Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 106 - Hari Ujian (Tragedi 1)


__ADS_3

Warning! episode ini mengandung gore, dan tidak untuk ditiru. Kepada anak di bawah umur dan yang merasa tidak nyaman dengan adegan darah-berdarah dilarang membaca!


...-----...


Semuanya telah terjadi, dan tidak ada yang bisa dilakukan selain mencoba sebisa mungkin.


***


Satu hari sebelum ujian tiba. Pak Hao dan Bu Ming sengaja datang ke sekolah terlebih dahulu. Mereka membawa seorang cenayang untuk memeriksa keadaan sekolah. Berharap cenayang tersebut dapat menjauhkan makhluk jahat serta memberikan perlindungan di lingkungan sekolah.


Pak Hao-lah yang memilih cenayang itu. Nama panggilannya adalah Nixeu. Dia adalah salah satu cenayang yang lumayan terkenal di Kota Metropolis.


Nixeu terlihat mengarahkan sebelah tangannya ke arah gudang terlarang. Matanya terpejam seolah mencoba merasakan energi yang ada. Sedangkan tangan yang satunya memegangi sebuah kendi berisi air suci.


"Aku merasakan kalau tempat ini dihuni oleh makhluk sangat berbahaya!" Nixeu tiba-tiba melotot. Membuat Bu Ming dan Pak Hao tersentak kaget. Bulu kuduk mereka menjadi merinding seketika.


"Tetapi tenang saja, aku akan memberikan perlindungan. Agar makhluk-makhluk itu tidak mengganggu lagi. Aku akan menyegel mereka lagi di dalam sini." Nixeu berucap sangat meyakinkan. Hingga Bu Ming dan Pak Hao langsung menganggukkan kepala untuk setuju.


Di dalam gudang terdapat Lien yang ternyata sedari tadi menguping. Mulutnya mengukir seringai, sebab ia tahu kalau Nixeu adalah cenayang palsu. Makanya Lien santai saja dengan kedatangannya.


***


Hari ujian telah tiba. Xiao dan Chan terlihat sudah mengenakan warna seragam senada. Keduanya di antar ke sekolah dengan menggunakan mobil yang sama. Sekarang mereka sedang berada di dalam mobil, duduk bersebelahan. Kali ini yang menyetir adalah Feng.


Chan tampak sibuk dengan buku pelajaran yang dipegangnya. Sedangkan Xiao tidak melakukan apapun, dia hanya menatap ke arah Chan.


"Kau tidak belajar? santai sekali!" timpal Chan seraya menggeleng heran.


Xiao tersenyum dan membalas, "Aku sudah banyak belajar sejak kecil Chan. Tanpa belajar pun aku bisa mendapatkan nilai yang sempurna!"

__ADS_1


"Huhh! dasar sombong, mentang-mentang pintar." Chan mendengus kesal. "Dunia ini benar-benar tidak adil, orang yang tidak belajar sepertimu malah selalu mendapat nilai sempurna. Sedangkan aku yang selalu belajar, anehnya malah mendapat nilai rendah!" tambahnya.


"Tenang saja, kau pasti lulus. Kalau tidak, aku akan lakukan sesuatu kepada kepala sekolahnya!" ujar Xiao yakin.


"Eh! jangan coba-coba!" Chan memperingatkan sambil mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Xiao. Sebab dia tahu betul apa yang dimaksud lelaki tersebut. Tetapi Xiao malah memegangi tangan Chan yang mengarah ke wajahnya. Dia segera menggigitnya karena merasa gemas.


"Xiao!!" Chan sontak kaget dengan perlakuan kekasihnya. Dia berusaha menarik kembali tangannya, wajahnya tampak cemberut. Namun Xiao malah asyik tertawa kecil. Tidak lama kemudian sampailah mereka di sekolah. Mereka segera masuk ke dalam kelas masing-masing.


Saat dalam perjalanan menuju kelas, Xiao tidak sengaja bertemu dengan Lien. Gadis yang telah dirasuki makhluk kutukan itu langsung mendekati Xiao.


"Apa kau membawanya?" tanya Lien serius.


"Tentu saja. Aku tidak akan melakukan apapun kan?" balas Xiao.


"Ikut aku!" Lien membawa Xiao ke suatu tempat.


Denting peringatan masuk kelas berdering. Semua murid dipersilahkan masuk ke kelas masing-masing. Kecuali Xiao, dia masih belum juga kembali. Padahal guru yang mengawas sudah bersedia menunggunya.


Suasana sepi menyelimuti lingkungan sekolah. Meski setiap ruangan sedang dipenuhi oleh orang banyak. Akan tetapi mereka sedang sibuk bergelut dengan soal-soal yang tertera di lembaran kertas putih.


"Kalian hari ini benar-benar tidak melihat Xiao?" tanya guru yang sedang mengawas di kelas Xiao. Seorang murid lelaki mengangkat sebelah tangannya dan menjawab, "Aku tadi melihatnya! tetapi tidak tahu entah kemana perginya!"


"Benarkah?" respon sang guru yang terlihat khawatir. Dia mencoba bangkit dari tempat duduknya, karena hendak berjalan menuju pintu.


Bruk!


Pintu tiba-tiba menutup sendiri. Suaranya terdengar sangat nyaring dan bersahut-sahutan. Sebab pintu di ruangan lainnya juga tengah menutup dengan sendirinya.


Semua orang sontak begitu dibuat panik. Salah satu dari mereka mencoba membuka pintu. Namun tidak ada satu orang pun yang bisa. Chan bahkan juga ikut kaget dengan kejadian tersebut. Suasana menjadi riuh seketika.

__ADS_1


Langit mendadak menggelap. Suara gemuruh petir bahkan mulai terdengar. Semua orang langsung terdiam karena berusaha mencerna apa yang terjadi. Sekarang semua ruangan sepenuhnya sangatlah gelap.


Xiao mendadak masuk ke dalam kelas. Anehnya dia bisa membuka pintu dengan mudahnya. Seluruh atensi semua orang pun tertuju kepadanya. Tangan Xiao kembali menutup pintu. Warna iris matanya tampak berwarna merah. Dia perlahan memperlihatkan belati Glorix yang sedari tadi disembunyikan di balik badannya.


"Apa yang kau lakukan Xiao?" tanya guru yang mengawas. Ia berjalan menghampiri Xiao. Tetapi saat sudah sangat dekat, jantungnya malah dihujam dengan belati oleh Xiao. Cairan merah kental bercipratan dari dadanya. Guru itu lantas tak sadarkan diri dan terbaring di lantai.


"Aaaaarkhhh!!!" semua murid yang melihat tentu merasa sangat ketakutan. Mereka mencoba sebisa mungkin menjauhi Xiao. Ada yang berusaha memecahkan kaca jendela, menangis dan memohon.


Sedangkan Xiao hanya santai menanggapinya. Dia hanya mencapai orang yang paling dekat dengannya. Kemudian menyayat lehernya dengan belati Glorix. Korban semakin bertambah satu per satu. Hingga Xiao berhasil membantai semua orang yang ada di kelasnya. Ruangan tersebut dipenuhi dengan genangan darah, baik di dinding dan juga lantai.


Selanjutnya, Xiao beralih ke ruangan sebelah. Dia juga melayangkan belatinya untuk menghabisi banyak nyawa. Hingga terdapat satu siswa yang berhasil lolos. Dia memecahkan kaca jendela dan keluar dari ruangan. Siswa itu juga memberitahukan apa yang terjadi kepada semua orang dengan cara berteriak. Sekarang semua orang yang tadinya terjebak dalam ruangan, segera memecahkan kaca jendela dan keluar dari sana. Satu per satu dari mereka lari menyelamatkan diri.


Xiao sekarang hanya bisa menghabisi seseorang yang mampu dia tangkap dengan tangannya. Seragamnya dipenuhi dengan warna merah dan berbau amis. Membuat semua orang langsung memberikan kesimpulan bahwa Xiao-lah orang gila yang telah menyebabkan tragedi buruk itu terjadi.


Chan baru saja melompat turun dari jendela. Matanya segera mengedar ke segala penjuru. Sesekali ia juga bertabrakan dengan teman-temannya yang lari kocar-kacir untuk menyelamatkan diri.


Dari kejauhan, Chan dapat menyaksikan Xiao yang tampak sangat berbeda. Dia pun langsung berlari untuk menghampirinya. Kala itu Xiao hendak melayangkan belati Glorix kepada seorang siswi. Namun Chan segera mencegahnya dengan cara menahan Xiao dari belakang. Kedua tangannya melingkar di pinggul lelaki tersebut. Siswi yang tadinya akan dibunuh Xiao, lantas berlari menyelamatkan diri.


"Hentikan Xiao!!!" pekik Chan mencoba menyadarkan. Jujur saja iris mata Xiao mulai terdapat adanya kilatan hitam, seolah hendak kembali tersadar.


"Tidak sekarang Xiao!" Devgan yang sedari tadi menikmati momennya berusaha terus mempengaruhi tuannya.


"Kumohon jangan Xiao! kau sudah berlebihan! hiks! hiks!" Chan memohon sambil menangis, seakan telah putus asa. Meskipun begitu, dia tetap mencoba sebisa mungkin.


Suara sirine mobil polisi mulai terdengar mendekat. Semakin membuat Chan terdesak. Dia tidak ingin semua orang tahu mengenai apa yang telah dilakukan Xiao. Alhasil Chan pun merebut belati Glorix yang ada di tangan Xiao. Kemudian menusukkannya ke lengan Xiao. Chan berharap dengan adanya rasa sakit itu, Xiao dapat tersadar.


"Sialan Chan! apa yang kau lakukan!" Devgan sangat marah. Dia berusaha melakukan serangan kepada Chan, tetapi tangannya sama sekali tidak mampu. Tangan Devgan menembus begitu saja ke badan Chan.


"Ughh!" Xiao sekarang terjatuh ke lantai dalam keadaan berlutut. Dia memegangi lengannya yang terasa sakit. Pupil matanya perlahan kembali berubah menjadi hitam. Chan sekarang bergegas membawa Xiao pergi dari lingkungan sekolah.

__ADS_1


*To be continued...


__ADS_2