
Waktu terus berjalan, dan semuanya semakin terjelaskan.
***
Brak!
Xiao menghempaskan pintu, penglihatannya langsung disambut dengan seorang lelaki yang mengukir seringai. Dialah Brian, yang memiliki perawakan jangkung dan berkulit putih, jelas sekali bahwa dirinya bukan bagian dari penduduk lokal. Lelaki itu menatap tajam ke arah Xiao, dan perlahan mendekat.
"Katakan padaku dimana Jonas?" Brian mencengkeram kerah baju Xiao.
"Bukankah kau seorang cenayang? masa kau masih belum tahu keadaannya?" ujar Xiao yang tidak merasa ciut sedikit pun. Brian yang mendengarnya semakin menguatkan cengkeraman sambil menggertakkan giginya.
"Hentikan Brian!" tegur seorang gadis yang perlahan muncul dari balik kegelapan rumah.
"Aku sudah tidak sabar ingin membunuhnya!" Brian masih dalam posisinya.
"Hentikan!" gadis misterius itu mencoba memaksa Brian melepaskan cengkeramannya. "Kita masih belum tahu yang sebenarnya!" lanjut-nya lagi. Perlahan Brian mengalah, dan melepaskan kerah baju Xiao.
"Sekarang kau bisa jelaskan bagaimana keadaan Jonas!" titah gadis yang bernama Adella, namun lebih sering disapa dengan sebutan Al.
"Dia sudah mati!" jawab Xiao singkat, menatap Brian dan Al secara bergantian. Lagi-lagi Brian berusaha mencoba memukul, namun Xiao dengan sigap menahan pukulan yang hampir mengenai wajahnya.
"Bukan aku yang membunuhnya! aku bahkan sama sekali tidak tahu kenapa dia dibunuh!" terang Xiao yang menghempaskan tangan Brian dengan paksa.
"Firasatku jelas mengatakan bahwa kau terlibat atas kematiannya! cuih!" timpal Brian yang diakhiri dengan ludahannya, seakan merasa jijik pada lelaki yang tengah berdiri di depannya.
"Buktikan kalau memang kau tidak terlibat!" ucap Al yang menatap Xiao serius.
"Aku kenal dengan Viera, hantu yang selalu bersama Jonas!" imbuh Xiao seraya melihat ke arah Viera yang sedang berdiri tidak begitu jauh. Brian yang mendengar lantas langsung menghapus raut wajah cemberutnya.
"Kau bisa melihatnya?" tanya Al yang merasa tidak percaya.
"Dialah yang telah membawaku kepada masalah yang besar, hingga membuat hidupku hancur!" Xiao mengerutkan dahi. Dia mulai mengingat kejadian-kejadian buruk yang telah dia alami sejak Jonas mewariskan bakatnya.
"Jonas. . . memilihmu?" Brian menatap tajam Xiao, namun dengan ekspresi penuh tanya.
"Berarti firasatmu memang benar Brian, mungkin Jonas sudah mati. Tetapi aura dan bakatnya sudah pindah ke tubuhnya, makanya kau bersikeras mengira dia masih hidup," ungkap Al.
__ADS_1
"Apa sudah jelas semuanya?" Xiao mengeluarkan suara lantang. "Kalau begitu giliran aku sekarang, jika kalian memang cenayang. Aku butuh bantuan kalian!" sambung Xiao. Brian dan Al sontak memfokuskan perhatiannya kepada Xiao.
"Kata Viera, kalian sengaja mengurungnya di sini. Sekarang hapus pembatas yang menghalanginya!" titah Xiao sambil menunjuk ke arah jendela, tepat dimana Viera sedang berada.
"Tenanglah dahulu, kau lebih baik duduk. Bahkan kami masih belum mengetahui namamu," tukas Al. Xiao memutar bola mata jengah, dia tidak ingin menunda waktu lebih banyak.
"Aku tidak punya waktu! aku harus menyelamatkan temanku yang sekarang sedang terjebak di dimensi lain!" terang Xiao yang masih tidak bisa tenang.
"Sebelumnya aku mau minta maaf, tetapi lebih baik kau duduk dahulu. Kami berjanji akan membantu sebisa mungkin." Brian mencoba merangkul pundak Xiao, namun langsung mendapatkan tepisan.
"Aku bisa duduk sendiri!" Xiao melayangkan pantat ke sofa yang ada di dekatnya. "Sekarang jelaskan, bagaimana cara kalian membantuku?" lanjutnya.
"Dimensi lain ya? apa kau memiliki devil di sampingmu seperti Jonas?" tanya Brian sembari memegangi dagunya.
"Devil? Jonas memilikinya?" Xiao berbalik tanya dengan dahi yang mengernyit.
"Jadi kau belum mengetahui bakatmu sepenuhnya ya? apa Viera tidak memberitahumu?" kata Al menatap Xiao serius.
Xiao menggeleng, dan segera menyorot pandangan ke arah Viera. "Tidak! dia hanya mengatakan bahwa Jonas mewariskan bakatnya untukku. Dia juga melarangku melakukan pembunuhan!" jelas Xiao yang sontak membuat Brian tertawa geli.
"Kau dibodohi mantan devil! hahaha!" ucap Brian masih dengan tawanya.
"Devil? maksudmu Viera?" Xiao merasa tidak percaya.
"Iya, Viera adalah devil yang berhasil Jonas taklukkan. Karena dia memiliki senjata istimewa untuk membunuh para devil!" Brian mengukir seringai diwajahnya.
"Senjata?"
"Karena itulah aku terus mencari Jonas, sebab hanya dia yang ditakdirkan bisa menggunakan senjata tersebut. Namun rencana perjalanan kami pupus saat Jonas tidak sengaja berurusan dengan seorang mafia besar. Dia seharusnya tidak pernah mengenal orang-orang berengsek itu!" Brian menggelengkan kepala. "Jonas pun menyembunyikan senjatanya di tempat aman sebelum dirinya ditangkap oleh mafia!" tambahnya lagi.
Xiao menyenderkan tubuhnya ke kursi. Dia masih berusaha mencerna baik-baik apa yang telah didengarnya. Namun pikiran nomor satunya tetaplah Chan.
"Terserah apapun itu, kau bisa jelaskan nanti. Sekarang yang paling penting beritahu aku cara pergi ke dimensi lain!" tutur Xiao.
"Hello bro! aku sudah mengatakan caranya sedari tadi!" imbuh Brian dengan nada tinggi.
"Benar! dia sudah memberitahumu sejak tadi." Al ikut menyahut.
__ADS_1
"Apa?" Xiao bertanya-tanya.
"Ngomong-ngomong siapa namamu anak tampan?" tanya Brian seraya menggidikkan sebelah kakinya.
"Xiao!"
"Namaku--"
"Aku sudah tahu, lewat selebaran kertas yang diberikan wanita pemilik laundry!" Xiao menunjukkan selembar kertas yang telah membawanya ke tempat dirinya berada sekarang.
"Lakukan sekarang! aku takut temanku celaka!" Xiao kembali mendesak.
"Hei! kenapa bertanya pada kami, tetapi tanyakanlah kepada Viera. Dia mungkin mengetahui dimana senjata yang Jonas sembunyikan!" ujar Brian santai.
"Senjata? apa dengan benda itu aku bisa masuk ke dimensi lain?" Xiao menatap Brian serius.
"Iya Xiao! lebih tepatnya membantumu masuk ke dimensi lain. Jujur saja, tidak ada cenayang di dunia ini yang bisa membawamu ke dunia lain. Coba cari saja ke seluruh penjuru negeri ini!" ucap Brian dengan nada penuh keyakinan.
"Itulah alasan kami mengurung Viera, karena kami butuh informasi darinya. Tetapi dia terus saja menolak untuk berkomunikasi dengan kami!" terang Al sambil melipat tangan di depan dada.
"Ya sudah, aku akan mencoba bicara dengannya!" sahut Xiao yang sudah bangkit dari tempat duduk.
"Sebelum itu, lebih baik kau mandi dahulu. Kau tampan, tapi bau!" sindir Brian seraya mengibaskan tangan di depan hidungnya. Benar saja, Xiao memang belum sempat mandi sejak bermalam di penginapan bersama Chan.
"Brian benar, toh mandi tidak akan terlalu banyak merenggut waktumu." Al setuju dengan pernyataan yang dilontarkan teman seperjalanannya.
Xiao yang mendengar hanya bisa menggeleng tak percaya. Lantas dia pun akhirnya menanyakan letak keberadaan kamar mandi dan segera membersihkan diri.
Sekarang Xiao sedang bertelanjang dada dan hanya mengenakan handuk dipinggang. Lelaki itu berusaha mengeringkan rambut yang basah. Hingga Viera perlahan muncul menembus cermin di depannya.
"Akhirnya kau muncul juga! cepat jelaskan semuanya padaku!" Xiao menatap tajam Viera.
"A-a-aku hanya takut Xiao, aku takut. hiks. . . hiks. . . hiks. . ." suara tangisan Viera mulai bergema.
"Kenapa?" Xiao tak acuh.
"Karena Jonas selalu mengekangku. Aku takut kamu akan menjadi sepertinya, terutama setelah melihat dirimu yang memiliki orang tua psikopat," jelas Viera sambil menundukkan kepala.
__ADS_1
Xiao memutar bola mata jengah, karena bukan penjelasan yang ingin dia dengar. "Viera, kau bisa jelaskan semuanya nanti. Sekarang beritahu saja padaku letak senjata Jonas!" ucap Xiao dengan dahi yang berkerut.