling Ye dan Fei Chen saling memandang sebelum Ling Ye memberanikan diri mengecup bibir Fei Chen singkat.


“Apa kau serius ingin menikahiku?” Ling Ye bertanya untuk memastikan. Fei Chen menciumencium lembut bibir ranum Ling Ye dan mengangkat tubuh gadis itu agar duduk di pangkuannya tanpa melepaskan ciuman mereka.


“Aku serius.”


Ling Ye langsung memeluk Fei Chen dan berdiri kegirangan. Fei Chen terkejut dan mencoba menghindar, tak lama dia mendeccakkan lidahnya saat kaki kanan Ling Ye menginjak inti tubuhnya.


“Apa ini? Kerasnya...” Ling Ye melompat ke lantai dan tersipu malu saat melihat wajah Fei Chen yang menatap dirinya bagaikan seekor mangsa.


“Hihihi... Chen‘gege maaf... Aku terlalu senang...” Ling Ye menggaruk pipinya dan sudah melakukan ancang-ancang untun melarikan diri.


Fei Chen hanya tersenyum tipis dan menghadang Ling Ye yang hendak melarikan diri.


“Chen‘gege... Aku tidak sengaja...”


“Apa yang akan kau lakukan?” Ling Ye menelan ludah saat melihat Fei Chen berdiri dihadapannya.


“Setelah marah-marah padaku, kau justru kegirangan seperti ini. Sepertinya aku harus menghukummu...” Melihat Fei Chen yang menatapnya dingin membuat Ling Ye memejamkan mata.


‘Lihat dia ketakutan... Padahal dulu dia mencoba memanfaatkanku tetapi berakhir seperti ini. Dasar putri bangsawan manja...’


Ling Ye masih memejamkan matanya dan merasakan kecupan di keningnya.


“Terimakasih Ye‘er...”

__ADS_1


__ADS_2