
PPFC 315 - Fei Ren Dan Fei Huaran
Tak terasa lima bulan telah berlalu. Sebelum keberangkatannya menuju Kekaisaran Kai, Fei Chen menemani persalinan Ning Guang dan Liu Xianlin. Dari kedua wanita itu Fei Chen mendapatkan dua buah hati yang menggemaskan.
Ning Guang melahirkan bayi laki-laki mungil yang mewarisi ketampanan ayahnya dan tatapan tegas penuh siasat seperti ibunya, sedangkan Liu Xianlin melahirkan bayi perempuan imut yang mirip seperti Ibunya dengan mata yang sama seperti Fei Chen.
“Yuechan‘er, mulai sekarang kau memiliki seorang adik.” Su Xiulan yang sedang menggendong Fei Yuechan tersenyum bahagia saat melihat Ning Guang dan Liu Xianlin melahirkan anak mereka dengan selamat.
“Aku dan Kakak Mimi akan menyusul. Tetapi seperti suami kita tidak akan datang ke persalinan. Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu suamiku, aku akan melahirkan anak untukmu dengan selamat.” Ling Ye menanggapi dengan suara sedih mengingat gadis ini memiliki banyak jaringan informasi dan tentu saja dia mengetahui apa yang akan Fei Chen lakukan selama di Kekaisaran Kai.
Ling Ye sangat yakin Fei Chen tidak memiliki waktu untuk menjenguk kondisi mereka mengingat pertempuran melawan Kerajaan Binatang Buas sudah tidak dapat terhindarkan lagi.
Sementara Qiao Mi tersenyum bahagia melihat kedua bayi mungil yang menambah kebahagiaan keluarga besar Fei Chen ini.
“Yeye, kita harus saling mendukung. Beruntung kita semua yang berada disini mengerti kondisi Gege.” Qiao Mi tersenyum menyemangati Ling Ye dan menatap seluruh istri Fei Chen.
“Terimakasih karena telah mengerti.” Fei Chen berkata singkat namun bagi para istrinya perkataannya penuh makna.
Fei Chen memandang para istrinya lalu mendekat pada Ning Guang dan Liu Xianlin. Fei Chen sudah memikirkan nama untuk kedua anaknya yang baru lahir.
“Suami, anak kita laki-laki jadi kita sepakat bukan?” Ning Guang bertanya pada Fei Chen dan tersenyum lemas.
Fei Chen menganggukkan kepalanya lembut dan mengelus kepala Ning Guang. Pemandangan ini bagi Luo Rou, Qie Shie, Xhin Li Wei dan istri Fei Chen yang usianya empat puluh tahun terlihat aneh.
Fei Chen seperti pemuda tanggung yang sedang menenangkan wanita berumur. Mengingat bagaimana mereka jatuh hati dan memberikan semuanya kepada pemuda tanggung itu tentu saja membuat pipi mereka bersemu merah.
__ADS_1
“Aku akan memberikan nama Fei Ren untuk putraku. Lihatlah mata dan wajahnya memiliki perpaduanku denganmu, Guang‘er.” Fei Chen tersenyum hangat pada Ning Guang yang menggendong Fei Ren.
“Ren‘er, semoga kelak kau menjadi orang yang dapat diandalkan seperti Ayahmu.” Ning Guang kembali tersenyum bahagia setelah berkata demikian.
Lalu Fei Chen menatap Liu Xianlin yang juga menatap dirinya. Keduanya tersenyum hangat dengan sorot mata yang mengingat masa lalu. Tidak perah keduanya sangat akan menikah dan memiliki anak.
Dahulu Liu Xianlin selalu membopong dan membiarkan Fei Chen duduk di pangkuannya. Bagi Liu Xianlin sosok Fei Chen adalah adik dan seorang bocah yang sering dia jahili. Tetapi takdir mengatakan lain karena sosok adik dan bocah yang dia jahili justru menjadi suaminya.
Seiring berjalannya waktu Liu Xianlin mengakui perasaannya dan memberikannya segalanya kepada Fei Chen. Berbeda dari dulu dimana Fei Chen dibopong dan dipangku, sekarang justru Liu Xianlin yang selalu dibopong dan dipangku hingga akhirnya wanita itu mengandung anak pemuda yang merupakan adik dari mendianh tunangannya.
“Semuanya aku sudah membicarakan ini dengan Gege... Nama anak kami yang manis ini kami bernama nama Fei Huaran...” ujar Liu Xianlin dengan berlinang air mata karena merasa sangat bahagia bisa memiliki seorang anak dari Fei Chen.
“Lin‘er, dia terlihat cantik seperti Ibunya.” Fei Chen berkata lembut dan memegang pipi bayi mungil perempuan yang bernama Fei Huaran.
“Kau pandai menggoda Gege...” Liu Xianlin tertawa pelan.
“Kau ada-ada saja Shieshie. Tetapi ada benarnya karena aku tidak menyangka kita semua disini dengan umur yang berbeda dan sifat yang berbeda bisa akrab karena suami kita ini,” sahut Luo Rou dan membuat Fei Chen tersenyum kecut.
“Pria yang dapat diandalkan, suka merengek dan selalu memaksa.” Xi Taohua tertawa renyah disambut yang lainnya.
“Lihat Nona Min Yi dan Nona Lu Shin Rui kesulitan berjalan karena semalam mereka berdua yang mendapatkan jatah memonopoli suami kita.” Qie Shie menanggapi ucapan Xi Taohua.
Wajah Min Yi dan Lu Shin Rui memerah mengingat mereka berdua masih kelelahan dan kesulitan berjalan karena menjalankan tugasnya sebagai istri Fei Chen.
Fei Chen tersenyum kecut karena diledek para istrinya yang paruh baya. Dia tidak memungkiri jika sekarang dirinya merasa seperti pemuda atau anak kecil dimata mereka yang paruh baya dan dewasa, tetapi saat bergulat maka itu lain ceritanya.
__ADS_1
Suasana bahagia itu berakhir setelah Fei Chen memutuskan untuk berpamitan untuk meninggalkan Kekaisaran Ma sementara waktu dan melakukan penyusupan ke Kekaisaran Kai.
“Selama aku pergi jaga diri kalian baik-baik. Ingat janji yang pernah kita buat dan aku ingin kalian menjaga kehormatan kalian untukku.” Fei Chen menatap seluruh istrinya dan tersenyum hangat.
Su Xiulan menggeleng pelan dan berkata, “Suami, kau tidak perlu ragu kepada kami. Hati dan tubuh kami hanya untukmu. Kau sadar bukan karena mereka yang janda juga menyadari betapa hebatnya dirimu dan dapat diandalkannya dirimu.”
“Janda ya? Kaisar muda yang aneh tetapi aku menyukainya. Kau tidak perlu meragukan kesetiaan kami, Suami.” Qie Shie berkata dengan suara menggoda dan tersenyum manis.
“Hati-hati disana Chen‘er...” Xhin Li Wei tersenyum ramah dengan wajah keibuannya.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami karena setelah menjadi istrimu kami tidak akan tergoda pria lain. Yang harusnya khawatir adalah kami karena dirimu ini sangat memikat dan menarik perhatian wanita.” Xhin Li Wei menambahkan.
“Ucapan Nyonya Xhin benar. Kau tidak perlu khawatir pada kami Chen‘er.” Luo Rou menanggapi.
Fei Chen pun tersenyum mendengar ucapan para istrinya itu. Kemudian dia menatap Jia Li, Yin Jinxia, Murong Liuyu dan Long Xiaoya yang akan ikut dengannya ke Kekaisaran Kai setelah dirinya berhasil menyusup.
“Chenchen, jangan sampai membuat keributan sebelum perang puncak, apalagi sampai kegaduhan di tengah malam. Kami berempat akan menunggu disini.” Jia Li mencibir tingkah Fei Chen yang menarik perhatian wanita.
“Aku mengerti Lili. Kalau begitu, sampai jumpa.” Setelah berkata demikian, hembusan angin menerpa tubuh para istri Fei Chen bersamaan dengan hilangnya hawa keberadaan pemuda tersebut.
Akhirnya penyusupan ke Kekaisaran Kai dimulai dan pertempuran yang tidak terhindarkan akan terjadi. Apa yang menanti Fei Chen di Kekaisaran Kai?
Harapan atau keputusasaan, semua itu akan terjawab di babak selanjutnya. Saatnya kita memasuki babak baru dari kisah Perjalanan Pedang Fei Chen.
____
__ADS_1
ARC 9 - PEDANG SEMBILAN PETIR END