Psychopath Meets Indigo

Psychopath Meets Indigo
Bab 15 - Pembully


__ADS_3

Untuk hidup dengan damai kita hanya butuh hati nurani. Namun perasaan itu hilang, ketika kita menjadi egois.


***


Chan berlari ke dalam toilet, dia segera membersihkan wajah dan seragamnya. Gadis itu tampak menghela nafas panjang.


'Aku tidak habis pikir, kenapa selalu saja ada manusia seperti itu di setiap sekolah!' batin Chan dengan meringiskan raut wajahnya.


"Mana teman lelakimu itu?" suara perempuan yang menggema berhasil membuat Chan terperanjat. Dia pun menatap pemilik sumber suara, dan melihat hantu gadis berseragam sekolah yang pernah ditemuinya tempo hari.


"Kau. . ." Chan menjeda ucapannya sejenak untuk mendenguskan nafas sekali lagi dan melanjutkan, "sejak kapan ada di sana? bukankah tempatmu di gudang?"


"Kadang aku di gudang dan kadang di sini. Aku tidak tahu alasannya kenapa?" terang gadis hantu tersebut.


"Tunggu! kamu bilang mayatmu masih ada di sini? benarkah itu?" tanya Chan serius.


Hantu itu menganggukkan kepala, lalu perlahan menangis sambil menutupi kedua matanya dengan tangan.


"Hei! kenapa kamu malah menangis?" Chan mencoba mendekat.


"A-a-aku tak tahu! yang jelas saat mengingat keadaanku sekarang, aku merasa sedih! bahkan aku melupakan semua yang terjadi. . . hiks. . . hiks. . ."


"Tidak apa-apa, aku akan membantumu!. . . apa kamu mau menunjukkan dimana mayatmu?" Chan berusaha menenangkan hantu itu sebisa mungkin, karena suara tangisnya sangat mengerikan dan memekakkan telinga.


"Di sekitar sini, tetapi aku tidak tahu persis dimana!" balas sang hantu gadis dengan wajah sendunya. Chan lantas mengerutkan dahinya dia mengeluh dalam hati 'Sudah ku-duga, akan sangat sulit membuat hantu mau ikut bekerja sama. Aku tidak habis pikir dengan ide Xiao! semuanya benar-benar mustahil!. . . merebut warisan Shuwan? dia pasti sudah gila! terserah! setidaknya aku sudah berusaha berbicara pada hantu ini!'


Chan pun keluar dari toilet, namun telinganya langsung disambut dengan suara sayup-sayup orang yang marah. Gadis itu sekarang melangkahkan kaki untuk mencari sumber suara tersebut. Dia segera berhenti tatkala melihat rombongan Shuwan dan Mei tengah melakukan aksi bully. Chan juga dibuat terkejut dengan keberadaan Zhu di sana.


"Wah! jadi ini orangnya Mei?" tanya Shuwan.


"Iya! sebenarnya ada satu orang lagi, tetapi karena masih baru jadi aku biarkan saja dahulu!" sahut Mei seraya menyilangkan tangan di dada.


"Kalian mau apakan mereka?" Xiao menatap bingung Shuwan dan Mei secara bergantian.


"Kenai. . . kami hanya bersenang-senang, aku yakin kamu juga akan menyukainya!" Mei melingkarkan tangannya ke lengan Xiao. Gadis centil itu benar-benar membuat Xiao risih.


"Kenai, kami cuman mau mengajak mereka bersenang-senang, toh mereka juga kan yang untung!" jelas Shuwan dengan tatapan angkuhnya.

__ADS_1


"Bukannya kamu tadi hanya ingin mengambil bukunya?" Xiao mengerutkan dahi.


Shuwan mendekatkan mulutnya ke kuping Xiao dan berbisik, "Itu hanya alasan, agar kuda nil ini mau melakukan apapun untuk kita. . . apa kau tahu? Qibo sangat terobsesi dengan nilai akademiknya, dia tidak akan membiarkan siapapun mengalahkan peringkat yang dimilikinya. . ."


"Lalu gadis itu?" Xiao kembali bertanya.


"Aku hanya iseng, penampilannya sangat mengganggu. Jadi aku ingin Shuwan memberikan pelajaran untuknya," Mei menyahut dengan sedikit senyuman.


"Iya tentu Mei, akan aku lakukan apapun untukmu. Sekarang lepaskan tanganmu dari lengan Kenai!" ujar Shuwan. Lantas Mei pun segera menuruti kehendaknya, meskipun memasang wajah yang cemberut.


"Setelah ini, kalian akan melakukan apa?" tanya Xiao penasaran.


"Entahlah! mungkin mengunci mereka berdua di dalam gudang?" balas Shuwan dengan sedikit terkekeh.


"Hei! apa yang sedang kalian lakukan!" kepala sekolah tiba-tiba datang. Alhasil Xiao dan yang lainnya segera berlari.


Tuan Huan sang kepala sekolah langsung membawa Qibo dan Zhu ke kantor agar bisa memberikan penjelasan.


***


Xiao tidak sengaja berlari sendirian dan terpisah dari Shuwan. Namun tiba-tiba sepasang tangan menariknya ke sebuah ruangan yang tidak lain adalah ruang musik.


"Xiao! jelaskan padaku, apa yang akan dilakukan Mei kepada Zhu?" Chan bertanya dengan dahi yang berkerut.


"Zhu? siapa?" Xiao sama sekali tidak tahu dengan nama gadis yang disebutkan oleh Chan.


Dengan dengusan kasar, Chan berucap, "Dia gadis yang dibawa Mei dan teman-temannya itu!"


"Oh. . . mereka bilang cuman mau bersenang-senang Chan, kamu tidak usah khawatir!" jawab Xiao santai.


"Hah? kenapa kamu sesantai itu? kamu sama sekali tidak peduli dengan Zhu dan lelaki yang satunya itu? kamu kan tahu sendiri ada devil di samping Shuwan!" timpal Chan dengan nafas yang naik turun.


"Tenang saja Chan. . ." ucap Xiao sembari berusaha menyentuh kedua bahu Chan. Namun segera mendapatkan tepisan.


"Xiao! cukup! pokoknya kamu harus berjanji padaku, tidak akan membiarkan Zhu dan lelaki itu disakiti oleh Shuwan dan Mei!" Chan menatap tajam Xiao.


"Oke! oke! aku berjanji!" kali ini Xiao berhasil menyentuh kedua bahu Chan dengan lembut. Meskipun gadis tersebut membuang muka darinya.

__ADS_1


"Chan. . . apa kamu melupakan kejadian semalam?" tanya Xiao, yang sontak membuat mata Chan membola.


"Ke-ke-kenapa dengan semalam?" Chan bertingkah seolah tidak ada apapun yang terjadi.


Xiao tersenyum tipis, lalu mengangkat dagu Chan. Keduanya saling memandang satu sama lain. Perlahan Xiao memiringkan kepalanya dan mencoba mendekatkan wajahnya pada Chan. Sekarang jarak di antara keduanya hanya beberapa centi.


Plak!


Chan melayangkan cap lima jarinya ke pipi Xiao. Alhasil Xiao pun langsung dibuat kaget akan hal itu. "Xiao! aku tidak akan membiarkannya lagi kali ini!" tegas Chan, lalu beranjak pergi keluar ruangan.


Melihat tingkah Chan, lantas membuat Xiao mendengus kasar. 'Apa dia tidak menyukaiku lagi? apa aku melakukannya dengan buruk semalam?. . . Agh! aku kira hubungan kami menjadi lebih serius setelah kejadian semalam, tetapi kenapa Chan bersikap seolah tidak ada yang terjadi?. . . benar-benar membingungkan!' keluh Xiao dalam hati.


***


"Shuwan! kali ini sikapmu sudah sangat keterlaluan, karena itulah aku akan melaporkan semuanya kepada ayahmu!" tegas Huan.


"Pak! apa salahku? aku cuman mengajak mereka berteman baik-baik?" bantah Shuwan santai.


"Benarkah begitu?" Huan bertanya pada Qibo dan Zhu yang masih duduk di sofa. Shuwan pun segera melayangkan pelototannya untuk Qibo, agar lelaki berbadan berisi itu tidak mengatakan yang sebenarnya.


"Tidak Pak! Shuwan sering menendang dan juga merampas buku catatanku!" ungkap Qibo, yang mengambil kesempatan tersebut untuk membela dirinya sendiri.


"Sialan!" sumpah Shuwan yang tidak terima dengan pernyataan Qibo.


Alhasil Huan pun semakin geram terhadap tingkahnya. Dia sekarang tidak perlu memperlambat pengiriman surat peringatan kepada keluarga Tao.


Brak! Bruk!


"Dasar sialan!" Shuwan mengamuk di dalam kelas, dia melemparkan segala barang yang ada di sekitarnya.


"Shuwan tenanglah!" Ling mencoba menenangkannya.


"Qibo. . . aku tidak akan melepaskannya!" geram Shuwan dengan mengepalkan kedua tangannya.


Kala itu Xiao mematung di tempat dengan mata yang membelalak. Sebab dirinya tengah melihat devil sedang menjilati tubuh Shuwan dengan penuh semangat. Makhluk itu bahkan sempat memberikan sedikit senyuman untuk Xiao. Semakin marah Shuwan, maka sang devil akan lebih mudah menaklukannya.


"Shuwan!" Mei tiba-tiba datang. Shuwan pun segera memusatkan atensinya kepada gadis tersebut.

__ADS_1


"Shuwan. . . aku tahu siapa orang yang melaporkan kita kepada kepala sekolah!" sambung Mei seraya menggertakkan giginya.


__ADS_2