
Pengorbanan bisa dibalas dengan pengorbanan.
***
Xiao yang melihat gelas yang ditunjukkan Bork langsung membelalakkan mata. "Sebanyak itu?" tanya Xiao.
"Iya! ini termasuk sedikit loh!" Bork mengerutkan dahi. "Kau pikir mudah untuk makhluk sepertiku keluar dari wilayah dengan mudahnya? cepat! mau atau tidak? " lanjutnya yang tiba-tiba berubah menjadi sangar.
"Xiao, tubuhmu akan lemah jika kehilangan banyak darah!" Viera mencoba memperingatkan.
"Tetapi, aku harus melakukannya!" Xiao bersikeras, yang sontak membuat Viera harus menganggukkan kepala untuk menyetujui.
"Cepat!!!" desak Bork. Alhasil Xiao pun segera menggulung lengan baju dan menyodorkan tangan kepada Bork.
"Aku punya alat yang bisa mempermudah untuk menyedot darahmu lebih cepat," ujar Bork sembari memperlihatkan selang infus.
Sekarang cairan kental segar berwarna merah mengalir deras. Bork yang menyaksikannya sesekali memeletkan lidah karena merasa sangat tergiur. Sedangkan Xiao mulai diserang rasa pusing. Dia berusaha menahan rasa sakit akibat darahnya tersedot.
Beberapa saat kemudian, penuhlah sudah gelas dengan darah Xiao. Bork pun sontak tersenyum lebar memandangi hidangannya yang berharga. Sebelum meminum, makhluk itu sengaja menjilat sisa darah yang ada di selang infus. Kemudian melanjutkan menenggak cairan merah kental yang telah diberikan Xiao.
Glek! Glek! Glek!
Xiao yang menyaksikan hanya bisa meringis jijik. Lelaki tersebut tengah terduduk untuk menormalkan darahnya kembali.
"Aaah. . . luar biasa, darahmu sangat enak! mungkin karena kau masih muda. Coba kalau darah perawan pasti lebih lezat!" celetuk Bork sembari meletakkan gelas ke meja. "Ayo kita pergi!" lanjutnya.
Bork mengajak Xiao dan Viera ke tempat alat pengendara berada.
"Viera, aku bingung kenapa kau melewati tiap wilayah dengan mudahnya di dunia ini?" tanya Xiao seraya berjalan mengekori Bork.
"Itu karena Jonas, dia melakukan sesuatu yang tidak aku mengerti dengan senjatanya. Mungkin setelah kau memiliki senjata itu kau akan mengerti," jelas Viera. Xiao pun merespon dengan anggukan kepala.
"Nah ini dia, ayo cepat masuk!" ucap Bork sambil membuka kain penutup alat pengendaranya. Xiao yang melihat penampakan benda itu terkesiap sejenak. Alat pengendara itu tampak seperti kapal namun memiliki roda. Selanjutnya, Xiao pun langsung melangkah masuk.
"Apa alat ini fungsinya seperti mobil?" tanya Xiao.
__ADS_1
"Hahaha! tidak! kau lihat saja!" balas Bork. "Oh iya, selama perjalanan lebih baik kau bersembunyi saja. Karena keberadaanmu akan menarik makhluk-makhluk berbahaya!" lanjutnya lagi. Xiao lantas memutar bola mata jengah, lalu bersembunyi ke bawah jendela.
Bork menjalankan alat pengendara yang dia beri nama Oman. Xiao langsung dibuat kaget dengan benda yang awalnya dia kira berjalan seperti mobil, ternyata bisa terbang dan melaju di udara.
"Bork! kau tidak akan berkhianat kan?" Xiao meragu.
"Apa penampilanku seperti pengkhianat?" Bork membalas tanya.
'Jelas-jelas dia adalah makhluk jadi-jadian ular, kenapa bertanya lagi,' ucap Xiao dalam hati.
"Hei! aku bisa mendengar suara hatimu itu!" Bork melotot ke arah Xiao.
"Benarkah? maaf!" sahut Xiao dengan nada malas.
"Hantu wanita di sampingmu itu adalah temanmu?" tanya Bork.
"Semacam itulah!" balas Xiao singkat.
"Kenapa kau bertanya soalku?" Viera menyahut dengan dahi yang berkerut.
Tidak memakan waktu yang lama, sampailah sudah Xiao dan Viera di tempat tujuan. Danaunya terlihat sangat luas dan dalam.
"Aku akan pergi sekarang!"
Ceklek! Wush!
Bork langsung bergegas pergi dan menerbangkan alat pengendara. Padahal Xiao baru saja selangkah turun.
"Woy! tunggu!!!" pekik Xiao kepada Bork yang sudah menjauh dengan alat pengendaranya. "Bantuannya hanya begitu saja?" tambahnya yang merasa tidak percaya.
"Sudahlah! cara kerja makhluk tersebut memang begitu," imbuh Viera.
Sekarang Xiao dan Viera mencoba menyusuri sekeliling danau untuk mencari Chan. Namun nihil, mereka tidak bisa menemukan apapun. Hingga Xiao pun penasaran dengan air danau yang tampak berwarna hitam. Dia mencoba menengoknya, dan benar saja ada sesuatu yang menarik di dasar airnya.
"Viera, apa kau bisa memeriksa ke bawah air?" tanya Xiao, yang sontak membuat Viera bergegas memasuki air. Hantu wanita itu pun membelalakkan mata kala melihat Chan sedang tergeletak tak sadarkan diri. Viera segera mendekati Chan dan berusaha mengangkat badannya yang sedang melemah.
__ADS_1
Ketika Viera sudah hendak menuju ke permukaan, dirinya tiba-tiba diserang oleh makhluk hitam besar. Alhasil Chan pun kembali terjatuh ke dasar air.
"Xiaaaoo!!!" pekik Viera yang tengah berusaha menahan serangan sang makhluk besar yang tidak lain adalah Sidra.
"Vieraaa!!!" Xiao ikut memekik, karena merasa dibuat khawatir. Tanpa pikir panjang dia pun lantas melepaskan ranselnya kemudian menceburkan diri ke air.
Mata Xiao membulat sempurna saat merasakan betapa dinginnya air yang dia ceburi. Dinginnya sangat menusuk bak air es. Namun karena sudah terlanjur basah, Xiao langsung mengedarkan pandangannya. Memang benar, dia melihat Chan ada di dasar air.
'Chan!' panggil Xiao dalam hati, lalu mempercepat renangnya menuju tempat Chan berada.
Bruk!
Xiao tiba-tiba seolah-olah terjatuh saat sudah sampai di dasar air. Bagaimana tidak? dasar airnya sama sekali bukan air, lebih tepatnya udara. Xiao sempat terperangah.
"Aku tidak punya waktu!" gumam Xiao seraya memeriksa keadaan Chan.
"Chan? Chan!" Xiao menggoyang-goyang badan Chan yang terlihat basah dan lemah. Tubuh gadis itu juga terasa sangat dingin, tetapi untung saja masih bisa bernafas.
Tanpa ba bi bu, Xiao lantas memberikan nafas buatan. Kemudian menekan bagian dada Chan, berharap gadis tersebut bisa tersadar.
Xiao juga sesekali melihat pegulatan di antara Viera dan Sidra. Berharap makhluk yang menculik Chan itu masih teralihkan lebih lama.
Setelah lima kali lebih melakukan aksi pertolongan pertama. Keadaan Chan mulai mengalami kemajuan. "Uhuk! uhuk! uhuk!" gadis tersebut terbatuk dengan banyaknya air yang keluar dari mulutnya.
"Chan!" panggil Xiao histeris. Dia merasa sangat senang bisa melihat Chan tersadar.
"Xi-xi-xiao?" ucap Chan tergagap karena merasa sangat kedinginan. Xiao langsung memeluknya erat, lalu membawanya untuk berdiri.
Meskipun tersadar, Chan masih tak berdaya. Dia bahkan tidak mampu melangkahkan kaki. Alhasil Xiao pun terpaksa menggendongnya ke punggung.
"Tunggu, airnya lumayan tinggi. Bagaimana cara kita keluar?" Xiao kebingungan ketika menyaksikan keadaan dirinya yang lumayan jauh dengan air.
Sedangkan Viera yang masih melakukan pertarungan melawan Sidra, mulai tak mampu mengerahkan kekuatannya. Glitch menyerangnya, sekarang badannya seakan seperti hologram yang rusak.
Sidra yang merasa puas dengan kemenangannya, langsung bergegas turun ke bawah. Dia mencoba menghentikan Xiao yang ingin membawa tawanannya.
__ADS_1
"Aaaaaarrkkhhhh!!!" Sidra berteriak sangat nyaring, hingga memekakkan telinga. Air danau menjadi bergetar akibat suara yang dikeluarkannya. Xiao yang melihat kemarahan di mata Sidra berusaha mempercepat diri untuk keluar dari dasar air.