
Setiap orang selalu punya sisi jahat dan baik dalam dirinya.
...-----...
[Flashback On]
Ketika semua orang tengah ribut menemukan jasad Pak Lim, Xiao sengaja tidak ikut berkumpul. Dia menunggu waktu yang tepat untuk mengambil darah.
"Lebih baik tunggu sampai semua orang dibubarkan." Devgan menyarankan.
"Aku tahu, kau pikir aku bodoh!" sahut Xiao dengan dahi yang berkerut. "Sialan Lien! kenapa dia memilih Pak Lim!" gerutunya.
"Bukankah yang penting dia sudah membunuh orang dewasa?" timpal Devgan sambil tersenyum puas. Namun Xiao hanya merespon dengan gelengan kepala dan ringisan wajahnya.
Setelah suasana terlihat sepi, Xiao mengambil peluang tersebut untuk mendekati jasad Pak Lim. Dia sekarang berdiri tepat di bawah tiang bendera, tepat dimana mayat Pak Lim masih tersendat. Polisi dan ambulan sendiri masih dalam perjalanan menuju sekolah. Entah apa yang membuat mereka terlalu lama datang ke lokasi kejadian.
"Sekarang bagaimana?" tanya Xiao yang bingung.
"Sentuh saja darahnya!" Lien mendadak muncul dari belakang Xiao.
"Hanya begitu?" Xiao meragu.
"Itulah mudahnya jika mau bekerjasama denganku. Aku bahkan melindungimu dari penglihatan semua orang sekarang." Lien mengukir senyuman miring sembari menyilangkan tangan di dada.
Xiao hanya memutar bola mata malas, kemudian melakukan apa yang Lien suruh kepadanya. Dia menyentuh linangan darah yang ada di bawah tiang bendera.
Begitu jari telunjuk Xiao menyentuh darah Pak Lim, cairan merah nan kental itu langsung terserap ke badannya. Tidak secara perlahan, tetapi dengan cara yang begitu cepat. Layaknya sebuah busa yang menyerap air.
Devgan memejamkan matanya karena terlalu menikmati energi yang masuk ke dalam tubuhnya. Seketika badannya menjadi bertambah besar.
Xiao tertegun, iris matanya berubah menjadi merah untuk beberapa saat. Dia merasa lebih segar dan bersemangat.
"Bagaimana? aku yakin kau menyukainya," ujar Lien tersenyum, seraya saling bertukar pandang dengan Devgan. Seolah keduanya tengah merahasiakan sesuatu dari Xiao.
[Flashback Off]
...-----...
Xiao dan Chan sudah berada di dalam rumah. Chan pun segera berbalik badan dan menatap ke arah Xiao yang sedang berdiri di belakangnya.
"Xiao, apa yang dia katakan kepadamu?" tanya Chan.
"Tidak ada. Dia hanya mengatakan bahwa dia berhasil memergoki kita sedang bermesraan." Xiao mendekatkan wajahnya. Dia juga tidak lupa untuk tersenyum tipis.
"Xiao, jangan coba-coba memulai!" Chan mendorong Xiao menjauh sambil menghela nafas panjang. Dia kemudian melayangkan pantatnya ke sebuah kursi.
__ADS_1
"Benarkah dia ibumu?" Xiao ikut mendudukkan diri. Dia memposisikan dirinya duduk di samping Chan.
"Menurutmu? apakah kami mirip?" Xiao menatap penuh tanya.
"Biar aku tanya dahulu, apa ibumu itu seorang pelac*r? dilihat dari gayanya, dia. . ."
"Iya Xiao, karena itulah aku tidak tahu siapa ayahku." Chan menyahut lebih dahulu sebelum Xiao sempat menyelesaikan kalimatnya. Chan sekarang menunjukkan raut wajah sendunya.
"Chan, jangan pikirkan perkataan ibumu tadi. Kau sangat berbeda darinya." Xiao memegangi dagu Chan lembut. Dia mengarahkannya agar dapat saling bertatapan dengan kekasihnya tersebut.
"Begitukah menurutmu? kau tidak menganggapku gadis murahan?" Chan menatap serius.
"Kau begitu karena aku kan? kau bahkan hanya pernah melakukannya denganku." balas Xiao. "Tetapi aku senang sekarang, karena mengetahui dirimu bukanlah gadis sebaik yang ku-kira," tambahnya. Hingga berhasil membuat Chan tersinggung dan melayangkan cap lima jari ke pipinya.
Plak!
Xiao terlihat santai menerimanya. Pukulan tangan Chan seperti sentuhan sehelai daun yang terjatuh ke pipinya.
"Apa maksudmu bukan gadis baik?!" Chan mengangkat dagunya sekali.
"Maksudku, bukan gadis polos yang memiliki orang tua dan kehidupan baik. Aku rasa kita sama Chan, ditakdirkan untuk hidup di dalam sisi gelap dunia ini." Xiao menjelaskan. Chan yang mendengar hanya terdiam, seakan membetulkan penuturan yang dilontarkan Xiao.
"Mengenai pernikahan, aku bersungguh-sungguh!" ucap Xiao lagi. Dia mengharuskan Chan membulatkan mata.
"Xiao, jangan bercanda! kita baru tujuh belas tahun!" sergah Chan yang tak percaya.
"Bukan begitu, hanya saja ini terlalu cepat bagiku." Chan menerangkan seraya memegangi area dadanya.
"Kalau begitu, kau berarti menyuruhku untuk mencari gadis lain," timpal Xiao, yang sontak membuat Chan kembali melebarkan mata.
"Tidak!" tegas Chan, tangannya reflek menggenggam lengan Xiao. "Aku hanya mengkhawatirkan sekolah kita," sambungnya, berterus terang.
Xiao tersenyum tipis dan berucap, "Bukankah sebentar lagi ujian? kita sebentar lagi lulus. Toh itu kan tujuanmu bersekolah, karena ingin belajar sebentar saja."
"Siapa bilang! aku hanya memanfaatkan waktu yang tersisa. Aku tak ingin menyia-nyiakannya begitu saja, bukankah kau juga begitu?" sahut Chan dengan wajah cemberutnya.
"Aku sekolah karena dipaksa ibuku. Tidak ada alasan lain!" Xiao bangkit dari tempat duduknya.
"Ayo tidur, besok aku akan membawamu ke markas." Xiao berjalan menuju kamar, namun tiba-tiba menghentikan langkahnya dan kembali berkata, "Atau kau mau pergi sekarang?"
"Besok saja!" jawab Chan. Xiao hanya menganggukkan kepala, lalu melanjutkan pergerakan kakinya.
Chan terdiam sendirian. Dia memikirkan tawaran Xiao yang diberikan kepadanya. Sebenarnya gadis itu merasa sangat senang dengan keseriusan Xiao. Akan tetapi yang menyebabkan Chan resah adalah mengenai warisan Hongli. Chan tahu betul, kalau kedua orang tua Xiao mempunyai bisnis terlarang. Bagaimana bisa dirinya menghadapi hal tersebut?
'Mungkin aku harus mencoba terlebih dahulu. Bisa jadi, aku bisa membuat Xiao berubah. Toh aku tidak ingin kehilangannya lagi.' Chan meyakinkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Keesokan harinya, Xiao dan Chan bersiap untuk pergi ke markas. Xiao sudah menghubungi Feng untuk segera menjemputnya. Sekarang mereka hanya tinggal menunggu.
Chan tengah berdiri di depan teras rumah sembari memasukkan kedua tangan ke saku jaketnya. Dia berusaha menenangkan diri sebelum bertemu dengan Yenn, yang mungkin saja akan kembali mencoba membunuhnya lagi.
Xiao baru saja keluar dari rumah. Diwajahnya kembali terdapat kantong mata, karena jujur saja mimpi buruk terus menghantuinya. Meskipun begitu, tangannya segera digerakkan untuk memeluk Chan dari belakang. Lelaki itu kembali menghirup aroma badan yang begitu disukainya.
Chan hanya membeku, seolah pasrah dengan apa yang akan dilakukan kekasihnya. Dia hanya memejamkan mata. Badannya seketika merinding kala Xiao membenamkan wajah ke lehernya.
Sebuah mobil perlahan berhenti di depan rumah Chan. Di dalamnya ternyata ada Brian dan Al. Mereka sengaja mengambil alih pekerjaan Feng, demi memastikan hubungan Xiao dan Chan.
"Sudah ku-bilang kan, mereka kembali bersama!" ujar Al sambil memperhatikan Xiao dan Chan yang asyik bermesraan.
"Aku rasa rencana kita berhasil!" balas Brian. Dia tertawa kecil.
"Ugh! tetapi aku rasa mereka berdua akan menyebalkan!" Al meringiskan wajah, dia tidak ingin terlalu lama menyaksikan orang yang bermesraan.
"Bilang saja kau iri, haha!" Brian mentertawakan Al. Dia langsung mendapatkan pelototan dari gadis yang duduk di sebelahnya.
"Iri kenapa? memangnya kau tidak kesal dengan dua sejoli yang dimabuk cinta. Berada disekitar mereka akan terasa menyebalkan!" Al menegaskan.
"Kau benar. Lebih baik kita panggil mereka sekarang!" kata Brian, lalu membuka pintu mobilnya. Dia segera bersuara lantang, "Ehhm! lihat siapa yang datang!"
Teguran Brian berhasil membuat Xiao dan Chan berhenti dari kegiatannya. Keduanya segera menoleh ke sumber suara.
Terlihatlah Brian dan Al sudah keluar dari mobil. Mereka menyapa dengan senyuman angkuh.
...-----...
[Epilog Spesial Bab 91]
Saat Feng hendak memasuki mobilnya untuk menjemput Xiao, Brian tiba-tiba mendatanginya.
"Feng! biarkan aku saja yang menjemput Xiao!" ujar Brian seraya memegangi pundak Feng. Namun Feng malah membalasnya dengan tatapan sinis. Kehadiran Brian yang terbilang masih baru di Klan Wong memang belum begitu diterima sepenuhnya.
"Tidak usah! Yenn sudah menugaskanku untuk melakukan ini!" sahut Feng tegas.
Brian yang merasa tidak mampu lagi membujuk Feng, akhirnya menjalankan rencana cadangan. Dia memberikan sinyal kepada Al yang ternyata sedari tadi bersembunyi. Tanpa pikir panjang, Al pun bergegas menghampiri Brian dan Feng.
"Feng!" Al memegangi lengan Feng lembut. Dia menampakkan ekspresi sedihnya. Feng pun otomatis menatap ke arahnya.
"Aku mohon Feng, biarkan Brian dan aku yang menjemput Xiao. Aku ingin bertemu langsung dengannya, aku ingin meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara diriku dan Xiao. . ." Al berusaha mengeluarkan air matanya, agar mampu membuat Feng iba.
Feng memang dikenal tidak kuasa melihat penderitaan perempuan dan anak kecil. Meskipun ia seorang gangster, Feng tetap memiliki hati nurani.
Terdapat insiden menghebohkan yang pernah terjadi di markas Klan Wong. Feng pernah diam-diam melepaskan seorang tawanan wanita. Karena hal itu, dia mendapatkan hukuman dari Hongli. Yaitu dengan memperpanjang masa kontraknya untuk melayani Klan Wong. Feng sebenarnya hanya orang yang kebetulan terjebak dengan bisnis ilegal keluarga Wong. Dia melakukannya demi menjaga keselamatan istri dan putrinya.
__ADS_1
"Kumohon Feng!" Al semakin menambahkan aura sedih di semburat wajahnya. Hingga membuat Feng terdiam dan tanpa diduga menyerahkan kunci mobil kepada Brian.