
PPFC 248 - Kutukan Ratu Neraka
[Gadis Racun Hijau, Umur 23 Tahun] [Sumber : Pinterest]
Ying Xie memperhatikan bagaimana Shu Zhui menggunakan kipasnya untuk menyerang Fei Chen. Lalu pandangannya beralih pada Fei Chen yang menciptakan pelindung tubuh dari tanah.
‘Jika diperhatikan mereka berdua mirip... Tatapan mata keduanya sama-sama dingin...’
Ying Xie membatin memperhatikan keduanya dengan seksama. Walaupun Shu Zhui berbakat dan memiliki kemampuan tinggi, namun tetap saja dihadapan Fei Chen semuanya tidak berarti.
Terlebih hembusan angin beracun yang dihirup Fei Chen tidak berpengaruh sama sekali. Tentu saja hal itu membuat Shu Zhui semakin frustasi karena pertarungan masih berlanjut.
‘Pemuda ini! Dia benar-benar meremehkanku!’ Shu Zhui mengumpat karena mengetahui Fei Chen belum menarik pedangnya.
Saat Shu Zhui hendak mengeluarkan seluruh kekuatannya tiba-tiba Fei Chen menghilang, lalu pemuda itu muncul di sampingnya dan memegang pundaknya.
“Cukup, perlawananmu tidak berguna...” Sedetik kemudian tubuh Shu Zhui membeku dan Fei Chen mengunci pergerakan gadis itu dengan es.
“Kau!” Shu Zhui menatap Fei Chen penuh kebencian dan segera Ying Xie menghentikan pertandingannya.
Berulang kali Shu Zhui memprotes dan ditenangkan oleh Ying Xie. Sedangkan Fei Chen menghela nafas panjang karena tidak menyangka akan ditatap Shu Zhui seperti itu.
“Siapa namamu?” Fei Chen bertanya kepada Shu Zhui.
“Namaku? Kurasa aku akan memberitahumu karena kau pemuda pikun!” Shu Zhui tersenyum mengejek dan diabaikan begitu saja oleh Fei Chen.
“Shu Zhui. Ingat itu itu dikepalamu!”
Alis Fei Chen mengkerut mendengar nama gadis tersebut. Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari dalam Ruang Raja dan menunjukkannya pada Shu Zhui.
“Ayahmu bernama Shu En bukan? Dia menitipkan sesuatu padaku.”
Kali ini giliran Shu Zhui yang mengerutkan keningnya. Gadis itu menatap tajam Fei Chen yang memperlihatkan kalung peninggalan mendiang Ibunya.
“Bagaimana bisa kalung itu ada padamu? Apa yang kau lakukan-”
__ADS_1
“Kau sungguh berbeda dengan Kakek Shu. Kita tidak pernah bertemu sebelumnya, aku sangat yakin dengan itu. Tetapi kau terlihat begitu membenciku.” Fei Chen menggenggam kalung milik mendiang Ibu Shu Zhui dan tersenyum tipis.
Shu Zhui mencibir, “Jelas aku membencimu! Kau adalah lelaki yang gemar memainkan perasaan perempuan! Dan aku tidak ingin Ratu jatuh ketanganmu!”
“Sini berikan kalung itu padaku!” Shu Zhui merebut kalung milik mendiang Ibunya lalu pergi meninggalkan Fei Chen dan Ying Xie.
“Ada apa dengannya? Aku sendiri harus melewati semua itu karena kutukanku...” Fei Chen mendecakkan lidahnya karena merasa kesal.
Ying Xie menghela nafas panjang karena pertengkaran Fei Chen dan Shu Zhui barusan.
“Zhui‘er bertindak seperti itu karena memiliki alasan tersendiri jadi kau jangan berprasangka buruk padanya Chen‘er,” ujar Ying Xie.
Fei Chen melirik Ying Xie dan menghela nafas.
“Guru, sepertinya Shu Zhui sudah-”
“Panggil dia Senior Shu atau Senior Zhui. Bagaimanapun dia lebih tua darimu Chen‘er. Dan kalian berdua adalah saudara seperguruan,” potong Ying Xie sebelum Fei Chen menyelesaikan perkataannya.
“Baiklah Guru, tetapi bukankah Senior Zhui sudah menganggapmu sebagai Ibunya sendiri?”
“Ada apa Chen‘er?” Ying Xie bertanya.
“Tidak, Guru.” Fei Chen tidak menyangka Hua Ying adalah murid Ying Xie terlebih Shu Zhui adalah gadis yang memberikan Hua Ying racun.
“Kebetulan yang tidak terduga...” gumam Fei Chen sebelum mendengarkan Ying Xie bercerita mengenai Hua Ying dan Shu Zhui.
____
“Chen‘er, kau lebih cepat memahami dari yang aku kira. Mengingat identitasmu sebagai Raja Neraka, bisa kau jujur kepadaku mengenai umurmu?”
Setelah mengetahui tujuan Fei Chen yang sesuai dengan tujuannya, Ying Xie melatih Fei Chen untuk menguasai Aura Raja Neraka secara sempurna sebelum membuka Aura Dewa.
“Umurku? Bukankah aku pernah memberitahu sebelumya Guru? Aku berumur tujuh belas tahun.” Fei Chen menjawab dengan santai walaupun ekspresi Ying Xie tidak percaya.
“Tidak, kami yang disebut Raja Iblis Agung berumur ratusan tahun walaupun memiliki wujud muda.” Ying Xie menolak jawaban Fei Chen.
“Hmmm, aku bukanlah Raja Iblis Agung. Istriku juga memiliki umur hingga seratus tahun lebih namun memiliki wujud seperti wanita berumur tiga puluhan tahun,” jawab Fei Chen kembali.
__ADS_1
“Istri? Seratus tahun? Katakan padaku Chen‘er mengenai istrimu itu?” Ying Xie menatap tajam Fei Chen dan menuntut penjelasan.
Akhirnya Fei Chen menceritakan tentang Su Xiulan dan itu membuat Ying Xie menahan nafas karena tidak menyangka sosok seperti Su Xiulan menjadi istri Fei Chen.
‘Bocah ini misterius dan berkharisma. Dewi Kematian menjadi istrinya, selain itu Su Xiulan ini memiliki kepribadian lain yakin Dewi Iblis Mao Ruyue.’ Ying Xie membatin mengingat cerita Fei Chen mengenai kondisi Su Xiulan sekarang.
“Guru, aku ingin Xiu‘er hidup layaknya wanita biasa. Aku mengerti tentang bahayanya proses persalinan yang akan dia alami. Maka dari itu aku sudua bersiap memberikan segalanya,” ucap Fei Chen.
Ying Xie tersenyum tipis mendengar ucapan Fei Chen lalu mengelus kepala pemuda itu.
“Kutukan Raja Neraka milikmu itu, kau terlihat tidak merasa terbebani sedangkan aku selama ini berusaha mematahkan kutukanku justru dibuat tercengang olehmu.” Ying Xie berhenti mengelus kepala Fei Chen setelah mengatakan itu.
“Maksud Guru?”
“Kutukan Ratu Neraka milikku akan patah jika aku dan Raja Neraka saling mencintai. Konyol bukan?”
Mendengar pengakuan Ying Xie, Fei Chen tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
“Itu tidak konyol Guru. Kita tidak menginginkan ini, tetapi takdir memaksa kita seperti ini,” ujar Fei Chen.
“Sebaiknya kita berdua mencari cara untuk mengatasi Mao Ruyue. Sebentar lagi istrimu akan melahirkan bukan?” Ying Xie berjalan menuju Istana Langit Biru setelah mengatakan itu dan Fei Chen mengikutinya dari belakang.
“Ikut aku,” perintah Ying Xie sembari melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Fei Chen penasaran dan hanya mengikuti perintah Ying Xie.
‘Aneh, apa karena kondisi kami sama. Aku merasa kita sudah mengenal sejak lama, tetapi ini berbeda dengan Xiu‘er. Aku merasa seperti seorang adik... Tidak, anak dimata Guru...’ batin Fei Chen sambil menghela nafas panjang saat melewati ruang makan dan menemukan Shu Zhui yang sedang minum teh hangat.
Gadis itu menatap dirinya sinis.
‘Ada masalah apa dia denganku sampai begitu membenciku?’ Fei Chen kembali membatin menanggapi sikap Shu Zhui.
Akhirnya dia sampai didepan kamar Ying Xie.
“Mari masuk, Chen‘er.”
Fei Chen menelan ludah mendengar ajakan Ying Xie. Lalu masuk kedalam kamar wanita berambut putih tersebut.
__ADS_1