
PPFC 228 - Kehangatan
[Luo Rou, Sang Dewi Bulan, Umur 40 Tahun] [Sumber : Pinterest]
Perjalanan dari Kota Huafei menuju Benteng Lembah Pedang membutuhkan waktu seharian penuh untuk Fei Chen yang mengendarai Phoenix Es.
“Fengxue, turunkan aku disana. Kau terlalu mencolok dengan salju yang berjatuhan di sekitarmu,” ujar Fei Chen sambil memperhatikan sekitarnya yang bersalju.
Fenomena tersebut karena kepakan sayap Phoenix Es dan hawa dingin yang keluar dari tubuhnya. Kejadian ini secara alami bukan disengaja oleh Phoenix Es bernama Fengxue.
“Baik, Tuanku. Tetapi aku khawatir karena kau belum bisa menggunakan Qi dalam tubuhmu.” Fengxue menjawab dengan nada khawatir yang mana membuat Fei Chen menatapnya dingin.
“Aku masih memiliki kalian. Jika terjadi sesuatu diluar kehendakku, maka aku akan memanggil kalian.”
Setelah itu Fengxue terbang rendah dan menurunkan Fei Chen beberapa kilometer dari gerbang masuk Benteng Lembah Pedang.
“Semoga keberuntungan menyertaimu, Tuanku.” Setelah berkata demikian, tubuh Fengxue seperti pecah dan hancur menjadi serpihan salju.
Sementara itu Fei Chen melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki dan disambut hangat oleh para anggota Benteng Lembah Pedang.
“Memberi hormat kepada Patriark Fei!”
Kedatangan Fei Chen tentu saja disambut anggota Benteng Lembah Pedang yang merupakan anggota Istana Naga Neraka Terdalam.
Fei Chen tersenyum tipis dan membalas lambaian tangan para pendekar dan penduduk Benteng Lembah Pedang.
Hanya dalam sekejap rumor kedatangan Fei Chen menyebar membuat Fei Chen langsung bertemu dengan Jia Li yang sedang membicarakan sesuatu dengan Luo Rou.
“Chenchen!” Walaupun telah menjadi suami istri, baik Fei Chen ataupun Jia Li tetap memanggil nama masing-masing seperti saat mereka kecil.
“Sepertinya kau sangat bahagia Lili...” Fei Chen membalas pelukan Jia Li singkat.
“Chenchen, aku baru saja membicarakan hal yang serius dengan Bibi Luo. Kau tahu, kemarin Bibi Hong dilamar oleh teman masa kecilnya.” Jia Li tersenyum manis sambil membicarakan tentang bagaimana Hong Zi Ran menerima lamaran dari pria bernama Ji Guang Kang.
“Aku merasa sedih saat melihat Bibi Hong melamun sendirian. Dia selalu menatap ke bulan dengan wajah putus asa... Aku harap Bibi Hong bahagia.”
Fei Chen hanya diam mendengarkan cerita Jia Li sebelum akhirnya dirinya sampai di Aula Pedang Bunga dirinya disambut wanita cantik berusia empat puluh tahun yang tidak lain adalah Luo Rou.
__ADS_1
“Bibi Luo, Chenchen berkunjung kemari. Padahal beberapa hari lalu dia mengatakan akan mengurus sesuatu dengan Paman Yin. Dasar pembohong. Aku bisa menebak jika dalam setiap perjalanannya, dia akan membawa pulang calon istri baru.” Jia Li langsung mengeluh sambil memeluk Luo Rou layaknya anak kecil.
“Hihi... Li‘er, kau sama sekali tidak berubah ya.” Luo Rou mengelus kepala Jia Li sebelum tersenyum manis kepada Fei Chen.
“Didapur ada makanan sup kesukaanmu, Chen‘er. Makan setelah itu bergabung dengan kami.”
Fei Chen tersenyum tipis dan segera masuk kedalam Aula Pedang Bunga. Sementara Fei Chen menikmati masakan buatan Luo Rou, di teras terlihat Jia Li hendak berpamitan untuk kembali ke Kekaisaran Jia.
“Dengan portal teleportasi, aku bisa datang kemari Bibi. Tetapi semua ini sangat menguras tenaga dan aku hanya bisa menggunakannya sekali dalam sehari,” ucap Jia Li.
Luo Rou yang mendengar cerita Jia Li tentang bagaimana perjuangan gadis itu mengurus pemerintahan Kekaisaran Jia hanya bisa memberikan kalimat penyemangat.
Namun saat Jia Li menceritakan tentang dirinya yang dapat menggunakan Portal Teleportasi, seketika Luo Rou tertarik untuk berlatih menggunakan teknik tersebut.
“Li‘er, bisa ajarkan Bibi teknik itu?”
Ketertarikan itu membuat Luo Rou bertanya kepada Jia Li namun Jia Li terlihat kesulitan untuk menjelaskan.
‘Aku tidak mungkin mengatakan kepada Bibi Luo jika untuk menguasai tersebut harus melakukan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang dengan Chenchen...’ Batin Jia Li penuh kebingungan mengingat bagaimana keuntungan yang didapat dirinya saat melakukan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang dengan Fei Chen.
Luo Rou heran dan kembali bertanya karena sedari tadi Jia Li terdiam.
“Ada apa Li‘er? Apa kau tidak mau mengajari Bibi?”
Luo Rou tertawa lirih dan mengalihkan pembicaraan karena merasa heran dengan ekspresi Jia Li yang bersemu merah.
“Apa yang sedang kau bicarakan dengan Bibi, Lili?”
Saat Luo Rou dan Jia Li mengobrol, Fei Chen menghampiri keduanya dan duduk di teras. Suasana hangat itu membuat Luo Rou tersenyum bahagia begitu juga dengan Jia Li dan Fei Chen.
Luo Rou menceritakan kepada Fei Chen dan Jia Li jika dirinya akan pergi ke suatu tempat untuk mengambil peninggalan Ibunya. Dan Fei Chen memutuskan untuk ikut dalam perjalanan Luo Rou.
Mereka bertiga akhirnya membicarakan tentang kehamilan Liu Xianlin dan Ning Guang. Luo Rou sendiri tidak sabar melihat anak Fei Chen.
Hingga akhirnya Jia Li memutuskan untuk kembali ke Kekaisaran Jia namun Fei Chen menahannya.
“Lili, Suamimu datang kemari kau justru pergi.” Fei Chen menegur Jia Li karena tiba-tiba gadis tersebut ingin kembali ke Kekaisaran Jia melalui Portal Teleportasi.
“Baiklah, aku akan menginap semalam lagi.” Jia Li tersenyum manis dan mencubit perut Fei Chen.
__ADS_1
“Chen‘er, Bibi akan pergi bersama seorang teman, jadi tidak perlu menemani Bibi,” ucap Luo Rou kepada Fei Chen.
“Tidak, Bibi Luo. Kau mengatakan padaku jika kau memiliki tubuh khusus bukan? Banyak pria diluar sana yang mengincar dirimu, jadi biarkan aku melindungimu.”
Jawaban Fei Chen membuat Luo Rou tercengang sedangkan Jia Li tersenyum tipis.
“Chenchen, kau mulai berani menggoda Bibi Luo di hadapan istrimu yang berada di urutan ketiga ini! Dasar buaya sialan!” Jia Li nampak emosi dan mencubit perut Fei Chen kembali.
“Bukan begitu...” Fei Chen melihat Luo Rou yang tertawa lirih dan menganggapnya seperti anak kecil.
Akhirnya malam itu Fei Chen tidak mendapatkan izin dari Luo Rou untuk menemaninya.
Saat ini Fei Chen berada didalam kamar yang ada di Aula Pedang Bunga. Dia sekamar dengan Jia Li dan keduanya melakukan Teknik Dunia Jiwa Yin Yang hingga tengah malam tiba.
Indera Luo Rou semakin menajam saat malam hari karena tubuh istimewanya dan membuat wanita itu mendengar jelas suara-suara indah yang dilakukan Fei Chen dengan Jia Li.
Sebagai wanita normal, Luo Rou ingin menikah dan memiliki seorang anak, namun dirinya terjebak masa lalu dengan pujaan hatinya yang telah lama tiada.
Saat pagi tiba, Jia Li berpamitan dengan Luo Rou. Terlihat gadis itu kesusahan berjalan bahkan berulang kali meringis saat berjalan cepat.
“Chenchen, kau sudah dewasa ya...” Luo Rou memerah wajahnya dan melirik Fei Chen yang berdiri disampingnya menyaksikan kepergian Jia Li.
“Bibi, apa dimatamu aku tetaplah seorang anak kecil?” Fei Chen bertanya untuk memastikan.
“Dimataku kau tetaplah Chen‘er. Bibi sudah menganggapmu sebagai seorang anak begitu juga dengan Lili.”
Jawaban Luo Rou membuat Fei Chen terdiam. Ekspresi kecewa terpancar diwajah dingin pemuda itu dan membuat elusan tangan Luo Rou dikepala Fei Chen berhenti.
“Ada apa Chen‘er? Kenapa kau menatap dingin Bibi?” Luo Rou mencubit pipi Fei Chen gemas lalu berpamitan.
“Tidak apa, Bibi.” Fei Chen menjawab singkat.
“Baiklah, Bibi pergi dulu.”
Tanpa menjawab, Fei Chen menatap Luo Rou yang pergi menjauh.
“Deshe, keluarlah dan ikuti mereka.”
Fei Chen kembali kedalam Aula Pedang Bunga dan membiarkan Ular Bumi yang mengubah wujudnya menjadi bentuk yang kecil mengikuti Luo Rou pergi.
__ADS_1
“Aku akan memastikan mereka berdua tidak menyadari hawa keberadaanku, Tuanku.”
Luo Rou dan teman perjalanannya yang tidak lain adalah Qie Shie tidak menyadari sama sekali jika mereka berdua telah diikuti oleh seekor ular kecil.