Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 10 - Kota Ding Yang


__ADS_3

Jika waktu terus berjalan, berarti masih ada kesempatan untukmu.


***


Butuh waktu tiga jam untuk sampai ke kota Ding Yang, tempat tujuan Xiao dan Chan. Kala itu keduanya berjalan dengan beriringan. Mereka melangkahkan kaki menuju tempat makan, dikarenakan rasa lapar yang sudah tidak tertahankan.


Setelah lama berkeliling, Xiao dan Chan pun tiba di rumah makan yang menarik perhatian mereka. Tanpa berpikir lama, keduanya langsung duduk di meja makan yang masih kosong.


"Xiao, pesan mie wonton saja ya, kita tidak boleh boros!" ucap Chan dengan raut wajah serius.


"Tapi aku lapar, butuh makanan yang lainnya!" Xiao memutar bola matanya.


"Idih! udah pakai duit orang, tinggal di rumah orang juga!" gerutu Chan menatap tajam pada lelaki yang duduk di hadapannya.


"Oke, kamu mau bayaran apa dariku? ciuman?" ujar Xiao seraya mendekatkan wajahnya pada Chan. Hal itu sontak membuat kedua pipi sang gadis langsung memerah. Pupil mata Chan membesar, karena menatap bibir Xiao yang berwarna merah muda alami.


"Hmm... sepertinya kau-tertarik!" sambung Xiao, yang semakin mendekatkan wajahnya.


"Xi-xi-xiao... hentikan! aku tidak akan tergoda dengan hal begituan!" Chan mendorong paksa wajah Xiao. Dahinya tampak mengernyit. Dia berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.


"Padahal tadi matamu menatap bibirku lekat kan? haha!" goda Xiao dengan kekeh menjengkelkannya.


"Mas! pesan mie wontonnya dua!" Chan sengaja mengalihkan pembicaraan, dengan cara memesan makanan pada pelayan.


"Hedeh! ternyata kau-menggemaskan juga!" Xiao menempatkan seluruh atensinya pada Chan.


***


"Selamat menikmati..." sapa pelayan ramah sembari meletakkan dua porsi mie wonton di meja Xiao dan Chan.



"Wah... enaknya!" pekik Chan pelan, yang terpana dengan aroma dan tampilan mie wonton. Sedangkan Xiao sudah menyeruput mie-nya tanpa banyak bicara.


"Xiao, kelihatannya kau-sudah terbiasa ya, melihat makhluk gaib?" tanya Chan sambil menelan pelan mie-nya lewat tenggorokan.


"Mungkin... akhir-akhir ini aku tidak melihat makhluk yang menyeramkan, jadi biasa saja. Toh mereka juga bersikap tidak peduli," sahut Xiao sembari memutar sumpitnya untuk mengaitkan mie lebih banyak.

__ADS_1


"Iya, mereka akan bersikap tidak peduli, jika mereka tidak tahu kalau kamu bisa melihat... tuh ada satu di belakangmu!" ujar Chan santai, menatap ke arah belakang Xiao.


Alhasil Xiao pun ikut memalingkan wajah ke belakang. Benar saja, ada hantu lelaki berlumuran darah sedang berdiri menatap ke arah salah satu pelayan.


"Sepertinya pelayan itu istrinya..." tebak Chan.


"Sudah ah! jangan ikut campur!... hidup kita aja udah rumit, malah mau masuk ke hidup orang yang juga berantakan, merepotkan!" celetuk Xiao, tanpa perasaan iba sedikit pun.


"Dasar anak psikopat!" Chan menggertakkan giginya.


"Terserah! itu memang kenyataan kok!... jujur saja, aku sempat bercita-cita bisa membunuh seribu manusia!" Xiao menyilangkan tangan di dada dengan angkuhnya.


"Ih! aku merinding! jadi mau kabur saja darimu!" Chan mengernyitkan dahi seraya menggidikkan bahunya.


"Lah... aku bercanda kok..." ucap Xiao dengan ekspresi datar.


"Kalau suatu hari kau tiba-tiba menyerangku. Maka saat aku jadi hantu, diri ini tidak akan segan-segan membunuhmu dengan lebih kejam!" geram Chan dengan raut wajah yang mengancam.


"Haha! kalau nggak jadi hantu gimana dong?" balas Xiao tak acuh.


"Nih makan tuh hantu!" Xiao menyumpal pangsit ke mulut Chan dengan tiba-tiba. Gadis berambut hitam pekat tersebut langsung terdiam seribu bahasa.


"Oh! ngomong-ngomong soal misi yang kau-bicarakan tempo hari..." kata Xiao yang langsung mengubah ekspresinya menjadi serius.


"Apa?... kamu sudah memutuskan?" tanya Chan penasaran sembari mengunyah pangsit yang disodorkan Xiao padanya.


"Aku memutuskan ikut ke perkumpulan, lagi pula aku sedang tidak punya tujuan lain selain ke sana!" Xiao menundukkan kepala.


"Aku sudah menduga dari awal, kau-akan setuju!" Chan mengukir senyuman diwajahnya.


"Tapi... ada yang harus kita lakukan sebelum itu," sambung Chan lagi.


"Apa?"


"Uang! kita butuh biaya untuk pergi ke pulau itu!"


"Mengenai uang, aku punya ide! tapi... ide-nya cukup ekstrem!"

__ADS_1


Chan mendengus kencang dan bertanya, "Ide apa?"


"Kita harus sekolah lagi!" ucap Xiao dengan seringainya, yang sontak membuat Chan langsung menatapnya bingung.


Xiao memilih kota Ding Yang sebagai tempat tujuan bukan tanpa alasan. Dia tahu betul dirinya dan Chan memiliki simpanan uang yang terus menipis. Sehingga Xiao pun berencana sekolah lagi untuk mencari seorang lelaki bernama Shuwan Tao.


Sebab itulah dari awal Xiao ingin mengubah penampilan dirinya dan Chan agar lebih mudah melakukan aksinya. Sekarang keduanya tengah berada di sebuah salon kumuh di kota Ding Yang.


"Tolong warnai rambutku menjadi pirang!" titah Xiao seraya menatap pantulan dirinya di cermin. Tukang cukur berkumis tebal itu pun segera beraksi.


"Aku mau beli rok-nya!" di sisi lain Chan lebih memilih mengubah gaya pakaiannya dibanding harus mengutak-atik rambutnya. Gadis yang selalu terlihat tomboy itu berniat mengubah dirinya menjadi lebih feminin.


***


Di tengah hiruk pikuknya kota Ding Yang, terdapat sebuah rumah mewah yang berada tidak jauh dari taman kota. Rumah itu bagaikan istana, dengan tampilan bergaya eropa klasik membuktikan seberapa kaya-nya pemilik rumah tersebut.


Keluarga Tao, dikenal sebagai pebisnis tersukses di Hongkong. Perusahaan milik mereka menempati urutan ke-3 sebagai salah satu usaha bisnis tersukses. Meskipun begitu keluarga Tao memiliki seorang putra tunggal yang sering bikin ulah.


Shuwan Tao, terkenal akan kenakalannya baik di rumah maupun di sekolah. Putra yang digadang-gadang akan menjadi ahli waris itu, kelakuannya semakin menjadi-jadi.


***


BRAK!


Seorang lelaki berperawakan jangkung memukul keras tangannya ke meja. Raut wajahnya tampak memerah, disertai dengan urat leher yang menegang. Matanya melotot ke arah lelaki bertubuh kekar yang tengah menunduk hormat kepadanya.


"Sialan! dasar tidak berguna!... bagaimana seorang lelaki dewasa sepertimu bisa kalah dengan dua anak remaja pecicilan!!! apa yang kalian lakukan sampai bisa lengah begitu! hah?!" lelaki itu sekarang melemparkan semua barang di mejanya. "Sialaaan!!!" sumpah serapah terus memenuhi mulutnya.


"Maaf tuan Hongli!... aku lengah karena melihat wanita menyeramkan tiba-tiba muncul dari depan, a-a-aku rasa i-i-itu setan..." ujar lelaki bertubuh kekar, yang sering dipanggil dengan nama Feng itu.


"Apa?... dasar bodoh!!! kita kehilangan Xiao, karena ketidak becusanmu! dasar preman kampret!" pekik Hongli yang semakin naik pitam.


"Kami berjanji akan berusaha mencari Xiao sebisa mungkin tuan Hongli!" Feng mencoba kembali memberanikan diri untuk berbicara. Ketua dari salah satu ganster tersebut terlihat meringis, karena masih menahan rasa sakit disekujur tubuhnya, akibat kecelakaan yang telah menimpa dirinya.


Hongli terlihat menggelengkan kepala dengan raut wajah masamnya dan berucap, "Aku akan beri waktu tiga hari, kalau tidak... aku akan mencincang tubuhmu menjadi beberapa bagian. Lalu memberikannya pada anak dan istrimu!"


Catatan : Kota Ding Yang adalah karangan penulis, tidak nyata adanya.

__ADS_1


__ADS_2