Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 80 - Satu Permen


__ADS_3

Bertindak dengan kesadaran penuh adalah hal yang penting!


***


Brian dan Al sedang bersantai di ruangan yang dikhususkan untuk mereka. Keduanya menikmati berbagai hidangan yang dapat mengenyangkan perut.


"Huaah. . . sekali-kali tidak apa kan kita bermalas-malasan dan menikmati kehidupan sejenak," celetuk Brian yang tengah merebahkan diri di atas sofa panjang. Digenggaman tangannya terdapat sebotol whisky favoritnya.


"Kau benar Bri! sejujurnya aku sudah lelah menjalani kehidupan berpindah-pindah tempat begini," sahut Al. Dia menyenderkan badan di sofa yang berbeda dengan Brian.


"Apa kau merindukan keluargamu? sebenarnya kau bisa kembali kepada mereka," ucap Brian. Namun sama sekali tak mendapat jawaban dari Al.


"Hmmh. . . sepertinya kau tidak ingin membicarakannya. Ya sudah! ayo kita pindah topik." Brian berpikir sejenak sembari menenggak whisky-nya. "Bagaimana kalau kita bicara tentang Chan. Apa dia ada bercerita sesuatu yang penting kepadamu?" lanjutnya.


Xiao yang kala itu kebetulan lewat di depan pintu sontak berhenti. Karena telinganya sangat jeli kala mendengar nama Chan disebutkan.


Trak!


Xiao langsung membuka pintu. Dan ikut duduk bersantai bersama Brian dan Al.


"Xiao! apa-apaan!" respon Al yang segera menegakkan badannya.


"Cepat cerita!" tukas Xiao, yang menatap serius ke arah Al.


"Yang aku tahu, Chan membencimu karena dia pernah melihatmu bermesraan dengan dua orang wanita sekaligus." Al terlihat kembali menyenderkan badannya.


"Kau memang bedebah keparat!" Brian bangkit dengan keadaan sempoyongan, lalu mencoba mencengkeram kerah baju Xiao. Namun usahanya gagal karena Xiao dengan sigap menghindari serangannya. Sekarang Brian terjatuh ke lantai dalam keadaan tengkurap.


"Dari mana Chan bisa tahu?" Xiao menuntut jawaban kepada Al. Namun dia hanya mendapatkan gidikkan bahu dari gadis tersebut.

__ADS_1


"Aku sarankan, jika kau ingin terus bersama Chan, lebih baik jangan dekati wanita lain selain dia," ujar Al, yang juga terlihat mulai mabuk.


"Ugh! kalian berdua sama-sama menjijikan. Pokoknya kalian harus bereskan semua ini sebelum ibuku tahu!" titah Xiao seraya melingus pergi begitu saja.


***


"Berani kamu ya!" Pak Lim tampak memarahi seorang siswa. Dia merupakan salah satu guru yang mengajar mata pelajaran Matematika. Sepertinya dia sekarang tengah memberikan hukuman kepada anak didiknya.


Beberapa murid bergerombol untuk menyaksikan adegan tidak senonoh yang tidak seharusnya dilakukan guru. Kala itu Chan kebetulan berdiri di sebelah Li-Jun.


"Aneh! Pak Lim tidak pernah seperti itu. Bahkan dia adalah salah satu guru yang peduli kepada murid-muridnya. . ." ungkap Li-Jun, yang tentu saja berhasil membuat Chan menatapnya.


Chan terkesiap karena melihat wajah Li-Jun tampak babak belur.


"Wajahmu kenapa?" Chan yang tadinya ingin menanyakan perihal Pak Lim lantas mengubah pertanyaannya. Disebabkan perhatiannya tertuju pada keadaan wajah Li-Jun sekarang.


"Oh ini? kau tahulah kenapa." Li-Jun tersenyum kecut. Dia menganggap Chan mengerti, kalau lebam diwajahnya disebabkan oleh bullyan dari Kai dan teman-temannya.


Li-Jun kembali tersenyum dan berkata, "Aku akan mengurus masalahku sendiri Chan, dan aku menyarankanmu untuk tidak terlibat!"


Chan akhirnya terdiam. Dia hanya bisa menghela nafas panjang.


Buk! Buk! Buk!


Tiba-tiba saja Pak Lim melayangkan tendangan bertubi-tubi kepada murid yang dihukumnya. Semua orang yang menonton sontak semakin dirundung rasa khawatir. Beberapa orang berusaha mengingatkan Pak Lim, kalau dirinya sudah bertindak berlebihan. Apalagi keadaan siswa yang dipukulnya sekarang, mulai mengeluarkan banyak darah dari mulut.


"PAK LIM!!" pekik Li-Jun, dia segera bergegas menghentikan aksi Pak Lim. Namun emosi Pak Lim sepertinya masih tidak bisa terkontrol. Ia masih saja melakukan serangan ke badan anak didiknya. Benar-benar pemandangan yang sangatlah miris. Semua siswa-siswi yang melihat di sana merasa tak percaya terhadap tindakan Pak Lim.


"Hentikan Pak!" sekarang Li-Jun mencoba menghentikan Pak Lim dengan memegangi tangannya. Aksi Li-Jun itu sontak di ikuti oleh teman-teman lainnya. Sedangkan Chan berinsiatif melaporkan kejadian tersebut kepada guru yang lain.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Pak Lim perlahan tersadar. Dia langsung membelalakkan mata tatkala menyaksikan anak didiknya sudah terkulai lemah di lantai. Tingkah Pak Lim terlihat aneh, dia sepertinya melakukan tindakan beringas tadi tanpa adanya kesadaran. Sekarang Pak Lim menangis histeris, dia begitu menyesali perbuatannya.


Setelah kejadian tak terduga itu semua murid disuruh masuk ke dalam kelas. Sedangkan siswa yang telah menjadi korban penganiayaan Pak Lim langsung dibawa ke rumah sakit.


Hanya beberapa kelas yang di isi dengan kehadiran guru. Sedangkan sebagian kelas lainnya mendapatkan tugas dari guru yang sepertinya sedang sibuk mengurusi kasus Pak Lim. Termasuk Chan, dia baru saja selesai mengerjakan tugas kiriman gurunya. Dia pun keluar lebih dahulu dari kelas untuk menyegarkan pikirannya sejenak.


Chan pergi ke kantin untuk membeli sesuatu. Dan saat itu dia tertarik dengan permen yang sedang populer dikalangan teman-temannya. Kebetulan permen tersebut hanya tinggal satu di dalam toples. Dia pun segera mengambil permennya.


Tanpa diduga sebuah tangan muncul dan ikut berusaha mengambil permen yang di inginkan Chan. Dialah Xiao, yang tiba-tiba muncul di samping Chan entah dari mana.


"Apa-apaan! aku mengambilnya lebih dulu!" ketus Chan dengan dahi yang mengerut kesal.


"Ya sudah kalau begitu!" Xiao sengaja mengalah. Kemudian membiarkan Chan berlalu pergi melewatinya. Gadis tersebut terlihat sudah memasukkan permennya ke dalam mulut. Xiao lantas mengikutinya dengan ukiran seringai diwajahnya.


"Chan!" panggil Xiao, yang berhasil membuat Chan berhenti dan menoleh. Tanpa basa basi, Xiao pun segera mengunci kedua tangan Chan, lalu memojokkannya ke dinding.


"Aku juga ingin permen itu!" ucap Xiao. Kemudian langsung menyambar bibir Chan dengan bibirnya. Mata Chan membulat sempurna, dia berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkeraman Xiao di kedua tangannya, namun sama sekali tak mampu.


Bibir Xiao terus saja bergelayut sibuk untuk terus mencoba membuka mulut Chan yang masih menutup rapat. Chan yang merasa dilecehkan merasa tidak tahan lagi.


Buk!


Dia pun menyerang area pribadi Xiao dengan lututnya.


Sepertinya Xiao telah mendapat karma, karena dia sering melakukan serangan tersebut kepada orang lain.


"Aaarghh!" erang Xiao sambil memegangi alat vitalnya. "Cha-chan! kenapa kau memukulnya, kau akan menyesal jika ini tidak berfungsi lagi!" sambungnya terbata-bata akibat menahan rasa sakitnya.


"Cuh!" Chan meludahkan permennya ke lantai. "Makan tuh permen! jangan pernah coba-coba mendekatiku lagi!" tegasnya, yang dilanjutkan dengan beranjak pergi meninggalkan Xiao.

__ADS_1


'Untuk pertama kalinya, aku merasa dilecehkan oleh Xiao. Jika dia ingin kembali kepadaku, harusnya dia bicarakan baik-baik!' gerutu Chan dalam hati. Sejujurnya dia merasa kecewa, karena Xiao selalu memandangnya dari sudut hawa nafsunya. Dan Chan benar-benar merasakan perubahan drastis dari seorang Xiao.


__ADS_2