
Apa yang paling membuatmu merasa aman?
Seseorang atau sebuah tempat?
***
Tanpa pikir panjang Xiao pun segera beranjak pergi untuk membelikan obat untuk Chan. Dia menyusuri lorong apertemen yang hanya bersinarkan lampu pijar.
Kala itu Xiao memaksakan dirinya agar bisa terus melangkahkan kakinya. Dikarenakan banyaknya makhluk-makhluk aneh yang berada di sekitar situ.
Perlahan keringat Xiao mulai memenuhi pelipisnya. Terutama ketika dia melihat makhluk berkepala botak dan berkaki satu. Lidahnya tampak menjulur keluar dari mulutnya. Makhluk itu menatap Xiao dengan mata putihnya.
Hingga tangannya yang terlihat busuk itu tiba-tiba saja mencengkeram lengan Xiao. Mata Xiao langsung membola. Sekarang makhluk itu sadar bahwa lelaki yang sedang di cengkeramnya bisa melihatnya.
Makhluk berkepala pelontos itu langsung mengukir senyuman mengerikan di wajahnya. Seakan dia telah menemukan mangsa yang tepat.
Tubuh Xiao mematung karena merasa sangat ketakutan. Makhluk tersebut seakan telah menghipnotisnya.
Brak!
Makhluk botak itu menghempaskan Xiao ke lantai. Kepala Xiao pun tersentak dan penglihatannya langsung menggelap seketika.
***
Perlahan Xiao membuka matanya, dan dia langsung di buat kaget ketika melihat dirinya sudah berada di ruangan yang gelap dan asing. Dinding di ruangan itu tampak berlumuran darah beku, bahkan bau amis terus menguar menusuk hidung Xiao.
Hanya cahaya dari celah pintu yang menjadi penerang Xiao di ruangan itu. Jendela atau pun ventilasi sama sekali tidak ada di sana.
"Tolong!!!" pekik Xiao, berharap ada seseorang yang bisa segera membantunya. Namun puluhan kali lelaki itu memekik, tidak ada satu orang pun yang berusaha datang untuk menolongnya.
"Siapapun kumohon..." gumam Xiao lirih, air matanya mulai menetes. Dia mencoba beberapakali membuka pintu, tetapi usahanya hanya sia-sia. Pintu itu terkunci dan tidak bisa dibuka.
Tiba-tiba saja bayangan masa lalunya mulai menghantui. Bayang-bayang ketika Xiao mengurung tawanan di dalam gudang. Bayang-bayang ketika dia tidak merespon sama sekali teriakan permintaan tolong dari tawanannya. Sekarang lelaki itu tahu rasanya sendirian dan di kurung dalam ruangan yang asing.
Perlahan Xiao mulai merengek sambil meringkuk di balik pintu. Dia tidak bisa berharap kepada siapapun, karena sekarang dirinya tidak memiliki seseorang yang bisa dipercaya. Hingga akhirnya nama Viera terlintas dalam ingatannya.
__ADS_1
"Viera!!!" sekarang Xiao mencoba memanggil hantu wanita yang akhir-akhir ini selalu bersamanya.
Xiao berteriak sembari menilik ke seluruh sudut ruangan asing itu. Dahinya langsung mengernyit, karena sama sekali tidak melihat batang hidung Viera di sana.
"Tolong! kumohon... siapapun..." rengek Xiao seraya mengacak-acak rambutnya karena begitu frustasi.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu perlahan terbuka, Xiao pun langsung berdiri. Namun pupil matanya langsung membesar ketika melihat makhluk botak kembali muncul dari balik pintu. Perlahan Xiao mencoba melangkah mundur untuk menjauhi makhluk itu. Hingga dia pun tiba di dinding yang jaraknya paling jauh dari makhluk tersebut.
Xiao semakin ketakutan, saat mendengar suara yang dikeluarkan oleh makhluk botak itu. Makhluk tersebut mengeluarkan suara seperti orang yang tercekik, dan dia masih berdiri menatap Xiao di depan pintu.
"Kkkkkkkk.... kkkkkk.... kkkkk..."
Sang makhluk botak pun tersenyum sambil memelototi Xiao yang sedang gemetar ketakutan.
Tak!
Makhluk berkepala pelontos itu melompat dengan satu kakinya. Satu kali lompatannya sangat jauh. Dan dia sekarang sudah berdiri tepat di hadapan Xiao.
"Xiao...." tanpa di duga makhluk itu bersuara dengan suara seperti berbisik. Tangannya perlahan menyentuh pipi Xiao.
"Le-le-lepaskan a-a-aku..." Xiao mencoba memberanikan diri untuk bersuara. Tetapi makhluk itu sama sekali tidak merespon ucapan yang di lontarkan Xiao dengan nada yang tergagap.
"XIAO!!!" Viera tiba-tiba saja datang dari balik pintu, hantu wanita itu langsung menyerang makhluk berkepala pelontos tersebut.
"Cepat pergi dari sini!!!" titah Viera yang terus mencoba menahan pergerakan sang makhluk botak.
Xiao pun langsung berlari keluar dari ruangan itu. Namun bukannya lega, dia malah semakin bingung dengan lorong gelap tak berujung. Baik lorong di sebelah kiri dan kanan, keduanya tampak begitu ambigu.
Xiao semakin merasa terdesak ketika mendengar suara erangan Viera yang masih bertarung melawan makhluk botak tersebut. Hingga akhirnya dia pun memilih lorong dengan berpatokan pada firasatnya. Xiao pun berlari menyusuri lorong sebelah kiri.
Tak! Tak! Tak!
Xiao terus berlari sekuat tenaga, dia hanya bisa melihat kegelapan baik di depan dan belakangnya. Nafasnya mulai tersengal-sengal. Sejenak dia pun berhenti sembari memegangi kedua lututnya.
__ADS_1
Sesekali Xiao terus melihat ke belakang, dan terus berharap makhluk botak itu tidak mengejarnya.
Perlahan Xiao pun kembali melanjutkan larinya. Larinya semakin melambat, karena lorong yang dia lewati tetap terasa sama seakan tidak berujung.
Rasanya dia sudah melewati lorong gelap itu berjam-jam. Peluh mulai membasahi baju Xiao, dia sekarang menyandarkan tubuhnya ke dinding dan langsung terduduk. Mata lelaki itu terpejam dan langsung terlelap tidur.
***
"Xiao! Xiao!" tiba-tiba suara dan guncangan seseorang membangunkan Xiao dari tidurnya. Suara itu ternyata berasal dari gadis yang sedang berada di depannya.
Xiao begitu kaget, karena dia baru menyadari ternyata gadis itu adalah Chan. Raut wajahnya tampak khawatir.
"Chan? bagaimana..." sebelum Xiao menyelesaikan pertanyaannya, tiba-tiba Chan langsung menarik tangan Xiao dan membawanya berlari. Tanpa pikir panjang, tubuh Xiao pun otomatis mengikuti gadis itu.
Xiao merasakan kebingungan yang luar biasa, ketika melihat luka yang ada di tubuh Chan sudah menghilang. Gadis itu benar-benar terlihat baik-baik saja.
Tak! Tak! Tak!
Hanya ada suara langkah kaki yang menemani Xiao dan Chan. Keduanya sama sekali tidak bersuara satu sama lain. Tangan Chan terus menggenggam erat jari jemari Xiao.
Mereka berdua terus berlari menyusuri lorong. Dari depan tampak cahaya kecil yang perlahan membesar. Semakin dekat cahaya itu semakin menyilaukan.
"Apa itu Chan?" Xiao mencoba memecahkan keheningan di antara dirinya dan Chan.
"Jalan keluar kita!" sahut Chan yang semakin mempercepat larinya.
Tidak menunggu waktu yang lama, keduanya pun sudah berada tepat di hadapan cahaya. Namun tiba-tiba saja kaki Xiao di tarik oleh sepasang tangan. Hal itu sontak membuat Xiao langsung tumbang dan terhempas ke lantai.
Chan pun semakin menggenggam erat tangan Xiao. Wajahnya tampak meringis, karena dia sedang mengerahkan semua tenaganya untuk menyelamatkan Xiao.
"Chan kumohon jangan lepaskan aku!... CHAN!" pekik Xiao sembari merengek histeris.
"Mmmhhh!" gumam Chan seraya menarik tangan Xiao dengan kedua tangannya.
"Aaark! ... Aaaarkh! ... Aaarkh!" Xiao terus berteriak karena dilanda ketakutan yang teramat sangat.
__ADS_1
"PERGILAH MAKHLUK JELEK!!!" pekik Chan mencoba mengusir makhluk yang terus mengambil Xiao darinya.