Perjalanan Pedang Fei Chen

Perjalanan Pedang Fei Chen
PPFC 295 - Fei Chen Menggila


__ADS_3

PPFC 295 - Fei Chen Menggila


Fei Chen menekan tubuhnya kebawah menikmati cengkeraman rongga celah mungil Xi Taohua. Sentakan demi sentakan yang dilakukan Fei Chen membuat tubuh Xi Taohua berguncang menerima hujaman yang dalam dan bertenaga.


“Ouuuhhhh... Sssshhh... Pelan ah Chen‘er!” Xi Taohua memegang lengan Fei Chen yang mengukung tubuhnya dan perlahan memeluk punggung Fei Chen.


“Bibi Xi...” Fei Chen mengendus harum wangi tubuh Xi Taohua dan bergerak lebih cepat.


Xi Taohua melenguh kenikmatan dan mulai merasakan sensasi dahsyat yang menerpa tubuhnya. Sentakan demi sentakan yang dilakukan Fei Chen membuat mulut Xi Taohua terus merintih.


Fei Chen memandang ujung gunung kembar Xi Taohua yang mulai menegak. Ujung berwarna coklat kemerah mudaan itu dilahap Fei Chen penuh semangat.


“Mmmm....” Fei Chen terlihat menikmati indahnya pegunungan kembar Xi Taohua.


Erangan Xi Taohua semakin terdengar menderu diiringi Fei Chen yang mendengus hebat. Fei Chen terus mengukung tubuh Xi Taohua dan merasakan kedutan yang menjepit semakin erat.


Erangan merdu Xi Taohua membuat Fei Chen mencium bibirnya dan menggerakkan tubuhnya semakin cepat dan bertenaga. Fei Chen ingin Xi Taohua menikmati pelepasan hebat yang akan dirasakan wanita bertubuh montok tersebut.


“Aaakh! Chen‘er... Emmmm!” Xi Taohua memeluk tubuh Fei Chen sangat erat dan kedua pahanya mengunci pinggul Fei Chen.


Nafas Xi Taohua tidak beraturan dan Fei Chen masih melakukan gerakan lembut membiarkan Xi Taohua menikmati pelepasannya. Tidak pernah Xi Taohua sangka Fei Chen dapat membuatnya merasakan kenikmatan duniawi yang hebat.


“Bagaimana Bibi Xi? Milikku imut bukan? Apa kau berubah pikiran sekarang?” Fei Chen mengecup pipi Xi Taohua lalu menggoda wanita bertubuh montok itu.


Xi Taohua tersenyum malu dengan pipi yang bersemu merah, “Chen‘er, ini sangat nikmat...”


“A-aku mau lagi...”


Fei Chen dengan senang hati menerima ajakan Xi Taohua. Kedua kaki Xi Taohua diangkat kepundaknya dan itu membuat Xi Taohua terkejut.


“Eeehhh... Chener... Eemmmm... Tunggu, posisi ini sangat memalukan...” Xi Taohua menggeleng kepalanya karena posisi ini sangat memalukan untuknya.


Fei Chen tersenyum dan menghujamkan tubuhnya penuh tenaga membuat Xi Taohua nemekik hebat.


“Ooouuuggghh! Pelan-pelan Chen‘er!” erang Xi Taohua yang belum siap menerima hujaman dalam Fei Chen.


Tubuh lemas Xi Taohua terombang-ambing saat Fei Chen menghujamkan tubuhnya dalam dan bertenaga. Erangan Xi Taohua dan pekikannya membuat Fei Chen semakin meningkatkan tempo gerakannya.


“Bibi Xi!” Fei Chen memandang wajah Xi Taohua yang menggeleng tidak jelas.


“Sssshhhh.... Oooohhh... Chen‘er! Akh!” Xi Taohua mengerang hebat saat Fei Chen terus menghujamkan tubuhnya keras.


Nampak gunung kembar yang membulat indah terguncang kesana kemari, Fei Chen meremasnya kuat dan mencubit ujungnya. Xi Taohua menjerit dan mengerang keras diperlakukan sedemikian rupa oleh Fei Chen.

__ADS_1


Fei Chen menurunkan kaki kiri Xi Taohua dari pundaknya dan tetap membiarkan kaki kanannya tetap berada dipundak. Lalu dengan gerakan pelan dan lembut Fei Chen menggerakkan tubuhnya naik turun.


“Emmssss.... Aaaah... Chen‘er...” Xi Taohua memegang tangan Fei Chen yang asyik meraba gunung kembarnya.


“Bibi Xi, milikmu mencengkeram sangat erat!” Fei Chen melenguh kenikmatan dan tersenyum tipis.


Xi Taohua menggelengkan kepalanya dan menahan debaran jantungnya saat melihat Fei Chen sengaja mengeluarkan benda kerasnya lalu menghujam celah mungilnya dengan keras.


“Haaaakkk!” jerit Xi Taohua.


Fei Chen semakin bersemangat mengarungi indahnya tubuh Xi Taohua. Tak lama suara nafas Xi Taohua tersengal-sengal dan Fei Chen semakin dalam menghujamkan tubuhnya.


“A-aku... Chen‘er!” Xi Taohua menggelengkan kepalanya dan mulutnya terbuka lebar.


Fei Chen mencium bibir Xi Taohua lalu menghujamkam tubuhnya kuat-kuat. Xi Taohua berteriak histeris dan Fei Chen mengerang hebat. Keduanya memeluk tubuh masing-masing dengan erat seolah-olah menikmati pelepasan dalam penyatuan.


“Emmm... Chen‘er...”


Pinggul Fei Chen masih bergerak lembut naik turun dan menikmati pelepasannya didalam celah mungil Xi Taohua. Nafas Xi Taohua tidak beraturan dan sendi-sendi dalam tubuhnya terasa lepas.


“Chen‘er...” Lemas Xi Taohua menyebut nama Fei Chen.


Fei Chen tersenyum hangat dan mengecup bibir Xi Taohua secara singkat. Lalu melepaskan penyatuan mereka dan beralih memandang Liang Su.


“Gege...” Liang Su mencium bibir Fei Chen dan langsung disambut oleh Fei Chen.


Keduanya saling meraba tubuh masing-masing dan tak lama Fei Chen memposisikan benda kerasnya diujung celah mungil Liang Su. Hanya dengan satu sentakan yang kuat, Fei Chen sudah meringis kenikmatan saat miliknya masuk menembus celah mungil Liang Su.


“Haaakk!!! Pelan Gege! Ngilu!” Liang Su memegang wajah Fei Chen saat pemuda yang mendukung tubuhnya mulai bergerak kuat dalam menghujamkan tubuhnya naik turun.


Liang Su hanya pasrah saat tubuhnya diarungi Fei Chen. Kenikmatan yang diberikan Fei Chen membuatnya menerima perlakuan pemuda tersebut.


“Gege... Eeeemmmm...” Liang Su menahan tubuh Fei Chen yang menghentak kuat namun tetap saja perlawanannya lemah.


Akhirnya Liang Su pasrah saat tubuhnya terguncang hebat karena sentakan kuat Fei Chen. Mulutnya merintih hebat saat hujaman benda keras dalam celah mungilnya semakin lancar.


Nampak buih yang melapisi keperkasaan Fei Chen didalam celah mungil Liang Su. Berbeda dengan Xi Taohua yang hanya pasrah, Liang Su justru memberikan perlawanan dengan menyambut gerakan kuat Fei Chen sehingga bunyi keras benturan dua paha menggema syahdu.


“Aaaah... Ah.. Gege!”


“Su‘er!”


Kedua insan yang umurnya terpaut jauh itu mengerang penuh kenikmatan. Nafas Liang Su tersengal-sengal dan tubuhnya lemas saat mencapai pelepasan. Nampak Fei Chen masih menggerakkan pinggulnya dan sesekali sengaja melakukan sentakan kuat membuat Liang Su memekik.

__ADS_1


“Ooohhh!”


Lalu Fei Chen menyuruh Liang Su berbalik dan merangkak dengan lutut sebagai tumpuannya. Liang Su menurut dan mencondongkan setengah badannya ke depan dan sengaja memperlihatkan bokongnya yang membulat pada Fei Chen.


Nafas Fei Chen berhenti untuk sesaat menyaksikan keindahan ini. Dengan tangan yang meremas bokong Liang Su dan menamparnya lembut, Fei Chen langsung memposisikan intinya didepan celah mungil yang merekah merah.


“Akh!” Liang Su memekik karena belum siap menerima hujaman Fei Chen.


Nampak Fei Chen bergerak kuat dan menghentakkan pinggulnya dalam membuat Liang Su menjerit. Fei Chen terlihat begitu menikmati cengkeraman celah mungil Liang Su yang semakin kencang menjepit.


Hingga akhirnya suara lenguhan Liang Su terdengar, “Haaakkk! Gege! A-aku... Ooouuuhhhh!”


Dengan satu sentakan yang kuat, Fei Chen langsung memeluk badan Liang Su dari belakang dan berusaha membenamkan benda kerasnya kedalam celah mungil Liang Su seluruhnya.


Nampak tubuh Liang Su dipeluk erat Fei Chen yang menikmati pelepasannya. Fei Chen masih dengan posisi memeluk tubuh Liang Su sebelum melepaskan penyatuan.


“Oohh...” Lenguh Liang Su saat benda keras yang mengganjal celahnya keluar.


Fei Chen tersenyum melihat kedua wanita dewasa dengan tubuh menggoda tergolek lemas.


Fei Chen mendekati Xi Taohua dan tersenyum saat melihat kedua paha yang terbuka lebar. Namun saat dirinya mendekat, Xi Taohua segera merapatkan kedua kakinya dan menggelengkan kepalanya.


"Sudah... Chener... Sudah. Aku lelah...”


Fei Chen mengerti dan berkata, “Bibi Xi, aku ingin lagi...”


“Chen‘er, kita bisa melakukannya lagi dilain waktu... Tenang saja, tubuh ini milikmu...” Xi Taohua berkata dengan suara lemas dan berharap Fei Chen menurut.


Fei Chen mengangguk lalu duduk bermeditasi setelah melakukan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang dengan Xi Taohua dan Liang Su sekaligus.


‘Sepertinya sudah terlambat...’ Fei Chen berpikir dan mengira Ibukota Yangdian sudah menjadi lautan api.


Setelah bermeditasi dan memakai pakaiannya, Fei Chen menyuruh Xi Taohua dan Liang Su untuk segera mengenakan pakaiannya.


Kedua wanita itu dengan lemas memakai busana mereka dan terlihat jelas bagaimana keduanya kesulitan untuk berjalan.


Fei Chen memeluk tubuh keduanya dari belakang dan membisikkan sesuatu pada telinga mereka. Nampak wajah keduanya bersemu merah karena bisikan Fei Chen.


Kemudian Fei Chen mengeluarkan energi dalam tubuhnya. Suara dentuman keras menggema saat Qi dalam tubuhnya mulai keluar.


“Kerakusan Yang Terdalam...”


Fei Chen mengarahkan telapak tangannya kearah langit dan dalam sekejap kegelapan masuk kedalam telapak tangannya. Dunia ilusi itu terlihat seperti diserap telapak tangan kanan Fei Chen sebelum akhirnya Fei Chen kembali berada di sekitar Reruntuhan Dewi Iblis.

__ADS_1


__ADS_2