
Tidak ada keinginan yang didapatkan secara instan. Namun bisa saja muncul di saat dirimu sedang kesulitan.
***
Xiao hanya menatap Shuwan dengan tatapan jijik. Dia mengukir senyuman smirk dan bersiap untuk segera melawan lelaki berambut tipis di hadapannya.
"Shuwan, kau hanya seorang pecundang yang bersembunyi dibalik semua pengawalmu!" cibir Xiao yang sontak membuat Shuwan agak kesal.
"Jangan basa-basi, ayo kita selesaikan saja!" imbuh Shuwan. "Biarkan aku saja melawannya!" Shuwan berbicara kepada kedua pengawalnya, yang tidak lain adalah Max dan Peng.
Xiao dan Shuwan saling berhadapan. Keduanya sama-sama melemparkan tatapan tajam. Hingga Shuwan mulai berlari, dan menyerang kaki Xiao dengan tendangannya.
"Ugggh!" erang Xiao yang reflek terjatuh ke lantai. Selanjutnya Shuwan melayangkan tinjunya beberapa kali ke wajah Xiao.
Bug! Bug! Bug!
Kepala Xiao mulai oleng, bahkan wajahnya mulai terdapat lebam dan darah. Devil di samping Shuwan juga tampak sama beringasnya dengan tuannya.
"Aaaaarrgggh!!!"
Bug!
Xiao memekik keras sambil melayangkan tinju tepat ke senjata pribadi Shuwan. Sekarang lelaki dengan rambut tipis itu tengah kesakitan, dia memegangi area pribadinya dan melangkah mundur.
"Hentikan Xiao! ayo cepat langsung pergi saja!" Viera mencoba mencegah niat membunuh Xiao. Namun usahanya sama sekali tidak digubris.
Xiao akhirnya kembali bangkit, lalu menyerang Shuwan tanpa ampun. Dia melayangkan tinju lebih banyak dari yang Shuwan lakukan. Sekarang lelaki tampan tersebut seakan sedang kesetanan.
Max dan Peng yang tidak terima atasannya di sakiti, langsung menyerang. Namun tangan Xiao yang lebih cekatan, lebih dahulu menembakkan peluru tepat ke kepala dua pengawal berstelan jas itu.
Dor! Dor!
Max dan Peng langsung terhempas ke lantai dengan keadaan kepala yang bersimbah darah.
"Hahahaha! Hahahaha!" Shuwan yang sudah tersungkur di lantai tiba-tiba tertawa tidak karuan. Dia tengah merasakan sakit yang teramat sangat di tubuhnya, sampai-sampai saliva-nya mengalir dari mulut.
__ADS_1
Kala itu atensi Xiao tertuju pada devil Max dan Peng. Devil Max tampak berwujud seorang lelaki bermata banyak dan berkuku tajam. Sedangkan devil milik Peng terlihat bertaring dan berbadan gemuk. Kedua devil tersebut sama-sama sedang menatap ke arah Xiao. Perlahan mereka berjalan mendekat, hingga membuat Xiao melangkah mundur.
Dor! Dor!
Xiao mencoba menembaki dua devil yang semakin dekat. Namun peluru sama sekali tidak mempan untuk menyerang dua makhluk astral itu.
"Dasar gila!" Shuwan yang melihat gelagat aneh Xiao tampak mengerutkan dahi.
"Xiao! aku rasa mereka sedang marah, dan akan membawamu!" ujar Viera dengan raut wajah khawatirnya.
"Membawaku?" Xiao menoleh ke samping kanan, tepat dimana Viera berada.
"Membawamu ke dimensi lain!" ungkap Viera.
"Benarkah? bukankah itu bagus?" Xiao terlihat bersemangat. Alhasil dia pun langsung melangkah mendekati dua devil di depannya.
"Xiao! tidaaaaakk!!!" teriak Viera yang mencoba mencegah Xiao. Tetapi lagi-lagi peringatan hantu wanita tersebut sama sekali tidak dihiraukan.
Shuwan membelalakkan mata saat tidak sengaja menyaksikan menghilangnya Xiao. Dia beberapa kali mengerjapkan mata untuk memastikan kenyataan yang terjadi.
***
Xiao membuka matanya dengan pelan. Memang benar dirinya sudah berada di dimensi lain. Sekarang lelaki itu sedang ada di sebuah ruangan berbau anyir dan busuk. Anehnya ruangan tersebut sama sekali tidak memiliki pintu.
"Aku harus keluar dari sini, dan mencari Chan!" gumam Xiao sembari mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan. Dia berusaha menemukan jalan keluar. Namun nihil, dirinya tidak bisa menemukan apapun.
"Viera?" pekik Xiao, yang sontak menimbulkan suara gaung. Seolah ada seseorang yang sedang menirukan suaranya. Selanjutnya Xiao berusaha keras meraba-raba dinding yang ada di sekelilingnya, bahkan lantai sekali pun.
Tangan Xiao terhenti kala merasakan ada garis di lantai. Dia pun lantas menyingkirkan tanah dan debu yang menutupi garis.
"Apa ini jalan keluar?" Xiao bertanya-tanya sambil menempelkan telinga ke garis yang berbentuk persegi tersebut. Pendengarannya bisa menangkap suara dengkuran.
Dug! Dug! Dug!
Xiao menggedor-gedor garis berbentuk persegi yang sudah ditemukannya di lantai.
__ADS_1
"Huaaaaaaaarrgghh!!!" suara teriakan lelaki yang terdengar marah berhasil membuat Xiao tersentak kaget.
Garis berbentuk persegi di hadapannya perlahan bergerak, yang membuat Xiao sontak melangkah mundur untuk berjaga-jaga.
Bruk!
Garis persegi tiba-tiba terbuka, terbukti sudah bahwa itu adalah satu-satunya jalan keluar Xiao. Namun kemunculan devil bermata banyak, lantas memaksa Xiao harus mengurungkan niatnya.
"Grrrrrrrrr!" suara ancamannya yang lebih terdengar seperti seekor anjing memang sedikit mengerikan. Apalagi dengan adanya gaung di dalam ruangan tersebut.
Xiao terpojok, dia sekali lagi mencoba menembakkan peluru. Tetapi usahanya tidak membuahkan hasil. Sekarang makhluk bermata banyak itu menyerang Xiao dengan kuku runcingnya.
"Aaaaaa!" teriak Xiao yang menahan sakit akibat tubuhnya dihempaskan ke tembok. Dia sekarang terjatuh ke lantai. Si makhluk bermata banyak kembali mencoba melayangkan kuku tajamnya.
Viera tiba-tiba datang dengan cara melalui garis persegi yang lebih mirip dengan pintu. "Xiao pergilah!!" titahnya dengan nada tinggi sambil menyeret sang makhluk bermata banyak menjauh dari jalan keluar. Xiao mengangguk, dan segera keluar dari ruangan. Tetapi tidak lama setelah itu, Viera langsung mendapatkan perlawanan.
Bruk!
Xiao terjatuh ke lantai dengan jarak yang lumayang tinggi. Dirinya harus menerima rasa sakit kembali di badannya. Dia sekarang berada di sebuah lorong berwarnakan merah darah. Lebih terang dibandingkan lorong yang pernah dia lewati sebelumnya.
"Sekarang dimana aku harus menemukan Chan?" gumam Xiao sembari berdiri dan celingak-celingukan mencoba mencari petunjuk.
"Apa Viera bisa melawannya?" Xiao mengkhawatirkan keadaan hantu yang telah menolongnya. "Aku yakin dia bisa, toh dia tidak pernah gagal!" tambahnya, kemudian dilanjutkan dengan berlari entah kemana.
"Chan? Chan!" panggil Xiao seraya berlari kecil menyusuri lorong. Dia bahkan belum melihat satu pun pintu di tengah perjalanannya.
Xiao menghela nafas panjang sambil memegangi kedua lutut. Dia mencoba beristirahat sejenak. Sebab kepalanya mulai kembali sakit. "Sialan! ini semua gara-gara Shuwan!" geramnya, Xiao mengingat pukulan-pukulan yang dilayangkan Shuwan terhadapnya.
Ketika pikiran Xiao teralihkan dengan Shuwan, tiba-tiba matanya tidak sengaja melihat sebuah pintu yang tiba-tiba muncul dari kejauhan. Alhasil dia pun mencoba berjalan menuju pintu itu. Tetapi segera terhenti dikarenakan tampilannya yang mencurigakan.
"Aku rasa itu bukan jalan keluar!" Xiao menggeleng tak percaya. Lalu menoleh ke arah belakang, dan dia hanya melihat jalan buntu.
"Xiao! ayo cepat kita pergi dari sini!" Viera muncul dari atas dengan keadaan dikejar oleh makhluk bermata banyak. Xiao pun terpaksa harus berlari menuju pintu yang tadinya tidak ingin dia masuki.
Brak!
__ADS_1
Xiao mendorong pintu tersebut dengan keras, hingga dirinya sudah berada diluar ruangan. Penglihatannya langsung disambut dengan tempat yang dipenuhi kabut.